Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Dia Wanitaku


__ADS_3

"Jika kamu mencintaiku, jika kamu ingin punya anak dariku, lantas kenapa kamu minum obat untuk menunda kehamilanmu? Kenapa?? Jawab Daisy." Daryn mencengkram kedua lengan Daisy dan menggoyangkan tubuhnya.


Daisy yang terkejut mendengar pertanyaan Daryn, tenggorokannya tercekat. Tidak tau apa alasan yang harus dia berikan, bukan karena tak punya jawabannya. Tapi melainkan terkejut dengan tingkah Daryn.


"Lepaskan saya." Daisy mendorong Daryn dan melepaskan tubuhnya dari Daryn dan berdiri dari tempat tidur.


"Kamu tahu, kamu bisa menanyakannya pada saya baik-baik. Apa seragu itu cintamu pada saya? " Daryn kemudian ikut berdiri dan mendekat pada Daisy, tapi Daisy memundurkan langkahnya.


"Bagaimana aku bisa berpikir jernih? Bagaimana bisa aku tidak ragu? 1 tahun lebih kita menikah. Aku tidak tau, kalau kamu tidak ingin punya anak dariku." Daryn berteriak, rapi berusaha memelankan suaranya.


Daisy menutup matanya dan menahan emosinya. Menarik nafasnya dalam-dalam berkali-kali. Air matanya terus memaksa jatuh.


"Mungkin cintamu yang kurang. Mungkin kamu yang ragu dengan saya. Kamu tidak tau, seberapa inginnya saya punya anak denganmu. Bahkan saya pernah berfikir untuk mengabaikan hati saya, agar punya anak denganmu." ucap Daisy yang kecewa pada Daryn.


"Apa maksud mu?" Daryn sama sekali tidak mengerti maksud Daisy.


"Jika kita punya anak. Aku tidak percaya diri bisa mencintai Naza seperti anakku sendiri. Jika seperti itu, maka aku gak ada bedanya dengan Alea yang meninggalkan Naza karena tidak bisa menganggap Naza sebagai putrinya. Dan aku tidak ingin seperti itu. Bahkan, ibuku sendiri, ibu kandungku sendiri membuatku menjadi anak orang lain. Dan aku tidak ingin begitu. Aku ingin mencintai Naza sepenuh hatiku, aku ingin dia mendapatkan cintaku sepenuhnya sebelum aku bisa membaginya."


Mendengar ucapan Daisy, Daryn mengerti dan merasa bersalah pada Daisy. Dia mendekat pada Daisy.


"Kenapa kamu tidak membicarakannya denganku?" Tapi Daisy memundurkan langkahnya lagi, dia merasa sangat terluka dengan perlakuan Daryn padanya.


"Kamu, mungkin bisa mencintainya sepenuhnya karena Naza adalah keponakanmu. Dan aku tidak ingin kamu menilai perasaanku pada Naza."lanjut Daisy dengan suara yang tercekat karena menangis.


"Maafkan Aku, Daisy." Daryn maju dengan cepat dan memeluk Daisy tak memberikannya kesempatan untuk menjauh darinya.


"Maaf.. Maafkan aku. Meragukan perasaanmu." Daryn memeluk Daisy dengan erat.


"Maafkan aku, karena menyakitimu, dan tidak bisa menahan amarahku." Daryn mencium kepala Daisy.


"Maafkan aku, belum bisa memahami mu. Meski kamu lebih sering memahami perasaanku." Daisy menangis semakin keras, dan air matanya tak bisa berhenti.


Dia sangat takut, jika memiliki anak. Naza akan merasa seperti anak tiri. Sebagai seseorang yang tau perihnya tidak dicintai sepenuh hati oleh orang-orang yang dia pikir adalah orang yang harusnya mencintai kita, akan membuat kita berfikir tentang apa yang salah dengan diri kita, sampai begitu sulit dicintai.


Daisy tau, rasanya saat menganggap dirinya seperti anak kandung, tapi ternyata hal itu tetaplah berbeda. Saat seperti dia dan Ava terluka, Bik Imah langsung berpaling dan meninggalkan dia demi Ava, meski dia mengerti, tapi hatinya selalu terluka.


Mengerti dan memahami bukan berarti dia tidak terluka.


Karena itu, dia ingin memberikan Naza cinta seutuhnya sebagai seorang ibu, sebelum dia memiliki anaknya sendiri.


"Saya tau, saya harusnya membicarakannya pada Dada." ucap Daisy sambil sesenggukan.


"Aku, akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap." Daryn memeluk Daisy dan membawanya kembali ke tempat tidur.


Dia mengecup dahi Daisy dan memeluknya. Daisy tertidur karena lelah menangis.

__ADS_1


"Kenapa aku begitu bodoh, membuat Daisy menangis dan ketakutan. Aku dan keegoisanku." batin Daryn mengutuk dirinya sendiri.


Keesokan paginya, Daryn bangun menyiapkan sarapan yang sudah dia pesan di restoran dan menyiapkannya di atas meja.


"Papa, hari ini papa masak? Bunda mana?" tanya Naza yang keluar dari kamar, setelah membasuh wajahnya.


"Sssttthh.. Bunda masih tidur." Daryn melarang Naza untuk ribut. Naza berjalan ke samping Daryn dengan niat membantunya menyiapkan piring. Tapi, dia malah tertawa setelah melihat bungkusan makanan didekat kaki Daryn.


"Hahahahahha... Papaaaaa.. Apa itu??" Naza tertawa sambil menunjuk ke arah bungkusan makanan.


"Hahahahhaa... Ini adalah keahlian baru Papa. Membuka bungkusan makanan dan memindahkannya ke piring. " Dia melakukannya dengan percaya diri.


Naza hanya menggeleng melihat tingkah papanya.


Daisy terbangun karena mendengar suara tawa dari dapur, melihat jam dia langsung terkejut, segera cuci muka dan langsung ke dapur.


Dia berhenti ketika melihat Naza dan Daryn sibuk dan tertawa sambil mengurus meja makan.


"papa, bunda biasanya taro sendok di sebelah sini." Naza mengajarkan Daryn mengatur meja.


"Papa tau." Naza terus menggelengkan kepalanya melihat papanya yang tidak mau kalah.


Daisy tersenyum.


"Siapa yang masak? Wanginya sangat enak." Daisy menyapa anak dan suaminya.


Daisy berjalan ke sebelah Daryn, dan melihat bungkusan makanan. Daisy berusaha menahan tawanya, dan memasang wajah datar.


*Naza, sepertinya masakan papamu hari ini terlihat sangat lezat."


Naza mengangguk dan tertawa.


Daryn langsung berjalan ke arah Naza dan menggelitiknya.


"Dari tadi kamu nyindir papa terus yah."


"Bundaaa... Toloong... " Naza langsung berlari ke arah Daisy dan meminta perlindungan.


Daisy pun ikut di gelitik oleh Daryn.


Mereka berlari ke ruang tengah.


Sampai bel rumah berbunyi, mereka baru berhenti bercanda dan tersadar kalau mereka terlambat. Karena Liam sudah menjemput Daryn. Dan Tito juga sudah menunggu di depan.


Daisy masuk ke kamar mengganti pakaian yang lebih tertutup, dan Daryn membukakan pintu untuk Liam dan Tito.

__ADS_1


Mereka di persilahkan untuk sarapan bersama.


Liam dan Tito memuji masakan Daisy.


"Ini bukan masakan ku. Tapi, kalau enak aku bersyukur." Daisy dan Naza saling melihat dan tersenyum.


"Ini, masakan Tuan Daryn?" Tanya Liam lalu mengerutkan dahinya. Dan mencium aroma masakan lebih dekat.


"Ini, dari restoran?" tanya Liam.


"Iya, memangnya kenapa?" Daryn menjawab kesal.


Liam dan Tito tak berani bersuara lagi.


"Hari ini, kita akan libur. Kita akan jalan-jalan ke Aquarium." lanjut Daryn.


Wajah Naza dan Daisy langsung berubah menjadi lebih sumringah.


Setelah sampai di Aquarium, mereka sangat takjub. Melihat hewan laut dari dekat. Dulu ketika ke kebun binatang, mereka hanya bisa menemui hewan darat. Dan ini pertama kalinya mereka mengunjungi hewan laut.


Daisy dan Naza terus berjalan, tanpa sadar Daryn tak terlihat di belakang mereka.


"Naza, papa kamu mana? Kamu diam di sini dulu yah, sama Om Tito."Naza mengangguk, Daisy yang khawatir tak melihat suaminya langsung berjalan mencarinya dengan terburu-buru.


Berusaha menghindari anak kecil yang tiba-tiba berlari di hadapannya, Daisy langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh dan kakinya terkilir.


Naza dan Tito dengan cepat menghampiri Daisy. "Bunda...! " Teriak Naza.


Tito dengan cekatan berusaha membantu Daisy berdiri. Tapi meringis kesakitan.


Dan Tito langsung menggendong Daisy dengan bridal style.


"Kak, turunkan aku." bisik Daisy. Tapi Tito tak mau mendengarkannya. Dan ingin menggendong Daisy sampai mobil.


"Kamu keseleo dan harus di bawa ke dokter." Tito terus berjalan.


Belum sempat minta diturunkan, Daryn dan Liam berdiri di hadapan mereka.


"Ada apa ini? Kenapa kamu menggendong istriku seperti itu?"


"Kaki Daisy terkilir, dan saya akan membawanya ke rumah sakit." Tito berusaha melewati Daryn.


"Turunkan dia, biar aku yang menggendongnya."ucap Daryn.


" Tapi, Tuan."

__ADS_1


"Turunkan dia, dan aku yang akan menggendongnya. Dia adalah istriku dan dia adalah wanitaku. Jadi, aku yang akan mengurusnya." Bisik Daryn dengan kesal pada Tito.


...****************...


__ADS_2