Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Aaahhhh!!!


__ADS_3

Kategori: Cerpen Gokil


Judul: Aaahhhh!!!


_________________________


Gue paling males kalau udah liburan sekolah. Hari libur adalah hari yang paling membahagiakan buat sebagian orang, tapi enggak buat gue. Bagi gue hari libur membuat gue menjadi manusia lumut. Gue hanya ngendok di rumah, sambil berpikir kapan gue bisa ngeluarin telur dari pantat. Tapi itu semua semakin diperparah saat bokap nyuruh gue untuk jaga toko baju khusus ibu-ibu yang dia punya.


Gue paling males kalau udah kaya gini. Menurut perhitungan gue, satu hari di toko sama saja seribu hari di kehidupan nyata. Di toko, gue seperti terisolasi. Gue enggak bisa ngapa-ngapain, gue hanya duduk manis di belakang meja.


“pan, bla bla bla bla PITIH bla bla bla bla” nenek gue mencoba berbicara dengan gue menggunakan bahasa padang. Dan gue enggak ngerti sama sekali bahasa padang. Tingkat kesulitan bahasa padang dua kali lipat susahnya dibanding bahasa inggris.


“iya nek.” Gue menjawab sok ngerti, padahal hanya satu kata yang gue ngerti dari apa yang dia omongin, PITIH (uang).


Nenek gue termasuk ke dalam kategori nenek okem, walaupun usianya sudah tujuh puluh lebih tapi dia selalu mempunyai semangat untuk pergi ke toko. Walaupun kerjaan dia hanya duduk dan tiduran (persis seperti yang gue lakukan) tapi dia begitu semangat menjalani rutinitas barunya. Dia merasa takut kalau harus ditinggal di rumah sendirian, makanya dia selalu ikut ke toko.


Hari itu gue udah dateng ke toko dari jam sebelas pagi, biasanya sih gue datangnya lebih siangan. Tapi berhubung bokap gue nyuruhnya pagi, ya sudah gue datangnya jam segitu. Di hari libur seperti ini, para pemburu fashion memang lagi rame-ramenya, toko gue pun menjadi salah satu incaran para ibu-ibu gaul ini dan ini merupakan kabar buruk untuk gue. Benar. semakin banyak pelanggan, berarti semakin banyak ibu-ibu. Semakin banyak ibu-ibu, maka semakin banyak pula sel-sel otak gue yang akan rusak. Inti dari segala inti: gue paling ogah kalau harus berhadapan sama ibu-ibu.


Dan bener aja, hanya butuh waktu satu jam, toko gue udah jadi kaya ragunan. Ibu-ibu membeludak. Berhubung karyawan bokap gue cuma ada dua dan konsumen yang dateng sudah tidak terhitung lagi, maka dengan berat hati gue terpaksa membantu melayani ibu-ibu ini.


“mas yang ini berapa?” Kata seorang konsumen, menunjuk sebuah baju gamis merah.


“oh, yang itu 250 bu.” Gue sok ngerti, padahal gak tahu harga aslinya berapa.


“mahal amat.”


“bisa kurang kok bu.” Gue bersikap sok baik, padahal hati gue udah ngegerutu dari tadi.


Ibu heboh ini terus saja bertanya harga-harga baju sama gue, otak gue udah mulai ruwet gara-gara manusia satu ini. Tapi berhubung gue berperan sebagai produsen yang baik, gue pun memberikan pelayanan yang full kepada ibu yang satu ini. Oh iya, ibu ini membawa seorang anak laki-laki, item. kurus. Kira-kira usianya baru dua tahun. Dari tadi gue perhatiin anak ini gak mau diem.


Dia gupek sendiri di atas gendongan sang ibu (ya iyalah, kalau di bawah diseret namanya) mungkin dia bosen merhatiin ibunya yang dari tadi muter-muter enggak karuan mencari baju yang cocok untuk badan gendutnya.


“mak.. empet,” anak tuyul itu ngomong dengan tidak jelas. Mungkin dia udah enggak sabar untuk pulang, terus netek sama ibunya.


“iya nak, bentar lagi ya.” Kata sang ibu, masih sambil memilih-milih baju.


“owek..owek (bener gak anak batita nangis kaya gini suaranya?)” anak tuyul itu nangis.


Sang ibu berusaha mendiamkan sang anak. Sang anak nangis makin kencang. Gue garuk-garuk kepala.


Di saat seperti ini mendengar anak kecil nangis itu rasanya seperti terdampar di gurun sahara 7 hari 7 malem. Panas.


“ai kenapa nangis.” Lagi-lagi gue mencoba sok baik dengan mencubit pelan pipi anak tuyul itu.


“OWEK..OWEK.” dia nangis makin kencang.


Ibunya masih berusaha menenangkan si tuyul kecil itu “cep..cep..cep diem nak, nanti disunat loh sama om ini” sambil nunjuk ke gue.


Gue hanya senyum jelek sambil berpikir apakah muka gue memang bener mirip tukang sunat. Gue mulai mencari akal untuk mendiamkan tuyul satu ini. Tapi di sini gak ada mainan yang bisa membuat dia tenang yang ada hanya sebuah lakban yang dari tadi nangkring di samping gue. Melihat lakban yang begitu menggoda, otak licik gue mulai mendapat ide gila. Bagaimana kalau mulut anak tuyul itu gue lakban aja ya biar diem.


Berhubung saat ini gue masih berperan sebagai produsen yang baik hati, maka ide gila itu urung gue lakukan. Mata gue mencari-cari lagi, akhirnya tanpa sengaja gue menemukan sebuah benda berbentuk bulat, berwarna hitam, terletak tepat di bawah meja. Bola. Gue menemukan bola, entah dari mana datengnya itu bola, gue enggak mikirin. Yang penting itu bola gue ambil dan gue berikan kepada si tuyul kecil itu. Berharap dia menyukainya.


“ini kakak punya bola nih.” Gue berusaha merayu si tuyul agar tenang, sambil melempar-lemparkan bolanya ke atas, berharap si tuyul akan tertarik.


Si tuyul mulai tenang. Matanya sekarang mingikuti irama bola yang lagi gue lempar-lempar ke atas. Merasa mendapatkan sedikit kesempetan, gue langsung aja kasihin itu bola (malang) ke si tuyul. Dan dengan cepatnya, sekarang bola (malang) itu sudah berpindah tangan ke si tuyul.


Sekarang, si tuyul kesenengan. Ibunya memandang puas ke arah gue.


Dan, tekanan darah gue mulai turun.

__ADS_1


Setelah urusan dengan si tuyul kecil selesai, gue kembali menawarkan baju ke ibunya. Tapi masalahnya, menawarkan baju ke ibu itu sama aja seperti mau nonjok jastin biber. Susah bener. Dari sekian banyak model baju yang ada, tidak ada satu pun yang menarik di mata dia. Gue mulai gak yakin kalau dia bakalan beli.


“bingung amat ya.” Kata ibu itu, sambil garuk-garuk gigi. “kalau gamis merah yang tadi cocok gak ya buat saya.”


“cocok kok bu,” kata gue, sotoy “bagus itu, kesannya mewah.”


“coba lihat ada warna apa aja.”


“banyak bu, bentar ya.”


Saat gue balik badan untuk mengambil barang pilihan ibu itu, tiba-tiba “PLAK”


“AAAHHH!!!.” kepala gue ada yang nyabit.


Gue pikir itu mungkin sebuah peluru nyasar dari polisi yang mencoba menembak seorang maling ayam, yang malah mengenai gue. Gue usap-usap kepala gue ternyata enggak berdarah. Gue balik badan. Dan gue melihat si tuyul kecil itu cekikikan gak karuan. Tangannya sudah tidak memegang bola lagi. Gue merasa ada yang ganjil di sini. Sekarang gue melirik ke arah ibunya, ternyata ibunya lagi senyum mesem ngelihat gue. Gue masih bengong karena kejadian ini.


“ih kok malah nimpuk abang nya si nak,” kata sang ibu “jangan gitu.”


“hehehe…” si tuyul malah cekikikan.


Gue baru tahu kalau kepala gue ditimpuk sama si tuyul kampret itu. DASAR TUYUL ITEM, GAK TAU DIRI LU!


Gue masih kesel sama tragedi tuyul item itu, bagaimana enggak? Gue udah capek-capek ngelayanin kemauan ibu gaul itu dengan lamanya plus dapet hadiah timpukan dari anaknya, si tuyul item. Tapi mereka pergi tanpa membeli satu pun barang dagangan di toko gue. Awas lo kesini lagi!


Keadaan di toko sekarang sudah kembali normal dan gue udah bisa santai-santai lagi. Konsumen yang masuk pun masih bisa ditanganin oleh dua orang karyawan besutan bokap gue, jadi gue gak perlu repot-repot lagi untuk bantuin ngelayanin. Bos gila.


Kalau lagi kaya gini, gue paling seneng melihat-lihat buku catetan toko, yang di dalamnya berisi pemasukan toko setiap harinya. Gue baru sadar, ternyata pemasukan yang diterima bokap gue dari berdagang setiap harinya bisa mencapai satu jutaan, bahkan lebih. Itu baru satu satu toko, sedangkan bokap gue punya lima toko (bukan nyombong lo!) jadi bisa dipastikan sehari ayah gue memperoleh keuntungan kurang lebih lima jutaan. Cukup buat ngegaji PNS selama dua bulan.


Rahasia kenapa bokap selalu menuntut gue agar bisa berdagang pun terkuak. Gara-gara buku catetan ajaib itu, gue semakin ingin mencoba berdagang. Agar bisa lebih dari bokap gue dan satu hal yang membuat gue mantap untuk bisa berdagang di suatu hari nanti adalah, kenyataan bahwa Nabi Muhammad SAW sekalipun adalah seorang pedagang. Dan berdagang adalah suatu pekerjaan terbaik dari yang terbaik. Dari berdagang pula nantinya gue akan bisa menciptakan lapangan pekerjaan buat orang banyak. Mantap.


Beberapa menit setelah hayalan gue menjadi pedagang (yang katanya) sukses berakhir, bokap gue dateng.


“udah sejuta lebih tuh yah.” Jawab gue bangga, padahal yang dari tadi ngelarisin itu karyawan bokap bukan gue.


“alhamdulillah, dagang itu enak kan?” Lanjut bokap gue, kali ini dengan senyuman.


“Iya yah.” Jawab gue mantap.


Selang beberapa menit, gue memperhatikan gerak-gerik bokap udah mulai aneh. Gue ngelihat dia dari tadi sibuk ngerogoh-rogoh kantong baju sampai celananya, seperti mencari sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


“Hp ayah gak ada.” Sepontan ayah gue panik.


“apa?” Gue ikutan panik, alis gue mengkerut kaya ikan cucut.


“aduh kayak mana ini,” bokap gue semakin terlihat panik “mana semua dokumen rahasia ada semua di Hp itu.”


“Haaah?”


Dokumen rahasia? itu sebenarnya Hp apa berangkas. Bokap gue langsung pergi, menuju tempat yang diduga letak HP nya itu hilang. Gue belum pernah melihat wajah bokap sepanik itu sebelumnya, terakhir gue hanya melihat ekspresi bokap yang sangat tegang saat mau nyunatin anaknya ini.


Sepuluh menit kemudian, bokap gue belum balik lagi. Gue mulai yakin kalau Hp dia hilang. Tapi tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari dalam laci meja toko. Gue langsung ngebuka itu laci, suaranya semakin keras. Gue rogoh-rogoh itu laci, ternyata gue nemuin tu Hp bokap gue yang (diduga) hilang. Gue liat Hp-nya ternyata ada panggilan masuk dari nyokap gue. Gue angkat Hp-nya.


“halo bu,” kata gue


“halo.” Kata nyokap di ujung sana “tolong ya bu balikin hape ini.”


“Haah,” gue kaget “halo bu, ini Ipan.”


“iya bu tolong ya balikin hape-nya,” suara nyokap mulai terdengar panik “penting itu bu hape-nya”

__ADS_1


Gue semakin sedih karenya nyokap sekali pun tidak bisa membedakan suara anaknya dengan ibu-ibu perawan. Hanya ada dua kemungkinan saat ini. Kuping nyokap jadi budeg akibat kabar yang mengejutkan bahwa Hp bokap hilang atau memang bener suara gue kaya ibu-ibu perawan. Entah.


“halo, halo bu,” gue mulai lesu “ini Ipan bu, Ipan.”


“oh Ipan,” nyokap gue mulai sadar.


“iya, hape ayah gak hilang, ini lagi sama Ipan. Ada dilaci hape-nya”


“ya udah pan kirain hilang.”


Setelah pembicaraan lewat Hp yang menyedihkan buat gue itu terputus, gue langsung ngejerit dalem hati.


AAAAAHHH!!!


Apa mungkin suara gue kalau dari telepon terdengar seperti ibu-ibu?


Kalau iya, apakah selama ini pacar gue telah mengetahui bahwa suara gue terdengar seperti ibu-ibu saat telponan?


Tapi kenapa selama ini pacar gue diem aja mengetahui suara pacarnya seperti ibu-ibu?


Apakah dia sengaja menyembunyikan rahasia besar ini, karena takut gue frustasi lalu bunuh diri?


APAKAH? APAKAH? TIDAAKK!!!


Gue sedih dengan kejadian yang baru saja membuat gue pilu. Gue sempet berpikir untuk pergi dari kehidupan yang fana ini, tapi gue gak punya uang buat naek angkot. (maksud.)


Oh tuhan, semua ini begitu singkat, sampai aku tidak bisa merasakan sakitnya.


Bokap gue dateng masih dengan muka paniknya.


“hape ayah ilang beneran pan, di toko sana juga gak ada” kata bokap, sedih.


“nih yah.” Gue ngasihin Hp bokap.


Bokap gue kaget mengetahui Hp nya tahu-tahu ada di gue “kok ada sama Ipan?”


“ada, orang hape-nya di dalem laci juga,” gue masang muka melas.


“oh, kirain ayah bawa”


“emmmm”


Malem harinya gue nelpon pacar gue, hanya untuk memastikan suara gue enggak kaya ibu-ibu kalau dari telepon.


“halo sayang.” Sapa gue.


“iya sayang.” Kata dia di ujung sana “tumben malem-malem nelpon?”


Ketara banget gue gak pernah nelpon dia malem-malem.


“aku mau nanya sesuatu sama kamu.”


“nanya apaan?”


“apa bener, kalau lewat hape seperti saat ini, suara aku terdengar kaya ibu-ibu ya?”


“loh kok kamu tahu?”


*JLEB*

__ADS_1


AAAAHHHH!!!


__ADS_2