Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Gadis NoNe Belanda berbaju putih


__ADS_3


Hari libur pun telah datang, aku dan kawan-kawanku akan pergi di puncak di villa milik keluargaku. Namaku adalah Vino, aku adalah siswa SMAN 37 jakarta utara. Kawan-kawanku adalah Ratna, Jesika, Robert Diana dan Aldi. Kami pun segera berangkat.



Dan sampailah kita di Villa. pemandangan di puncak sangat indah, terlihat dari balkon villa, udaranya di puncak pun sangat segar. Villa milik keluargaku ini sangat luas di samping villa tersedia kolam renang yang bersih dan luas. Kolam renang itu terletak di sisi kanan villa, sedangkan di samping kiri villa terlihat hutan rimba yang luas dan gelap. Konon hutan itu terdengar banyak cerita. Ada gadis belanda yang tewas gara-gara tergigit ular berbisa, ada juga gadis kecil yang tewas mengenaskan karena terlilit ranting pohon sampai kedua kakinya retak, ada juga gadis kecil yang sedang bermain di hutan yang tiba-tiba menghilang, dan keesokan harinnya gadis itu ditemukan tewas dengan memakai gaun putih panjang dan mata merah dengan keadaan yang tidak wajar. Itu sih kata orang-orang sekitar. Mungkin hanya mitos atau cerita karangan masyarakat.



Villa ini menyediakan fasilitas lengkap tersedia 7 kamar tidur, 3 kamar mandi, 1 dapur, 1 ruang makan, 2 ruang bersantai, 1 ruang tamu dan ada ruangan lagi di atas 1 ruang band musik, 1 ruang belajar, 1 perpstakaan, 1 ruang penyipanan baju dan 2 gudang penyimpanan barang.



Maklum villa ini peninggalan belanda dan sudah dibeli sertifikatnya oleh keluargaku. jadi bangunanya sangat mirip sekali dengan bangunan belanda yang luas dan mewah.


__ADS_1


Malamnya kami memilih membagi kamar tidur. Aku dan Aldi akan tidur di kamar yang pertama, Robert akan tidur sendiri di kamar kedua, sedangkan Ratna, Jesika dan Diana tidur di kamar ketiga.



Malam harinya Diana tidak bisa tertidur, dan sementara itu Ratna dan Jesika sudah tertidur pulas. Jendela dibiarkan terbuka, dengan tirai kurden yang melayang-layang terkena hembusan angin, jam dinding menunjukan tepat jam 12.45 dini hari. Ia merasa mendengar suara langkah kaki dan suara tawa seorang gadis yang terdengar samar-samar di telinganya.



Ia mencoba mendekati dan mengikuti suara itu, dan sampailah ia di depan hutan rimba ia melihat seseorang dari kejauhan. Diana mendekati gadis itu, dan ternyata gadis itu adalah seorang none belanda berambut pirang, berbaju putih dan berparas cantik, dia adalah hantu, gadis itu membawa pisau yang sudah berlumuran darah.




Keesokan harinya Diana segera menceritakan hal yang dialaminya semalam pada teman-temannya. “kok hutan ini bisa angker tuh gimana sih Vin ceritanya?” ujar Robert. “Iya serem banget hutan ini.” Ucap Aldi. “Villa kamu sih mewah dan indah, tapi kok sampingnya hutan sih. Hutannya serem lagi…” Ujar Diana. “ya memang hutan ini sangatlah seram, dulunya banyak gadis belanda yang tewas serta dibunuh kolonial tentara jerman, karena mereka telah bekerja di negara indonesia ini dan tidak mau melaksanakan perintah dan tidak mau menjadi budak tentara kolonial jerman. Sehingga mereka tewas dibunuh oleh para pasuakan tentara kolonial jerman dan arwah mereka semua gentayangan dan akan membunuh siapapun yang tidak mau menjadi budak mereka.” Ucap Vino. “Vin gimana kalau kita nanti pulang saja! kalau enggak ya sekarang aja kita berkemas dan segera pulang di sini angker banget vin!” ucap Aldi. “ya udah lebih baik, kita pulang sekarang aja!” ucap Vino.


__ADS_1


Mereka semua segera berkemas, dan segera berangakat pulang. tiba-tiba dari jendela mobil, Diana melihat gadis none belanda itu lagi, sedang tersenyum serta melambaikan tangan untuk Diana. Diana membalas tersenyum juga serta melambaikan tangan kepada gadis none belanda itu.



TAMAT







__ADS_1



__ADS_2