
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Judul: Garis alger
_________________________
Jantung yang berdegup kencang, semakin aku sadar ia bukan milikku, membawa ku pada realitas yang ada. Aku melihatnya berdiri disana sama kakunya, seperti telur rebus yang dipertontonkan. Aku selalu mencintainya, tetapi waktu terus berjalan aku tidak yakin waktu mempertahankannya dan kenyataan sekali lagi menjeritkan aku mencintainya. Setiap langkahku yang membuat ia terdiam menunggu dan membawaku pada janji sakral yang mengusik, saat ini. aku tau bagaimana untuk bernapas, tetapi aku kembali yakin bahwa tubuh ini bukan milikku, aku tak bisa mengendalikannya.
Semua orang akan merasakan hal yang sama di saat harus membiarkan kain yang sedikit menggelitik kulit turun menjulang pada tubuh untuk mendengar pujian manis mereka, make up yang bahkan aku kira dapat membuatku terlihat seperti badut di saat aku tidak tahu bagaimana prosesnya, aku buruk dan selalu begitu, tetapi kala itu dimana aku adalah seorang asing dengan cekung pipi, merona bibir dan mata yang terlihat lelah. Ini adalah kebahagian, hari yang aku tunggu dan aku mencapai sisi keperempuananku. Padahal, hanya beberapa hari yang lalu aku bergeming melihat laki-laki itu dengan tatapan paling hangat menyanjung dan maskulin yang tak pernah pudar, aku tidak berpikir bahwa ia akan datang dengan kabar bahagia, yang aku tunggu sejak dulu sejak dimana aku membencinya dan menghajarkannya lebih dari aku tau seperti apa ia sebenarnya.
Aku berdiri di pagar dan menunggu terkasihku datang, kakak laki-lakiku, Rio untuk menjemputku karena jam kuliahku telah tanggal. Aku menyukai hembusan angin sore yang terlihat ramah setiap saat yang hampir sering aku pandang dari pada pagi hari. Halamannya besar kulihat pantulan langit sore dari sisi halaman depan yang telah gundul ke arah sungai keruh dan cukup tenang. Tidak perlu khawatir selama apa aku menunggu tempat itu tak kunjung sepi, terlebih beberapa gerombolan nakal yang dipajang seperti barang mahal tetapi cukup buruk di ujung jalan sana. Salah satu dari mereka yang aku tau adalah senior yang pernah melemparku pada hari mengerikan pertama kuliahku, Alger bergitulah ia dipanggil dengan intonasi e pada kata remeh. Bukan itu namanya dan aku tidak pernah tau sampai sekarang. Laki-laki itu menghampiriku dengan motor Harley Davidson miliknya, mungkin tatapanku yang membuatnya datang dan aku hanya perlu tenang, aku pernah menghadapi yang lebih buruk dari ini. 'boom,' katanya saat pertama kali mendapati tatapanku dengan tawa kecil seakan apa yang ia katakan adalah lelucon, bahkan sejak hari itu ia masih berani untuk memarkirkan motornya di depanku begitu dekat, aku tau dia tidak pernah baik, pada setiap orang.
'jangan berpikir! Karena aku tau apa itu. kau punya rona buruk setiap sore dan kupikir kau sudah bosan. Jangan bicara!', katanya, padahal aku sudah ingin mengatainya laki-laki tak punya otak sebelum mengusirnya, tetapi ia lebih cepat 'aku sudah mengaturnya, dan aku jamin kau tidak akan mendapatkan pekerjaan selingan itu sebelum kau memberikan,' ia berhenti dan tidak melanjutkan untuk membuatku tertekan. Sudah aku lalui beberapa tahun untuk bertahan di universitas ini, tentu saja aku tidak ingin menyiakan uang yang telah dikeluarkan, terlalu banyak dan sayang sekali jika tak seimbang. Aku memang mencari pekerjaan selingan, kupikir jika kuliahku tak padat akhir-akhir ini dan hanya untuk membantu pengeluaranku yang banyak, di sebuah restoran milik teman yang tak jauh dari sini dan tentu saja karena aku pandai memasak. Tetapi sepertinya tak mudah. 'gantungan lucu itu,' lanjutnya dan intonasi suaranya menggelikan ia menginginkan gantungan yang sedang bergelantung di resleting persegi tas ranselku ini, kemarin ia meminta pelindung plastik murahan ponselku dan besok apa lagi?, aku hanya perlu tenang dia hanya pengganggu kurang kerjaan dan akan pergi dalam hitungan detik, tehembus oleh angin dan matahari senja.
'aku tidak menanggapi lelucon ini, kuberitahu kau selera humorku buruk sekali,' wajahku sudah cukup dingin mengatakannya sembari membuang pandanganku dan dengan memuakan ia tertawa. 'dan aku tak perlu memberitahumu bahwa aku menyukainya,' katanya dengan lirikan menggoda.
'kau mencoba untuk menggangguku?,' tanyaku dan aku sangat ingin tau ada apa dengan psikologis laki-laki itu.
'ya, melihatmu begitu buruk adalah sangat menghibur,' jawabnya seakan itu adalah pertanyaan yang ia hapalkan jawabannya.
'tak akan ada yang seburuk seperti aku yang tidak sengaja menginjak kotoran kucing lalu membawanya masuk ke dalam kamarku,' kataku dan sekali lagi ia tertawa tetapi lebih keras.
'tunggu, siapa namamu? remi? Ah,' ia berpura-pura terpukul saat tidak dapat mengingat namaku dengan baik 'penolakanmu tak dapat terobati,' jelasnya dan kini aku yang terpukul.
'kau selalu berlebihan pada segala hal termasuk emosimu,' bantah ku pada argumennya.
'kau selalu keras kepala,' katanya dan pada saat itu ia segera menyingkir melihat mobil kodok berwarna merah memasuki halaman parkir, sudah pasti Rio tak akan lama membiarkanku menunggu, inilah yang aku maksud dengan hembusan angin dan langit senja yang menyingkirkannya.
Beberapa hari kemudian, melodi laut biru adalah yang paling mengesankan, melarikan ombak dan angin laut ke darat, siang yang sejuk dan matahari tak pernah seramah itu. ada beberapa cerita yang perlu aku kenang, aku adalah Naomi yang tak pernah tau sosok laki-laki manapun selain kakakku Rio hingga hari dimana aku dipertemukan dengan Sami Ressla yang biasa mereka sebut dengan Alger. Banyak orang menyebutku gadis yang baik, tentu saja karena aku sangat memperhatikan etika dan siapa saja yang boleh mengenalku lebih dekat, tidak banyak bicara tetapi bukan pendiam, aku juga sangat stylish dengan pakaian yang didominasi dengan bahan baik, terkadang murah tetapi tidak murahan, dengan pashmina merah mudah dan dress motif bunga-bunga yang juga berwarna senada yang sekarang aku kenakan dari sana mereka pasti akan langsung mengerti gayaku.
__ADS_1
Sami berdiri di ujung sana duduk beralaskan pasir putih dengan kaos tanpa lengannya yang sudah basah karena air. Sesekali dia melihatku yang sama sekali bersih kukuh tak melihatnya, ia menatapku dengan tajam sekarang dan aku bisa merasakan seakan jaraknya begitu dekat. Tiba-tiba dia sudah berdiri dan kemudian pergi begitu saja meninggalkanku di antara orang-orang yang sama takjubnya dengan keindahan pantai tak terkenal ini. Sami kembali dengan kelapa di tangannya dan sebuah sedotan. 'ini,' katanya sembari menyodorkan minuman itu kepadaku yang masih tidak bisa melihatnya. Aku menerima kelapa itu karena memang aku kehausan setelah menghabiskan energi hari itu bersamanya. Ia menggaruk jenggotnya yang gundul itu sekilas untuk mengurangi keinginanya untuk berbasa-basi 'aku akan membawamu pulang setelah sore berakhir,' begitulah katanya. Aku meliriknya ternyata dia masih juga tak mengerti argument yang dari tadi aku lontarkan.
'aku akan pulang sebelum sore. Tanpamu.' Kataku sebelum mengambil posisi duduk yang enak dan menyeruput air kelapa.
'baiklah. Begini, aku akan menjawab pertanyaanmu yang seperti rentetan kembang api murahan itu,' katanya menghembuskan napas panjang dan terdengar seperti kambing yang hendak di sembelih, mengerikan ditambah poin untuknya, memuakkan. 'kau ingat kejadian di caf' waktu itu? menamparku dengan tas persegimu, aku bertaruh isinya pasti batu bata!,' oh dia mulai lagi.
'dengar! kau sungguh kurangajar waktu itu, bahkan aku bisa saja memukulmu menggunakan nampan besi yang dibawa oleh pelayan. kau pikir siapa kau? Tuan rumah dunia ini?!' kataku memandang hina dia supaya dia merasakan sama buruknya, kalau bukan karena aku tak berani pulang ke rumah menemui ayahku yang menyeramkan aku tidak akan bersama dia sekarang.
'sejak saat itu…' suara Sami melunak seakan kembali pada hari yang telah lalu itu 'ada sekenario yang teman-temanku untukmu. Oh mereka sungguh direpotkan sampai harus membuat sekenario untuk gadis tak tau diri ini,' kini dibuatnya aku melotot, sialan laki-laki itu selalu pandai menyulut emosi, aku hanya bisa menarik napas menenangkan diri.
'sayangnya aku cukup tidak tau diri untuk membuat preman-preman jalanan melarikan diri ketakutan,' jawabku bangga. Kini Sami yang harus menghela napas karena disebut preman jalanan.
'dan aku dengan baik hati menolongmu keluar dari sekenario itu hanya untuk menerima hajaran mereka,' kini Sami yang melotot tetapi suaranya kembali melunak mengingat kejadian itu.
'itu pantas untuk seorang yang tidak mengerti arti pelecehan dan tidak sopan,' kataku.
'sekali lagi aku katakan!' ia mengeraskan suaranya sebelum kembali melunak 'oh… rupanya kau tak sadar juga. Aku mencoba untuk membantu itu saja, dan kau malah menamaiku laki-laki biadab,' bantahnya.
'mungkin kau bisa menyebutku kurang ajar jika aku tidak menaruh ke dua pelayanku untuk menemanimu dan memperlakukan mu seperti ratu. Sialan!' kini aku hanya bisa memandangnya dengan tatapan kesal yang tertahan karena aku melihat sedikit lagi dia pasti akan membuat keributan karena amarahnya sudah di ujung hidungnya, hampir menuruni tulang mancung itu kemudian masuk ke dalam mulutnya.
'okey lalu bagaimana kau mengatasi kekacauan ini. aku terpojokan oleh keluargaku dan kau terus dikejar oleh kawanmu yang seperti singa gila kepanasan itu' aku menjelaskan sedikit sebelum membebaninya pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak tau harus berbuat apa.
'aku sudah memikirkannya berhari-hari,' katanya, aku terkejut tetapi sedikit lega ada harapan di dalam otakku memohon bahwa idenya cerdas dan tidak seperti penggambaran kepribadiannya yang kacau. Aku menunggu ia melanjutkan 'aku akan menikahimu,' katanya sedatar mungkin, selucu mungkin namun sayangnya itu sama sekali tidak lucu.
'apa?' aku tertawa geli tetapi terdengar ada paksaan di dalamnya. 'aku sama sekali tidak berpikir bahwa ini adalah serius, baiklah rencananya?,' Tanyaku dengan alis terangkat.
'aku serius, aku akan mengikuti budaya keluargamu dan dengan ini akan membuat singa-singa gila itu lari karena keterkejutannya,' jelasnya. Aku tertawa tanpa henti walau aku memaksakannya disamping ketakutan dengan nada serius dari mulutnya, tawa itu hampir membuatku mati kaku. 'mi,' panggilnya dan aku masih tertawa 'Naomi!' kini aku terdiam karena kukira tawa itu tak berhasil.
'kau memikirkan gangguan sana sini dan kemungkinan yang membahayakan?,' Tanyaku dengan senyum ramah, mencoba ramah.
__ADS_1
'kukira tidak ada gangguan dan kemungkinan yang membahayakan,' jelasnya lagi dan dibuatnya aku ragu.
'begini,' aku mulai mengambil posisi untuk menjelaskan panjang lebar kepada Sami 'keluargaku memang sangat mempunyai kepribadian sebagai keluarga yang kuat, tidak seperti keluarga lain yang terombang-ambing mengikuti zaman, pernikahan adalah ikatan sakral dan pengaruhnya adalah seumur hidup. Keluargaku, memperhatikan siapa yang akan menjadi pasangan hidup anak-anaknya, yang pasti dari keluarga baik-baik. Aku minta maaf sebelumnya tetapi ibuku sering menekankan untuk tidak berhubungan dekat dengan seorang dari keluarga bermasalah apalagi ia adalah seorang pemimpin preman jalanan yang suka berhubungan dengan polisi. Mungkin kemudian mereka sudah akan melempar koper lengkap dengan isinya terpampang di depan rumah sebelum aku pulang karena tau rencana gila ini,' jelasku tetapi aku cukup mengatur nada bicaraku agar tak terdengar menghina.
'lalu kau punya ide lain?,' Tanya Sami terlihat tenang.
'untuk masalah keluargaku aku pasti bisa mengatasinya, menjelaskan dengan alasan-alasan yang masuk akal dan menenangkan, tetapi untuk masalahmu, maaf sekali,' terlihat kepahaman situasiku di wajah laki-laki itu dan itu membuatku simpatik, lalu aku melanjutkan 'Kau tau? aku sangat terkejut dengan idemu menikahiku, aku tau kau seorang playboy!,' disamping aku menuturkan rasa dukaku karena tak bisa membantunya, penyataanku yang terakhir sangat menghakimi.
'karena aku dari keluarga yang kacau, dan kekacauan keluargaku tidak seperti keluarga lain yang terombang-ambing mengikuti zaman, kukira, pernikahan dapat mengembalikanku pada aturan yang ada, apalagi jika itu datang dari seorang anak dari keluarga baik-baik dan mengerti etika,' jawabnya membuatku menggigit lidahku dengan mulut tertutup karena tak bisa berkata-kata.
'sekali lagi aku minta maaf, aku berharap kau mendapat seorang yang baik dan berasal dari keluarga baik-baik,' kataku, Sami memandang ke laut 'kuharap ada yang harus mundur kemudian, aku atau mereka,' katanya, aku memandang bahasa tubuhnya, dia punya karisma terkadang. pembicaraan itu berakhir, tepat sebelum sore Sami mengantarku pulang.
Aku berhasil membuat tenang keluargaku tetapi masih ada noda yang membuat mereka teringat kecerobohanku, bagaimana tidak aku hilang beberapa hari bersama 'Bad boy' maksudku Alger. setelah hari itu aku sudah tidak lagi bertemu dengan si Alger bahkan di tempat kuliah, ekstrimnya aku tidak lagi menemui preman yang biasa duduk-duduk di sisi jalan setiap sore. Aku lega tetapi aku dibuat khawatir mengingat Sami yang masih punya masalah dengan kawan-kawannya, bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan mereka begitu saja. Lelucon mereka benar-benar tidak lucu karena hampir saja membuatku berpikir bahwa aku akan mati saat itu hingga aku menelpon polisi dan sebelum polisi datang Sami membawaku kabur. Aku mengingat itu sebagai memori terhebat dalam hidupku, aku seorang dari keluarga biasa-biasa saja dengan kisah hidup yang juga biasa-biasa saja mengalami hal seironis ini.
'hei Mi,' tiba-tiba seorang menyapaku dan aku mengenal wanita itu, tinggi dan kulit kecoklatan yang eksotis, ia teman Sami. Aku tersenyum padanya dan membalas sapaannya. 'oh ya, apa kau tau kenapa Sami tak masuk kuliah satu minggu ini?' tanyanya dan aku terkejut akan dua hal, Sami tidak masuk kuliah selama satu minggu dan wanita ini menanyakan tentang Sami kepadaku, rupanya aku hampir terkenal. Aku menggeleng 'aku tidak tau.' Lalu dia berpikir sejenak 'aku akan sangat kasihan padanya jika aku tidak mengetahui kondisinya, kudengar dia mengalami kecelakaan dan dia sedang di rumahnya. Hm kalau boleh, aku ingin kau menemaniku menjenguknya,' katanya dan aku terdiam, aku memang senang bahwa aku tidak lagi menemui laki-laki itu tetapi aku yakin hal itu pasti terjadi, kawannya takkan diam sebelum Sami habis karena urusan dengan polisi waktu itu tidak bisa dimaafkan oleh mereka. 'aku sangat ingin menjenguknya, kupikir aku akan menunggu Rio dan membiarkannya mengantarkan kita,' jelasku. Wanita itu melihat ke arah arlojinya, 'kau tau dimana rumah Alger?' tanyanya dengan alis terangkat, dan aku menggeleng 'berarti aku satu-satunya orang yang dapat membawamu kesana, sayangnya aku tidak punya banyak waktu. aku berniat menjenguknya dan itu tidak lebih dari sepuluh menit, bahkan kurang, karena aku ada urusan yang juga harus aku selesaikan,' jelasnya dan kembali aku berpikir, aku harus datang lagi ke rumah laki-laki itu tetapi kini dengan situasi yang berbeda. 'oh aku harus menyesalinya karena mengiyakan. Baiklah,' kataku, kuharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
Aku berkenalan dengannya dan namanya Dalia satu fakultas yang sama dengan Sami, perjalanan yang lumayan jauh dengan taksi, setelah aku menelpon Rio dan memberitahu apa yang terjadi. Dia juga bilang akan menjemputku sebelum malam dan aku mengiyakan. Percakapan kecil terjadi di antara kami, seperti aku yang bercerita hubunganku dengan Sami dan Dalia juga memberitahu arti kata Alger yang selalu menyertai sami. Alger itu berarti Algeria, dia tinggal disana sejak kecil dengan ayahnya setelah perceraian dengan ibunya, karena kisah kehidupan yang katanya cukup memilukan berdua dengan ayahnya ia memutuskan untuk kembali ke indonesia, sendirian. ceritanya cukup terkenal apalagi dia adalah komplotan anak nakal, jadi tak jarang kisah hidupnya melebelli dirinya. 'dia tinggal di rumah orang tuanya, semenjak kecelakaan itu ibunya yang mengurusnya,' kata Dalia setelah aku bertanya perjalanan itu lumayan jauh dari yang aku sadari dulu saat sami membawaku ke rumahnya. Tiba-tiba aku tersentak sesuatu saat dalia menyibak rambutnya ke belakang dan membuang pandangannya ke jendela taksi secara bersamaan, ada yang aneh dari bahasa tubuhnya itu dan, dari sana aku tau bahwa ada sesuatu yang memang tidak beres. Sami tak pernah sampai ke rumah ibunya sejak setelah kepulangannya dari Algeria.
Keterpaksaan yang kini menyerangku di dalam kebutaan hatiku, dan mataku yang sama butanya. Aku tau hidupku akan berakhir saat ini juga disaat aku mendengar cekikikan wanita-wanita yang aku yakin mereka adalah wanita nakal dibarengi suara-suara berat yang membentak-bentak menunjukan kemenangan. Oh Tuhan, aku tak pernah merasa seburuk dan setakut ini. mereka membawaku masuk ke dalam ruangan dan tak terdeteksi baik olehku dengan mata tertutup, mereka mendudukanku dan mengikatku, apa yang aku pikirkan adalah penyesalan, penyesalan karena mengikuti dalia atau penyesalan karena mengenal sami. Setelah beberapa waktu akhirnya mereka membuka mataku dan membuatku melihat kekacauan, botol kaca berserakan, angin sore berhembus lembut membisikan kegelapan yang akan datang. Ruangan yang besar itu dihuni oleh lebih dari 6 orang laki-laki yang pernah aku lihat, sedang di depan sana beberapa meter dari keadaanku terpampang meja bilyard yang sama berantakannya.
'seharusnya kau mengerti yang mana teman dan yang mana mantan teman,' kata seorang laki-laki yang sedang bermain bilyard dan memantapkan konsentarsi. 'goblok!' teriaknya. 'tenyata dari sini datangnya kebodohan itu,' lanjutnya dan aku yakin ia bermaksud menunjuk sami. Aku hanya bisa memandang mereka lelah dan di dalam hatiku terus bergumam doa. 'berharaplah si alger itu datang tepat waktu jika tidak mau melihat kekasihnya mati!' teriak salah seorang lagi dalam jarak lebih dekat dan intonasi lebih mengerikan, kukira aku sudah mati. Lama hingga aku menyadari hilangnya si sami dan maksud katanya akhir waktu pembicaraan, ia berharap salah satu dari mereka akan mundur dan itu adalah ia.
'dia datang!' teriak seorang lagi, dan sejak saat itu aku mengerti apa arti mengkhawatirkan setiap napas, tindak dan keadaan seseorang. Aku hanya bisa menghembuskan napas. 'polisi?' Tanya yang lain. 'bersihh,' jawabnya. Ada keributan di luar sana, bukan suara teriakan atau argument-argument tetapi lebih pada pukulan, aku kembali khawatir, bagaimanapun aku berada di pihak sami sekarang. Aku melihat sami dengan wajah berdarah, masuk terseret-seret oleh kawan-kawannya sendiri, dia melihatku dan aku melihatnya sebelum aku memalingkannya ke kanan. Mereka hanya kesal, dan Sami mengatakannya dengan tenang 'lampiaskan saja kekesalan kalian, hingga kalian lega dan sadar apa yang kalian lakukan,' katanya dan aku meringis, dia tenang setelah dipukul bertubi-tubi dan rasa sakit itu terasa pada tulang rusukku kemudian ia tak sadarkan diri.
Menghabiskan banyak waktu sudah untuk menunggu, menghancurkan segala yang baik-baik saja. Tetapi memori yang mengalir pada nadi membunuh waktu malam. Hingga ku berbaring di dalam sayap kebaikan, menerbangkanku ke dalam kenyamanan yang nyata. Lelah sudah, sebuah kejayaan yang mengharukan untuk berbaring diatas sayap kebaikan, di dalam kegelapan yang membuatakan dan diam tanpa nyawa.
Seperti ada kesempatan, tetapi kekosongan. Selalu ada alasan dan aku membutuhkan garis yang indah, biarkan aku kosong hingga aku menemukan kedamaian. Lelah pada garis yang lurus yang melemparkanku pada kenyatakan, yang kita buat.
Aku mencintai Sami Ressla sejak ia berkata dia akan menikahiku, keluarganya berantakan dan itu semakin terasa saat ia harus berbaring berhari-hari di rumah sakit. Aku menjenguknya bersama Rio, ya Rio terkasihku yang mengerti keadaanku disamping ayahku marah besar, tetapi tidak seperti seorang yang tidak punya hati. Sami tersadar keesokan harinya dan dia masih sempat menggodaku dengan alis-alisnya yang terangkat dan senyuman kemenangan. Aku bertanya padanya mengapa ia tak pernah menemui ibunya, dan dia bilang bahwa umurnya sudah tua waktu itu dan ia memutuskan untuk tinggal sendiri, dia memberiku alamat rumahnya dan aku menghubungi orang tuanya aku mengatakan bahwa aku adalah seorang yang akan dinikahi oleh Sami dan kami memohon mereka untuk datang dan memberi izin, dengan banyak pengorbanan yang harus aku lakukan seperti membuat rentetan kata-kata berpengaruh dan mendatangi rumah ibu laki-laki itu, bersama Rio. Mereka akhirnya setuju dan datang ke rumahku satu bulan setelahnya, aku senang karena akhirnya penantian selama satu bulan itu berakhir dan melihat Sami dengan wajah menyanjung nan maskulin itu kembali.
__ADS_1
Umurku 21 tahun dan Sami diatasku tiga tahun, dia memakai jas hitam dan kemeja putih, rambutnya terpotong rapi, tetapi senyumannya terlihat kaku saat dia mengiring tanganku melalui para mata yang penasaran keluar dari gedung. Aku melirik ke arahnya dan dia masih seperti telur rubus, sesekali dia mengeratkan genggamannya dan aku berkata 'kau buruk sekali,' dan dia melirikku sebelum kemudian ia berkata 'tidak seburuk sampai aku membawamu ke piama merahmu,' sebelum kemudian aku tertawa dan membiarkan kebahagian ini menyelesaikan tugasnya, di antara dua garis yang berbeda.