
Daisy menunjukkan wajah berpikir. "Sayang? Sepertinya bukan ide yang buruk. Sayang, sekarang saya mau siapkan baju kerjanya dulu yah." Daisy melepaskan dirinya dari pelukan Daryn dan meletakkan pakaian dan jas Daryn di tempat biasa baju yang akan dia gunakan diletakkan.
Seorang pelayan melihat Daryn dan Daisy lalu menjatuhkan alat pel nya.
"sssssttt... Jangan berisik." ucap Daryn.
Pelayan itu langsung diam dan membeku.
Daisy benar-benar lupa. Kalau pagi-pagi akan ada pelayan yang membersihkan kamar. Yang dia ingat, dia harus melayani suaminya.
"Ingat, apa yang kamu lihat di sini, jangan sampai diketahui siapapun."
"Baik Tuan." ucap pelayan itu ketakutan.
Melihat adegan itu, Daisy hanya bisa merasa bersalah dan kasihan pada pelayan itu.
"Apa bisa rumah tangga ini di rahasiakan? Terlalu Banyak mata di sini." Batin Daisy, dia menggeleng tidak berharap rahasia mereka akan terjaga untuk waktu yang lama.
Setelah pelayan itu pergi, Daisy mengungkapkan idenya agar pernikahan mereka tidak banyak yang tau.
"Bagaimana, kalau kita bertiga tinggal di apartemen? di Rumah ini ada Nona Dewi dan Kak Liam. Kalau ada keperluan kita baru ke sini lagi." Ucap Daisy memeluk Daryn merayunya.
"Hemmm... Tapi di sini rumah utama. Kamu Lihat kan, seberapa sering bawahanku mencari ke rumah ini."
"Kalau begitu, Sayang kan bisa kerja di rumah ini, dan istirahat di rumah sana. Pagi ke sini, dan siang makan siang ke rumah sana, ke sini lagi untuk kerja setelah itu, pulang malam ke sana. Ditempat saya dan Naza. Supaya saya bisa dengan bebas melayani sayang sebagai seorang istri. Lagipula bukannya sayang ke kantor hanya pagi saja dan kalau ada hal mendadak?"
"Baiklah, akan kupikirkan lebih dulu."Ucap Daryn sambil mengelus rambut gelombang istrinya. Daryn mengelus kedua sisi rambut dan melanjutkannya ke wajah Daisy, dan menekan pipinya yang tembem. Melihat Wajah istrinya yang lucu, dia mengecup bibir Daisy.
" Kamu sangat menggemaskan." lalu mengecup bibir, pipi dan dahi Daisy berkali-kali. Setelah berhenti.
"Heeemm? " Daisy menghela nafas dengan kasar. "Tapi, kalau dipikir-pikir itu akan sangat melelahkan untuk sayang." Daisy lalu menatap Daryn.
Daryn melepaskan pipi Daisy dan mengajaknya untuk duduk di atas tempat tidur.
"Dengar, aku sudah janji sama kamu, kalau kamu mau menikah denganku, aku akan membangun rumah tangga yang kamu inginkan. Lihat, kita bahkan menyembunyikan pernikahan kita. Karena itu, biar aku pikirkan dulu. Jika itu, hal yang baik untuk pernikahan kita, maka aku akan melakukannya." Daryn memeluk Daisy.
__ADS_1
"Terimakasih, Sayang. Sekarang, aku harus membantu putri kita menyiapkan keperluan sekolahnya." Daisy melepas pelukan Daryn, lalu berdiri dan pergi membantu Naza.
Setelah semua orang sudah siap, seperti biasa Naza dan Daisy akan melepas kepergian Daryn.
"Siapa yang bertugas mengawal dan mengantar kalian?" Tanya Daryn, sebelum berangkat.
"Seperti biasa Kak Tito, sejak kemarin-kemarin Kak Tito dan Pak Edi." Jawab Daisy.
"Tito? Bukankah dia belum lama kerja di sini? Kenapa dia tidak diganti?"
"Iya, tapi dia sudah tau rahasia kita. Dia menebaknya setelah melihat cincin di jari saya. Lagipula, saya percaya dengan Kak Tito, dia seperti sahabat buat saya." Daisy tersenyum polos.
Daryn tersenyum balik, berusaha menahan rasa cemburunya. Dia teringat ketika Dewi bilang, kalau Tito menyukai Daisy dan pernah mengajaknya untuk pacaran dan menikah.
"Oke, baiklah. Tapi, aku harap mulai sekarang, kamu akan menjaga jarak dengannya. Jangan terlalu akrab. Karena, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan wanita."
Daisy memajukan bibirnya, dan melihat ke arah Dewi dan Daryn. "Jadi, antara Nona Dewi dan Say... Maksd saya Tuan, pernah ada rasa? " Daisy mengerutkan dahinya. Daisy masing bingung dengan panggilan untuk suaminya.
Jika di depan orang, dia akan memanggilnya Tuan, tapi untuk. Memanggilnya sayang, dia belum terbiasa.
"Kalau Dewi itu, seperti saudara. Karena itu, aku tak mengerti kenapa Liam dan Dewi bisa menikah." Daryn menggeleng.
Sambil berjalan ke arah mobil, "Kalau kita di rumah sana, melepas kepergian tuan pasti jadi lebih romantis." ucap Daisy pelan menggoda Daryn.
Daryn hanya bisa tersenyum dan menggeleng.
Setelah tiba di kantornya, Daryn menanyakan pendapat Liam tentang permintaan Daisy.
"Menurutku, itu ide yang bagus. Lagipula, Kamu hanya di kantor sekitar 1 atau 2 jam, setelah itu kamu pulang ke rumah. Dan bekerja sampai malam dari rumah." Jawab Liam.
"Kamu benar, sekarang kami seperti belum menikah. Tidak bebas melakukan apapun berdua." Daryn agak tak suka dengan pernikahan rahasianya.
"Itu karena kalian memutuskan untuk merahasiakan pernikahan kalian. Kalau banyak anak buahmu yang tau, maka tak lama lagi wartawan pun akan tau.
Yah, atau kamu ingin memecat seluruh pelayan yang tidak kamu ingin bagikan rahasiamu." Liam mengangkat bahunya, masih tak mengerti kenapa mereka harus repot menyembunyikannya.
__ADS_1
"Jika tidak menyusahkan, aku ingin melakukan hal itu, salah satu yang ingin di hindarkan Daisy adalah dia diperlakukan seperti Nyonya besar. Karena itu aku membeli rumah untuk dia bebas melakukan apapun. Dia ingin hidup yang normal." Liam mengangguk mengerti keinginan Daryn untuk mengabulkan keinginan Daisy.
"Normal? Bagaimana bisa dia berharap hal normal setelah menikah denganmu." Ucap Liam sambil menghela nafasnya.
Setelah di pikir-pikir, akhirnya Daryn memutuskan setuju dengan ide Daisy. Dan menyuruh Liam mengurus semuanya.
Liam membelikan pakaian baru untuk Daryn , Daisy dan Naza untuk mereka gunakan di rumah baru mereka. Setelah persiapan selesai, Daryn pun menyuruh Daisy untuk pergi lebih dulu bersama Naza.
Karena ini malam pertama mereka di rumah baru, Daisy menyiapkan makan malam pertama untuk keluarganya. Itu adalah salah satu hal yang sering dia bayangkan ketika melihat Naza dan Daryn. Memasak untuk keluarga kecilnya.
Dengan senang dia memasak bersama Naza, dia hanya memasak makanan yang simpel, yang biasa dinikmati keluarga sederhana.
Sayur, beberapa lauk dan sambal. Dan dia juga menyiapkan kue untuk merayakan kepindahan mereka.
"Wanginya enak banget, Bunda. Saya udah lapar." ucap Naza mengikuti Daisy membawa salah satu masakan mereka.
Daisy melihat jam di dinding. Daryn janji aka pulang sebelum pukul 7, tapi sudah lewat 30 menit, Daryn belum juga datang.
Daisy kemudian membiarkan Naza untuk makan lebih dulu.
Daisy menunggu hingga pukul 8.30. Dan menyuruh Naza untuk tidur jika sudah mengantuk, Tapi Naza memutuskan bermain ponsel di depan TV dan menemani Daisy menunggu Papanya kembali dan tertidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Daisy memutuskan untuk makan dan membersihkan meja.
Hari ini, dia merasa sangat sedih dan kecewa. Daryn yang memutuskan agar mereka bisa lebih dulu tiba di rumah itu, dan sekarang Daryn dan tanpa kabar melewatkan janji mereka. Daisy meyakinkan dirinya, pasti ada hal yang tidak bisa dia tinggalkan, sampai dia bisa melupakan janji mereka.
Mengerti kesibukan Daryn sebagai orang penting, adalah salah satu hal yang harus dia lakukan.
Sementara itu, Daryn yang baru saja menyelesaikan makan malam dengan rekan bisnisnya, baru melihat ponselnya. Dia lupa mengirimkan pesan yang sudah ia tulis untuk Daisy.
"Sial.. Sial... Aku lupa kirim pesannya." Dan Daryn pun meminta kunci mobil pada Liam.
Dengan cepat dia tiba di rumah baru mereka. Dia membuka pintu dengan pelan, tak terlihat siapapun.
Dia memeriksa kamar Naza dan melihat Daisy tidur bersama Naza.
__ADS_1
"Apakah dia marah padaku?" batin Daryn.
...****************...