Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Belajar dari Penyesalan


__ADS_3

Kategori: Cerpen Gokil


Judul: Belajar dari Penyesalan


_________________________


Akhirnya gue lolos SMP juga. Hal pertama yang ada di benak gue setelah lolos dari SMP adalah bagaimana caranya bisa masuk ke salah satu SMA Negeri yang ada di Bandar Lampung ini (Nenek gue udah paham soal ini).


Dengan harapan, kebodohan, kecemenan dan keanehan gue sewaktu SMP enggak ngikutin gue terus. Saat itu gue berharap agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi (behh..). Bagaimana tidak? Saat SMP gue itu merasa kalau gue ini tidak ada gunanya, tidak ada artinya. Bahkan gue merasa kalau gue ini memang enggak ada bagi mereka.


Mungkin ini kali ya alasan kenapa sewaktu SMP kalau gue lagi jalan sering ditabrak. Dan lebih parahnya lagi, gue pernah kesiram cuka sama salah satu anak kelas sembilan (waktu itu gue baru kelas delapan) dan dia merasa kalau dia itu sebagai makhluk yang tidak berdosa di dunia ini, nyiram dan pergi.


“aduh, kok bisa tumpah gini kak?” kata gue, kaget.


Dia hanya berlalu begitu saja, tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


Gue hanya bengong meratapi kejadian itu dan gue berpendapat kalau gue ini mungkin di mata dia hanya seperti jenis bunga-bungaan yang harus disiram.


Setelah melakukan beberapa pertimbangan, bokap gue nyuruh daftar di SMAN 10.


“udah daftar di 10 aja, dari pada pusing-pusing” usul bokap gue.


“kenapa harus di 10?”


“gak apa-apa, biar bisa dapat nilai 10 terus” kata bokap gue, nyeletuk.


Mendengar kata-kata itu, kepala gue langsung pusing tiga keliling (kenapa bukan tujuh). Gue merasa kalau bokap gue ini seperti sedang memberi alasan ke anak TK.


Tapi gue punya beberapa alasan untuk menolak daftar di SMA 10. Pertama: jaraknya terlalu jauh, kedua: otak gue terlalu bodoh dan ketiga: sekolahnya jauh dari pasar (Walaupun gue jarang ke pasar, tapi lumayanlah buat nambah alasan gue enggak mau sekolah di situ).


Tapi dengan semangat yang berapai-api, bokap gue kekeh nyuruh gue daftar di situ. Ya, apa boleh buat, sebagai anak yang saleh, gue nurut aja akan perintah dia. Nanti kalau ngelawan nasib gue bakal sama kaya maling kutang (Lho).


Temen gue si fahmi ngusulin gue “daftar di 4 aja pan” katanya.


“Emang kenapa kalau daftar di 10?” jawab gue.


Dengan gaya yang hampir menyerupai mbah surip fahmi meyakinkan gue “kalau di 10 itu temen kita Cuma dikit, nanti nggak bisa minta kunci jawaban lagi saat tes”


Mendengar kata-kata fahmi, hati gue tergugah untuk mengikuti dia. Tapi keyakinan dan pendirian gue tetep kokoh untuk daftar di 10, karena enggak mau mengecewakan sang bokap.


Setelah gue rayu dengan rayuan maut yang gue punya, akhirnya si fahmi luluh juga hatinya dan mau ikut gue daftar di 10 (huu, untung nggak jatuh cinta tu si fahmi sama gue).


Karena saat itu untuk masuk SMA ada tiga pilihan yang harus dipilih. Akhirnya gue dan fahmi sepakat untuk daftar di SMA 10, 4 dan 11.


“kenapa harus 11 pan? kurang bagus lagi sekolahannya.” kata fahmi, songong.


“gak kan apa-apa, lo tau parasut?” tanya gue, sok bijak


“tahu”


“nah, kita anggap SMA 11 itu sebagai parasut kita.”


“maksudnya?” fahmi mulai penasaran.


“Di saat nama kita nanti enggak keluar di SMA 10 dan 4. Kita masih bisa selamat dengan masuk ke SMA 11. Ya, seharusnya secara otomatis kita bisa masuk ke 11″ jelas gue, sok songong.


Selama empat hari sebelum tes masuk SMA dimulai, gue telah mempersiapkan diri gue dengan membaca segala sesuatu yang berbau pelajaran. Bahkan tanpa sengaja gue pernah membaca buku tentang s*x education. Gue kira sebelumnya kalau buku itu adalah buku biologi, soalnya di bagian sampulnya itu terdapat gambar seorang pria dengan bagian organ dalam tubuh yang kelihatan (sejenis leak mungkin orang ini). Saat gue baca buku itu, gue merasa kalau efek yang akan terjadi sama diri gue bukan untuk tiga tahun ke depan, melainkan untuk tiga tahun setelah pernikahan.


Waktu tes telah tiba, gue dan fahmi dengan percaya diri menuju ketempat pertempuran, yang akan menentukan nasib kita nanti masuk SMA yang mana.


“waktunya telah tiba sob” gue mencoba meyakinkan.


“bener sob, kita harus tuntaskan hari ini juga” tegas fahmi.


Enggak tahu kenapa, gue merasa kalau kata-kata terakhir yang keluar dari mulut fahmi seperti kata-kata orang yang mau mencabuli anak SD.


Dengan gaya yang sok cool, kami pun masuk ke dalam SMA 10 melewati koridor-koridor kelas yang sebagian telah penuh oleh peserta lain yang mungkin sejak subuh menantikan saat ini. Berhubung kelas gue dan fahmi berbeda, kita pun berpisah.


Saat gue memasuki ruangan tes, semua mata peserta lain memandang ke arah gue. Entah apa yang membuat mereka tertarik sama gue, tetapi gue merasa kalau ada yang aneh sama gue. Mungkin karena gue lupa pake bedak tadi pagi.


Tidak lama setelah gue duduk, bel pertanda ujian dimulai berdering. Sebagian peserta sibuk mempersiapkan alat tulisnya, sebagian lagi ada yang sok-sokan jadi mbah dukun. Mulut mereka tengah berkomat-kamit, entah apa yang mereka baca, yang jelas itu membuat gue jadi pengen ikutan (latah gue nggak ilang-ilang).


Di saat tegang, Gue mencoba menenangkan diri gue sendiri.


“jangan takut pan, lo harus berani! kan elo masih punya parasut”


Saat lembar soal telah dibagikan oleh pengawas, antung gue semakin berdetak enggak karuan. Bibir yang tadinya merah merekah, seketika menjadi hitam pucat (nah lho).


Ditambah lagi, karakter si guru pengawas yang begitu killer. Beberapa kali dia sempat mengancam, kalau dia enggak segan-segan akan mengambil lembaran siswa yang ketahuan nyontek.


“siapa yang berani berbuat curang, saya akan langsung mengambil lembar jawaban kalian”


Suara itu begitu mantap terniang di telinga gue. Gue buka lembar soal dengan perlahan-lahan, berharap soal yang ada di dalamnya tidak sulit. Tapi harapan dan kenyataan itu selalu bergerak berlawanan. Gue mau pingsan melihat soal tes yang begitu ribetnya. Karena kebetulan atau tidak, halaman pertama dari soal itu adalah pelajaran matematika.


Pelajaran yang mereka suka, tapi gue tidak suka. Saat mau pingsan, gue masih mikir, kalau gue pingsan di sini enggak ada yang mau ngegotong gue nanti. Akhirnya gue putuskan kalau pingsannya nanti saja kalau sudah nyampe rumah.


Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan semua penyiksaan itu adalah 120 menit. Selama itu juga keringat gue mulai berkucuran, hidung gue kembang kempis dan perut gue keroncongan (apa hubungannya). Gue coba mengingat semua yang telah gue pelajari sebelumnya, tapi semakain gue mencoba untuk mengingat, semankin pikiran gue digerayangin oleh hal-hal negatif yang bersumber dari buku s*x education yang sebelumnya gue baca dengan khusyuk.


Tanpa terasa, waktu tes tinggal 15 menit lagi. Dan lembar jawaban yang gue pegang 75% masih bersih mengkilap.


“hebattt, waktu tinggal 15 menit lagi dan gue baru ngejawab 9 soal” gue mulai panik.


Seketika itu juga, khayalan-khayalan aneh gue mulai menguasai pikiran gue. Gue berhayal kalau pengawas datang menghampiri gue dan memberikan kunci jawaban ke gue. Lebih parah lagi, gue juga sempet berkhayal kalau malaikat jibril datang kepada gue dan membisikan gue jawaban dari soal-soal itu.


Tapi khayalan tinggallah khayalan. Setelah gue merasa kalau tidak ada jalan lain, gue pun mulai mengisi bagian yang masih kosong dengan cap-cip-cup. Dan luar biasa hanya dengan 5 menit, lembar jawaban gue telah penuh dengan cap-cip-cup.


Setelah ngumpul soal, gue pun keluar dan duduk di depan kelas. Saat itu pikiran gue masih kosong, bahkan roh gue kalau bisa kabur, bakalan kabur itu dari diri gue. Tidak lama setelah lamunan gue berjalan, tiba-tiba si fahmi datang menghampiri gue.


“Cabut yuk” kata dia, dengan nada yang sedikit lesu.


Saat itu gue ngelihat muka fahmi hampir sama dengan ekspresi orang-orang yang ada di pengungsian bencana alam. Gue yakin kalau si fahmi memiliki penderitaan yang sama kaya gue. Tanpa sepata kata pun, kami berdua pergi meninggalkan SMA 10. Setiap orang yang melihat ekspresi kita pasti mereka langsung berpikir kalau kita ini baru saja diusir dari panti asuhan karena saat makan selalu minta nambah.

__ADS_1


Setelah penantian selama seminggu, akhirnya pengumuman masuk SMA keluar juga. Gue harap-harap cemas menantikan hasil yang bakal gue terima nantinya. Malam itu gue berdoa.


“ya allah apabila engkau berkehendak, maka masukanlah aku ke salah satu SMA negeri yang aku pilih. Dan apabila aku tidak masuk kemana-mana, maka aku ikhlas dengan takdirmu ya allah”


Keesokan paginya, gue membeli koran dan melihat di daftar siswa yang keterima di SMA 10. Saat gue mencari-cari nama gue, hasilnya alhamdulillah, gue enggak keterima beneran.


Harapan gue mulai sirna, apalagi setelah gue tahu kalau nama gue enggak ada juga di daftar siswa yang keterima di SMA 4.


satu-satunya harapan gue untuk masuk SMA negeri tinggal SMA 11 saja. Gue cari-cari nama gue di bagian SMA 11, dari atas ke bawah dari bawah ke atas, gue terus mencari nama gue. Sampai akhirnya gue terkejut, nama gue tidak ada dimana-mana.


Rasanya ingin sekali gue teriak.


“HOORREEE!!”


Ehh salah.. “TIIDAAKKK”


Disaat hati gue lagi gundah, tiba-tiba Hp gue berdering dan saat gue lihat ternyata fahmi menelpon gue.


“hallo, ada apa mi?” dengan nada seperti orang kena TBC.


“lo udah ngelihat pengumuman di koran” tanya dia diujung sana.


“udah mi” jawab gue dengan terpaksa.


“terus hasilnya kaya mana?”


“ya kaya gitu, saat korannya mau nyetak nama gue, tiba-tiba tintanya habis. Ya udah nama gue jadi enggak ada” di saat keadaan seperti ini, gue masih sempet-sempetnya menyombongkan diri.


“kalau begitu kita sama dong” terang fahmi. “tut-tut-tut”. Fahmi memutuskan pembicaraan.


Nada yang keluar saat itu seperti lagu anak-anak, ingin sekali rasanya gue meneruskan liriknya “siapa hendak turut…” tapi sayangnya gue enggak hafal lagu itu.


Setelah mendengar kata-kata fahmi, Gue merasa kalau fahmi mempunyai beban hidup yang berat kayak gue. Tapi semua berubah, saat fahmi mengirim sms ke gue dengan nada seperti orang yang baru dapat hadiah. “HOREE, gue enggak diterima di SMA negeri” begitu singkat dan jelas sms yang dia kirim, membuat gue berasumsi kalau si fahmi udah jadi stres gara-gara ini semua.


Rasa sedih, kecewa dan terhina bercampur jadi satu membentuk sebuah rasa baru yang bernama Penyesalan. Rasanya nyesal waktu itu gue nolak fahmi untuk daftar di SMA 4. Seandainya waktu itu gue tes nya di SMA 4, pasti ada temen yang gue kenal. Kalau ada temen yang kenal sama gue, pasti dia ngasih kunci jawaban ke gue. Kalau gue dikasih kunci jawaban pasti perasaan gue enggak semerana ini sekarang.


Selama ini gue berpikir kalau masih ada satu parasut di pundak gue yang akan menyelamatkan gue apabila gue jatuh dari pesawat.


Tapi naasnya, di saat gue terjatuh dari pesawat, parasut yang gue punya itu tidak berfungsi. Akhirnya gue jatuh ke dasar jurang dan mati seketika (cep cep cep).


Tapi ya sudahlah, penyesalan tinggallah penyesalan, yang selalu datang di akhir cerita (ya iyalah, kalau diawal namanya pendaftaran)


Selama berhari-hari penyesalan karena tidak keterima di SMA negeri begitu mengganggu pikiran gue. Membuat gue males mandi, males makan dan males minta uang (pasti orangtua gue seneng).


“sudahlah pan, jangan terlalu dipikirin kan masih ada SMA swasta”. masukan yang diberikan nyokap hanyalah seperti angin sepoi-sepoi yang tidak terasa manfaatnya di saat orang sedang kepanasan. “iya, tapi kan bayarannya jauh lebih mahal” kata gue, dengan muka melas.


Nyokap melanjutkan “terus, cuma gara-gara ini kamu enggak mau sekolah? mau jadi apa kamu? anjal”


Gue semakin sedih mendengar kata-kata yang keluar dari mulut nyokap. Gue enggak bisa ngebayangin kalau gue bener bakal jadi anjal. Dengan pakaian yang compang camping dan robek di bagian keteknya. Gue berjalan mengelilingi sudut kota, meminta belas kasihan dari orang-orang. Dan setelah gue mendapat uang banyak, uang gue diambil oleh ketua anjal (untung enggak jadi ketua DPR) dan hanya disisakan seribu rupiah.


Dari khayalan gue yang singkat itu, gue jadi berambisi untuk sekolah biar enggak menjadi anjal. Setidaknya dengan ilmu yang gue dapetin dari sekolah nanti, gue bisalah menjadi ketua anjal yang kerjaannya narikin uang bawahan dan menyisakannya seribu rupiah. (wahh, ha..ha..ha).


Tidak berapa lama setelah obrolan kaku antara nyokap dan gue terhenti, bokap gue datang dengan muka sumringah seperti habis dapet gebetan baru. (waduh..)


“emang bisa yah?” sahut nyokap gue.


“ya bisa. Kita tinggal minta surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, terus kasihin ke sekolahannya” jelas bokap dengan wajah penuh ambisi.


“ya udah, kalau begitu sekarang aja kita ke kelurahan” kata nyokap.


Bokap gue dengan semangatnya langsung menarik tangan nyokap “ayo” katanya, semangat.


Melihat kejadian itu gue merasa kalau mereka itu seperti layaknya pasangan muda-mudi yang semangat pergi ke kelurahan untuk mengurus masalah pernikahan.


Sore harinya setelah urusan di kelurahan selesai, orangtua gue langsung menemui gue di rumah, yang memang dari tadi gue menunggu mereka pulang untuk minta makan. (lha.)


“surat keterangan tidak mampunya sudah mama buat nih” kata nyokap sambil menunjukan suratnya ke gue, “jadi besok kamu bisa daftar di SMA negeri”


“iya” sambung bokap “besok kamu daftar di SMA 8″


“Apa!” gue langsung shock mendengar bokap nyuruh gue daftar di SMA 8. Karena selama ini gosip yang gue denger kalau di SMA 8 itu sering terjadi tawuran antar sesamanya, bahkan ada lagi yang bilang kalau siswi SMA 8 itu banyak yang hamil yang akhirnya menikah dini. Gambaran buruk tentang SMA 8 itu semakin membuat gue enggan untuk sekolah di sana.


“tapi yah, ipan enggak mau sekolah di sanalah” kata gue “sekolahannya terlalu liar”


“tapi kan SMA 8 itu deket pasar” kata bokap, nyeletuk.


“kan kamu sendiri yang ngomong kalau kamu mau sekolahan yang deket sama pasar”


Gue enggak bisa ngomong apa-apa lagi setelah dia bilang kaya gitu. Mungkin salah gue, saat pertama mau daftar SMA gue beralasan mau masuk SMA yang deket sama pasar. Padahal alasan gue waktu itu hanyalah bualan semata untuk menolak daftar di SMA 10. Coba waktu itu gue beralasan mau sekolah yang deket sama kantor polisi, pasti beda lagi ceritanya.


“gimana pan? mau enggak masuk SMA 8″ tanya nyokap


“ya udahlah mau, enggak apa-apa” jawab gue, padahal mah dalam hati ingin ngomong “CARI SAJA LAKI-LAKI LAIN”


Malem harinya gue enggak bisa tidur, ngebayangin hal-hal buruk yang akan terjadi sama gue setelah masuk di SMA 8. Mungkin gue akan babak belur ditonjokin sama kakak kelas di hari pertama masuk sekolah karena tidak mau ngasih uang Rp 5.000,- saat dipinta.


Atau lebih parah lagi, mungkin saja setelah tiga bulan bersekolah di sana gue akan mengandung, hasil hubungan gelap dengan kucing belang. (waduh kacau nih). Intinya gambaran buruk tentang SMA 8 malam itu mengganggu tidur nyenyak gue.


Keesokan harinya, gue dan nyokap pergi ke SMA 8 untuk mengurus formulir pendaftaran. Sepanjang perjalanan menuju SMA 8 hati gue terus ngebatin, berharap para pelaku kriminal yang ada di SMA 8 udah pada mati semua saat gue masuk sana dan hanya menyisakan para korban dari pelaku kriminal tersebut.


Setelah sampai di tujuan, kami langsung menuju ruang pendaftaran. Sementara nyokap mengurus pendaftaran, gue memutuskan untuk berkeliling melihat situasi yang ada di SMA 8 ini. Saat itu suasana di sana cukup tenang, karena kebetulan hari itu sudah masuk liburan. Di sana hanya ada beberapa orang saja yang mengurus keperluannya masing-masing.


“pan..pan” nyokap gue memanggil dari kejauhan “sini cepet”


“iya mah” gue teriak sambil berlari kearah nyokap.


“mamah udah urus semuanya” kata nyokap “jadi saat mulai masuk sekolah, kamu udah bisa sekolah di sini”.


“iya mah” gue hanya mengangguk sambil ngebatin “bagus setelah masuk SMA ini sudah bisa dipastikan, sekarang status keluarga gue berubah, menjadi keluarga miskin!”


Setelah itu kami pun langsun meninggal kan SMA 8 dan langsung balik ke rumah.

__ADS_1


Hari pertama masuk sekolah diisi dengan kegiatan wajib yaitu “MOS”, ini merupakan kegiatan yang paling gue benci. Gue inget pas SMP waktu hari pertama diMOS. Ceritanya kakak kelas ini membuat satu cerita legenda surabaya, saat itu secara kebetulan gue mendapat peran jadi Baya (manusia buaya). Ada satu adegan di mana gue harus berantem sama musuh gue yaitu Sura.


Lalu kakak kelas tadi menyuruh kami berdua untuk berpura-pura berubah manjadi hiu dan buaya. Dengan seketika gue pun nurutin perintah kakak kelas dan langsung tengkurap di lantai seperti layaknya seekor buaya. Gue pun langsung menggerak-gerakan tubuh gue di atas lantai sambil tengkurap (bisa kebayangkan bagaimana anehnya)


Lagi semangat-semangatnya beradegan seperti itu, tiba-tiba kelas yang tadinya hening berubah menjadi seperti pasar, mereka semua menertawakan gue. “woy.. lo mau jadi buaya apa belot sawah?” salah satu siswa berteriak meledek gue sambil diiringi dengan ketawa puas. Sejak saat itulah gue phobia sama yang namanya ospek.


Kembali ke SMA.


Saat gue lagi berbaris di lapangan, tiba-tiba terdengar suara dari sebuah toa besar yang terpasang di atas kantor tata usaha.


“BAGI SEMUA SISWA YANG MASUK MELAlUI JAlUR BINA LINGKUNGAN DI HARAPKAN BERKUMPUL DI RUANG PER_____TA__AN”


Suara terakhir yang keluar dari toa itu terdengar tidak jelas di telinga gue. Gue kira semua siswa yang masuk melaloi jalur bina lingkungan harus berkumpul di ruang pertapaan.


Sebagian siswa bina lingkungan memisahkan diri dari barisan, gue pun mengikuti mereka, walaupun gue enggak tahu ruang pertapaan itu di mana. Setelah sampai gue baru sadar kalau ruang yang dimaksud itu adalah ruang perpustakaan.


Di dalam ruang perpustakaan sudah bisa dipastikan kalau kita semua ini berstatus siswa bina lingkungan (alias siswa miskin), tapi status itu tidak diimbangi dengan kenyataannya. Sebagian dari mereka mempunyai penampilan layaknya anak kolormelar (loh).


Sebagian dari mereka membawa BB, sebagian lagi membawa BK (batu kali). Saat gue sedang kenalan dengan salah satu dari mereka, gue kaget ngelihat gigi kenalan gue ini ada pagernya “Ebuset! sejak kapan orang miskin giginya dipagerin” dumel gue dalem hati.


Ternyata demi sekolah murah, orang kaya sekalipun rela membohongi diri sendiri dengan berpura-pura miskin, sungguh terlalu. (versi bang haji).


Setelah kegiatan MOS selesai, hati gue menjadi tenang. Gambaran buruk tentang kegiatan MOS tidak gue endus keberadaannya selama tiga hari. Saat pembagian kalas ternyata gue masuk kelas X4. Kelas yang paling pojok, dengan lantai yang sebagian telah bolong-bolong. Ditambah lagi letak kelasnya yang sangat strategis, deket kantin.


Ternyata di kelas X4, gue sekelas sama Udin temen semasa SMP dulu, walaupun gue enggak terlalu kenal sama dia, tapi lumayanlah buat ada-adaan. Udin adalah pria tulen yang mempunyai tubuh kekar (bukan, dia bukan samson kok) dengan tinggi yang hanya sebatas pohon toge.


Gue emang enggak terlalu tahu betul tentang keperibadian dia. Wajarlah sewaktu SMP dulu gue enggak pernah ngobrol sama dia. Kalaupun kita ketemu, paling mentok cuma lihat-lihatan, gue ngelihat dia dan dia ngelihat gua dengan senyum mesum.


Gue pun duduk di bangku deretan paling belakang bersebelahan dengan si Udin.


“kayanya di X4 ini Cuma kita aja ya yang dari SMP 3″ gue mencoba meramaikan suasana.


“iya,”


“eh, elo kok bisa masuk sini” pertanyaan gue semakin enggak jelas.


“gak tahu.”


Mendengar jawaban-jawaban yang keluar dari mulut Udin, gue berpendapat kalau dia lagi males bicara. Atau mungkin pita suara dia tertinggal di rumah, sehingga dia enggak bisa ngomong banyak-banyak. Keadaan menjadi hening.


Setelah diem-dieman, gue kembali mencoba nanya sama Udin.


Tapi dia masih saja memberikan jawaban secara singkat, padat dan enggak nyambung. Gue mulai curiga sama Udin, kayaknya ada yang salah sama dia. Saat gue ngelihat muka dia, gue kaget ternyata dia senyum-senyum sendiri.


Tadinya gue mau ngomong ke dia “din elo gila ya dari tadi senyum-senyum sendiri?”. Tapi enggak jadi. Gue takut nanti dia tersinggung dan dia marah, terus dia ngelempar gue keluar jendela dengan otot kawat yang dia punya.


“Kenapa lo din senyum-senyum kaya gitu?” tanya gue, penasaran.


Dia hanya senyum (mesum) sambil menunjuk ke arah cewek cantik yang dari tadi mengobrol sama teman sebangkunya.


“elo suka sama dia?” tanya gue, sotoy.


“iya,” masih dengan senyum (mesum)nya.


Pantes dari tadi dia gue ajak ngomong jawabannya selalu singkat-singkat, ternyata dia sedang asik memandangi wanita cantik yang ada di hadapannya. Mungkin si cewek enggak menyadari kalau dari tadi dia sedang diintai oleh seorang lelaki hidung pesek, yang siap menerkam kapan aja.


“elo tembak langsung aja dia din” gue mencoba ngasih solusi yang terburuk.


“hah, tembak?” dengan ekspresi kaget dia menoleh ke gua.


“iya tembak”


“maksud elo gue harus nembak jam tangan dia”


Situasi kembali hening.


Gue masih berpikir sambil menyaring dalam-dalam perkataan yang tadi keluar dari mulut Udin. Udin begitu misterius sampai-sampai gue dibuat pusing olehnya.


“maksud elo apa si din? gue enggak ngerti” tanya gue, bingung.


“ELO YANG ENGGAK NGERTI!” jawab dia sambil sedikit menjerit “gue itu suka sama jam tangannya, bukan sama orangnya”.


“Ohh” kata gue “jadi lo dari tadi merhatiin jam tangannya. ketipu gue.”


“ketipu kan lo?”


“Iya gue ketipu”


“haha.. ketipu lo ya”


“iya ketipu gue, hehehe” gue ketawa garing.


Udin diam sebentar, lalu ngomong lagi “ketipu kan lo?”


“IYA!”


Gue langsung nyari-nyari pena buat nusuk mata si Udin.


Ternyata Udin beruntung, pena yang gue cari buat nusuk mata dia enggak ketemu.


Kelas yang tadinya bising, tiba-tiba menjadi tenang setelah seorang guru masuk. Dia berbicara panjang lebar sebelum akhirnya mengabsen nama kita satu persatu. Setelah dia selesai mengabsen, tiba-tiba Udin nunjuk tangan dan berkata.


“pak, kok nama saya enggak kesebut?” kata Udin sambil berdiri.


Sontak saja semua mata siswa lain memandang ke arah Udin yang begitu mempesona di mata para kudanil liar.


“siapa nama kamu?”


“Muhammad jauharudin pak.”


“sebentar.” Kata pak guru sambil kembali mengecek absen.

__ADS_1


Setelah beberapa kali mengecek akhirnya dia memutuskan kalau si Udin salah masuk kelas. Seharusnya Udin masuk kelas X6.


Dengan begitu sudah bisa dipastikan kalau gue sama Udin akan berpisah. Detik-detik terakhir di saat Udin ingin meninggalkan kelas X4 untuk selama-lamanya, gue masih bisa melihat senyum mesum yang biasa dia keluarkan. Akhirnya. Sekarang gue sendirian, terperangkap di dunia X4 tanpa ada seorang pun yang gue kenal saat itu.


__ADS_2