Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
cinta menghapus kesedihanku (part 1)


__ADS_3


bayar utang dulu yah.







Hari itu begitu terasa membosankan untukku. Bagiku semua hari terasa sama, ya memang setiap harinya berbeda-beda nama, tapi tetap sama saja rasanya tak ada bedanya bagiku. Ya tentu saja hanya bagiku seorang.



Hal pertama yang mebuatku begini karena 'Dia'. Dia yang ku maksud adalah ibuku, wanita itu membuat aku dan ayahku selalu merindukannya. Bagaimana tidak semenjak kepergiannya aku hanya tinggal berdua saja dengan ayahku di rumah. Tapi apa boleh buat suatu musibah telah menimpanya.



Saat itu hari sudah larut malam, jalanan sudah sepi kira-kira jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Ibu baru pulang dari rumah nenek sehabis menjeguknya. Ayah dan aku tidak bisa menjeputnya karena kami sedang liburan di luar kota. Ibu sengaja tidak iku karena tidak ada yang menjaga rumah. Ya kami hanya bertiga. Aku, ayah dan ibu.



Dalam perjalanan pulang tiba-tiba saja dari arah berlainan datang mobil avanza hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi, mobil itu menyenggol stang kiri motor mio merah ibu. Itu menyebabkan ibu hilang keseimbangan dan tanpa iasadari ada truk yang sedang melaju cepat di sebelah kanannya. Dan akhirnya ibu menabrak truk itu dan terseret sejauh 4 meter.



Pada saat itu ibu masih setengah sadar tapi ketika menuju UGD ibu kehabisan darah dan akhirnya meninggal. Aku pun belum sempat mengucapkan kalimat terakhir untuknya. Jika teringat kejadian yang memilukan itu ingin rasanya aku mencari pengendara mobil avanza hitam yang telah menyebabkan kematian ibuku itu. Aku masih menyimpan dendam kepada pengendara tak bertanggung jawab itu!.



Yang kedua adalah cinta. Itu kata-kata yang sering kudapati pada sebuah novel, film, dan cerita sahabatku Lisa. Dan aku sendiri? Oh jangan tanyakan kepadaku, aku tentu saja tidak mengetahui apa itu cinta, cinta sejati dan sebagainya. Yang pernah kudapati adalah kasih sayang, ya kasih sayang ayah, ibu dan kasih sayang sahabat saja. Dan itu bagiku sudah lebih dari cukup.



Itulah sebabnya aku selalu termenung di balkon luar kamarku. Aku duduk pada kursi rotan berbentuk bulat dan dengan kaki yang tinggi. Kakiku ku taruh di anak kaki kursi rotan itu. Dengan tangan kanan menopang dagu, seraya tak lepas-lepas ingatanku pada sosok wanita itu. Padahal sudah genap enam bulan pasca kematiannya, tapi hingga saat ini aku masih belum merelakan kepergiannya yang terasa begitu cepat. Dan sampai detik ini dendam ku pada pengendara avanza hitam itu belum luntur.



Lisa adalah sahabatku. Rumahnya tepat di samping kanan rumahku. Kami memang bersahabat sejak kecil, dan kami selalu satu sekolah hingga di bangku kuliah. Setelah tamat kuliah dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota ini, dia sungguh beruntung. Sedangkan aku menjadi seorang pelayan di salah satu restoran di kota ini. Lisa sahabat yang baik, dia selau mau mendengarkan keluhanku dan selalu ada di saat aku bahagia mapun duka. Saat kepergian ibu, dia rela menginap di rumahku di tujuh hari pertama kepergian ibu. Agar selalu bisa menghiburku. Dia memang sahabat terbaikku.



'Putri.. Put.. Putri..!!.' Teriak Lisa memangilku dari bawah. Sepertinya dia ada sesuatu yang penting untuk disampaikan padaku, karena tidak pernah dia sesemangat ini menemuiku.


'Iya Lis, ada apa?.' tanyaku penuh rasa penasaran.

__ADS_1


'Sebentar aku ke atas ya!.' teriaknya lagi.


'Iya Lis.' Jawabku.



Tokk.. tok.. tok.. Lisa mengetuk pintu kamarku dengan tergesa-gesa.


'Iya sebentar Lis, sabar dong.' Aku pun berlari sembari membukakan pintu kamarku.


'Uh.. anu Put, anu…' Ucapnya sambil terengah-engah.


'Ada apa Lisa?' Tanyaku heran.


'Aku ada lowongan pekerjaan untukmu, nih!' Seraya sambil mengasih secarik kertas yang berisikan iklan lowongan perkerjaan di sebuah kantor stasiun televisi lokal. Di sana tertulis dibutuhkan reporter.


'Wah, ini cita-citaku Lis! Akan ku coba ini, terima kasih sahabat, setidaknya kalau aku keterima kerja disana otomatis gelar pelayanku terlepas hahahahaha.' Tawaku, serta memeluk Lisa untuk rasa terima kasih kepadanya.


'Hahaha.. Iya sama-sama sahabat.' Ucap Lisa sambil membalas pelukanku.



Ya. Sejak tamat kuliah aku belum menemukan pekerjaan yang cocok untukku. Menjadi pelayan di restoran ternama sebenarnya tidak buruk dan gajinya pun lumayan. Tapi aku harus mencari pekerjaan yang lebih baik lagi untuk hidupku ke depannya, dan itu tentu saja bukan cita-citaku, dan tentu saja tidak sejalan dengan title S. PdI ku itu.



Drumm.. drumm suara mesin motor beat biruku terdengar di bagasi rumah, aku sedang memanasi mesinnya. Ya, hari ini aku akan mencoba melamar pekerjaan di kantor stasiun televisi lokal yang tempo hari Lisa tunjukkan kepadaku, setelah memasukkan berkas-berkas, dan surat lamaran pekerjaanku di dalam tas, dalam hati aku berdoa 'Semoga saja diberi kelancaran, Amin'. Aku langsung tancap gas menuju kesana.



Citt.. Gubrakkk.. drumm..


Mobil avanza hitam itu menyenggol stang kiriku hingga aku menjadi semakin hilang keseimbangan. Dan akhirnya aku jatuh tepat di depan mobil itu. Mobil itu segera mengerem, pengendara mobil itu keluar dan segera menolongku. Dia sepertinya pria yang baik, setelah ku lihat wajah cemasnya ketika melihat keadaanku. Tapi sejujurnya tidak sepenuhnya salah dia sih.



Dan untungnya aku tidak mengalami cidera yang parah hanya luka-luka saja di tangan dan di lututku. 'Oh tidak motorku, spion kiriku sepertinya patah, akibat terjatuh tadi. Dan mobil avanza hitam itu, yang pastinya lecet juga. Mobil itu, mobil avanza hitam. Kejadian ini sepertinya mengingatkan aku kepada sesuatu. Ya, pada kecelakaan yang menimpa ibuku enam bulan yang lalu, dan sekarang terjadi juga kepadaku. Ah hanya kebetulan saja 'Batinku.


Pria yang menabrakku tadi memapahku masuk ke kantor stasiun televisi itu. 'Hmmmm mungkin dia juga bekerja disini.' Fikirku. 'Tapi karyawan disana sepertinya terlihat sangat akrab dan bersikap sopan kepada pria yang menabrakku itu. Mereka mengucapkan selamat pagi dengan ramah, dan ya yang pastinya menanyakan aku yang sedang dipapahnya itu, dia bilang dia tak sengaja menabrakku dan ingin mengobatiku. Hmm pria yang bertanggung jawab.' Batinku.


'Eits, tunggu dulu apakah dia bos, atau orang yang berperan penting di kantor ini?' Tanyaku dalam hati. Semua orang disini begitu sopan terhadapnya. 'Hahaha jika memang benar ini kesempataku untuk membuat dia menerima ku bekerja disini, sebagai permintaan maaf kaena dia telah menabrakku, hahahaha.' Tawaku dalam hati dengan senyum kemenangan.



Aku merasakan pedih saat luka di lututku bersentuhan dengan kapas yang basah setelah dilumuri oleh betadin. Itu membuat ku terkejut dan membuyarkan lamunanku. Tiba-tiba saja aku menjerit kesakitan. 'Ups pedih tau, pelan-pelan!.' Teriakku. Untungnya kami di sebuah ruangan, jadi teriakanku barusan tak terdengar oleh karnyawan-karyawan disini.


'Sorry, aku tak bermaksud menyakitimu.' Jawab pria itu yang mencoba mengobati luka-lukaku.


'Kamu tadi sengaja ingin membunuhku ya?.' Ucapku seraya menunjuk mukanya dengan telunjukku, dengan tatapan tajam.

__ADS_1


'Hei, aku masih waras! Kejadian tadi aku minta maaf, aku tak bermaksud berbuat demikian, fikiranku lagi kacau. Dan saat itu kamu juga lagi tak fokus ke jalan kan? Jadi bukan sepenuhnya salahku dong.' Balasnya.


'Huh, sudah salah tak mau mengaku! Minta maaf mu pun sepertinya tanpa rasa bersalah.' Ucapku kesal.


Dia melihat tangan kiriku, bukan dia bukan melihat tangan kiriku yang sedang terluka melainkan melihat apa yang sedang aku pegang. Dan dia merebutnya dariku.


'Hei, kembalikan itu padaku!.' Ucapku kesal.


'Hmmm, jadi tujuanmu kesini, ingin melamar menjadi reporter ya? Well, aku siap membantu sebagai ucapan maaf ku, bagaimana?'


Tentu saja aku sangat senang mendengarnya, dan itu sesuai dengan apa yang aku fikirkan tadi.


'Hmmm.. benarkah?'


'Iya, hmm sorry siapa namamu? Namaku Andri, Andri Kencana Putra.' Dia menjabat tanganku.


'Putri, Purti Deswita.' Jawabku sambil tersenyum, sembari membalas jabatan tangannya.


'Oke, karena keadaanmu tidak memungkinkan untuk berjalan sendirian ke lantai atas, jadi biar aku saja yang mengantarkan berkas dan surat lamaranmu ke meja bosku.' Ucapnya.


'Baiklah, ini dia mapnya, terima kasih ya Andri, Hmm mungkin aku harus memanggilmu dengan sebutan Pak Andri, sama seperti karyawan-karyawan disini?' Tanyaku dengan sedikit ejekan.


'Hahahaha.. tidak usah berlebihan Andri saja cukup.' Timpalnya.


'Oke, aku ke atas dulu, aku segera kembali.' Belum sempat dia melangkahkan kaki, badannya segera berbalik menghadapku lagi. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia ucapkan lagi.


'Hei, tapi besok jam 08.00 WIB kau harus kembali lagi kesini, untuk tes di depan kamera okey? Hmm tapi keadaanmu?' Tanyanya cemas.


'Tidak usah khawatir tentang keadaanku.' Jawabkku enteng.


'Baiklah'. Tukasnya.


Dia segera menaiki anak tangga dengan gesit hingga menghasilkan bunyi sepatu yang sedikit ribut, tapi kemudian suara sepatu itu menghilang karena semakin menjauh.



crazy up tapi cuma 6 episode yh tangan nya lemes deh







__ADS_1



__ADS_2