
"Sekarang, jelaskan. Dia selalu muncul di setiap bisnismu." Daisy memasang wajah marahnya.
Tapi, Daryn hanya tersenyum mendengar pertanyaan Daisy. Membuat Daisy semakin marah.
Daisy hendak meninggalkan Daryn, tapi Daryn langsung menariknya ke pelukannya.
"Apakah sekarang istriku sedang cemburu?" Daryn menggoda istrinya.
"Cemburu? Siapa yang cemburu? Saya cuma bertanya." Daisy melepaskan pelukan Daryn.
"Dia itu teman kuliahnya Liam, dan sekarang bekerja sebagai penasehat hukum bersama Liam." jelas Daryn tak mau istrinya lebih cemburu.
"Oohhh... Tapi, kenapa dia selalu berdiri dan tersenyum seperti itu sama Dada? Apa dia menyukai Dada?" Tanya Daisy.
"Kenapa kita harus bicarakan dia. Dia cuma salah satu pegawaiku. Dan yang lebih penting. Apa kamu tidak rindu pada suamimu?" Daryn membuka lengannya, dan Daisy mendekat memeluknya.
"Tentu saja saya rindu. Tapi saya hanya kesal. Selalu Melihat wanita itu setiap Dada masuk berita. Sebagai sesama wanita, saya bisa melihat senyumnya mencoba menggoda suami saya." ucap Daisy masih cemburu.
"Kamu tau, aku tidak pernah memperdulikan wanita lain. Apalagi setelah menikahi gadis sepertimu. Yang selalu perhatian dan juga mencintai aku dan putri kita." Daryn menyentuh wajah Daisy dan mengarahkan wajahnya padanya.
Perlahan, mendekatkan wajahnya. Bibir mereka saling mengecup, dan berubah menjadi pergumulan panas.
Sampai suara ketukan kamar, menghentikan mereka.
"bundaaaa.....! "
Tok.. Tok.. Tok...
Naza mengetuk pintu dari dalam kamar.
"Astagaaaa... Naza. Saya menguncinya di kamar." Dengan cepat Daisy membuka kamar.
"Bundaaa" Naza menangis dan memeluk Daisy ketika pintu kamar di buka.
"Maaf sayang, bunda lupa."
"Apa cuma Bunda aja yang di peluk?"
Mendengar suara Papanya , Naza langsung memeluknya.
"Kenapa Naza di kunci di kamar?" Daisy merasa bersalah karena melupakan Naza.
Akhirnya Daryn menjelaskan kejadian tadi, san Bundanya hanya berniat melindunginya. Naza kembali memeluk Daisy.
Mereka langsung, sarapan dengan makanan yang di siapkan oleh Daryn. Seperti biasa, dia membelinya dari restoran.
"Oh yah, saya pikir Dada akan pulang malam. Kenapa Pagi sekali sudah ada disini?" tanya Daisy sambil menyuap makanannya.
"Pekerjaanku selesai lebih awal, dan malam aku langsung berangkat ke sini. Supaya pagi, langsung bertemu dengan Ratu dan Putriku ini." Daryn mencubit pipi Naza.
__ADS_1
Mereka sarapan sambil mengobrol.
Setelah sarapan, Daryn langsung tidur, karena lelah dalam perjalanan. Sementara Naza di jemput Tito untuk di antar ke sekolahnya.
Karena masih belum bisa berjalan dengan lancar, Daisy hanya bermain ponsel dan menonton TV di ruang tengah tak ingin mengganggu Daryn yang kelelahan.
Merasa bosan, dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Dia memutuskan untuk merendam diri dalam bathtub, karena sudah lama tak berendam.
Sambil menutup mata dan bersenandung, Daisy menikmati mandi busanya.
Dia kaget dan agak berteriak, ketika membuka matanya Daryn sudah tersenyum melihat dirinya dan berdiri di pintu kamar mandi.
"Sepertinya, aku juga butuh untuk merilekskan tubuhku." ucap. Daryn mendekat.
Melihat tatapan suaminya, Daisy tau apa yang dipikirkan Daryn.
"Ahhh... Saya Sudah selesai. Kalau begitu, saya akan siapkan air hangat buat Dada." Belum sempat berdiri, darin sudah memasukkan kakinya dan tak membiarkan Daisy beranjak.
"Duduklah, aku akan menggosok punggungmu." Daryn lalu menggeser tubuhnya agar bisa duduk di belakang Daisy.
Daisy pun memberikan ruang untuk Daryn duduk di belakangnya.
"Sudah lama, kita gak mandi berdua seperti inu. Karena aku sangat sibuk." Ucap Daryn sambil menggosok punggung Daisy dengan lembut kemudian mencium bahunya
Perlahan-lahan tangan Daryn mulai membersihkan bagian depan Daisy, mulai dari buahnya, sampai ke perutnya.
Daisy merasa getaran di tubuhnya. Sebelum bisa lebih jauh, Daisy menghentikan Daryn dan memintanya bergantian menggosok punggung Daryn.
Daryn hanya tertawa kecil.
"Kamu kenapa, menghindar?"
"Nggak, saya gak menghindar. Tapi, karena sekarang giliran Dada yang dibersihkan."
Daisy langsung menggosok punggung Daryn ketika dia berbalik.
Setelah itu, merekapun membilas tubuh mereka sampai bersih dan kembali ke kamar.
Daryn yang sudah merindukan sentuhan istrinya itu langsung memeluk Daisy dari belakang dan meremas pelan bagian tubuh Daisy, membuatnya mendes*h.
Karena hanya berdua saja, mereka bisa melakukan dengan puas, tanpa harus khawatir putri mereka mendengar.
Ketika selesai, mereka baru sadar kalau mereka bermain cukup lama. Dan putri mereka sebentar lagi akan pulang.
Dengan cepat Daisy mandi dan membersihkan tubuhnya, sementara Daryn tertidur.
Setelah mandi, dia mendengar bel. Lalu menuju pintu, dia heran kenapa Naza membunyikan bel pintu.
__ADS_1
"Kenapa gak langsung masuk, sayang?"
Daisy melihat kamera, dan melihat putrinya menggendong boneka besar sehingga tak bisa membuka pintu.
"Sayang, kenapa gak minta om Tito bawakan buat Naza?" ucap Daisy membuka pintu hanya dengan menggunakan jubah mandi dengan rambut yang agak basah.
Tito juga membawakan boneka besar Naza di tangan kanan dan kirinya. Tito dan Daisy sama-sama terkejut melihat satu sama lain.
Tito berusaha mengalihkan pandangannya dari tubuh Daisy.
Setelah Naza dan Tito masuk, Daisy langsung dengan cepat kembali ke kamarnya mengganti pakaiannya.
Setelah berganti pakaian,
"Makasih Kak" Ucap Daisy, ketika Tito akan keluar dari rumahnya.
"Apa kamu baik-baik saja?"Tanya Tito mengingat melihat tanda di tubuh Daisy, yang memang lebih banyak dari biasanya.
"Ohh.. Iya. Aku baik-baik aja. Kenapa Kakak nanya? Apa aku kelihatan sakit?" Daisy lalu memegang wajahnya.
Tito melihat ke arah pergelangan tangan Daisy dan lehernya. Tubuh Daisy memang gampang membentuk bekas, dan hari ini, memang Dia dan suaminya bermain lebih keras dari biasanya.
"Ahhh..... Kakak tau kan. Aku gampang meninggalkan bekas.Aku baik-baik aja." Daisy lalu tersenyum.
Tito jadi ingat, ketika dia menarik tangan Daisy dan juga meninggalkan bekas. Dia tau, kalau Daisy baik-baik saja.
Setelah meninggalkan rumah itu, Tito langsung kembali ke rumah utama. Merasa kesal, harus membayangkan gadis yang dia idam-idamkan berada di pelukan orang lain.
Selama ini dia bertahan, karena dengan hanya menemani dan melihat Daisy, dia pikir itu semua cukup untuk dirinya. Tapi, semakin hari melihat Daisy, dia semakin menginginkannya.
Apalagi setelah melihat sedikit bagian tubuh Daisy, dan bayangannya Daisy bermain dengan suaminya membuat dia semakin sakit hati.
Dia sudah memutuskan mengundurkan diri beberapa bulan lalu, tapi dia masih ingin berada sedikit lebih lama bersama Daisy. Tapi melihat Daisy hari ini, dia tau. Daisy bukanlah seseorang yang bisa dia tunggu dan harapkan jadi miliknya.
Tito pun, menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri pada Liam.
Liam tidak setuju dengan pengunduran dirinya, dan hanya ingin menukarnya dengan orang lain. Karena dia juga perlu uang untuk adik-adiknya maka ia tak jadi mengundurkan diri, hanya menukar jadwal kerjanya.
Keesokan harinya, Daisy yang mengantar Naza ke mobil, melihat pengawalnya sudah di ganti.
"Kak Tito mana?" tanya Daisy pada Pak Adi.
"Mereka sudah menggantinya, sekarang Aldo yang menggantinya." Jawab Adi.
Daisy agak kecewa dengan penukaran pengawal. Dan langsung menelpon Daryn yang sudah lebih dulu berangkat.
"Kenapa Kak Tito di ganti?" mendengar pertanyaan Daisy, Daryn langsung menyuruh Liam untuk putar balik ke rumahnya.
...****************...
__ADS_1