
Wajah Daryn yang tersenyum, berubah jadi kaget dan terkejut. Meski kepalanya berdenyut keras dia berlari mempercepat langkahnya ke arah Daisy.
Duar... Duar......
Semua orang membeku mendengar suara senjata itu.
Daisy menghentikan langkahnya, termasuk Daryn.
Brukkk... Suara tubuh seseorang jatuh ke tanah.
Polisi lalu menembak kaki Tio. Saat Dia hendak menodongkan senjata itu ke kepalanya sendiri, polisi langsung menambak lengannya.
"mamaaaaa" teriak Laura dengan kencang, dan menangis berlari ke arah mamanya.
Daisy membalik tubuhnya, dia melihat ke arah Nyonya Liza yang sedang terbaring dengan tatapan kosong.
"kenapa? Kenapa? Apa yang sudah terjadi? " batin Daisy merasa bingung.
"mamaaa... " teriak Laura.
Dengan cepat, ambulan yang sudah bersiaga di tempat itu membawa Liza pergi.
"Daisy...!! " teriak Daryn.
suara ambulan, suara teriakan dan sirine polisi perlahan hilang dari pendengarannya.
__ADS_1
"jangan, jangan sekarang. Jangan tumbang disini." batin Daisy, dan dia sudah tak sadarkan diri, untung saja Daryn sudah berada di dekatnya dan menangkapnya dengan cepat, dak akhirnya membawa dia ke rumah sakit.
Saat ini, Laura sudah duduk di depan ruang operasi dengan rasa khawatir yang sangat mendalam.
"semoga mama gak apa-apa." dia duduk menutup matanya dan berdoa.
Bersamaan dengan dia, ada juga Rika dan Tito yang menunggu Tio di operasi juga.
Rika merasa sangat ragu untuk bicara pada Laura.
Rika langsung berlutut di hadapan Laura.
"maaf, maafkan anak saya. Saya tau, tidak bisa mengganti apapun dengan nyawa nyonya Liza. Ini juga salah saya, harusnya saya membuat dia dipenjara setelah dia membunuh adiknya sendiri." ucap Rika.
"Rika, berdirilah. Ini bukan salahmu." ucap Abrar yang langsung memegang kedua bahu Rika dan membantunya berdiri.
Sementara itu, di ruangan Daisy masih belum sadarkan diri.
"Papa? Apa Bunda akan baik-baik saja?" tanya Naza yang menatap Daisy dan lalu menatap Dean yang baru saja bisa tertidur karena kelelahan.
"Jangan khawatir sayang. Bunda wanita yang kuat. Papa yakin, dia akan baik-baik saja." Daryn lalu memeluk Naza dan bergeser menyuruh Naza tidur di sampingnya.
Merkea berdua merasa sedikit tenang, melihat Daisy ada di hadapan mereka.
Laura membuka pintu kamar Daisy dengan pelan.
__ADS_1
"Kamu sudah punya keluargamu sendiri yang menemanimu sekarang" mata Laura berkaca-kaca melihat mereka tertidur.
Laura mendekat pada Dean. Dan menatapnya dengan dalam. "Siapa sangka aku akan menjadi nenek di usia seperti ini. Semoga kamu akan selalu bahagia."Laura mencium kening Dean dan lalu melangkah pergi.
Saat berada di depan pintu kamar, dia bertemu dengan seseorang yang sudah tidak asing lagi baginya.
" Nadia?" ucap Laura yang terkejut.
"Laura? Kamu mau jenguk tunangan palsu kamu?" tanya Nadia kasar, dan hendak masuk.
"mereka semua sedang istirahat." ucap Laura melarang Nadia masuk.
Laura melihat ke arah pengawal dan menyuruh mereka menjaga Nadia jauh dari pintu.
"Jangan biarkan siapapun masuk. Kecuali saya atau keluarga yang lain." ucap Laura.
"Apa hak kamu melarang ku? Kamu itu, hanya tunangan palsu untuk Daryn. Apa kamu gak tau?? " tanya Nadia kesal.
"kamu sendiri, apa hakmu ingin masuk ke dalam sini? Aku rasa aku akan lebih berhak."
"memangnya siapa kamu? hah?" Laura tersenyum sinis.
"Ada putriku, menantuku dan juga cucuku di dalam sini." ucap Laura.
Nadia mengerutkan keningnya, lalu membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Apaaa?" tanya Nadia dengan suara memekik.