Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Diary Rintikan Gerimis Membawa Kenangan


__ADS_3

Kategori: Cerpen Galau


Judul: Diary Rintikan Gerimis Membawa Kenangan


_________________________


Saat ku tulis cerita ini aku berharap kamu membacanya, dan kamu tau kalau aku tak pernah melupakanmu seperti kamu melupakan aku. Aku masih menyimpan rapi tentang kenangan kita.


Malam ini sama seperti malam itu, hujan gerimis turun. Tetapi tentu ada yang berbeda, karena saat itu masih ada kamu. Inilah yang membawa jemari ku mengabadikan sekilas cerita tentang kita. Dengan mata berkaca-kaca hingga berlinang air mata, aku mulai menulis cerita ini.

__ADS_1


Diary Rintikan Gerimis Membawa Kenangan


Malam ini hampir sama dengan malam itu, entah kenapa aku mengingatnya, dan sangat sulit melupakannya. Kadang aku bertanya dalam hati kenapa aku harus mengingatnya? kenapa aku harus memikirkannya? aku juga sering bingung kenapa aku melakukannya seperti sudah menjadi rutinitas ku. Entah mengapa otak ku dengan sendirinya menyuruhku agar terus mengingatnya. Walaupun sebenarnya dia tidak pernah mengingatku sekalipun.


Ya. Dia adalah orang yang pernah mengisi hati ku dulu, bahkan hingga sekarang mungkin masih mengisi hati kecilku. Tapi sayangnya orang yang selalu ku banggakan itu pergi jauh. Dia pergi karena orangtuanya pindah tempat pekerjaan. Bukan karena kepergian dan kepindahan orangtuanya yang ku sesalkan. Tetapi sebegitu mudahnya dia melupakanku saat dia sudah berada di tempat baru disana.


Sejenak aku memikirkan sesuatu, aku bahkan berharap tidak ada hari esok pada saat itu. Aku tak sanggup menghadapi kepergian orang yang paling ku sayangi. Air mataku sudah membendung di kelopak mata ku seakan-akan berdemo ingin keluar, tetapi aku menahannya. Aku tak ingin ini menjadi malam yang menyedihkan. Yang ada cuma canda dan tawa yang akan menjadi malam terindah.


Udara dingin semakin menusuk tulangku, tetapi tidak bearti apa-apa dengan kesedihanku karena akan kehilangan dia.

__ADS_1


Kami duduk berdua di sebuah tempat dimana kita bisa leluasa melihat bulan dengan diterangi lampu malam di sisi jalan, dengan alas tanah yang masih basah karena guyuran gerimis. Di bawah naungan bulan itu aku menatapi wajah indahnya yang besok, lusa, dan seterusnya aku tak bisa lakukan lagi. Seketika air mataku berlinang di pipi begitu hangat saat menatapnya. Sungguh aku tak sanggup jika harus kehilangan orang yang paling ku sayangi dengan secepat ini. Dengan segenap hati dia berusaha menenangkanku saat itu 'aku janji aku bakal balik lagi kesini, ini nggak akan lama kok. Aku hanya akan menghabiskan waktu SMA ku disana lalu kembali kuliah disini. Tunggu aku ya. Aku janji aku kembali nanti. jangan nangis ya' kata-kata yang tak pernah aku lupakan sampai sekarang. Tangisanku semakin menjadi-jadi saat itu. Benar-benar mimpi buruk yang harus aku alami. Ku peluk erat tubuhnya saat itu, ku menangis di bahu nya yang selama ini selalu menjadi sandaranku.


Keesokan harinya aku mengantarnya ke bandara, kulihat dia sangat tampan dengan kaos nya berwarna ungu. Akhirnya waktu yang tidak pernah aku inginkan itu tiba. Mau tidak mau itu adalah kenyataan pahit yang harus ku telan hidup-hidup. Aku melihatnya dengan jelas dia memasuki pintu yang tak pernah aku inginkan, iya itu adalah pintu keberangkatan. Dengan sekuat hati aku berusaha menahan air mata dan berusaha tegar. Saat itu tak ada kata-kata yang terucap, hanya lambaian tangan tanda selamat tinggal. Dan senyuman yang terlontar tanda aku akan setia menunggu dia kembali.


Sekarang sudah setengah tahun lebih kepergiannya dan aku belum mendengar kabar apapun dari dia. Inikah yang dia janjikan sebelum pergi dulu? begini kah dia ketika sudah mejajaki dunia baru? kecewa, marah, sedih, bercampur rindu sudah menjadi makanan ku sehari-hari jika mengingatnya. Dari sini aku tersadar bahwa dia tidak akan pernah kembali. Jika bisa aku ingin sekali melupakannya, jika bisa aku ingin sekali tidak mengingatnya. Tetapi aku selalu gagal. Bayangannya terlalu kuat menghantui ku. Kadang aku berpikir ingin sekali membenci nya tetapi aku terlalu merindukannya untuk membencinya. Kenangan indah bersamanya lah yang membuatku masih bertahan sampai saat ini.


Tanpa dia sadari aku selalu menunggunya walau tak bisa ku katakan. Setiap ada jam kosong di kelas, aku selalu merebahkan kepalaku di atas meja sambil melihat indahnya langit yang kulihat dari jendela, dan mendengar dentingan suara jam tanganku yang berdetak setiap detik. Dari situ aku bertanya di dalam hati, ini sudah menjadi detik keberapa atas kepergianmu?, berapa detik lagi aku akan menunggu?, berapa detik lagi kamu akan kembali?, berapa detik lagi kamu akan menghubungi ku?, mungkin itu 1 detik lagi, atau puluhan, ratusan, atau bahkan jutaan hingga triliunan detik lagi. Entahlah aku menghitungnya hingga aku bosan dan tertidur dengan berlinang air mata yang kusembunyikan dari teman-teman ku. Berapa lama lagi akan begini?


Aku berusaha tersenyum setiap hari untuk menutupi rasa kehilangan ku. Suaramu, Wajahmu bahkan aku masih mengingatnya. Aku ingin melihat mu, aku ingin melihatmu sekali lagi, apa kamu sudah melupakan semua tentang aku? Aku ingin melihatmu.

__ADS_1


__ADS_2