Calon Ayah Tiri

Calon Ayah Tiri
Kenyataan Yang Pahit


__ADS_3

"maaf? Kamu bilang? Sekarang ibuku sudah meninggal." ucap Laura menepis tangan Daisy dari tangannya.


"Mama... Ini bukan salah bu Rika."bela Daisy.


" bukan salahnya? Apa kamu tau, kalo wanita inu tau Tio , putranya itu sudah membunuh banyak wanita termasuk adiknya sendiri. Dan Dia membiarkan Tio tetap di sampingmu dan juga Dean. Dan Membiarkan semua ini terjadi." ucap Laura emosi.


Daisy menatap Rika dengan penuh tanya, meminta jawaban.


Rika hanya bisa menunduk, tak berani bicara.


"Tapi, Tio berubah sejak mengenal kamu. Emosinya Lebih jarang muncul. Ibu pikir, itu yang terbaik buat Tio. Dan ibu mana yang tega melihat putranya masuk penjara." ucap Rika sambil menangis.


Daisy benar-benar tidak menyangka. Memang, Daisy sudah sering tanpa sengaja mendengar dan melihat keanehan dari sikap Tio, tapi hanya berpikir, semua orang punya rahasia yang tak ingin diketahui dan keanehan masing-masing.


"Daisy, Nyonya Laura. Maafkan kami. Kami benar-benar tidak bisa bicara apa-apa lagi, selain kata maaf." ucap Tito menarik ibunya menuju kamar Tio. Tio berhasil selamat dan sudah dipindahkan ke ruang inap, yang dijaga ketat oleh polis dan juga pengawal pribadi Daryn. Karena Dia tak ingin memberikan celah lagi pada Tio.


Ketika tiba di depan kamar Tito dan ibu Rika melihat Daryn berada di depan kamar.


" Tuan Daryn, Apa yang anda lakukan di sini" tanya Tito kepada Daryn.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa adikmu itu masih hidup dan akan bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Maaf jika aku harus mengatakan hal ini tapi itulah yang harus terjadi " Ucap Daryn langsung pergi meninggalkan Tito dan ibunya.


"Daisy...! Kamu sudah sadar." Daryn langsung memeluk Daisy yang sedang duduk di kursi roda.

__ADS_1


"Dada...! Ini semua gara-gara aku. Andai saja hari itu aku gak lepasin Tio." isak Daisy memeluk Daryn.


"sssttt.. Sssussshhtttt. Ini bukan salah kamu sayang. Maaf, aku yang terlambat melindungi kamu." Daryn mengelus kepala Daisy.


Daisy lalu menatap Daryn yang masih memiliki perban di kepalanya.


"apa, dada , baik-baik saja." tanya Daisy mengelus perban Daryn.


"eheem.. Ehemm.. " Naza berdehem melihat orang tuanya.


Naza sedang menggendong Dean.


"Maamaaa... " Dean ingin digendong mamanya.


Dean mulanya ragu, tapi akhirnya mau di gendong Daryn, karena wajahnya tak asing bagi Dean.


"apa Dada sudah gak apa-apa? " tanya Daisy khawatir.


"iya, aku sudah gak apa-apa."


"Tadi Dada ke mana? " tanya Daisy.


"aku hanya memeriksa keadaan emm.. Laki-laki itu." ucap Daryn ragu.

__ADS_1


"aku sudah tau, apa aja yang dia lakukan. Tadi Kak Tito dan Ibu Rika ada disini."


"pasti, sangat sulit bagi kamu menerima itu semua. Karena selama ini, dia menemani dan menjaga kamu dan juga Dean."


"aku.. aku gak mau kita bahas dia lagi." ucap Daisy mengusap air matanya yang terlanjur keluar.


"Aku harap, kamu tidak akan menangis karena laki-laki lain lagi." ucap Daryn mengusap air mata Daisy.


"jadi, kalau gara-gara Dada?" tanya Daisy mengerutkan alisnya.


"Dan aku akan berusaha tidak akan pernah membuat kamu menangis lagi." Daryn berjanji dengan mantap.


"haaaah" Naza menghela kasar.


"Bunda, harus ingat janji Papa. aku dan Dean jadi saksi, kalau sampai papa ingkar janji. Papa akan kena hukuman." ucap Naza memeluk Daisy dari belakang.


"ayo, sekarang kita temani Mamanya Bunda. Kasian Dia sendirian."


Dan mereka pun berangkat ke rumah duka. Semua relasi dan rekan bisnis Tuan Abrar mengunjungi rumah duka. Sangat ramai.


"Apakah benar, yang membunuh Nyonya Liza adalah anak hubungan gelap Tuan Abrar?" tanya seorang wartawan pada tiap orang yang berhenti di depan pagar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2