
"Aku tuh, punya prinsip. Hidup cuma sekali. Kalau memang bencana itu satang untukku. Berarti musibah dan takdir itu memang untukku." ucap Rika menyesap minumannya.
"Kalian bicarakan apa?" tanya Tio tiba-tiba.
Membuat kedua wanita itu berteriak terkejut.
"Ibu masuk dulu" Ucap Rika dan masuk dalam kamarnya.
"Ibumu sepertinya masih kesal, karena kami singgung tadi." ucap Daisy tersenyum canggung pada Tio.
"Gak usah dipikirkan." ucap Tio menyiapkan dirinya untuk ke halaman belakang.
"Kalau begitu, aku pulang ke rumah dulu yah. Terima kasih atas makan siangnya." Daisy pun kembali ke rumahnya.
Daisy memeriksa buku tabungannya. Ia akhirnya menggunakan uang asuransi kematian ayah dan neneknya untuk melanjutkan hidup, dan uang itu cukup banyak sampai anaknya dewasa jika hidup di desa itu. Dia berniat, jika anaknya sudah lahir dan lebih besar dia akan bekerja, setidaknya menjual sayur dan buah yang dia tanam untuk menambah uang yang ada.
Sementara itu, Naza masib marah pada Daryn, karena dia tidak tau sampai kapan dia harus menunggu Daisy kembali. Mengirim surat padanya.
Naza tidak banyak bicara seperti biasanya, tapi tetap melanjutkan aktivitas seperti biasanya.
Daryn hanya bisa diam menatap putrinya yang sedang marah.
"Bagaimana kalau nanti kita pergi ke rumah hantu? Bukannya Naza kemaren katanya pengen pergi ke rumah hantu kan?" bujuk Daryn.
"Naza maunya pergi sama teman-teman. Bukan sama Papa. Dan gak mau ada om pengawal." ucap Naza memajukan bibirnya.
"Masalah pengawal, tidak ada tawar menawar. Kalau kamu mau pergi dengan teman-temanmu. Papa akan ijinkan, tapi kalau tanpa pengawal. Papa lebih memilih Naza marah sama Papa." Daryn lalu berdiri hendak pergi.
"Okay, Deall. Tapi, Naza tetap marah sama Papa, rumah hantu dan Bunda adalah dua kesepakatan yang berbeda. Sampai Bunda kabarin Naza lagi, papa gak bisa dapat ucapan selamat malam, dan kecupan selamat tidur." ucap Naza. Dan berjalan menuju kamarnya.
Daryn agak berlari mengejar Naza, langsung memeluk dan mengecup pipinya.
"Ya sudah, kalau memang tak bisa dapat kecupan malam, setidaknya kecupan pagi." ucap Daryn lanjut mengecup pipi Naza.
"Papaaaa... iiiihhh.. Naza bukan anak kecil lagi. Naza tuh sudah 9 tahun." Naza mengelap bekas kecupan Daryn.
"Bagi Papa, Naza tetap bayi kecilnya papa." mengecup Naza lagi.
__ADS_1
Naza memberontak dan berlari ke kamarnya.
Daryn tersenyum melihat putrinya berlari.
"Kenapa, kamu menyuruh pengawal berhenti mengikuti Daisy kemaren. Dan aku baru saja diberi tau."tanya Liam pada Daryn begitu mereka memasuki ruang kerja Daryn.
" Kamu sibuk karena Nando sakit. Jadi aku menghubungi mereka secara langsung. Aku tau Dewi juga sedang gak enak badan."
"Iya, aku mengerti tentang hal itu. Daisy, kenapa kamu berhenti mengejarnya?" tanya Liam lagi.
"Kamu dengar, apa yang dikatakan Naza. Daisy lebih banyak menangis dari yang aku tau. Aku selalu kagum bagaimana dia bisa memahami ku. Tapi aku tidak pernah berusaha memperbaiki diri memahami Daisy. Dan aku akan menunggunya." ucap Daryn.
"Menunggu? Kamu bilang. Harusnya kamu menunjukkan keinginanmu untuk dia tetap ada di sini. Menunjukkan bahwa kamu akan bisa memahaminya lebih baik.Memunjukkan bahwa kamu butuh dia dalam hidupmu."ucap Liam kesal.
Ada yang bilang, Cinta itu seperti Pasir. Semakin kamu menggenggamnya, maka semakin banyak pasir itu hilang dari genggamanmu.
Daryn ingin membiarkan Daisy mengambil kesempatan untuk dirinya sendiri. Usia 23 tahun, termasuk usia yang muda untuk Daisy menikah dan mengurus anak dan suami sekaligus. Daisy menyayangi Naza seperti anaknya sendiri di usia mudanya.
Daryn pun, merasakan tanggung jawab besar, ketika pertama kali dia mengemban tanggung jawab menjadi pimpinan Leroy, berkali-kali dia mencoba berlari dan mencari ketenangan untuk sesaat. Karena Liam, Dewi dan Alea dia bisa melewati itu semua.
Tapi Daisy, tidak punya siapapun untuk berlari sesaat. Daisy yang setiap saat mendampingi Daryn dan Naza selama ini.
Dan Liam lun mengangguk mengerti, meski tidak setuju dengan keputusan Daryn.
Selang dua minggu, Naza kembali mendapatkan surat dari Daisy. Nazi merasa senang, tapi dia harus menunggu setidaknya 2 sampai 3 bulan lagi, agar bisa berhubungan lagi dengan Daisy.
Mendengar itu, Daryn melihat kalender.
"Sebentar lagi, dia akan melahirkan." Perasaan Daryn jadi tak menentu. Dia benar-benar ingin berada di samping Daisy ketika bayi mereka lahir.
Sementara itu.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Bu Rika.
"Sepertinya sudah semua." jawab Tio.
"Apa ibu yakin, gak apa-apa nemenin saya? Bisa jadi 2 mingguan kita di sana." tanya Daisy pada Rika.
__ADS_1
Rika yang akan menemani Daisy melahirkan di rumah sakit. Karena perkiraan waktu lahir akan tiba. Dan Karena jarak yang lumayan jauh, Daisy memutuskan untuk menginap di dekat rumah sakit. Dia sangat siaga akan semuanya. Karena ia tak ingin terjadi sesuatu pada bayinya.
Tio hanya mengantarkan Daisy dan Bu rika sampai batas Desa dan melihat Rika dan Daisy pergi.
Entah kenapa, mendekati kelahiran, Daisy sangat ingin bertemu dengan Daryn. Ia ingin memeluk Daryn. Merindukan pelukan hangatnya, merindukan aroma tubuhnya. Dia merasa, jika Daryn disisinya, kekhawatirannya sepertinya akan berkurang. Kadang saat malam, tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja.
Tak tahan, ia pun meminjam telepon pemilik tempat ia menginap.
"Halo?" mendengar suara Daryn, ia hanya bisa menangis, dan berusaha tidak mengeluarkan suara.
"Halo? Halo?" Daryn berbicara lagi. Nomornya hanya akan diberikan kepada rekan bisnis. Karena itu Daryn selalu mengangkat nomor baru yang tidak dia kenal.
Daryn menunggu suara dari telepon seberang, namun tak ada suara.
"Apa kamu sudah selesai pakai teleponnya?" tanya pemilik penginapan membuat Daisy kaget dan menutup teleponnya secara mendadak.
Daryn melihat nomor yang meneleponnya dan menghubunginya kembali.
Ketika pemilik penginapan ingin mengangkatnya, Daisy melarangnya.
"Kenapa? Bisa saja ini orang ingin menelepon memesan kamar." ucapnya ketus.
"Saya kenal nomor ini. Kalau dia bertanya, ini di mana, sebut saja nama kota lain. Dan katakan orang yang menelponnya sudah pergi jauh." ucap Daisy menyodorkan uang pada pemilik penginapan.
Pemilik itu tersenyum, dan mengikuti ucapan Daisy.
Setelah mendengar suara Daryn, dia justru menjadi semakin rindu. Dia menangis lagi saat tiba di kamarnya.
"Apa kamu merindukan suami, eh maksudnya mantan suamimu?" tanya Rika yang terbangun.
Daisy mengangguk, Rika lalu memeluknya.
"Kamu yang kuat, kami pasti bisa melewati ini." Lalu memeluk Daisy.
Tapi, tiba-tiba saja perut Daisy terasa sakit. Merekapun segera memesan taksi dan menuju rumah sakit. Dalam perjalanan, Rika meminjam telepon supir taksi dan menghubungi tetangga di desa agar menyuruh Tio ke rumah sakit.
Setelah 4 jam melalui masa yang sulit, akhirnya bayi laki-laki itu lahir.
__ADS_1
Dean Austin Leroy.
...****************...