
cerpen cinta
Kuperhatikan semua kata-kata yang terucap dari mulut ibu siska selama kurang lebih 5 menit sampai akhirnya “sarah ibu sangat bangga, pertahankan nilai prestasimu ya”
Hah’ binggo! tak tahan ku menyeringaikan ujung bibirku rasanya meledak seluruh ruang dalam isi hatiku. sudah tak heran, canggung ataupun ‘wow’ lagi ku mendengar akhir kata dari setiap guru-guruku. ya kalau dibilang bosan? bisa jadi. jangan salah bukannya aku sombong dengan perlakuan khusus mereka. karena memang aku tak terkalahkan dan bisa kupastikan tak kan pernah kalah! anyway aku gak peduli penilaian orang terhadapku yang jelas aku adalah ratu yang mengangkat dagu setiap aku berjalan baik di imajinasi atau kehidupan nyata. Persis seperti yang kulakukan sekarang. setiap murid ataupun guru yang berpapasan denganku pasti akan berkata “hai” atau “apa kabar sarah” bahkan kadang tanda tangan. karena aku bukan cuma berlian di sekolah melainkan di rumah di manapun kakiku berinjak mereka pasti mengagumiku. Secara aku bisa ikut program apapun dan selalu meraih kesuksesan bahkan kalau mau pun kecil bagiku untuk bisa jadi artis. Tapi buat apa jadi artis selama kita bisa populer tanpa jadwal ketat iya kan? ‘hah’ memang hidupuku perfect dan akan selamanya perf.._ Stop! tak sempat kuselesaikan kalimat dalam hati kuhentikan langkahku ku fokuskan pada suara dua murid di belakangku.
“udah denger gak ada murid baru loh” kata cewek ber-rok pendek kemeja terlalu ketat yang seakan-akan seragam adik SD-nya yang dia pakai atau mungkin patokan waktu jahitnya kali ya.
“oya siapa? cewek apa cowok? kalau cewek cantik gak? atau mungkin cowok yah? cakep gak? trus…” sahut temannya. gila makan apa nih cewek nanya aja marathon apalagi… kulirik ke muka si cewek yang belepotan tangan satu pegang donat dan satunya pegang gorengan ditambah kerupuk di mejanya juga mangkok bakso, es cendol, keripik, kue, permen lolip… yapp! definitely tipe marathon. pikirku
“woah woah jangan nyeruduk aja lu, dengerin gue aja ok?” potong cewek seragam ketat
“ok ok ok” jawab cewek tipe marathon sambil nganggukin kepalanya berkali-kali. aku putusin dengan panggilan itu aja deh… hehe
“gue denger-denger sih murid baru itu pindahan dari luar negeri berhubung bokapnya pembisnis yang harus keliling dunia dengan urusannya jadi dia ngikut orang kepercayaan bokapnya untuk ngurus sekaligus tinggal sementara di Indonesia sampai selesai SMA. And super duper duper duper s*xy ganteng, cool, sekaligus golden boy di sekolahnya yang dulu!” jelas cewek seragam ketat semangat saking semangatnya sampai terengah-engah mata melotot keringat kemana-mana seakan-akan mau pingsan beberapa detik lagi…
*blukk!!*
“meri meri meri bangun mer. lu kenapa mer? jangan nakut-nakutin gue mer, bangun mer siapa yang bayarin bakso gue kalau lu pingsan? bangun mer bangun dong…!” kata si tipe marathon yang nanyain temennya yang pingsan dengan pertanyaan marathonya.
‘hemm kadang aku bisa juga prediksi paranormal’ pikirku
__ADS_1
Meninggalkan dua pasangan cewek tadi yang sekarang sudah dikerumunin banyak orang tanpa peduli dengan drama remaja-remaja jaman sekarang yang berlebihan dalam menanggapi suatu masalah. Aku pun melanjutkan menuju tempat biasa makan siangku yang kubawa dari rumah. aku tak biasa makan rame-rame sambil bergosip sana-sini jadi aku hanya duduk di tempat biasa tanpa seorang pun yang duduk di meja tempatku setiap hari. bukannya aku melarang mereka untuk tidak duduk semeja denganku tapi aku hanya tipe orang yang gak peduli menghabiskan waktu untuk hal-hal tak berguna seperti bergosip tentang berbagai macam remaja cewek biasa omongin penampilan, cowok, kesukaan bahkan membahas ketika mereka gagal cinta dengan akhir dramatis kaya nangis terus tugas dari temen cewek lainnya untuk nenangin si korban. hellooo c’mon!!! yap tak ada waktu buat semua itu.
selesai makan siang aku langsung menuju kelas.
“perkenalkan diri kamu mungkin ada hal-hal yang ingin kamu sampaikan untuk teman-teman barumu”
“hai semua nama saya satrio tapi kalian bisa panggil saya cukup dengan iyo aja untuk informasi lainnya bisa kalian tanyakan bertahap khusus bagi cewek-cewek disini feel free untuk bertanya ataupun bersedia berpetualang denganku suatu kehormatan bagiku” dengan nada penuh percaya diri sekaligus nada play boy. tentu bukannya risih, si pemilik suara tadi malah mendapat ‘ohhh’ dan ‘awww cute’ dari cewek-cewek juga tatapan-tatapan kagum dari dari semua yang bernafas di ruangan ini. bahkan sumpah cicak pun sempet berhenti sejenak mungkin sama untuk ngomong ‘awww’ juga.
“ugggghhh!!! belum apa-apa udah muakin nih cowok” pikirku
Kupasang muka tak peduli kuperhatikan setiap detail si cowok yang berdiri di depan kelas ini. memang sih kuakui dia punya figur yang cukup menarik ditambah wajahnya yang blasteran tapi masih kebanyakan ciri indonesianya menurutku dan juga penampilan yang cukup ker__ *ting
“apa?!
“baiklah semuanya cukup cukup. silahkan satrio kamu bisa duduk dengan sarah disana” kata pak narto sambil menunjuk ke arahku.
“ugghh great!” kataku pelan sambil melanjutkan baca buku sejarahku.
“hai jangan lama-lama kalau mandang ntar naksir loh”
suara si narsis di sebelah ku.
kutatap dengan mata terbelalak tanpa sudi untuk menjawab kata-kata bodohnya.
__ADS_1
“wuih eN jangan galak-galak ntar tambah cantik, nah kalau lu tambah cantik nantinya gue gak bisa jauh dari mu, sarah iya kan” katanya sambil berpura-pura mengingat dengan menempelkan telunjuk di pelipisnya.
“ugggh’ sial! bakal jadi tahun terakhir yang sangat sangat sangat panjang!” bisik hatiku
Seperti biasa bila kelas tak ada guru ataupun pelajaran bebas. Aku biasa menghabiskan waktu di perpustakaan karena seribu kali lebih baik dari pada harus mendengarkan gaduh, gosip, tawa bahkan kelakuan cowok narsis yang selalu menggangguku 24/7. kalau mikirin cowok itu darahku mendidih karena dia sudah mengambil semua yang aku miliki mulai dari populer, guru-guru, nilai tertinggi termasuk keluargaku. iya semua anggota keluargaku menyukai satrio karena dia tinggal di rumahku yang kebetulan orang kepercayaan bapaknya adalah bapakku. beberapa kali selama hampir satu tahun ini aku menerima kejutan yang hampir membunuhku kalau saja punya penyakit jantung mungkin aku sudah tinggal nama.
Betapa kagetnya ketika aku pulang sekolah setahun lalu mendapati satrio di ruang keluarga, betapa sakitnya setiap ku berjalan semua orang kini tak pernah menyapaku melainkan si narsis di belakangku yang selalu mendapat perhatian yang sepertiku dulu. hancur, sakit, benci karena setiap pelajaran yang dulunya selalu terpampang namaku untuk nilai tertinggi kini terhapuskan hanya tinggal kenangan padahal aku sudah sangat berusaha untuk mendapatkannya kembali tetapi rasanya sudah putus asa sia-sia semua usahaku yang kini hanya tinggal 3 bulan lagi sebelum usai masa SMA ku.
“hai princess”
“tinggalin gue sendiri”
“gak ah, gue pengen nemenin lu disini”
“gue males sama lu!”
“beb, kamu gak usah ngapa-ngapain kok”
“pergi sana”
“emmm gak ah disini aja”
“pergi”
“eh gimana kalau kita mampir beli es krim sepulang sekolah nanti. terus habis itu lu temenin gue ke rumah adi terus abis itu…”
__ADS_1
“ahhh… cukup stop!!!” teriakku tak tahan mendengar ocehannya lagi.
“denger baik-baik ya satrio. gue gak mau ditemenin sama lu apa lagi nemenin lu kemana pun! juga gue bahkan gak sudi ngomong sama lu jadi stop lu ganggu dan ngancurin hidup gue lebih baik sana lu cari orang yang peduli untuk dengerin ocehan-ocehan basi lu!!!” bentakku terengah-engah sambil melotot saking benci dan marah sama cowok gak tau diri di depanku ini. tanpa sadar aku sudah membuat semua orang di dalam maupun luar perpustakaan berhenti melakukan apapun yang tadinya mereka lakukan karena kaget mendengar teriakanku yang tiba-tiba. karena selama ini aku hanyalah seorang cewek yang jarang ngomong.