
Daryn melihat Liam dengan kesal.
"Suruh saja, entah dia mau berdiri saja atau apapun, yang penting dia sibuk."
"Baik Tuan." Liam benar-benar menahan senyumnya.
"Karena perintah ini, Tuan harus mengizinkan saya untuk menemani istri saya berlibur ke Bali" ucap Liam
Daryn mengerutkan wajahnya. "Apaan kamu ini?"
"Sebenarnya , saya bertaruh dengan istri saya. Jika Tuan memberikan tugas pada Tito besok, berarti Tuan benar-benar menyukai Daisy."
"Hentikan omong kosong kalian." Dia berdiri lalu kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, ketika sarapan di meja makan. Daryn terus menatap Daisy dan Naza. Dia tersenyum melihat interaksi mereka.
"Tuan, lebih baik anda sarapan." Liam menyentuh bahunya menyadarkannya dari lamunannya.
"Ini semua gara-gara kalian berdua. Kalian menghasut pikiranku." Bisik Daryn pada Liam dengan kesal.
Daisy melihat ke arah Daryn dan tersenyum menyapa. Karena tak mungkin semeja tanpa menegur.
"Aku berangkat dulu" ucap Daryn berdiri dan meninggalkan meja makan.
"Dadah Papa... " Naza melambai pada Daryn.
Daisy dan Naza, tengah asyik menikmati udara di taman belakang sambil belajar membaca. Karena sebentar lagi, Naza akan masuk taman kanak-kanak.
"Hai, kalian sedang apa?" Sapa Daryn yang hanya 2 jam di kantornya.
Daisy dan Naza kaget melihat Daryn yang tiba-tiba datang.
"Papaaaa... " Naza berdiri dan langsung memeluk Daryn.
"Tadi pagi, papa lupa kecup Naza. Apa papa pulang buat kecup Naza?"
"Iya dong, Papa keinget terus" Daryn langsung menciumi kening dan pipi Naza.
"Papaaaa... Hahahaha... Geli.... Papa ada kumisnya." Naza tertawa berusaha menjauhkan wajahnya dari Daryn.
Daisy tersenyum melihatnya, tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
Dia rindu pada ayahnya. Ketika pulang kerja, meskipun dalam keadaan lelah, selalu tersenyum pada Daisy. Demi kehidupannya, ayahnya berhenti sekolah dan bekerja serabutan.
"Tuan Daryn, sangat mencintai Naza. Meskipun dia bukan putri kandungnya. Sementara ibuku, mengabaikan ku, begitu juga dengan kakek dan nenekku. Yang katanya adalah keluargaku."batin Daisy.
"Tante, kenapa nangis?" Suara Naza membangunkannya dari lamunannya.
" Maaf, tante ke kamar mandi dulu." Daisy bangun dan berjalan cepat ke arah kamar mandi di kamarnya, dan menangis di sana.
"Kenapa papa, begitu cepat pergi? Aku kangen papa." Daisy menangis sesenggukan.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, akhirnya dia keluar setelah membasuh mukanya dan menenangkan dirinya.
"Daisy, kamu ikut saya. Naza main sama Bi Nanik dulu yah?" Daryn memanggil salah satu pelayan.
Setelah masuk di ruang kerja.
"Apa kamu sedang ada masalah?" Tanya Daryn.
"Tidak Tuan, saya baik-baik saja." Daisy menjawabnya dengan senyuman terpaksa.
"Saya harap, kamu tidak menangis di hadapan Naza. Kamu tau, gadis itu sangat sensitif."
"Baik Tuan." Daisy menjawab dan masih berdiri menunggu perintah Daryn yang lain.
Daryn yang melihat Daisy tak bergerak, menatapnya.
"Kamu ada yang ingin kamu sampaikan? Jika tidak, kamu boleh keluar." ucap Daryn dingin.
"Bagus, sekarang kamu terlihat seperti laki-laki yang tidak memperdulikan perasaan orang lain." batin Daryn.
Daisy lalu keluar dari ruang kerja Daryn dengan heran. "Hanya itu saja? Memanggilku hanya bertanya itu saja?" Daisy mengerutkan alisnya dan pergi menemui Naza.
"Hai, aku belum terlambat kan? Soalnya, aku baru dapat tugas mendadak, jadi lupa ngabatin." Tito menyapanya saat perjalanan ke kamar Naza.
Daisy melihat jam di ponselnya dan tersenyum.
"Nggak kok Kak. Belum terlambat. Dan Naza baru akan siap-siap. Jadi kita bisa pergi saat Naza di kelasnya."
Daisy mengangguk dan mempersiapkan Naza untuk mengikuti kelas pianonya. Naza sangat suka bermain Piano, sampai ayahnya memberikan kursus di kelas yang terkenal.
Selama 2 jam, Daisy dan Tito memiliki waktu untuk mengobrol. Tito adalah laki-laki yang sangat perhatian. Karena dia sejak kecil sudah membantu ibunya merawat adik-adiknya.
Mereka memutuskan berjalan di taman setelah makan siang. Setelah membeli 2 buah es cream mereka duduk di bangku taman.
"Apa kamu yakin, kamu ingin langsung menikah? Seperti yang kamu bilang. Kamu gak mau pacaran. "
Daisy terdiam sesaat.
"Hemmmm.... Kalau aku menemukan lelaki yang tepat. Aku akan langsung menikah." Daisy menjawabnya dan menggigit es krimnya.
"Sebentar, ada sesuatu di bibirmu." Tito mengelapnya dengan tisyu, membuat Daisy merasa malu.
Tito menatap wajah Daisy. Tito memang sudah lama menaksir Daisy, tapi dia sering kehilangan kesempatan untuk bicara padanya. Mengenal dan mendengar tentang Daisy dari orang-orang di sekitar rumah itu. Daisy benar-benar tipe idealnya.
"Bagaimana kalau aku mengajakmu menikah?" tanya Tito masih mengelap bibir Daisy.
Daisy lalu memundurkan wajahnya.
"Saya akan mengelapnya sendiri." Daisy menghindari pertanyaan Tito.
Ketika Daisy akan berdiri, Tito menarik tangan Daisy.
__ADS_1
"Aku mohon, gak perlu menghindar. Aku gak minta kamu jawab sekarang juga." Jawab Tito menenangkan Daisy.
Daisy duduk kembali.
"Aku tau, kita baru bicara dua kali. Tapi aku mengenalmu melalui orang lain sudah 3 bulan." lanjut Tito.
Daisy hanya bisa terduduk diam, tak bersuara.
"Kak Tito, maafin aku." ucap Daisy.
Mendengar ucapan Daisy, Tito tau kalau dia akan di tolak.
"Untuk saat ini, aku belum bisa menerima kakak, karena aku belum selesai kuliah, selain itu, ada banyak hal yang ingin aku lakukan." Daisy menjawabnya merasa tak enak.
Ini bukan kali pertama dia menolak laki-laki. Dan dia sangat takut, Tito akan sama seperti Devan.
Dengan cepat Daisy mengajak Tito untuk pulang dan menyudahi jalan-jalan mereka.
"Saya rasa, sebentar lagi Naza akan pulang. Kalau begitu saya akan kembali ke tempat Naza.
Meski merasa sedih, Tito tetap tersenyum. Dia mengerti. Daisy masih kuliah dan masih muda. Seperti yang dikatakannya, dia masih punya banyak hal untuk dilakukan.
Dalam perjalanan ke kelas Naza, Daisy tak tau harus berkata apa. Dia tak ingin mengambil keputusan dengan gegabah.
Tito, adalah lelaki ideal dan juga tipenya.
Penyayang, perhatian, dan bertanggung jawab.
"Maaf, sudah membuat keadaan menjadi canggung." ucap Tito memecah keheningan.
Daisy menjawabnya dengan senyuman getir.
"Aku akan menunggu. Menunggu kamu sampai kamu siap."
Daisy lalu menghentikan langkahnya.
"Kurang lebih 3 bulan lagi, saya akan berhenti bekerja di sini. Jadi saya gak mau, kak Tito menunggu saya."
"Apa kalau kamu sudah berhenti, kamu tidak ingin bertemu sama aku lagi?"
"Bisa jadi, keadaan akan membuatnya seperti itu."
"Tapi, bisa jadi keadaannya juga sebaliknya. Semakin kita jauh, maka kamu akan semakin ingin bertemu dan mengobrol denganku." gida Tito.
"Kita bisa lihat nanti. Kalau sekedar mengobrol aku menerima tawaran itu dengan terbuka." ucap Daisy melanjutkan langkahnya.
Tito mengikuti langkahnya.
"Apa kamu sedang menyukai seseorang?" tanya Tito, membuat Daisy kembali membeku.
...****************...
__ADS_1