
Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi
Judul: 9 Bulan
_________________________
Menjadi seorang Ayah bagi kebanyakan Pria memang sebuah cita-cita. Apalagi pada kelahiran pertama. Terkadang Ayah-ayah muda ini terlalu antusias. Belum-belum anak mereka lahir, mereka sudah membelikan ranjang tidur bayi, pakian, hingga stok pampers untuk sebulan. Mereka melupakan siapa yang harus mereka rawat.
Tidak pernah terpikir olehku kalau menjaga seorang ibu hamil lebih sulit dari pada menjaga diri sendiri. Kurang tidur dan pikiran terpecah menjadi rutinitasku bersama istri. Pada bulan ke 6 kehamilan, keadaan psikis Dewi, istriku, semakin parah. Ia terus meracau soal bayi yang dikandungnya.
Maka aku bawa istriku ke Dokter Halim. Sebenarnya kami rutin dua minggu sekali ke Dokter muda ini untuk USG, tetapi karena aku sudah tidak tahan dengan imajinasi istriku, aku membawanya lebih sering ke sana.
'Ini bukan anakku. Ini alien, ini reptil,' kata istriku berulang-ulang kepada Dokter Halim. Seribu kali pula aku memberitahu, 'Itu anakmu, Dew,' tapi tetap saja ekspresinya dingin.
Berdebat dengannya tidak ada ujung. Jadi aku minta Dokter Halim memeriksa kandungannya dengan mesin USG. Setelah itu aku minta fotonya. Aku berikan foto itu ke Dewi dan memintanya melotot. Namun, justru malah dirinya yang meyakinkan kami, 'Liat kan? Itu reptil. Ke mana mata kalian? Liat kaki-kakinya yang kayak gurita tuh.'
'Gurita itu bukan reptil,' bantahku.
Kami mulai berdebat lagi, hingga Dokter Halim ikut terpancing dan memukul meja, 'Hei, bukan cuman kalian aja yang pasien. Banyak yang antri. Coba diam dulu.'
Dokter Halim menuliskan resep dengan tulisan cakar ayamnya itu, 'Pak Adam,' ia menatapku tajam, 'Istrimu butuh istirahat total.'
Aku tidak setuju karena itu memang tanggung jawabku. Dokter amatiran ini sepertinya tidak percaya denganku. Ia pasti berpikir kalau aku yang membebani pikiran wanita hamil itu, 'Gimana denganku? Apa aku juga butuh istirahat? Berikan solusi Dok!'
Dokter Halim tak mau tahu, ia tulis resep, kami ambil obat. Begitulah kujungan singkat itu.
Pada kunjungan berikutnya Dokter Halim tidak mau dengar perdebatan lagi. Ia lakukan prosedur seperti perintah Algortima. Identifikasi – periksa – tulis resep. Itu saja.
Biarpun kandungan itu sehat, tetapi otak istriku semakin menggila. Ia duduk rapi di meja makan seperti anak SD yang baru dilatih table manner menatap TV dan jarang berkedip. Bahkan masakan favoritnya yang jauh-jauh aku beli, sayur asam terasi tidak menggerakan tubuhnya.
Ia meracau lagi, 'Adam sayang, beliin aku makanan.'
Aku meletakan setengah piring nasi dan mendekatkan semangkok sayur asam hangat itu, agar uap dari makanan itu menyentuh inderanya, 'Ini sudah aku beliin. Favorit kamu,' tetap saja dia melongo.
'Aku mau tanduk kambing. Itulah yang mereka katakan.'
'Ya aloh Dewi! Nyebut kamu!'
'Beliin lan, pliss.'
Siapa yang mau membelikannya tanduk kambing? Aku lelah dan gerah. Aku tidak peduli. Kubiarkan dia semalaman di meja makan. Aku tidur.
__ADS_1
Paginya aku temukan dia tertidur pulas di sebelahku. Namun, tidak secuil makan malam pun yang aku sajikan itu ia sentuh.
Aku berangkat kerja. Menjadi Manajer Pemasaran memang lebih sulit dari Sales. Jika Sales hanya menyampaikan kebohongan, maka akulah yang menjadi dalang kebohongan. Kami menjual minuman bersoda yang rasanya seperti air tajin dikasih larutan soda, ditambah perasa. Kebuntuan kreatifitas divisi pengembangan membuat kami harus memikirkan banyak cara agar produk sampah itu terjual.
Untungnya kami menjual satu botol plastik di bawah harga pasaran, jika Big Cola seharga 3000, maka kami jual seharga 2900. Untuk mendongkrak penjualan, kami menyebarkan banyak pamflet, stiker tembok hingga menyewa reklame dimana dalam iklan itu seorang gadis remaja berpose senakal mungkin sambil memegang botol produk kami yang bernama Glori Likuid atau GL.
Sukses. Produk murahan itu terjual. Aku bisa menafkahi istri malangku. Untuk merayakan keberhasilan kami. Bos besar mengadakan pesta. Kami minum hingga fajar. Namun sedihnya, aku tidak bisa membagi kebahagianku bersama istri, malahan Bobi rekan kerjaku yang berbadan gempal itu menjadi tempat bercurhat, 'Aku gak tau harus ngapain lagi.'
Dalam pengaruh alkohol, Bobi masih bisa menggunakan akal sehatnya, 'Itu depresi pra melahirkan. Itu biasa. Istriku malah pengen minta terus pas dia hamil. Dia ngidam pengen threes*me.'
Aku terperanjat, “Threes*me? Dua cowok?'
'Dua cewek tapi aku tolak.'
Mataku melotot pikiranku melayang, 'Weh, andai aku punya istri kayak kamu. Aku akui imajinasi istrimu jauh lebih kreatif daripada istriku.'
Aku pulang dalam keadaan mabuk berat. Istriku belum tidur. Ia duduk di ruang tengah menatap TV. Berbulan-bulan aku dan istriku tidak pernah berkumpul. Siapa yang tahan? Aku kecup pundaknya. Ia tidak bereaksi. Aku belai rambutnya. Ia malah berkata, 'Kau reptil banci.'
Hasratku meleleh seketika. Kutinggal tidur lagi. Hari sabtu besoknya, aku mengajaknya keluar rumah, menghirup udara segar di taman kota. Kami sudah duduk di depan air mancur selama satu jam. Dewi tidak berkata apa-apa. Aku sangat merindukan suara indahnya yang natural. Bukan suara seperti iblis betina yang aku dengar sejak kehamilan bulan kedua.
Aku pun berbincang sendiri dan aku harap ia mendengar, 'Dew. Mungkin kamu udah banyak berubah sekarang, tapi cinta aku ke kamu gak akan pernah berubah. Aku rindu suaramu, aku rindu pelukan hangat kamu, malah aku rindu pas kamu marahin aku kenapa pulang malam terus.'
Dewi menoleh dan menatapku, 'Adam,' aku sangat mengharapkan kata-kata indah darinya, tapi, 'Kamu udah beli tanduknya?'
Wanita itu melepaskan headphone, ia tersenyum, 'Enam bulan dua minggu. Kenapa?'
'Apa mbak kena yang namanya depresi pra melahirkan?'
'Enggak tuh. Baik-baik aja. Aku punya suami yang Siaga. Siap Antar Jaga. Jadi gak pernah ada masalah.'
Perkataan wanita muda itu seolah menamparku, 'Gini, istriku juga lagi hamil. Kondisi jiwanya mengkhawatirkan. Dia sering banget ngigau. Kayak halusinasi gitu.'
'Bawa ke Dokter dong Mas.'
'Udah.'
'Dokter Jiwa maksudnya. Psikiater.'
Sesuai saran ibu-ibu hamil aku bawa Dewi menemui Psikiater ternama. Bobi yang memberikan alamat Dokter yang bernama Markus itu. Aku membeberkan segala hal yang kualami ke dokter itu. Reaksinya tidak pernah aku harapkan.
'Dia dan bayinya butuh istirahat,' kata Dokter Markus yang sudah uzur itu.
__ADS_1
'Tapi Dok''
'Maksud saya, istirahat total. Biarkan dia istirahat.'
Aku belum puas, 'Apa ini karena obatnya? Dokter Halim yang amatiran itu pasti salah kasih obat,' Aku menampakkan kertas resep itu di meja. Dokter Markus hanya melihatnya dari jauh, tak berminat menyentuhnya, 'Tidak ada yang salah dengan obatnya. Pulanglah, suruh istirahat istrimu.'
Konseling berakhir. Tidak ada solusi sama sekali. Pada bulan ke delapan, aku sudah terbiasa dengan umpatan dan kicauan sintingnya. Siang itu ia berdiri di halaman rumah, tubuh lemahnya nyaris terpangang, aku harus merangkulnya masuk ke dalam rumah. Ia berkata, 'Adam sayang, alien itu terus terusan nendang. Ia lagi komunikasi sama kapal induknya di langit.'
Aku terpancing karena ia tak bisa diam, terus-terusan berontak minta dibiarkan berdiri di halaman terpanggang matahari siang. Aku menarik dan mendorong, memaksanya masuk. Aku mengeluarkan tenaga terlalu besar sehingga aku mendorongnya hingga ia terhempas ke lantai. Syukurlah ia tidak apa-apa. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi apa-apa dengan kandungannya.
Air mata keluar dari mata kecilnya Dewi. Akan tetapi, tatapan matanya kosong dan terus berbisik dengan nafas yang berat, 'Kau sudah beli tanduknya?'
Aku tidak peduli dengan tanduk kambing atau rusa. Aku membawanya ke Dokter Halim. Untunglah semuanya sehat. Namun, Dokter Halim malah mengancamku saat kami berpamitan, 'Kamu bakal kena masalah kalau dia bisa keguguran.'
Sejak awal dia memang sudah tidak suka denganku, 'Asal tau aja Dok. Aku cinta dia dan calon anakku. Gak akan aku biarin siapa aja yang bakal nyakitin dia dan si jabang bayi. Gak akan. Termasuk diri aku sendiri.'
Seminggu setelah insiden itu. Aku tidak ingat itu jam berapa, yang jelas tengah malam. Dewi terus berbisik, 'Mereka datang, mereka datang. Alien… alien,' begitu berulang-ulang membuat aku terbangun. Tubuhnya berkeringat hebat, matanya terbuka tubuhnya kaku. Aku menyentuh dahinya. Suhu tubuhnya seperti teko mendidih.
'Dew? Ada apa?'
'Dia datang! Dia datang!' Teriaknya. Hingga ia menjerit hebat.
Tak banyak berpikir, aku bopong dewi dan membawanya ke rumah sakit. Perasaanku berkecamuk. Pikiranku terbang ke mana-mana. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengannya dan calon anak kami. Dengan sigap dan cepat aku menuruni tangga sambil menahan rontaan Dewi. Ia menjerit keras sekali, sampai-sampai suara itu memenuhi seluruh sudut rumah kami.
Mendadak tubuhnya berhenti berontak. Sebuah benda berat jatuh ke lantai. Benda kecil itu keluar dari perut istriku dan penuh darah. Aku meletakan tubuh Dewi di lantai dan mengambil benda itu. Itulah bayiku. Tidak ada tangisan. Aku mengendong makhluk mungil itu.
Tidak ada perasaan lain yang timbul selain ledakan ketakutan, 'Mahluk apa ini?' tak bisa kupercaya atas apa yang aku lihat. Yang selama ini dikatakan istriku semuanya benar. Aku melemparkan mahluk itu ke lantai. Makhluk itu berkepala oval, berkulit abu-abu dan memiliki banyak kaki, tubuhnya dipenuhi cairan hijau. Menggelepar-gelepar dua mata hitamnya menatapku dan sangat mengancam.
'Al.. alien??'
Dengan kaki-kakinya makhluk itu mendekati tubuh Dewi. Aku tak akan membiarkan kaki-kakinya menyentuh kulit istriku. Kulepaskan injakan keras ke makhluk itu berkali-kali hingga tubuhnya hancur berantakan, cairan hijau muncrat di seputaran kakiku. Makhluk itu tak bergerak. Tanganku gemetar aku kesulitan mengatur nafas.
Tak aku ketahui, Dewi bangkit dan langsung menancapkan benda tajam ke perutku. Aku menjerit hebat, benda itu tertancap dalam di perut belakangku. Ia berteriak, 'Rasain tanduk kambing itu! Udah aku beli!'
Aku berbalik, Dewi menatapku dengan tatapan iblisnya, pupil matanya memerah, ia berteriak-teriak lagi, 'Itu anakmu, Adam!!'
Cekikan itu begitu kuatnya, nafasku mulai habis. Dengan sisa tenaga dan nafas, kulayangkan pukulan ke wajahnya. Cengkraman itu terlepas tapi Dewi kembali menyerang. Aku mendahului gerakannya, ku dorong dia ke tembok. Kepalanya menghantam tembok itu keras sekali. Ia tak bergerak. Tubuhnya lunglai tak bernafas. Dia meninggal. Aku membunuhnya. Aku menarik benda keras itu, ternyata benar itu memang sebuah tanduk. Tanduk kambing.
Mereka bilang kalau akulah yang membeli dan menyuruh istriku menyimpan tanduk itu. Tidak mungkin.
Sembilan bulan didiagnosa mengalami gangguan jiwa, akhirnya aku keluar dari rumah sakit mental itu. Sebelumnya aku merasa tidak ada yang salah di dalam kepalaku. Aku mendegar dan melihat apa yang seharusnya aku dengar dan lihat. Dokter bilang aku mengalami Skizofrenia Paranoid. Halusinasi. Dokter Halim adalah saksinya. Ia bilang kalau aku menenggak semua pil Diphenhydramine yang harusnya diberikan ke istriku. Pil penenang ini diberikan ke istriku karena ia tak bisa tenang dan tahan karena prilakuku yang sering pulang malam dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
Aku bahkan memanipulasi cek rutin USG dari dua minggu sekali menjadi dua kali seminggu. Aku tidak tahan karena tekanan pekerjaan dan beban menjadi seorang Ayah. Lebih parah lagi, aku tidak yakin kalau itu memang anak biologisku. Aku memang belum siap jadi seorang Ayah. Maka, dosis yang aku telan pun bertambah. Hingga aku berhalusinasi kalau yang dikandung itu bukan manusia, melainkan alien.
Aku melangkah keluar gerbang rumah sakit. Berbulan-bulan di dalam penjara jiwa, kurasakan diri ini bebas dan lega. Aku menatap langit yang cerah yang tak dipenuhi awan itu, aku tersenyum riang, 'Jadi kapan kalian bakal turun ke bumi lagi?'