
"Bagaimana kalau Dean menjadi cucu tuan dan bukan cicit?" tanya Tio.
"jaga ucapan kamu, Tio." teriak Laura.
Membuat Dean menangis dan ingin kembali ke pelukan Daisy. Setelah Daisy menggendong Dean. Laura menyuruhnya kembali ke kamarnya. Daisy dengan cepat kembali ke kamar, dan menenangkan Dean.
"Apa tujuanmu datang ke rumah ini?" tanya Laura.
"Maksudnya apa?" tanya Tio berpura-pura, sambil tersenyum mengejek.
"Aku sangat terkejut, waktu ingat siapa kamu. Dan Membayangkan kalau kamu benar-benar suaminya Daisy. Tapi Aku bersyukur kamu bukan suaminya." ucap Laura.
"Laura, apa-apaan kamu? " tanya Abrar yang bingung dengan keadaan didepannya.
Sementara Liza hanya diam melihat adegan itu.
"apakah ayah berpura-pura? Atau ayah memang tidak mengenali wajah ayah ketika muda? " tanya Laura, sambil menunjuk ke wajah Tio.
"wajahku?" tanya Abrar bingung dan memperhatikan wajah Tio lagi.
"kamu, anaknya Rika?" tanya Abrar.
Abrar memang mengetahui dia mempunyai anak dari Rika. Tapi, memang karena Rika tidak ingin anaknya memiliki kehidupan yang bergelimang, dan dianaktirikan oleh Liza. Dan Karena memang Liza sudah memperingatkan Rika tentang hal itu. Bahwa Liza tidak akan membuat hidup Rika tenang. Karena Itu, Rika membawa putranya pergi jauh dari hadapan Abrar dan keluarganya.
Tio tak menjawab hanya tersenyum mengangkat bahunya.
"Laura, apa sebenarnya yang terjadi. Dan Liza. Apa kalian sudah tau?" tanya Abrar menatap Liza dan Laura bergantian.
"Bagaimana aku bisa tidak tau. Bahwa Danendra memiliki pewaris lain?" ucap Laura kesal.
"Aku tidak perduli, kamu punya anak dari orang lain, atau kamu mencintai orang lain. Aku tidak perduli. Yang aku mau, jangan pernah bawa dia ke dalam rumah tanggaku." ucap Liza pergi meninggalkan orang-orang itu.
Daisy yang sudah menenangkan Dean dan menitipnya pada Bi Imah pergi ke tempat Tio dan keluarganya berada.
__ADS_1
"Apa kamu senang, datang ke sini mengganggu kedamaian rumah ini?" tanya Laura.
"Aku hanya ingin mengunjungi keluarga ku sendiri. Apa yang salah dari itu?" tanya Tio.
"keluarga? Sejak kapan kamu keluarga Danendra. Kamu hanyalah anak hasil selingkuhan yang tidak diakui." ucap Laura marah.
"Sama seperti kamu dan keluargamu yang tidak menganggap Daisy, yang lahir darimu dan laki-laki miskin?" tanya Tio.
"Kamu tidak tau apa-apa tentang keluarga ini." ucap Laura semakin kesal.
"Bagaimana kalian akan menjadikan Dean penerus kalian, kalau kalian bahkan tidak memiliki Daisy di kartu keluarga kalian. Dia Hanyalah anak pelayan di rumah ini." ucap Tio tertawa.
Laura tidak mengerti ucapan Tio sama sekali.
"Apa kamu benar seorang ibu?" tanya Tio yang melihat ekspresi Laura bingung.
"Kamu bahkan tidak tau, kalau anakmu di adopsi jadi anak pelayan di rumahmu? Bahwa di akta kelahirannya dia tidak punya ibu, hanya tercantum nama ayahnya? Bahkan pernikahanmu tidak pernah tercatat. Yah, aku tau, orang berduit seperti kalian akan bisa menghapus semua jejak kapan dan di manapun kalian mau." ucap Tio yang duduk di dekat Abrar yang hanya diam mencerna semuanya.
"aku menikahi Nevan, dan dia adalah suamiku. Dan Daisy tercatat dengan resmi sebagai putriku." ucap Laura mengerutkan alisnya melihat Abrar.
"Tapi, sebenarnya. Daisy dan Dean tidak membutuhkan nama keluarga kalian untuk hidup mewah dan berkecukupan. Kamu gak perlu khawatir. Aku, Daisy dan Dean sangat menikmati kehidupan sederhana kita." bisik Tio.
Laura mengerti ke mana arah pembicaraan Tio.
"Meskipun, kamu mengenalnya ketika sudah dewasa. Dia Adalah keponakanmu sendiri. Bagaimana Bisa kamu akan lanjut hidup dengannya dengan tetap mencintainya. Itu menjijikkan."
"Apa maksudmu, kamu mencintai Daisy?" tanya Abrar.
"bukan hanya mencintai, aku akan pergi dari sini membawa Daisy dan Dean dan hidup bahagia bersama. Bukankah itu yang kalian inginkan? Aku dan Daisy adalah orang-orang yang tidak diakui oleh keluarga ini." ucap Tio.
Daisy yang mendengar semua itu, langsung berbalik kembali ke kamarnya. Tubuhnya bergetar.
"Dia, anaknya Tuan Abrar? Berarti dia adiknya mama? Dan dia menemaniku ke sini, meskipun tau aku anaknya mama dan juga keponakannya?" batin Daisy mengingat Tio yang masih menggodanya setelah Daisy memberitahukan siapa ibunya.
__ADS_1
Dia teringat gambar keluarganya di rumah kaca Tio.
"Tio,... Orang macam apa kamu?" batin Daisy takut dengan sikap dan tingkah laku Tio belakangan ini.
Sementara itu Laura yang kesal, langsung menampar Tio.
"Daisy anakku, aku mungkin tidak merawat dan menjaganya seperti ibu-ibu yang lain. Tapi aku tidak pernah tidak menganggapnya"ucap Laura.
" Lantas kenapa dia tidak ada dalam kartu Keluargamu." mendengar itu Laura lalu melihat ke arah Tuan Abrar.
"kita bisa menjadikan Dean cucuku, kita adopsi. Aku tidak bisa membiarkan sejarah keluargaku hancur karena keturunanku sendiri." Ucap Tuan Abrar.
Laura menatap ayahnya tidak percaya. Dia tau, kalau sejak dulu ayahnya sudah dingin padanya.
Dia tahu, kalau ayahnya mengharapkan anak laki-laki. Karena itu, dia mendidik Laura dengan keras, sampai pada saat masa pubernya, Laura membangkang dengan cara yang salah. Dan hamil.
Meski, sempat berusaha lari dari kenyataan bahwa dia adalah penerus Danendra, tapi dia akhirnya kembali pada keluarganya.
Meski tak meninggalkan Nevan dan Daisy sepenuhnya. Laura kembali ke rumahnya, untuk menjadi penerus Danendra.
Ketika dia berusia 23 tahun, tepat saat dia membawa Daisy ke rumahnya, dia mengetahui bahwa Tuan Abrar memilik anak yang seumuran dengannya. Hal Itu, tak sengaja dia dengar dari obrolan mamanya dengan salah satu pelayan setia mamanya, yang biasa dia panggil Om Bagas.
Sebenarnya, Bagas adalah mantan kekasih Nyonya Liza.Meski membenci Bagas yang tidak bisa memperjuangkan cinta mereka, Liza tidak ingin membuang Bagas sebagai salah satu orang yang setia padanya.
Mendengar hal itu, akhirnya Laura menanyakan pada Bagas apa yang sebenarnya terjadi.
"Om, tadi aku dengar pembicaraan Om sama mama tentang anak Ayah." ucap Laura menginterogasi Bagas.
Bagas menghela kasar." Om gak tau, apa yang harus om ceritakan. Karena mamamu tidak ingin kamu mengetahui ini."
Akhirnya, Bagas menceritakan semuanya. Tentang Rika dan Abrar yang berselingkuh dan melahirkan seorang Putra. Abrar bahkan pernah menyarankan jika seorang putra dia akan merawat dan mengambil putranya sebagai anaknya dan Liza. Demi menjaga nama baiknya.
Tapi, Rika tidak ingin menyerahkan putranya dan Liza juga sangat menentang hal itu, hingga akhirnya Abrar terpaksa membiarkan Rika pergi, tanpa tahu dan melihat putranya.
__ADS_1
"Aku gak percaya, ayah tega lakuin ini sama aku. Terus, bagaimana dengan Nevan dan juga Mama Anita?" tanya Laura. Karena Dia dan Nevan benar-benar menikah hari itu dan menandatangani buku nikah.
...****************...