Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Menikah


__ADS_3

Melihat Dewi, Nadia yang emosi langsung mendekati Dewi dan menamparnya.


"Berhenti berakting, dasar pelayan berlagak nyonya."


"Mbak Nadia." Daryn berdiri dari kursinya dan berdiri di depan Nadia.


"Harusnya kalian menjaga Daryn agar tidak bertindak bodoh seperti ini." Nadia menatap sinis pada Dewi.


"Ha.. Hahahahahhahaah.... " Dewi langsung tertawa.


"Aku gak tau sejak kapan mbak mulai membenciku, karena seingat ku mbak sangat menyayangi kami bertiga. Tapi, mbak tau kan. Posisi ku di rumah ini adalah anak angkat. Saya bukan berlagak nyonya. Tapi aku memang Nyonya di rumah ini. Yah, meskipun hanya sebagai anak angkat."


Dewi menggeser Daryn ke samping dan menampar Nadia.


Liam yang baru masuk kaget melihat istrinya dan langsung menggenggam tangan istrinya.


"Sayang, sabar." Bisik Liam.


"Iya, saya memang anak yatim piatu yang di bawa ke rumah ini oleh kakek mbak Nadia. Beliau tak pernah membedakan kita, karena itu saya masih di rumah ini. Saya dan Liam masih berada di rumah ini, karena beliau yang memintanya. Jadi Nyonya Nadia. Saya harap anda jangan pernah berani menampar saya lagi. Dan hargai keputusan orang tua di rumah ini." Dewi langsung berjalan keluar karena kesal, dia tak ingin menjambak rambut Nadia. Liam hanya diam mengikuti istrinya.


"Aku lupa, kalo sahabatku yang satu itu, tidak akan pernah mau kalah." batin Daryn.


Nadia masih berdiri diam tak bicara.


"Kalau mbak memang tidak bisa menerima pilihanku, ada baiknya mbak fokus dengan keluarga Anggara. Aku tidak bisa memaksa mbak Nadia menyukai semua orang yang aku sukai."


"Jadi kamu melarang ku ke sini?" tanya Nadia kesal.


"Meski saya larang, mbak akan tetap ke sini kan? Dengan alasan ini juga rumah mbak Nadia dan rumah kakek kita." Daryn kembali duduk.


"Aku harap, mbak bisa hadir di acara resepsi ku, pernikahanku akan diadakan di KUA tanpa tamu undangan yang hadir." Daryn lalu kembali pada pekerjaannya.


"Dan satu lagi mbak. Kalau sampai mbak Nadia berusaha menggagalkan pernikahanku dengan Daisy. Aku Gak tau, aku bisa melakukan apa pada keluarga Anggara. Meskipun Keponakanku juga anggota Anggara." ancam Daryn.


Nadia tau, ucapan Daryn buka sekedar omong kosonh, membuat dia semakin marah.


Setelah lumayan lama berdiri menahan amarah dan tak berhasil, Nadia pergi dengan marah dan membanting pintu dengan keras.


Daisy yang mengetahui Nadia datang, hanya diam di kamar. Bukan karena takut, tapi dia hanya menghindari dan tak ingin menambah masalah.


Setelah Nadia pergi, Daisy menuju ke ruang kerja Daryn.


"Maaf, saya menyebabkan Tuan dan Nyonya Nadia jadi ribut." Ucap Daisy berdiri di depan Daryn.

__ADS_1


Daryn langsung menatap Daisy dengan dalam, dan kemudian tersenyum.


"Bagaimana bisa itu salahmu, yang mengajak kamu menikah itu aku. Kamu sudah pernah pergi, dan aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi, apapun alasannya. Dan satu lagi, aku masih belum menemukan apa panggilan yang cocok untuk kamu memanggilku." Daryn berdiri dan ingin mendekat pada Daisy.


Daisy mundur beberapa langkah.


"Tuan lebih baik tetap di situ, kita harus menunggu beberapa hari lagi."


Mendengar ucapan Daisy, Daryn langsung membuang dirinya di atas kursi kerjanya.


"Baiklah," jawabnya lemas.


Daisy tersenyum."Bagaimana kalau Om? Sayang? Mas? Cintaku? " Daisy langsung menggosok tangannya karena bulu tangannya berdiri geli mendengar nama panggilan untuk calon suaminya.


Daryn, kembali duduk dengan tegak mendengar ucapan Daisy. "Aku suka dengan panggilan sayang."


"Hemmm... Apa kita tidak bisa memikirkannya saat sudah menikah? Saya suka memanggil Tuan dengan panggilan Tuan."


Dewi mengetuk pintu dan masuk.


"Apa aku mengganggu?"


"Gak kok, Nona Dewi bisa masuk."


"Nona Dewi, pipinya kenapa? Apa Nyonya Nadia?" Daisy langsung memeriksa pipi Dewi dengan seksama.


"Yah, tamparannya lumayan keras. Dan aku sudah membalasnya." ucap Dewi tersenyum sambil mengelus pipinya.


"Maafin mbak Nadia, kamu tau kan kenapa dia begitu. Kita harus berusaha memahaminya." Daryn menatap Daisy dan Dewi dengan rasa bersalah.


"Gak usah khawatir, kamu dan Daisy harus fokus dengan pernikahan kalian. Oh yah, aku mau tanya dari pihakmu apa ada yang harus di undang? "tanya Dewi menatap Daisy.


"hemmm... Sepertinya sahabat saya gak bisa datang. Dan ibu angkat saya juga tidak bisa. Sepertinya, tidak ada." Daisy tersenyum getir.


"Kamu gak usah khawatir, sekarang kamu sudah ada keluarga baru yang akan menjagamu." Dewi memeluk Daisy untuk menyemangatinya.


"Oke, sekarang aku tau, kenapa memeluk orang gemuk itu sangat menyenangkan. Hehehehehee." Dewi melepaskan pelukannya.


Daisy ikut tertawa, "Saya sering mendengarnya juga, sahabat saya, Ava tidak pernah berhenti memeluk dan memainkan lemak saya." Daisy menggeleng.


"Aku ingat, waktu pertama kali bertemu. Sahabatnya sedang memainkan lemaknya. Karena itu, sebenarnya aku juga ingin mencobanya."


"Tuan Daryn?! sudahlah, saya gak mau disini lagi." Daisy langsung pergi ke kamarnya karena malu. Dia sama sekali tidak tersinggung ketika orang-orang yang dia sayangi menyinggung lemaknya.

__ADS_1


"Waahh... Kamu Gak peka sekali?" ucap Dewi.


"Apa? Aku hanya menganggapnya lucu dan menggemaskan." Daryn bingung.


Dewi menggeleng, "sebagai wanita, mana ada yang senang jika calon suaminya sendiri membahas lemaknya. Keterlaluan kamu. Oh ya, ngomong-ngomong darimana Mbak Nadia tau tentang pernikahan kalian?"


"Dia bilang, salah satu temannya memberitahunya kalau aku mendaftarkan pernikahanku dan Daisy. Tapi, aku tau, memang ada pelayan yang selalu memberitahukan tentang keadaan rumah ini ke mbak Nadia."


Akhirnya keesokan paginya, Daryn memanggil seluruh pelayannya. Agar apapun yang terjadi di kediaman Leroy, tidak boleh sampai keluar dari rumah.


"Tuan Daryn tau, beberapa dari kalian sudah bekerja di rumah ini sejak kami masih kecil, sejak Mbak Nadia masih tinggal disini. Tapi, sekarang kalian sudah bekerja untuk Leroy, Daryn Leroy. Jadi Tuan Daryn adalah majikan kalian. Jika kalian masih ingin Nadia sebagai majikan kalian, Tuan Daryn persilahkan kalian untuk pergi. Dan Ini peringatan pertama dan juga terakhir dari Tuan Daryn. Dan jika setelah ini, ada ketahuan kalian menyampaikan atau membocorkan keadaaan rumah ini, kepada siapapun akan di pastikan kalian akan dipecat tanpa pesangon. Jika kalian ingin mengundurkan diri sekarang, kalian bisa hubungi Nona Dewi."Liam menyampaikan pesan Daryn kepada para pelayan.


Ada 2 orang pelayan yang mengundurkan diri dan bekerja untuk Nadia. Mereka Takut dengan ancaman Daryn.


Hari pernikahan pun tiba, Daryn dan Daisy berangkat ke KUA untuk menikah, Dan acaranya mereka adakan di kebun di kediaman Leroy. Hanya beberapa orang yamg hadir dan mengetahui pernikahan ini, bahkan beberapa pelayan dan pegawai baru diliburkan untuk hari ini.


"Daisy, aku tuh sedih. Bagaimana bisa kamu gak ngabarin aku dan aku hanya tau dari Mama." Nivia memeluk Daisy, ikut bahagia.


Nivia senang dua orang yang dia pedulikan menjadi suami istri dan akan salin menjaga, dia hanya tidak menyangka kalau mereka sampai mempertimbangkan untuk menikah, mengingat Daisy dan keinginannya memiliki rumah tangga yang sederhana.


"Maaf, aku benar-benar ingin menelpon mu setelah menelpon bik Imah, tapi aku keasikan ngobrol dan sudah malam, dan kesibukan ini, meskipun ini rahasia, dan aku pikir kamu juga akan marah seperti mamamu, karena aku gak pernah bicarakan hal ini sama kamu. Maaf."bisik Daisy dan kembali memeluk Nivia lebih erat.


Meskipun agak kecewa karena tak memberitahunya dari awal, tapi memang Daisy juga selalu menjaga jarak dari Nivia sejak bertemu dengan Nadia. Dan Nivia berusaha mengerti keadaan Daisy.


Naza mendekat, dan menarik Nivia dari pelukan Daisy.


"Kakak Nivis, sekarang tante Daisy sudah jadi Bunda nya Naza. Jadijangan lama-lama peluknya."


"Bunda?" tanya Nivia.


"Iya, Bunda bilang, panggilnya Bunda." Nivia lalu menatap Daisy.


"Kenapa?"


"Aku gak mau buat Naza bingung, meski nanti Mamanya datang dia akan tau, kalau aku bundanya dan Mamanya adalah orang lain."


"Aku yakin, Naza akan bahagia punya Ibu sambung sebaik kamu. Dan Om Daryn juga."


Malam itu, resepsinya berjalan lancar. Semua Terlihat senang dan bahagia kecuali satu orang yang ikut hadir.


"Aku akan perlihatkan ke kamu, kalau gadis itu juga hanya akan memanfaatkan kekayaanmu." ucap Nadia pelan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2