Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Pohon Jambu Keramat


__ADS_3

Kategori: Cerpen Horor Hantu


Judul: Pohon Jambu Keramat


______________________


Sore-sore Pak Wiji menumpuk pakan ternak sapi dan kambing di kandang, sebab besok harus turut mrogan untuk menyambut kedatangan Kanjeng Bupati. Sama halnya dengan seluruh warga di desa ini, bagi yang mempunyai keperluan kerja di sawah atau kebun besok harus ditunda atau pekerjaannya diselesaikan hari ini.


Pak wiji mengambil air di sumur, kemudian memasaknya bersama bekatul dan garam untuk memberi minum si poang sapi betinanya agar tidak masuk angin. Karena hawa akhir-akhir ini begitu mudah berubah, dari dingin ke panas dan sebaliknya. Sampai-sampai Pak Wiji sendiri yang sering kena masuk angin. Kalau sudah Pak Wiji kena angin maka giliran Bu Wiji mendapat tambahan pekerjaan memijit dan mengerik.


Pak Dukuh sudah seminggu yang lalu mewanti-wanti agar bersih-bersih lingkungan desa karena Kanjeng Bupati mau lewat sini. Dan seperti biasa, wargapun senang gembira menyambut kedatangan Kanjeng Bupati. Jalan yang berlobang sementara akan ditimbun, rumput-rumput di pinggir jalan pasti akan bersih, sampai-sampai hal-hal yang tak perlu di bersihkan ikut dibersihkan pula. Seperti halnya pohon-pohon yang rindang malah di potong dahannya sehingga terkesan prampang.

__ADS_1


Warga meski tidak dikomando sudah mengetahui apa-apa yang perlu di kerjakan. Rasa gotong royong yang sangat kental agaknya sangat membantu pekerjaan yang butuh selesai dengan waktu cepat. Umbul-umbul merah putih dinaikan, pagar-pagar di cat putih rapi meski sebenarnya hanya cat dlingo atau kapur murahan. Tetapi cat kapur yang sering di bikin sendiri oleh warga ini sangat efektif, sekali cat saja permukaan pagar sudah tertutup warna putih mentereng. Kalau rumah gedhek yang di cat ditambah sedikit kotoran sapi agar dinding anyaman bambu tersebut awet bertahun-tahun.


Hari itu pohon jambu Pak Pringgo turut terkena pembersihan karena terletak tepat di pinggir jalan. Banyak yang menyesalkan pohon itu turut tertebang , utamanya anak-anak kecil yang merasa pohon itu milik mereka karena buahnya yang lebat dan enak manis. Pak Pringgo sendiri sudah wanti-wanti kepada tetangga termasuk kepada Pak Wiji untuk tidak menebang pohon itu. Pesannya bahwa pohon itu tidak akan mengganggu Kanjeng Bupati saat lewat sini. Tetapi saat inspeksi mendadak oleh Pak Dukuh, ia menginginkan pohon itu agar di tebang saja. Pak Wiji sudah memberikan penjelasan pada seluruh warga bahwa pohon itu tak boleh ditebang. Pohon itu tetap di tebang menurut keinginan Pak Dukuh dan seluruh warga sudah diyakinkan bahwa yang bertanggung jawab adalah Pak Dukuh. Pak Pringgo sendiri yang sudah lanjut usia hanya menyarankan bahwa sebelum menebang hendaknya melakukan sesaji dahulu. Sesaji dalam arti memberikan semacam doa dan permintaan maaf kepada Si pohon bahwa mereka akan menebang.


Seorang kaum yang dituakan dan biasa memimpin acara adat warga segera di panggil oleh Pak Wiji untuk memimpin upacara sesaji itu. Hari menjelang siang saat pak Kaum datang untuk memimpin sejaji. Pak Kaum sudah siap dengan segala ubo rampe peralatan doanya termasuk jajan pasar untuk dipersembahkan sebelum pohon di tebang. Namun sebelum pohon sempat di tebang, seluruh anak-anak yang dekat dengan kediaman Pak pringgo secara mendadak kesurupan. Ada yang berteriak histeris sambil matanya melotot, ada juga yang badanya kejang-kejang tak karuan. Orang-orang desa yang sedang fokus pada pekerjaan membersihkan lingkungan menjadi kebingungan. Pak Kaum sendiri juga kebingungan melihat gejala aneh yang ditimbulkan oleh rencana penebangan pohon jambu itu. Orang-orang berseru agar tidak jadi saja rencana penebangan pohon itu, daripada menimbulkan malapetaka bagi warga desa. Pak Pringgo pun menyarankan demikian, setelah mendengar teriakan salah satu bocah yang kesurupan, bahwa kalau pohon jambu itu jadi di tebang maka sang penghuni pohon juga akan memenggal leher Kanjeng Bupati saat lewat jalan ini. Seluruh warga kemudian sepakat untuk tidak jadi menebang pohon jambu itu. Semua sudah tekad bulat ketika nanti ditanyakan oleh Pak Dukuh, kenapa pohon itu tidak jadi di tebang mereka akan menjelaskan kejadian hari itu.


Hari kunjungan telah tiba, seluruh gapura dan pagar bumi yang ada di kanan kiri jalan yang akan dilalui sudah terlihat sangat bersih di cat putih. Sebelum Kanjeng Bupati tiba, tampak beberapa rombongan yang mondar-mandir melewati jalan itu untuk memastikan bahwa semuanya sudah beres dan aman. Satu jam kemudian keadaan di sepanjang jalan sudah ramai oleh masyarakat yang turut menyambut kunjungan Kanjeng bupati. Anak-anak kecil dalam gendongan ibunya, kakek-kakek dengan pakaian pantas dan semua warga tumpah ruah ke jalan untuk menyambut kedatangan Kanjeng Bupati.


Hanya pohon jambu itu memang satu-satunya pohon yang terlihat masih lebat dan rindang karena warga desa tak berani menebangnya. Kendaraan yang ditumpangi rombongan kanjeng Bupati sudah terlihat di ujung jalan. Anak-anak kecil yang kemarin kesurupan bersorak sorai bahwa rombongan tiba. Sorakanya sangat keras sekali sehingga smua warga juga turut gembira bersorak. Rencananya Kanjeng Bupati akan membangun koperasi yang akan dipergunakan untuk kepentingan petani.. Karena mayoritas warga di sini adalah peternak dan petani maka warga menyambut gembira rencana tersebut. Melewati pohon jambu yang tidak jadi di tebang, kendaraan berjalan agak pelan dan seluruh rombongan melihat ke arah pohon itu. Rupanya kabar tetang kejadian kemarin sudah sampai ke telinga Kanjeng Bupati. Ternyata aman-aman saja rombongan itu melewati pohon jambu keramat itu, mereka semua tampak lega dan senang sembari melambaikan tangan ke arah warga. Namun tidak sampai seratus meter melewati pohon itu, rombongan dan seluruh warga dikejutkan oleh suara kentongan yang bertalu-talu menandakan bahaya. Semua orang yang mendengar kentongan mulai bingung dan panik karena tidak tahu kejadian apa yang sedang terjadi. Suara kentongan semakin lama kian keras di susul dengan suara kentongan lain lagi dan suara-suara yang berteriak-teriak. Pengawal rombongan bersiap sigap mengamankan kendaraan yang ditumpangi Kanjeng Bupati. Tetapi kendaraan itu tidak bisa menjauhi desa yang sedang dilanda kejadian misterius itu, karena semua warga tumpah di jalanan. Sejenak kemudian baru di ketahui bahwa ternyata ada dua ekor sapi yang menarik gerobak berisi pupuk kandang sedang mengamuk. Entah kenapa sapi penarik gerobak itu tiba-tiba mengamuk.


Sopir Kanjeng Bupati sudah keburu lari duluan, sementara Kajeng Bupati dan rombongan masih berada di dalam kendaraan. Tak pelak kendaraan rombongan itu juga menjadi sasaran amukan gerobak sapi hingga tumpahan pupuk kandang yang masih basah itu menumpahi kendaraan dan orang yang didalamnya. Setelah sekian lama gerobak itu mengamuk, sapi-sapi itu lelah juga dan kembali tenang. Gerobak yang sudah tidak berbentuk itu kini sudah di tangani oleh si pemiliknya. Warga hanya dapat mengelus dada melihat kejadian yang sangat tiba tiba itu. Kejadian itu tidak memakan korban luka atau nyawa tapi telah menggagalkan kunjungan Kanjeng Bupati di desa itu.

__ADS_1


Keesokan harinya berita tentang kegagalan kunjungan itu telah beredar luas di seluruh wilayah kabupaten. Bahkan surat kabr lokal juga memuat berita yang sangat aneh itu dengan dibumbui bahasa-bahasa mistis. Ada yang mengartikan kejadian tersebut adalah penolakan roh roh leluhur terhadap kunjungan Kanjeng Bupati, yang dikaitkan dengan tingkah laku penguasa dan keluarganya yang gemar berfoya-foya dan melupakan tugasnya sebagai pengayom masyarakat. Juga ada yang bilang bahwa Kenjeng Bupati sangat suka di suap oleh pengusaha-pengusaha dengan barang-barang mewah dari luar negeri. Pembicaraan-pembicaraan tersebut di kalangan masyarakat makin ramai terdengar, dan para dinas intelejen Kabupaten sudah tidak repot lagi bersembunyisembunyi untuk mendapati orang-orang yang tidak suka pada Kanjeng Bupati.


Hari ke hari suara-suara sumbang yang di tujukan ke Kanjeng Bupati tidak surut. Di pasar-pasar, di sekolah, di tempat warung kopi semua bicara dengan bahasanya masing-masing menurut tingkat pengetahuan mereka. Para penasihat Kanjeng Bupati yang terdiri dari kalangan profesor dari bidang ekonomi,politik, dan kebudayaan yang sering tampil di media masa dan surat kabar masih konsisten membela kanjeng Bupati.


Meski tidak secara terang-terangan, para penasihat sering kali menginap di Kabupaten atau kediaman Kanjeg Bupati untuk turut memikirkan penyelesaian pergolakan di kalangan masyarakat. Dan suatu kali rapat yang di tengah malam dikejutkan oleh pengirima paket berisi bangkai tikus oleh orang yang tidak di kenal. Para penasihat menganjurkan Kanjeng Bupati untuk menggelar siaran pers tentang kejadian itu.


Disarankan pula agar Kanjeng Bupati tidak usah marah denga kejadian itu dan tetap berlagak santun di depan semua orang. Dari seorang penasihat ahli budaya di dapatkan saran bahwa tidak usah di anggap pergolakan di tingkat bawah karena hal itu adalah hal yang sangat biasa. Katanya, bahwa semua pembicaraan hanya akan menjadi pembicaraan saja tanpa ada tindakan karena karakter masyarakat kita adalah pengecut atau inlander.


Mereka kebanyakan hanya ikut-ikutan bicara untuk menunjukan bahwa mereka suka membaca koran dan melihat berita. Dan kalangan cerdik pandai yang suka protes itu gampang saja di beri sogokan dengan gelar dan jabatan. Seandainya ada yang militan, dibiarkan saja karena mereka akan dianggap gila dengan ide-ide dan omongan mereka.


Justru penasihat itu menyarankan agar Dukun Kabupaten diganti saja, karena ancaman yang nyata adalah dari roh-roh leluhur yang militan dan bahaya. Agar kejadian seperti tempo hari tidak terjadi lagi, agar kunjungan-kunjungan tetap lancar dan kekuasaan tidak akan terancam oleh segala daya roh yang protes. Akhirnya Kanjeng Bupati menuruti saran penasihatnya itu karena semua analisanya sangat masuk akal, Kanjeng Bupatipun mengangkat penasihat itu menjadi Dukun Kabupaten yang baru.

__ADS_1


FOLLOW IG AKU


@fidelria_10


__ADS_2