Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Day Dreamer (Part 2)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta Segitiga


Judul: Day Dreamer (Part 2)


_________________________


Sementara itu, di Restoran


“Hiratsuka-san. Aku akan pergi ke toilet dulu, sementara kau memilih menu yang akan dipesan. Sebentar saja.” kata ku pada nya, “Baik, tidak apa-apa.” Itu hanya sekedar alasan, aku ingin memastikan apakah gadis yang ada di toko buku tadi benar Hikari. Setengah berlari aku menyusuri lantai Mall untuk mencari ke toko tadi. Ku lihat seisi toko itu, ternyata Ia sudah tak ada disana. Hingga nampak dua orang gadis sedang berdiri bersebelahan di tangga eskalator. Semakin ku percepat lari ku untuk mendekati gadis itu, “Hikari!” aku berhasil menepuk pundaknya, “Itu tidak seperti yang kau bayangkan” dengan napas yang masih tersengal-sengal, aku mencoba menjelaskan padanya, “Lalu?” “Diaa.. dia bukan. Maksud ku dia hanya sekedar..” “Ah sudahlah, tak usah bersusah payah untuk menjelaskannya padaku. Itu juga bukan urusan ku.” Hikari menjawabnya dengan nada yang datar, Ia tak memperlihatkan ekspresi apapun, “Hikari Hikari!”. Namun Ia hanya berlari menjauh dari ku.


Angin yang tiba-tiba berhemmbus dengan kencang, menyadarkan ku dari lamunan panjang ini. Ternyata, aku baru

__ADS_1


sadar bahwa Umemura tak lagi duduk di samping ku. Sneakers yang ku kenakan membuat bunyi gemeletak, saat aku melangkahkan kaki. Makkyo, Sebentar lagi kau akan mendapatkan keinginan mu. Pergi ke New York untuk belajar lebih tentang basket. Dan aku disini… Akan belajar lebih giat untuk mendapat nilai maksimal dalam kelulusan ku tahun depan. Sore itu, matahari terbenam nampak lebih indah dari hari kemarin. Membuat kemilau rupawan saat memantulkan cahayanya ke air danau yang tenang.


Satu tahun berlalu. Aku bisa lulus SMA dengan nilai yang baik. Keinginan untuk pergi kuliah ke Paris, ternyata ditanggapi dengan serius oleh Ayah dan Ibu ku. Terdengar langkah kaki yang pelan dari sebelah kamar, Ibu masuk begitu saja. Karena pintu kamar memang sengaja ku biarkan terbuka, “Sudah selesai mengemasi barang-barang mu Hikari?” tanyanya lembut, “Belum, aku masih bingung. Apakah semua barang yang disini, akan dibawa atau tidak.” “Baiklah, Ibu bantu untuk mengemasinya.” dengan mata yang terlihat sayu, beliau membantu ku untuk menata barang-barang ini di koper. “Ibu?” “Ada apa Hikari?” “Aku pasti akan sangat merindukanmu.” kata ku padanya, “Ibu juga, rumah ini pasti akan sepi tanpa adanya kau disini.” “Haha, Ibu bisa saja. Apakah disana ada kue mochi seenak buatan Ibu?” “Tentu saja tidak. Jadi, kapanpun kau menginkan kue mochi. Kau hanya perlu menelpon Ibu saja. Lalu esoknya, kau sudah bisa menyantap bersama temaan-teman mu.” “Benarkah? Kalau begitu aku akan sering menelpon Ibu agar kue mochinya bisa aku nikmati setiap hari.” “Hahaha, ya, kau harus rajin-rajin menelpon Ibu”. Aku hanya meneteskan air mata, tangan ini langsung merengkuh tubuh wanita yang ada di depan ku sekarang. “Baik-baiklah disana. Jaga kesehatan mu selalu. Ibu akan selalu mendoakan mu disini. Tak perlu sungkan untuk menelepon Ibu kapan pun kau membutuhkannya.” “Iya Ibu. Terima kasih.”


5 tahun kemudian


Ku tutup buku tebal ini, tertera tulisan timbul dengan huruf balok di sampulnya. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Nama ku sudah tertera jelas di plakat yang terpajang di tembok dekat gerbang. Hikari Motoyoma, tertulis dengan predikat terbaik di Universitas Boveire. Sekarang sudah tahun ke dua ku magang menjadi native speaker di sini. Senang rasanya, dapat bangkit dari masa lalu. Membuat semua itu menjadi motivasi untuk melangkah ke masa depan yang baik. Bunyi sepatu flat ku tak terlalu jelas di ruangan sebesar ini, sejenak aku melirik ke arah wanita penjaga perpustakaan, Ia sedang asyik membaca novel, terkadang membenarkan kacamatanya yang melorot ke bawah. Aku menyusuri setiap rak buku yang menjulang tinggi. Ku letakkan buku yang baru saja selesai dibaca. Seorang lelaki yang mengenakan jeans dengan mobil porsche yang terparkir di belakangnya, sudah menunggu ku di luar perpustakaan. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum, “Hai.” Sapanya dengan ramah, “Sudah lama menunggu?. Maaf, aku terlalu asyik jika sudah berada di perpustakaan” Lelaki itu hanya memandang ku dengan senyum yang mengembang di wajahnya, “Tak apa, aku hanya akan mengingatkan bahwa penerbangan kita akan berangkat setengah jam lagi.” “Emm, aku sudah rindu dengan Jepang, disana sedang musim dingin sekarang.” “Aku juga, ayo kita bergegas saja.” Tatapannya tak lepas dari wajah ku, dan kami pun tertawa kecil bersama. Dengan lembut Ia membukakan pintu mobil, aku melangkah masuk.


Setengah jam kami melintasi jalanan kota Paris yang dipenuhi dedaunan kering yang gugur, udara segar seketika


Aku menguap, mengucek mata, dan terbangun perlahan. Dia masih tertidur pulas di bahu ku. Aku tersenyum menatap wajahnya, wajah yang amat menenangkan. Membuat hidupku perlahan berubah, perlahan melupakan seseorang. Dan menapak masa depan bersama dia. “Mario, mario… bangun. Kita sudah sampai.” Aku mengguncang bahunya perlahan, “Emm, ehhh” dia menguap, “Ohh, ya. Udaranya dingin sekali.” “Iya, ayo lekas ke rumah saja.” Ia berdiri dan jalan perlahan sambil menggandeng tangan ku.

__ADS_1


Kami naik taksi untuk sampai ke rumah. Sepanjang perjalanan aku menceritakan jalanan yang dulu menyimpan berbagai kisah semasa SMA ku. Ia mendengarnya dengan sabar dan menanggapi semuanya. Tapi, baru setengah perjalanan. Ia meminta untuk sarapan terlebih dahulu. Aku mengajaknya ke salah satu kedai pinggir kota.


Hingga pertemuan itu datang. Usai sarapan, kami berjalan-jalan sebentar di taman dekat situ. Banyak burung dara mematuk biji-bijian yang ditebarkan pengunjung. Membuat suara gemuruh karena kepakan sayap mereka. Aku duduk bersantai dengannya di bangku dekat kolam air mancur, memandang pemandangan kota Tokyo yang lima tahun terakhir ini ku tinggalkan. Semuanya tetap sama, hanya sedikit perubahan karena sudah banyak toko dan pusat perbelanjaan yang berderet di sepanjang jalan. Ia mendekap bahu ku. Menoleh, lalu tersenyum. Aku membalas senyumannya, “Aku ingin membeli soda, maukah kau ku ambilkan satu?” “Boleh” “Tunggu sebentar disini.” Ia beranjak berdiri dari bangku, baru beberapa langkah berjalan. Ia kembali. Aku menatapnya bingung, dengan polos Ia bertanya “Dimanakah mesin minumannya?” aku tertawa kecil, “Kau ini, ada di dekat penjual hotdog itu.” sambil menunjuk arah toko kecil yang menjual beberapa menu junkfood, “Baiklah.” Ia berjalan menjauh dari ku.


Tak berapa lama, datang seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap. Mengenakan jaket dan syal yang sama-sama tebalnya. Sepatunya yang besar, membuat suaranya sudah terdengar sebelum Ia duduk di sampingku. Aku tak mempedulikannya, sibuk melihat pemandangan kota yang sudah lama ku rindukan. Hingga Ia menyebut nama ku, “Hikari?” aku menoleh. Menatap wajahnya, air mukanya memperlihatkan kelelahan yang sangat. Setengah kaget menyadarinya. Ya! Dia seseorang yang dulu pernah singgah di hatiku, bukan pernah. Tapi, sampai sekarang. Bahkan setelah kurang lebih lima tahun tak bertemu dengannya, aku masih menyimpan rasa itu. Walau hanya sedikit, tapi masih tertanam dalam hati. Lalu, baru dapat aku mengucapkan sepatah kata, “Makkyo?” Ia tersenyum, ada sedikit kegembiraan terpancar di wajahnya. “Bagaimana kabar mu?” “Baik”. Aku bingung hendak mengatakan apa, terlalu sulit untuk mengungkapkan perasaan ku saat ini. “Sudah lama kita tak bertemu. Sejak kejadian itu. Kita tak pernah berkomunikasi.” Ia mengucapkannya dengan intonasi datar, tersenyum miris aku mendengarnya. Teringat kejadian dulu. Aku hanya mengangguk pelan. Rindu yang lama ku pendam, tiba-tiba menguap begitu saja. Aneh. Dua perasaan yang berbeda jauh muncul begitu saja dalam benak ku. Aku masih menyimpan perasaan itu padanya, tapi setengah hati lainnya, aku benci melihat kedatangannya yang tiba-tiba. “Kemana saja kau selama kita tak bertemu?” “Aku melanjutkan studi di Perancis. Jurusan seni.” “Wa, jauh sekali.” “Iya” Hening sejenak, “Bagaimana dengan mu?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku, “Sama seperti mimpi ku dulu. Ingin menjadi atlet basket terkenal. Aku pergi ke New York.” Mungkin karena jarang melihat berita olahraga, aku tak tahu perkembangan karir nya sebagai atlet. “Kita sudah menjadi dewasa sekarang.” “Emm, iya. Kau benar. Hikari, aku ingin menjelaskan sesuatu padamu. Mungkin ini yang menjadikan kau salah paham terhadapku.” Seketika hawa dingin menyeruak ke dalam tubuhku. Jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang. Bibir ku kelu. “Apa” Ia menimang sebentar kalimat yang akan diucapkannya padaku, “Gadis itu… Gadis yang bersama ku saat kau temui di Grand Mall. Sebenarnya, dia memang pacarku. Tapi, tapi bukan aku yang menyatakan perasaan padanya. Saat itu, aku sendiri masih ragu dengan perasaan ku padamu.” Mendengar kalimat terakhir itu, aku mengumpat dalam hati. Apakah kau tak melihat bagaimana sikap ku terhadapmu? Rasa sayang itu, apakah kau tak bisa merasakannya??. Ia menghela napas panjang, melanjutkan ceritanya. “Tapi. Lama aku termenung. Saat bersamamu, aku merasa nyaman. Tak ada gadis lain yang bisa membuat ku merasa senyaman itu. Membuat ku tertawa bebas setiap hari. Kau bisa mengerti apa yang ku rasakan. Aku mencoba menghubungi mu, tapi alamat E-Mail dan apapun itu, ternyata sudah tak kau gunakan lagi.” Memang, aku langsung mengganti semua yang berhubungan untuk bisa berkomunikasi dengan mu. “Aku baru menyadarinya. Sungguh, aku menyesal… Apakah ini semua sudah terlambat?” ragu ingin menjawabnya. Namun jawaban itu tiba-tiba datang sendiri.


Dengan langkah santai Marrio membawa dua kaleng soda di tangannya. Ia menatap ku, kemudian menatap Makkyo. Kami bertiga sejenak saling berpandangan. Dan aku baru tersadar. “Ehh, Marrio. Ini Makkyo, Ia teman SMA ku. Dan, Makkyo… Ini Marrio. Tunanganku.” Perasaan sedikit bersalah tiba-tiba menyeruak di hati ku. Tapi kenapa pula aku harus merasa bersalah dengan orang yang sudah berbuat salah padaku?. Makkyo diam, tertunduk sebentar. Lalu beranjak berdiri menyalami Marrio. “Hay Marrio!” Ia tersenyum, menjabat tangannya. “Hay! Apakah aku mengganggu perbincangan kalian berdua?” “Ahh tidak.” Dan entah kenapa, kami serempak menjawabnya. “Oh hahha. Baiklah, aku akan membelikan beberapa camilan hangat. Sambil menunggu, mungkin kalian memang masih ingin menanyakan kabar. Tak apa.” Aku langsung memegang lengannya, “Tidak Marrio. Kau tetap disini saja.” “Tidak apa-apa. Sungguh. Aku memang ingin membeli beberapa camilan.” Ia tersenyum padaku, senyum penuh pengertian. Dan berjalan santai menjauh dari kami. Aku terduduk kembali di bangku.


“Ternyata aku terlambat.” Makkyo memulai pembicaraan. Aku menggigit bibir. Menatap kosong ke depan, “Maaf kan aku. Kalau boleh jujur. Aku sebenarnya masih menyimpan perasaan padamu. Tapi kemungkinan untuk kita bersama. Aku pikir itu mustahil. Sebenarnya, sulit juga bagi ku untuk mengapus kenangan kita. Melupakan mu, tapi hidup harus terus berjalan. Apapun yang terjadi. Tak mungkin aku terus terkurung dalam kenangan masa lalu. Dengan harapan yang bahkan nyaris tak ada.” Mengucapkan perasaan ku sepanjang itu, membuat ku sedikit sulit untuk bernafas. Dengan hawa dingin seperti sekarang ini, Ia masih terdiam. Tak ada ekspresi apapun yang muncul. Ia menatap ku, “Hikari Semoga kau bahagia bersamanya. Aku, aku akan menjadi teman berbagi mu. Hubungi aku jika kau butuh bantuan. Apapun itu.” Hanya itu, lalu Ia berdiri. Memelukku dengan hangat. Aku menahan tangis. Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Disaat aku telah bersamanya, kau tiba-tiba membawa harapan besar yang telah lama aku pendam. Ingin sekali aku merubah takdir ini. Ia melepaskan pelukannya. Aku menunduk, menyembunyikan genangan air yang sudah akan tumpah begitu saja dari mataku. “Sampai jumpa.” Ia tersenyum, pergi. Berjalan perlahan meninggalkan ku. Hanya punggungnya yang terlihat sekarang. Dan saat itu pula aku terisak perlahan…


'kenanglah kisah kita dengan sebuah senyuman, kau akan selalu menjadi “seseorang” dalam hati ku'

__ADS_1


maaf


lakukan yang terbaik


__ADS_2