Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Desa Besio


__ADS_3

"oh yah, ngomong-ngomong. Aku tadi sempat dengar gosip. Katanya di desa kita ada penculikan gadis-gadis yah?"


Tio lalu menatap Daisy.


"Hanya gadis-gadis? Wanita dewasa juga." jawab Tio dengan wajah yang datar.


Daisy mengerutkan alisnya


"kami serius?" tanya Daisy tak percaya.


"hahahhaha.. Gak usah khawatir. Lagipula wanita-wanita itu, bukan wanita baik-baik." lanjut Tio menggeleng.


"Darimana kamu tau?" tanya Daisy lagi.


Tio tak sempat menjawab, kebetulan ada kereta kuda yang datang. Mereka langsung naik dan tidak membicarakan hal itu lagi. Karena Tio mengingatkan Daisy, kalau gosip itu todak boleh dibicarakan di desa mereka.


Sebenarnya Daisy menjadi sedikit takut, setelah mendengar cerita itu. Desa yang kelihatan damai dan tentram itu, di terpa gosip yang mengerikan.


"Oh yah, kata dokter kapan bayimu akan lahir?" tanya Tio di tengah perjalanan.


"kurang lebih 3 minggu lagi. Benar-benar gak kerasa." Daisy mengelus perutnya.


"Iya, aku juga gak sabar. Pengen ketemu sama jagoan yang sudah bikin kamu susah makan dan susah tidur ini." Tio menyentuh perut Daisy. Bagi Tio, yang sudah mengenal Daisy hampir 5 bulan, sudah alami tangannya menyentuh perut Daisy ketika bicara pada bayi di perutnya.


Daisy tidak membencinya, dia hanya tidak ingin orang lain beranggapan tentang hubungannya dengan Tio, Bahkan beberapa orang menjodohkan Daisy dan Tio karena selalu kompak.


"Oh ya, kapan kamu akan ngajak aku makan di rumahmu. Aku juga pengen makan di rumahmu. Kan, kata Bu Rika, masakanmu itu nomor satu. Dibanding masakan kakak dan adikmu." tanya Daisy, yang memang tidak pernah makan di rumah Tio, karena selama ini, dia yang memasak dan untuk Tio dan ibu Rika, sebagai tanda terima kasih karena selalu membantu Daisy dengan kebun sayurnya.


"Aku tau, kamu bakalan nagih, apa kamu gak lihat bahan makanan yang aku beli ini." Tio menunjukkan bahan makanan yang dia beli.


"Eemm?? Kamu beli bahan makanan? Bukannya di sini semuanya sudah lengkap?" Daisy menunjuk kebun sayur dan peternakan ayam di belakang rumah Tio.


"Apa kamu lupa, aku gak pernah makan dari kebun dan ternakku? Dan juga, aku bosan masak bahan yang ada di sekitar sini."


"Iya juga yah, kalau di pikir-pikir kamu gak pernah kasi aku petik dari kebunmu." ucap Daisy. Karena memang, hasil kebun Tio, hanya untuk dia jual ke kota.


"Ya sudah, besok aku bakalan masakin makanan yang enak. Buat kamu dan jagoan itu. Sampai besok." ucap Tio, yang menunggu Daisy masuk ke rumahnya lebih dahulu.


Keesokan harinya, Tio pun mengundang Daisy untuk makan siang.

__ADS_1


"Wah, beneran enak masakanmu. Aku sampai makan sup buatanmu 2 mangkuk." puji Daisy


"Saya bukan memuji karena dia anak saya, tapi karena memang masakannya benar-benar enak. Dia sangat suka memasak sejak kecil." lanjuy Ibu Rika memuji Tio.


"Yah, kalau aku tidak masak, abang bakalan masak tumis terus. Hanya itu yang bisa dia masak. Sementara Ibu, asyik pacaran." Ucap Tio membawa teh menyinggung ibunya.


"Ibu ini wanita lajang, jadi wajar saja mencari cinta." ucap Ibu Rika agak kesal, dan bangun ke kamarnya.


Daisy hanya bisa diam, merasa tidak enak. Suasana langsung berubah 180 derajat.


"Kenapa, kamu harus menyinggung hal itu?" ucap Daisy merasa tidak enak.


"yah, memang itu kenyataannya." jawab Tio santai, sambil menikmati teh dan jus yang dinsiapkan Tio.


"Yo... Tio... " panggil seseorang dari luar rumah.


"Iya, Ada apa pak Yanto? Kamu tunggu saja di sini sebentar." teriak Tio yang berjalan ke depan rumah, dan menyuruh Daisy menunggu agar tidak perlu bangun dari tempat duduknya.


Ternyata Pak Yanto, meminta Tio membantu sapinya yang melahirkan, sehingga Tio pergi dengan cepat dan meninggalkan Daisy.


Daisy yang merasa agak bosan menunggu, berkeliling di ruang tengah yang banyak terdapat foto keluarga.


"Mereka begitu menggemaskan waktu kecil, sekarang mereka begitu tidak sopan." ucap bu Rika mengeluarkan rokoknya, tapi tidak dia nyalakan karena ada Daisy.


"Ya Ampun Bu Rika." ucap Daisy kaget.


"Maaf, tidak bermaksud mengagetkan. Tio itu, kata-katanya selalu tajam dan menyakiti untuk menyinggungku." Bu Rika berjalan ke samping Daisy melihat foto yang di tangannya.


"Ini, putra pertamaku. Tito, Tio dan Tita." Bu rika memperkenalkan anak-anaknya di foto.


"Tito? Kak Tito?" tanya Daisy kaget lalu tersenyum.


"Kamu kenal dengan Tito?" tanya Rika kaget.


"tentu saja, saya bekerja di tempat yang sama dengan kak Tito. Siapa sangka, ternyata saya bisa tetanggaan dengan Kak Tito." ucap Daisy tak percaya.


"Tali, sekarang, dia sudah tidak pernah menelpon lagi, semenjak adik perempuannya meninggal. Karena hanya kabar Tita yang dia tanyakan."


"Saya dengar beritanya, dan Kak Tito kelihatan sangat terpukul. Saya Turut berduka cita bu." Daisy memeluk Rika yang akan menangis.

__ADS_1


"Aku tau, aku tidak memberi contoh yang baik. Dan kenapa dia malah mengikuti sifatku dan perangai buruk ku. Dia sangat suka mabuk dan pulang malam sepertiku. Siapa yang sangka kalau dia akan pergi seperti itu?" Rika lalu menangis terisak.


"Sabar bu, semangat. Semoga Dek Tita dapat tempat yang layak." hibur Daisy.


Setelah reda menangis, mereka pun duduk berdua di teras menunggu Tio kembali.


"Tapi, anak-anak ibu tidak ada yang mirip dengan ibu." canda Daisy.


"Hahahaha.. Iya, mereka mirip ayahnya masing-masing." jawab Rika tersenyum.


"Heh? Ibu Serius?"


"Ayah Tito, sudah meninggal. Kalau ayahnya Tio, mantan pacar pertamaku, dan dia sudah beristri, bisa di bilang dia anak di luar nikah. Kalau Ayahnya Tita, sudah menikah lagi."bisiknya pada Daisy.


Daisy hanya bisa tersenyum malu, mendengar cerita Rika.


" Sebenarnya, Tio udah larang aku buat bahas hal ini. Tapi aku penasaran." ucap Daisy melanjutkan obrolan.


Rika melirik ke arah Daisy, menunggunya menanyakan hal yang membuatnya merasa penasaran.


"Apa benar, terjadi kasus besar di desa ini? wanita-wanita yang hilang? Dan...."


Belum selesai bicara, Rika melarang Daisy melanjutkan pertanyaannya.


"Ssssstttt Jangan keras-keras." Rika menghentikan Daisy. Rika lalu melihat kiri dan kanan.


"Sebenarnya kasus itu belum jelas. Karena itu, tidak pernah dibicarakan. Memang ada beberapa wanita yang hilang, dan beberapa di temukan tewas. Tapi, wanita-wanita yang hilang itu, bisa saja hanya pergi ke luat desa tanpa kabar. Jadi tidak ada yang mencari. Dan rata-rata mereka itu, wanita-wanita yang memang gak suka di rumahnya. atau orang-orang yang cari hiburan di luar rumah."


Mendengar cerita Rika, Daisy hanya mengangguk.


"Tapi, apa gak bahaya? Saya kan tinggal sendiri dan Ibu juga sering pulang malam?" tanya Daisy.


"Aku tuh, punya prinsip. Hidup cuma sekali. Kalau memang bencana itu satang untukku. Berarti musibah dan takdir itu memang untukku." ucap Rika menyesap minumannya.


"Kalian bicarakan apa?" tanya Tio tiba-tiba.


Membuat kedua wanita itu berteriak terkejut.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2