Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Goresan Misteri


__ADS_3

Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi


Judul: Goresan Misteri


_________________________


Pemilihan kapten basket hari ini diselenggarakan. Dan Risty salah satu kandidatnya. Risty adalah siswa kelas 11 yang baru mengikuti ekskul ini sebulan yang lalu, tapi dia telah di kandidatkan menjadi kapten basket.


'Sebel sebel sebel!' teriak Naomi di kelas yang masih sepi itu.


'Kenapa?' tanya Cha sahabat Naomi.


'Lo tau Risty?' tanya Naomi, Cha hanya mengangguk. 'Tahun ini dia jadi kandidat kapten basket, nah gue? Gue yang dari kelas 10 ikut nggak di jadiin kapten!' kata Naomi sambil menendang bangku.


'Nah itu Risty!' kata Cha sambil menunjuk koridor sekolah.


'Hei Risty!' teriak Naomi dan nampak nampaknya cewek itu berjalan ke belakang dan menoleh Naomi.


'Gue Rista bukan Risty!' kata cewek itu.


'Oh lo Rista, kembarannya si Risty itu!' bentak Naomi.


'Iya kenapa?' jawab Rista santai.


'Bilangin sama kembaran lo, jangan sok kalo jadi orang!' kata Naomi.


'Ada masalah?' jawab Rista.


'Jelas! Lo tau gue kan? Gue anak basket yang nyetak skor terbanyak tahun ini, tapi kenapa kembaran lo si Risty yang jadi kandidat kapten dan gue enggak!' jelas Naomi.


'Lo pikir gue gak kesel? Dari SMP dia selalu ngerebut apa yang gue mau! Lo pikir gue gak mau jadi kapten? Mau! Dari kelas 10 gue seriusin basket, tapi apa? Sekarang gue harus berusaha ngalahin Risty di voting nanti! Dan itu sulit! Karena banyak anak basket yang ingin dia jadi kapten!' jelas Risty.


'Oh jadi gitu, ya udah gue dukung lo!' kata Naomi.


'Gue juga!' sahut Cha.


Siang ini voting dilakukan. Tampak Naomi, Rista dan Cha di samping lapangan. Dan tampak Risty berserta 2 kandidat lain di tengah-tengah lapangan.

__ADS_1


'Siang temen-temen!' kata Andi senior basket membuka acara tersebut. 'Hari ini kita akan voting, siapa yang akan jadi kapten basket tahun ini. Dan gue gak mau ada keributan disini. Dan gue ingin yang terbaiklah yang akan jadi kapten basket, dan kapten yang terpilih hari ini akan memimpin tim basket kesayangan kita pada laga 2 hari lagi, dan gue harap siapapun yang terpilih bisa membawa nama tim basket kita harum di sekolah ini! Dan sekarang kalian tulis siapa yang kalian pilih dan masukan ke kotak hijau di utara lapangan!' kata Andi.


Sudah 30 menit voting dilaksanakan, sekarang waktunya menghitung perolehan angka. Di papan telah tertulis nama Risty, Jane dan Rista. Tampak 30 kertas di kotak hijau tersebut. Kertas demi kertas dibuka oleh Andi demi memperoleh siapa yang akan menjadi kapten basket. Dan diperoleh hasil 11 untuk Risty, 7 untuk Jane dan 11 untuk Rista. Tampak satu kertas di tangan Andi.


'Nah temen-temen kertas ini penentu siapa yang akan jadi kapten. Apakah Risty, Jane atau Rista. Mari kita buka! Satu, dua, tiga! Dan kapten basket tahun ini adalah Risty! Dengan demikian acara voting telah selesai dan temen-temen boleh kembali melakukan aktivitasnya kembali.' kata Andi sambil mendatangi Risty. 'Risty selamat ya!' kata Andi sambil menjabat tangan Risty.


'Iya, makasih loh. Aku nggak nyangka bisa jadi kapten basket,' kata Risty sambil tertawa kecil.


'Kamu layak lagi buat jadi kapten. Risty aku pingin bilang sesuatu sama kamu,' kata Andi sambil menggaruk-garuk kepalanya.


'Apa?' tanya Risty.


'Jujur Ris, sebelum kamu ikut basket aku udah suka sama kamu, tapi sejak kamu gabung basket, aku jadi makin suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?' tanya Andi malu-malu.


'Andi aku juga suka sama kamu, bahkan aku kagum sama kamu. Tapi aku udah jadian sama Ray. Maaf ya Andi,' jawab Risty.


'Apa Ray? Anak kelas 12 itu? Dia itu brengs*k! Kamu Cuma dimanfaatin sama dia, aku abangnya, jadi aku tau bagaimana sifat dia!' kata Andi.


'Lho kok kamu jadi gitu! Seharusnya sebagai abang kamu harus menunjukan kebaikan adik kamu, bukan malah menjelek-jelekannya! Apa itu sebenarnya sifat kamu sendiri?' kata Risty kesal.


'Bukan gue jelek-jelekin dia tapi itu kenyataan. Dia suka mainin cewek, bahkan dia suka nyewa cewek bisp*k!' kata Andi. 'Plaaakkk!!' bunyi tamparan Risty.


Andi adalah tipe cowok pendendam. Dia paling tidak suka apabila ada cewek yang mempermalukannya seperti kejadian tadi. Dan Andi tidak segan-segan untuk membalas kejadian tadi dengan hal yang lebih kejam kepada Risty.


Terdengar suara tangis dan teriakan di kamar mandi. Risty menghentikan langkah kakinya. Dan mencoba mendengarkan lebih jelas suara itu.


'Apa kekuarangan gue coba! Gue lebih sempurna dari pada Risty! Gue lebih hebat dari dia! Tapi kenapa Risty yang jadi kapten kenapa!' teriak Rista di kamar mandi.


'Rista, maafin aku,' kata Risty memasuki kamar mandi.


'Ngapain lo disini! Sana lo latihan basket!' bentak Rista.


'Rista, please maafin gue. Gue gak maksud buat nyakitin lo. Kalo jabatan ini ngerusak persaudaraan kita gue rela gak jadi kapten demi lo Ris!' jelas Risty.


'Bulsh*t! Lo seneng kan liat gue menderita kaya gini! Asal lo tau Ris, hati gue sakit banget! Sejak SMP lo selalu ngerebut apa yang gue mau! Sekarang lo rebut jabatan itu dari gue! Dan sekarang gue minta lo pergi! Pergi!' kata Rista sambil mendorong Risty.


'Tapi…' Risty belum selesai berbicara.

__ADS_1


'Pergi lo! Apa lo mau gue bunuh disini!' bentak Rista. Dan Risty pun pergi.


Dua hari berlalu dan hari ini tim basket Risty bertanding di laga yang cukup terkenal di kota ini. Di laga kali ini, Rista ikut bertanding. Tampak di lapangan Rista duduk di samping Andi. Nampaknya tim basket ini menunggu kehadiran Risty sang kapten. Tiga puluh menit berlalu dan tak nampak batang hidung Risty. Dan pada akhhirnya pertandingan dilaksanakan tanpa Risty. Yup, benar yang diduga Andi, mereka pun kalah. Karena curiga, Jane salah satu anggota basket sekaligus teman dekat Risty mengajak semuanya ke rumah Risty untuk memastikan keadaan Risty. Namun Andi, Risty dan Naomi tidak ikut. Jane dan lainnya pun berangkat.


'Eh, pintunya gak dikunci masuk yuk,' ajak Jane.


'Hush, jangan gak baik,' kata Ajeng salah satu anggota basket.


'Lagian gak ada orang kayanya,' bantah Jane.


Mereka pun masuk. Dan beberapa langkah mereka mencium bau gas yang sangat menyengat.


'Uhuk.. uhukkk bau apa ini!' kata Jane menutup hidungnya.


'Ini bau gas!' kata Maro yang ikut kerumah Risty.


'Sepertinya dari kamar Risty!' kata Jane sambil berlari ke kamar Risty yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Jane mencoba mendobrak kamar Risty yang terkunci. Dan akhirnya terbuka. Tampak Risty yang terbujur lemah di lantai kamar dengan tabung LPG yang terbuka di salah satu ruangan. Jane mencoba membangunkan Risty. Dan ternyata sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan di raga Risty. Jane pun menangis memeluk Risty. Jane mengambil buku diary Risty yang masih dipegang Risty dengan kuat. Jane menemukan petunjuk, tapi dia tidak tahu artinya. Dan Jane menyuruh Ajeng menelfon polisi. Tak lama polisi datang mengamankan tempat kejadian.


'Permisi, apa anda mengetahui siapa pelakunya?' tanya polisi


'Tidak, saya hanya tau Risty ada masalah dengan Naomi, Rista dan Andi. Tapi ada tulisan ini di buku diary Risty,' kata Jane sambil menahan tangis.


'Mana tulisannya?' tanya polisi.


'Ini Pak,' kata Jane sambil menyerahkan buku diary Risty. Dan polisi itu membaca tulisan itu, lalu ia tersenyum, ia membisikan sesuatu kepada Jane.


'Apa Pak? Kembaran? Memang Risty punya kembaran dia adalah Rista, dari mana bapak tahu?' tanya Jane kanget.


'Iya, disini tertulis 'Bila yang hidup sudah turun satu urutan kehidupan dan yang mati sudah naik 1 urutan kematian, pembunuhku adalah H A N E P E' dan arti H A N E P E itu adalah GEMINI, dan gemini berarti kembar, jadi kembarannya adalah pembunuhnya,' jelas Polisi.


'Maksudnya?' tanya Jane penasaran.


'Maksud dari tulisan itu adalah jika huruf hidup diturunkan 1 urutuan, dan huruf mati dinaikan 1 urutan, H jika dinaikan menjadi G, A jika diturunkan menjadi E, yup begitu seterusnya. Saya akan menangkap Rista,' jawab Polisi.


'Jadi begitu Pak, silahkan Pak,' kata Jane pasrah.

__ADS_1


Polisi segera menangkap Rista, dan dijebloskan ke penjara.


__ADS_2