Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Twinsamora (Part 2)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta Sedih


Judul: Twinsamora (Part 2)


_________________________


Diary,


Aku liat dia lagi hari ini. Masih dengan wajah teduh yang bikin aku makin penasaran. Ahh.. andai aku berani dikit buat nyapa dia. Tapi sayang, aku takut buat memulai sesuatu yang aku tau suatu hari harus aku akhiri. Aku nggak berani melukai seseorang yang aku suka di akhir cerita. Jadi, lebih baik aku tetap diam dan memendam. Melihatnya dari jarak yang jauh. Menatap, tanpa dia sadari. Bahwa, ada seseorang yang begitu menyayanginya dari sini.


Diary tebal itu ditutup Violet dengan perasaan sedih. Dengan cepat dia berdiri dari duduknya dan melangkah memasuki bus. William semakin jauh dan menghilang dari penglihatannya.



'Jingga' Bara berteriak sambil berlari menyusul langkah Jingga


'Bara?'


'Rumah lo di komplek perumahan Bugenvil ya?' tanya Bara dengan napas terengah-engah


'Iya. Rumah lo dimana? kok bisa jalan kaki juga?'


'Di perumahan ujung. Komplek Melati. Ternyata rumah kita deketan ya?'


'Baru tau gue. Jadi lo ke sekolah jalan kaki Bar?'


'Yeah.. like you look Ji. Lo juga kan? Kok nggak telat kayak kemaren lagi?'


'Hari pertama gue jalan kaki. Dibilang manja sih sama papa. Hehe, gitu deh, kapok telat mulu.'


'Waahh.. hari pertama ya jalan kaki? Pasti ntar kaki lo pegel? Eh, gerimis nih Ji, lari yuk?' Bara kemudian berlari


Mereka berlarian di sisi jalan, ditemani gerimis pagi yang indah. Kedua remaja berseragam abu-abu itu terlihat begitu senang, tampak dari tawa mereka yang begitu lepas.



Februari 2010


Beberapa bulan berlalu, pun semuanya masih tampak sama. Hari-hari dilewati dengan sederatan jadwal dan aktivitas yang sama oleh Violet dan Jingga. Bedanya, tatanan susunan hati mereka. Hati Jingga sudah diisi oleh Bara. Mereka jadian ketika tahun baru. Diawali oleh sebuah pertemuan yang unik di taman sekolah, kemudian takdir melanjutkan kedekatan mereka dengan jarak rumah yang tidak jauh, sehingga setiap hari mereka bisa melangkah bersama menuju sekolah. Violet yang masih tetap sama, setiap hari terus memandang William dari jarak jauh. Terus menulis semua tentang William di Diarynya. William, William. Entah sampai kapan, dia akan terus melihat William tanpa berani menyapa atau menampakan diri di depan cowok itu.


'Vi, gue berangkat ya?' Jingga pamit kepada Violet ketika mereka sudah sampai di halte.


'Hati-hati ya Ji, titip salam buat Bara' canda Violet.


Jingga kemudian mengacak-acak rambut Violet dan berlari menjauhinya.


'Jingga..' pekik Violet. Jingga hanya menoleh dengan lambaian tangannya.


Tak lama, Violet menangkap sosok William. Cowok itu berlari dengan senyum mengembang di bibirnya, dia berlari di sisi jalan yang bersebrangan dengan Violet.


Diary,


Nggak bisa dan nggak akan pernah bisa. William, hanya impian terburukku. Impian yang nggak mungkin terwujud. Kenapa? Karena Violeta Mozala hanya punya sedikit waktu untuk membuka mata lebar-lebar melihat dan menyaksikan dunia. Sedikit, hanya sedikit.



'Bara buruan..' Jingga berteriak ke arah Bara yang berlari di belakangnya.


'Iya, tungguin gue ..' balas Bara tak lebih kerasnya.


Ketika Bara sudah bisa menyusul Jingga, Jingga hanya tertawa cekikikan melihat keringat Bara. Kemudian, dua sejoli itu melangkah dengan cerita-cerita mereka di pagi hari.


'Oh ya Ji, kok nggak nungguin gue di halte aja. Kan bisa barengan. Gue nggak harus lari-lari kayak begini.' keluh Bara.


'Tenang Bara, gue mau ngasih surprise sama seseorang pas valentine nanti. Jadi, mulai hari itu, kita bisa janjian di halte buat berangkat bareng' jelas Jingga antusias.


'Surprise? Buat?' Bara kelihatan bingung.


'Makanya, pas valentine gue kenalin' sahut Jingga sok rahasia. Bara mengangkat kedua tanganya, dan menelengkan kepala.


__ADS_1


'Vi, bentar lagi valentine nih, bagusnya gue ngasih kado apa ya buat Bara?' tanya Jingga.


'Kenalin ke gue dulu, baru gue bantuin nyari kado'


'Yahh.. janji deh, pas valentine gue kenalin.' rayu Jingga manja.


'Oke oke. Foto pelangi aja gimana. Soalnya.. hmmm' Violet sedikit ragu melanjutkan kalimatnya.


'Soalnya?' Jingga menyipitkan mata.


'Soalnya gue ada rencana mau ngasih itu juga buat William' akhirnya Violet melanjutkan kalimatnya dengan pipi yang memerah.


'William? Jadi udah ada rencana buat menampakan diri?' goda Jingga.


'Apaan sih, emang selama ini gue kasatmata?' Violet manyun.


'Yee.. dalam tanda kutip nona. Selama ini kan lo cuma berani ngeliatin dia. Kalo dia noleh ke arah lo, kan lo buang muka.' protes Jingga.


'Iya sih. Gue juga nggak tau, ada kekuatan apa yang ngedorong gue buat nyamperin dia. Padahal gue udah puas, walau cuma ngeliat dia dari jauh.'


'Hmm, bagus dong? daripada perasaan lo jadi berkarat dalam hati. Ya udah, nanti pelanginya kita potret bareng-bareng' Jingga mengedipkan mata.


'Hmm, gue pengecut ya Ji? Bisanya cuma sembunyi.' sinar mata Violet perlahan berubah.


'Pengecut? Kenapa?'


'William' nama itu membuat Jingga bisa menangkap maksud Violet.


Jingga bergeming. Hening. Tak digubrisnya Violet yang menatapnya menanti sebuah kata. Jingga tau, cinta begitu dalam menghipnotis seseorang. Dia sendiri juga pernah merasakannya, ketika dia mulai menyukai Bara dan selalu menghayalkan segala tentang Bara. Tapi, Violet berbeda. Sosok seperti apakah William itu? Kenapa pesonanya begitu menguasai Violet?!, tanya itu mengerayangi benak Jingga. Dia beruntung, kisah cintanya berjalan sesuai skenario yang diharapkannya. Violet? Ahh.



Sore, sehari sebelum kalender masehi melingkari angka 14 di bulan Februari, langit menitikkan butiran-butiran air. Langit tidak terlalu kelam, tidak juga cerah. Tak lama, sebuah lengkungan warna mulai tampak, seperti mahkota langit yang bertengger manis di atas kepalanya. Pelangi, sebuah keajaiban alam yang mampu memunculkan paduan warna yang indah. Sebuah moment yang ditunggu Jingga dan Violet beberapa hari ini.


Jingga dan Violet terlihat senang. Dengan cepat Jingga menyambar kamera digital dan berdiri di depan jendela kamar, Violet mengikuti Jingga dengan tak kalah semangatnya.


'Lo dulu deh, yang potret buat William' Jingga menyerahkan kamera digital yang ada di genggamannya.


'Foto ini buat Bara' Jingga antusias. Senyum merekah di bibir mungilnya.



'Kira-kira William nanti marah nggak ya gue kasih ini?' Violet memperlihatkan foto pelangi hasil jepretannya.


'Gue yakin dia nggak marah.' Jingga memberi semangat.


'Tapi Ji, dia kan nggak kenal gue. Trus, gimana coba reaksinya kalau tiba-tiba gue ngasih nih foto ke dia? Atau misalnya dia udah punya cewek?'


'Udah, nggak usah nerveous gitu. Ceweknya urusan belakangan. Yuk' Jingga mengandeng tangan kembarannya itu.


Mereka berdiri di depan halte. Dari kejauhan tampak seorang cowok jangkung. Kedua gadis kembar itu sama-sama tersenyum.


'Itu dia' kata hati mereka bersamaan.


'Bara..' Jingga dengan senang melambaikan tangannya ke arah cowok jangkung tadi. Cowok itu membalas. Dengan cepat Violet menyembunyikan foto pelanginya.


'Ji, jadi ini surprise buat gue? Jadi lo kembar?' Bara terlihat tidak percaya.


'Iya Bar, kenalin ini Violet kembaran gue yang paling baik hati. Oh ya, ini buat lo!' Jingga mengenalkan Violet seraya menyerahkan Foto pelangi hasil potretannya.


'Hmm, manis banget nih kadonya. Makasih Jingga sayang!' Bara mengelus-elus kepala Jingga lembut.


Kemudian Bara mengulurkan tangan ke arah Violet. Ada rasa ngilu di dada Violet. Rasanya, ada sesuatu yang tergores dan membuatnya merasa ingin menangis dan cepat-cepat menghilang dari bumi ini. Haruskah dia berteriak saat ini juga? Haruskah dia berlari dengan linangan air matanya? Tidak!! Itu bukan Violet.


'Mana Vi? Kok nggak muncul juga?' tanya Jingga.


'Kayaknya dia nggak dateng deh Ji, sakit mungkin. Besok deh, kita tunggu lagi' Violet berkata bergetar dan berusaha menahan air matanya.


'Nunggu siapa sih Ji?' Bara ikut menimpali pembicaraan mereka.


'Pangerannya Violet' Jingga cekikikan.

__ADS_1


'Udah, berangkat sana. Telat lo'


'Ngusir nih? Hehe.. Ya udah yuk Bar, ntar telat. Duluan ya Vi?' Jingga menarik tangan Bara.


'Duluan ya Violet?' pamit Bara sopan dan itu membuat Violet semakin ingin meledakkan tangisannya.


Ketika Jingga dan Bara benar-benar menghilang, Violet terduduk lemas dan menangis. Tiba-tiba jantungnya terasa sakit. Penyakitnya yang selama ini tak pernah muncul tiba-tiba saja kembali menyerangnya. Jantungnya yang perlahan melemah apabila dia mengalami shock atau stress. Dengan memaksakan diri Violet berlari kembali ke rumahnya.


'Dada gue Bar..' rintih Jingga.


'Kenapa Ji?'


'Ngilu..'



Februari 2011


'Violet… kita liat pelangi bareng-bareng yuk?' Jingga bicara pada diary yang saat ini digenggamnya. Seolah itu adalah si empu diary. Tapi tiba-tiba matanya menangkap kalimat-kalimat yang tertulis menyerupai cerita di atas kertas putih diary itu.


Buat Jingga sodara gue yang paling baik hati,


Jingga tersenyum membaca kalimat awal dari tulisan itu.


Gue yakin, suatu hari lo pasti bakal buka diary gue ini. Eh Ji, lo tau nggak? Kalimat-kalimat ini gue rangkai nggak nyampe setengah hari lho? Hebat kan gue? Gue bikin pas hari valentine 2009. Hehehe. Gue mau cerita nih sama lo, tapi hapus dulu tuh air mata lo. Gue nggak rela diary gue dibaca sama orang yang sedih mulu. Smile sis? ;)


Jingga lagi-lagi tersenyum dan menghapus air matanya. Ketika dia membalikan helai kertas diary itu, tiba-tiba sebuah foto pelangi terjatuh. Jingga tau, foto itu adalah kado valentine dari Violet untuk William. Tapi, di hari valentine itu William tidak muncul. Dan waktu tidak mengizinkan Violet untuk menyerahkan foto itu besoknya. Hanya ada hari itu bagi Violet. Hari Esoknya telah habis dan takkan pernah ada.


Itu foto yang kita ambil sehari sebelum valentine. Lo pasti kasihan sama gue, soalnya gue nggak ada kesempatan buat ngasih foto itu sama William. Sebenernya hari itu gue bisa kok ngasih fotonya ke William. Tapi sayang, gue telat dikit. Dia udah punya foto yang sama. Jadi gue pikir, buat apa dia punya dua? Kan mubazir. Mending gue yang nyimpen. Lo ngerti kan Ji maksud gue?


Jingga menggeleng dengan dahi yang mengerinyit.


Iya, lo kan yang ngasih foto itu buat William. Hmm, maksud gue William Bara Galinski. Gue juga baru tau hari itu nama lengkapnya, liat di name tagnya secara seksama. Hihi. Ternyata, kita bener-bener sehati ya? Soalnya kita juga suka sama orang yang sama.


'William Bara Galinski? Kenapa slama ini gue nggak pernah nyadar. Ya Tuhan, kenapa gue nggak pernah nanya sama lo, William itu pake seragam sekolah mana, tiap pagi kalo jalan ke arah mana. Ahh… Dan gue tau, itu nama Bara, tapi gue nggak tau kalo William itu… Vi, padahal lo pernah bilang, kalo lo takut William udah punya cewek. Gue bilang ke lo kalo itu urusan belakangan. Gue cuek hari itu, tapi sekarang? Cewek William itu gue sendiri. Saudara lo, adek lo, kembaran lo. Gue Vi, gue. Jingga. Gue salah salah sama lo Violet' mata Jingga kembali memerah.


Heii… nggak ada yang salah kok. Itu permainan hidup Jingga. Ini bukan salah lo atau salah gue, atau juga salah Willi eh Bara, atau salah takdir. Ini jalan kehidupan kita. Jadi, awas kalo lo sampe ngerasa bersalah sama gue. Gue ngambek. Hehee..


'Tapi gue yang bikin kelemahan lo muncul hari itu. Gue yang bikin jantung lo kaget dan gue yang bikin lo..' Jingga diam, kalimatnya hanya terucap sampai disitu.


Jingga sangat kaget dengan tulisan-tulisan Violet. Selama setahun ini dia tak pernah tau kenapa tiba-tiba jantung Violet bisa kambuh. Tapi hari ini dia tau, dialah yang membuat jantung Violet sakit dan membuat Violet… pergi.


Lho tau nggak kenapa gue selalu ngalah buat lo? Itu karena gue ditakdirkan buat itu. Karena hidup gue adalah pelengkap buat lo. Gue lemah, lo kuat. Lo nyolot, gue ngalah. Gue lahir lebih dulu, jadi gue juga yang harus pergi lebih dulu. Adil kan? Kita suka sama orang yang sama. Tapi orang itu buat lo. Gue bahagia kok. Kenapa? Karena ada lo yang jagian orang yang gue sayang waktu gue udah nggak ada. Jadi, saat lo sama Bara ketawa-ketawa, gue juga ngerasainnya. Saat Bara ngegandeng tangan lo, gue juga bakal rasain itu. Pokoknya, apapun yang lo rasain, gue juga ngerasainnya disini. Gue bakal tetap hidup dalam diri lo. Gue hidup di setiap bagian tubuh lo. Oh ya, jangan lupain pelangi kita ya? Awas kalau lo benci pelangi gara-gara gue udah nggak ada. Gue bakal liat pelangi yang indah itu, lewat mata lo. Ah, udah ah. Yang penting skarang lo nggak usah sedih lagi.


'Violet.. gue sayang sama lo. Sayang banget.'


Iya gue tau, pasti akhirnya lo bakal ngucapin itu. Gue juga sayang kok sama lo. Kembaran gue yang manja. Eh, sekarang udah nggak lagi ya? Jagain mama sama papa ya? Dan jangan lupa jagain…


'Bara?' Jingga kaget dengan kehadiran Bara yang terkesan tiba-tiba


'Iya, kata mama lo kamar lo yang di sebelah. Tapi gue samperin nggak ada. Taunya lo disini.' Bara beranjak duduk di sebelah Jingga


'Kamarnya… Violet?' tanya Bara lagi, dia sedikit ragu.


'Iya. Nih buat lo' Jingga menyerahkan foto pelangi yang dulunya memang untuk Bara.


'Loh? Kok buat gue? Bukannya udah lo kasih waktu itu?' Bara bingung.


'Dari Violet buat William pangerannya'


'Hah? Maksudnya?' Bara semakin bingung.


'Nanti gue ceritain. Liat pelangi yuk Bar? Gue mau liat dari halte. Tungguin gue di bawah bentar ya?'


'Oke..' Bara kemudian melangkah menuruni anak tangga dan meninggalkan Jingga sendirian.


Kayaknya itu aja deh, capek gue nulis mulu. Oh ya Ji, jagain hati gue ya? Maksud gue diary gue. Semua yang ada di sana isi hati gue lho. Hehehe.. Gue pamit ya Jingga? Luv U ^_^



Jingga menggenggam tangan Bara dengan erat. Mereka sedang berdiri di halte bus, tempat Violet pertama kali melihat William dan jatuh cinta. William Bara Galinski yang saat ini ada di sebelah Jingga. Mereka sedang menyaksikan pelangi bersama-sama. Lo liat pelangi itu kan Violet?

__ADS_1


__ADS_2