
Ada putriku, menantuku dan juga cucuku di dalam sini." ucap Laura.
Nadia mengerutkan keningnya, lalu membelalakkan matanya.
"Apaaa?" tanya Nadia dengan suara memekik.
"kenapa kamu begitu kaget?" tanya Laura memiringkan bibirnya. Dia masih penasaran dengan satu hal tentang Nadia. Dia sangat ingin menanyakan apa tujuan Lidia masih menemui Nevan, meskipun mereka masing-masing sudah menikah. Saat Nevan masih hidup, Laura tak pernah berani menanyakannya.
"Jangan bilang, Daisy adalah putrimu hasil hubunganmu dengan Nevan." tanya Nadia dengan mengernyitkan alisnya.
Melihat Laura yang tidak menjawab, masih tenggelam dengan pertanyaan masa lalu, Nadia langsung ingin masuk. Tapi Laura menarik lengannya.
"apa-apaan kamu.?" nadia menepis tangan Laura.
"Ada yang ingin kutanyakan." ucap Laura dengan tatapan serius.
"saat kamu tengah hamil, kenapa kamu... "
Belum selesai bicara, seorang pengawal memanggil Laura.
"Nyonya Laura, Nyonya Liza sudah keluar dari ruang operasi." mendengar hal itu, Laura langsung berlari menuju ruang ICU karena kondisi Nyonya Liza yang masih belum stabil.
"Mama... " ucap Laura menangis ketika melihat mamanya yang terbaring tak berdaya.
Laura yang sudah menggunakan pakaian khusus akhirnya diizinkan masuk oleh dokter untuk melihat Liza lebih dekat.
__ADS_1
"kami sudah berusaha semampu kami. Semoga saja, jika bisa melewati masa kritis, semoga Nyonya Liza akan baik-baik saja."
Dari nada bicara dokter, Laura tai, dia todak bisa menaruh harapan terlalu banyak untuk kepulihan mamanya.
Sementara itu, Nadia masuk ke kamar mengunjungi Daryn dan Daisy. Sedikit banyak, dia sudah tau ceritanya dari Dewi.
"Ternyata kamu, adalah putrinya Nevan." batin Nadia yang lalu menghela kasar.
Dia tak menyangka bahwa dia akan memperlakukan putri Nevan separah itu. Menghinanya dan bahkan memfitnahnya.
Tiba-tiba seorang pengawal masuk ke dalam ruangan.
"ada Apa? Kenapa kalian berlari?" tanya Nadia yang terkejut.
"Nyonya Liza," pengawal itu mengambil nafas.
Semua orang dikamar itu, pergi kecuali Naza dan Dean.
"Sayang, kamu jaga bunda dan adik kamu dulu yah." ucap Daryn mencium kening Naza dan berlanjut pergi.
Tidak ada yang sadar, kalau Daisy juga mendengar pengumuman itu.
Daisy ingin bangun mengangkat tubuhnya, ingin bertemu dengan orang yang sudah merelakan nyawanya untuk melindungi Daisy.
Tapi yang hanya bisa dia lakukan saat ini. Hanyalah menangis dan berbaring.
__ADS_1
Daisy berusaha menahan tangisannya, meskipun pada akhirnya Naza mendengar isak tangisnya.
"Bunda? " panggil Naza pelan.
Daisy melihat wajah dan tubuh anak gadisnya sudah bertambah tinggi dan dewasa. Merasa bersalah, karena meninggalkan Naza saat itu.
"Bunda!!! " Naza langsung memeluk Daisy.
Naza juga mempunyai kerinduan yang dalam terhadap Daisy. Meski Dalam keadaan sedang tidur mereka melepas kerinduan satu sama lain.
"Bunda mau lihat Nyonya Liza?" Tanya Naza, Daisy lalu mengangguk.
Naza meminta kursi roda untuk Daisy. Dan Naza mendorong Daisy dan Dean si atas kursi roda, karena mereka tak ingin meninggalkan Dean dalam ruangan rumah sakit sendirian.
"Mama...!!! " panggil Daisy pelan.
Mereka saling menatap dan menangis. Karena tak ingin membangunkan dean, Mereka berusaha menahan tangisnya.
Sampai Rika dan Tito datang pun, dia merasa enggan melihat keluarga Tio.
Daisy masih tersenyum ke arah ibu Rika, karena dia juga tau, itu bukanlah salah ibu Rika.
"Maafkan ibu dan juga Tio, sudah membuat kamu menderita." ucap Rika mengambil tangan Daisy.
"maaf? Kamu bilang? Sekarang ibuku sudah meninggal." ucap Laura menepis tangan Daisy dari tangannya.
__ADS_1
...****************...