
Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi
Judul: Gliese 581g (Part 1)
_________________________
Namaku Glisa. Aku tinggal dan menetap di planet Gliese 581g. Terkadang aku merasa penasaran dengan nama yang orangtuaku berikan. Namaku yang hampir mirip dengan planet yang aku tempati.
Saat aku berusia 50 tahun, Ibuku selalu menceritakan tentang makhluk lain yang hidup dan tak jauh berbeda dari kami. Ibuku juga berkata bahwa nan jauh di angkasa sana ada sebuah peradaban yang hampir mirip dengan peradaban kami. Begitu juga Ayahku, dia pernah bercerita padaku tentang sebuah planet yang sejuk seperti udara di atmosfer kami, dan banyak lagi cerita yang beredar tentang peradaban dunia lain seperti kami. Namun, aku belum terlalu percaya akan adanya hal-hal dan makhluk lain di planet lain yang begitu jauh dengan kami, yang aku tahu hanya legenda itu sangat populer dan terkenal di masyarakat kami.
Sejak kecil, banyak orang-orang yang menceritakan peradaban dan kisah-kisah yang masih menjadi misteri padaku, mereka selalu bilang kelak nanti aku lah yang akan menjaga Gliese 581g. Padahal menurutku, aku tak begitu yakin dan memiliki kekuatan untuk melindungi seluruh permukaan tanah usang di planet ini, juga aku merasa tak pantas karena aku hanya seorang gadis. Aku pernah diberi sebuah liontin emas dengan kristal merah dan biru di sana. Saat aku menggenggam liontin dan memakainya, aku melihat semburat cahaya merah dan biru terpancar jelas di langit-langit rumah. Saat itu aku masih berusia sangat kecil, karena aku belum mengerti apa-apa. Mungkin usiaku saat itu adalah lima belas tahun, jadi aku belum tahu apa-apa. Tapi aku begitu ingat saat aku melihat sebuah planet yang hampir mirip dengan planetku dan aku mendengar satu kata, entah benar atau tidak karena aku sayup-sayup mendengarnya. Seingatku kata itu adalah MANUSIA.
—
Besok umurku genap seratus tujuh puluh tahun. Ini artinya, aku akan segera beranjak dewasa. Para tetua memberi banyak masukan padaku tentang apa saja yang sepatutnya kulakukan saat aku dilepas nanti. Ya, di planet kami setiap jiwa yang telah mencapai usia seratus tujuh puluh tahun akan dilepas dari orangtuanya dan dibiarkan hidup mandiri. Dan mulai besok, aku akan pindah rumah dan mencari pekerjaanku sendiri. Namun ada yang aneh saat orangtuaku dan para tetuaku merundingkan permasalahan tentangku. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, namun mereka tampak bermusyawarah begitu lama.
“Tapi bagaimana bisa kita melepas Glisa? Komet itu datang pada tahun ini, namun tak pasti kapan datangnya. Benda yang akan datang dari luar angkasa itu benar-benar besar, benda itu akan menghancurkan kita!” kata tetua Vad pada Ayahku.
“Lalu kita akan mengotori adat nenek moyang kita?” tanya Ayahku.
“Ini demi keselamatan Glisa, jika Gliese 581g punah, apa yang akan kita lakukan? Kita tahu bahwa setiap hal yang dikatakan Bola Zogo itu selalu benar, dan Bola Zogo telah mengatakannya. Kita boleh tak melakukan pelepasan ini, demi keselamatan Glisa,” ucap tetua Vad meyakinkan.
“Tapi Vad, rutinitas ini telah lama kita lakukan, ini hal yang wajib untuk kita!” kata tetua Johan.
Semuanya terdiam. Akhirnya mereka memutuskan apa yang harus mereka putuskan. Tetua Vad pun menghampiriku dan memelukku.
“Siap-siap untuk melakukan tugasmu, kau akan kami kirim ke rumahmu yang baru esok hari. Sangat baik jika kau pulang dan membereskan barang-barang yang akan kau bawa besok,” ucap tetua Vad lembut. Aku mengangguk dan segera pulang ke rumah. Setelah aku berlalu, mereka kembali merundingkanku.
“Tenang Vad, aku akan mengirim pelindung untuknya,” ucap tetua Johan sambil menepuk punggung tetua Vad. Tetua Vad berjalan perlahan dengan jubah hijau besarnya yang menjuntai ke bawah. Janggut peraknya berkilauan dan lipatan wajah tuanya menunjukan kekosongan. Mungkin usianya telah lebih dari seribu tahun.
“Aku tak akan bertanggung jawab, Johan. Ini bukan pilihanku.”
—
Siang ini aku akan segera diberangkatkan ke daerah baruku. Aku akan berpisah dengan kedua orangtuaku dan aku akan segera menghidupi diriku sendiri. Aku harus mandiri dan aku harus bisa menyesuaikan diri.
“Ayah, Ibu,” kataku sambil memeluk mereka. Ayahku tersenyum melihatku, aku balas tersenyum padanya. Ibuku sedikit menangis dan aku langsung memeluknya.
“Ibu tak perlu khawatirkanku, semuanya pasti baik-baik saja,” kataku menenangkan. Ibu mengangguk dan menyeka air matanya.
“Iya, hati-hati di perjalananmu, Glisa.”
Ibu melambaikan tangannya padaku. Aku balas lambaian itu. Segera aku memasuki pesawat kecil yang akan kukendarai untuk perjalanan nanti. Kumasukan tas ke belakang dan mulai menyalakan mesin. Kupacu mesin ini dan segera berangkat menuju rumah baruku. Sedih memang harus menerima kenyataan bahwa aku harus berpisah dengan kedua orangtuaku, namun inilah yang harus aku lakukan.
__ADS_1
—
Malam ini aku keluar dari rumahku. Tempat tinggal yang baru aku injaki sedikit tak nyaman. Aku lebih menyukai tempat yang dulu, mungkin ini karena aku baru saja tiba di sini.
Kutatap langit hitam malam ini, di sana tergantung banyak bintang dan bulan yang nampak bercahaya. Sebelum aku pindah, tetua Vad memberiku sebuah gulungan perkamen. Katanya perkamen ini pemberian dari tetua Hoshi, dia sudah meninggal waktu aku berumur dua puluh tujuh tahun. Katanya tetua Vad diperintah untuk memberikannya padaku, dan dia memberikannya untuk memenuhi tugasnya itu.
Kubuka tali pengikat perkamen ini. Gulungannya kuleberkan sehingga nampak huruf-huruf berwarna hitam menodai warna coklat perkamen ini. Perlahan mulai kulihat dan kucoba untuk memahami dan membaca isinya. Huruf-huruf dalam perkamen ini terlihat asing bagiku, namun entah mengapa aku merasa bisa membacanya.
“Dua puluh tahun yang lalu kami mengirimnya. Kami mengirimnya ke planetmu, mungkin kalian belum tahu nama planet yang sedang kalian tempati, Gliese 581g. Itu lah sebutan kami untuk kalian. Rawat anak ini oleh kalian, kami tak tahu kapan kalian akan menerima surat ini, bahkan kami tak tahu apakah surat ini akan sampai pada kalian dan anak ini benar-benar dalam keadaan hidup. Namun suatu hari nanti kami akan datang, kami akan pergi ke sana.”
Begitu lah kira-kira isi surat itu. Aku tak tahu apa maksudnya, jika dilihat dari penampilannya, surat ini sudah begitu usang. Mungkin surat ini sudah tersimpan selama berpuluh-puluh tahun.
Aku menyimpan kembali surat itu, aneh sekali. Dulu, aku pernah bermimpi melihat dunia yang jauh lebih baik dari tanah yang aku injaki. Dunia itu penuh dengan tanaman dan air. Hampir mirip dengan apa yang ada di Gliese 581g, namun dunia itu terasa lebih menyejukan. Aku masih penasaran apakah dunia itu ada atau hanya semacam mimpi saja, atau mungkin bisa jadi sebuah dunia yang selalu diceritakan oleh kedua orangtuaku.
Malam ini angin berhembus tak seperti biasanya. Aku dapat merasakan hembusannya lebih kencang dan lebih menusuk dari sebelumnya. Juga aku merasa dadaku panas, liontinku, aku merasa liontinku terbakar. Perlahan liontinku mulai mengeluarkan semburat cahaya merah menyala. Lalu setelahnya warna biru berkilauan di atas langit sana. Aku tidak mengerti dengan keanehan pada liontinku ini, namun semakin lama, cahayanya semakin meleber dan semakin pucat. Kugenggam erat liontinku, liontin ini bergetar hebat dan seperti terdapat nyawa di dalamnya. Aku seakan mendengar jerit ketidakkuasaan yang akhirnya menghilang bersamaan suara duaar keras yang memekakan telinga. Liontinku pecah dan aku terdorong jatuh ke belakang. Pandanganku menyamar dan aku melihat baja meluncur ke arah tanah ini. Setelahnya semua gelap dan tak berbekas.
—
Aku mengerjipkan mataku dan memandang sekitar ruangan. Aku telah ada di dalam rumahku. Kulihat seorang pria berpakaian aneh sambil membawa helm. Dia menatapku nanar dengan matanya yang berwarna biru pucat.
“Kau baik-baik saja?” tanya dia terlihat begitu cemas, padahal aku tak begitu mengenalnya.
“Siapa kau?” tanyaku dan sedikit bangun. Saat menggerakan tubuhku, kurasakan sedikit ngilu dan sakit pada tubuhku.
“Tidak, kau tidur dulu di sini, keadaanmu masih lemah. Tangan kirimu cedera dan kepalamu terbentur semalam. Aku akan menjagamu di sini, namaku Raffles,” katanya sambil menidurkanku kembali.
“Apa kau dari sini, Raffles?” tanyaku dan dia mendongak.
“Bisa dibilang tidak, aku dari Bumi. Apa kau mengenal planetku?” tanya dia. “Apa itu penuh dengan tanaman hijau dan air? Aku sempat bermimpi melihat dunia seperti itu,” kataku sedikit berpikir dan mengingat mimpiku.
“Yup, kau benar sekali. Omong-omong, apa kau adalah makhluk karbon?”
“Maksudmu? Aku tak mengerti yang kau katakan,” ucapku.
“Ya, makhluk yang bisa menghasilkan karbondioksida, maksudku apa kau mengihirup oksigen? Karena aku rasa aku bisa bernapas cukup lancar di sini, aku juga merasa gravitasi planet ini cukup besar. Di sini aku bisa berjalan tegak,” katanya. Aku terus menatapnya, dia mengangkat alis dan tersenyum kecil. Tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang aneh dalam diriku, saat aku menatapnya, aku menyukainya.
“Berapa umurmu?” tanyaku. “Dua puluh tiga.”
“Oh, semuda itu kah? Aku tak percaya jika kau berumur sedini itu, umurku saja seratus tujuh puluh tahun, dan sebentar lagi seratus tujuh puluh satu tahun,” kataku dan dia terkekeh. “Rotasi dan revolusi Bumi berbeda dengan Gliese, di Bumi satu tahun sama dengan 365 hari, sedangkan di Gliese hanya 37 hari, itu mengakibatkan umur kita sama namun berbeda sepuluh kali,” ucapnya lalu menghela napas.
“Jika aku tinggal di sini, umurku mungkin 235 tahun, kiranya.”
“Ya, aku mengerti. Bagaimana dengan keadan tanah bumi?”
__ADS_1
“Lebih baik dari yang di sini mungkin, namun tak beda jauh. Bagiku, kau adalah alien,” katanya.
“Aku bukan alien, kau yang alien!” kataku membantah. Dia tertawa-tawa. Melihat tawanya, aku merasa yakin bahwa aku mulai menyukainya.
“Kau dan aku adalah alien,” katanya. “Oh ya, mengapa pakaianmu seperti itu?”
“Ini pakaian astronot, lagipula di sini dingin sekali. Aku harus menghangatkan diri, apa air di sini sering membeku?” katanya sambil memeluk tubuh.
“Kadang-kadang, tapi aku sudah biasa tinggal di sini. Bagaimana dengan bumi?” kataku sambil menatap sekitar.
“Kupikir bumi memiliki posisi yang sangat pas, kau akan suka mungkin tinggal di sana,” katanya duduk di sampingku.
“Oh ya, apa makanan yang biasanya kau makan? Aku ingin mencoba mencicipinya, nanti aku buatkan makanan bumi,” ucapnya menawarkan.
“Idemu cukup bagus, aku ingin mencoba mencicipi makanan bumi, mungkin rasanya cukup sama.”
—
Tiga hari aku mengenal Raffles. Tiga hari itu juga aku tak keluar dari rumah karena Raffles yang menjaga dan merawatku. Sekarang tangan kiriku sudah lebih baik, ini semua karena Raffles. Menurutku Raffles adalah pria yang begitu baik dan ramah. Aku bisa begitu mengenalnya dekat selama tiga hari ini. Bahkan, aku bisa yakin bahwa aku telah mencintainya, Raffles adalah cinta pertamaku.
“Glisa,” katanya. Aku mendongak dan menatapnya.
“Ya?”
“Bolehkah aku berkata sesuatu?” katanya dan aku mengangguk. Dia mendekat dan menghampiriku yang masih terduduk di depan meja makan. Dia duduk di depanku dan menggenggam tanganku dengan tangannya yang dibaluti kostum tebal. Matanya sedikit panas dan membuatku kebingungan.
“Maafkan aku, aku mencintaimu,” katanya sambil menggenggam keras tanganku. Aku menatap tangannya, lalu kualihkan pada matanya. Mata biru pucatnya berkilauan, jantungku seakan berpacu keras melewati batas biasanya.
“Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Aku mencintaimu sejak awal kita bertemu,” balasku. Dia tersenyum kecil. Matanya menampakan raut kegelisahan. Dia menarikku berdiri dan keluar dari meja, lalu dia memelukku erat dengan pelukan yang serasa janggal.
“Berjanji lah bahwa kita akan tetap bersama, kau dan aku adalah satu. Walau kita berbeda, kau adalah bagian hidupku. Aku tahu itu, semuanya nampak jelas di mimpiku.”
Dia memelukku erat dan langsung melepaskannya saat ucapannya selesai. Dia tersenyum padaku dan berjalan ke luar dari rumahku. Dipakainya lagi helm yang menutupi wajahnya, aku hanya menatapnya bingung dan tak mengerti. Ada apa dengan Raffles? Apa yang membuatnya begitu berubah?
Raffles berlalu dari pandanganku. Aku berjalan menuju kasurku. Saat ini aku masih mencoba mencerna kata-kata Raffles, kata-kata yang begitu tak aku mengerti.
Segera kududuk di atas tempat tidurku, namuh sekilas aku melihat lipatan kecil di bawah bantalku. Kutarik kertas itu dan kuambil, di sana terdapat tulisan dan kata yang dirangkai menjadi berbagai kalimat.
“Dari: Raffles.
Untuk Glisa, Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku. Sebelumnya aku tak pernah menyangka ini, aku tak pernah berpikir bahwa aku akan tertarik padamu. Aku menyesal melakukan ini. Sebenarnya, aku tak akan bisa datang ke tempat ini tanpa alat canggih yang Ayahku ciptakan. Juga mesin waktu yang diciptakan oleh teman Ayahku. Awalnya, Ayahku sedang mencari planet yang nantinya akan dijadikan pengganti bumi. Diperkirakan beberapa ratus tahun yang akan datang peradaban di bumi musnah, ini semua karena akibat pemanasan global dan efek rumah kaca yang terjadi di bumi dan kerusakan lainnya. Pada saat itu, teman Ayahku menemukan sebuah planet yang dibilang cukup mirip dengan keadaan bumi, planet itu adalah planet yang sekarang kau tempati, Gliese 581g. Gliese 581g cukup menunjukan bahwa adanya tanda-tanda kehidupan, juga gravitasi yang cukup. Walau keadaannya dingin, namun hal ini cukup mendukung untuk kehidupan manusia. Saat itu, tepat dua puluh tahun yang lalu, Ayahku mencari seorang anak yang kira-kira bisa dikirimkan dan dijadikan informasi saat dia besar nanti. Dan akhirnya, Ayahku menemukan seorang gadia kecil dari panti asuhan, saat itu usianya baru tiga bulan. Lalu dengan mesin yang Ayahku ciptakan, Ayahku memasukan gadis itu ke dalam pesawat. Dengan alat yang Ayahku ciptakan, pengubah benda ke dalam partikel cahaya, Ayahku mengubah pesawat dan anak itu menjadi partikel cahaya dan meluncur cepat ke angkasa menuju Gliese 581g. Namun, bayi itu diluncurkan pada dua puluh tahun sebelumnya, artinya mereka menggunakan mesin waktu ke dua puluh tahun lalu saat mengirimnya, karena perjalanan menuju Gliese 581g kira-kira 20,5 tahun dengan kecepatan cahaya, jadi pada saat Ayahku kembali ke masanya, bayi itu telah meluncur selama 20 tahun.
Saat ini, Ayahku yang akan pergi menuju Gliese 581g, namun bersamaku. Kami berangkat dua puluh tahun kemudian karena menunggu besarnya bayi yang dikirim. Kami berangkat berbanyak, dengan sepuluh pesawat yang akan meluncur. Namun keberangkatan itu diundur ke duapuluh tahun lalu, karena perjalanan yang akan lama. Ayahku menunggu bayi besar sambil menunggu informasi yang lebih lanjut tentang Gliese 581g. Juga semuanya akan mudah dengan adanya mesin waktu. Dan saat itu, berangkat lah kami dalam partikel cahaya menuju Gliese 581g. Kami tak mengalami penuaan karena kami dalam bentuk cahaya. Jadi kami datang di planet ini dengan umur yang sama seperti sebelumnya, tanpa menua 20 tahun.
__ADS_1
Tepat beberapa hari lalu kami mendarat dengan selamat. Di sini, aku ditugaskan untuk mencari informasi tentang bayi yang pernah dikirim ke sini bertahun-tahun lalu. Aku langsung mengenal bayi itu karena dia berbeda dengan yang lainnya, dan aku yakin bahwa bayi itu adalah kau!…”
Aku terhenti saat membaca kalimat itu. Ini sungguh sulit dicerna, apakah Raffles sekarang sedang memberikan semua cerita yang telah aku beritahukan padanya tentang planet ini? Mungkin kah dia telah memberitahukan semuanya? Yang artinya, Gliese 581g kini akan berada di bawah kuasa manusia dan peradaban kami musnah?