
Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi
Judul: Still Heaven At War (Part 1)
_________________________
Kim Natleyn tapi orang sering memanggilku Natleyn. Aku lahir di Jakarta, 05 april 1993. Dilahirkan dalam lingkungan keluarga militer yang berkecukupan, aku dididik untuk hidup disiplin dan penuh tanggung jawab. Fahri azhanri, SH dan Dr. Nadya kim marleyn itulah nama kedua orangtuaku, Ayahku seorang Jenderal purn. INF berbintang empat sedangkan Ibuku berprofesi sebagai dokter sekaligus sebagai pelatih di Pusdiklat kesehatan di Bandung.
Aku memiliki Kakak yang bernama Whisnu kim Azhanri, dia tentara yang berpangkat Mayor Jenderal yang saat ini bertugas di kabul, Afghanistan yang usianya 10 tahun lebih tua dariku. Mungkin karena itu aku memilih untuk mendalami banyak ilmu beladiri mulai dari taekwondo, karate, muangthai, tapi yang paling aku sukai adalah kravmaga karena ini beladiri yang memiliki simulasi bertarung terbaik secara realitas. Aku sudah memiliki sertifikat instruktur Kravmaga saat usiaku 15 tahun, untuk mendapatkan sertifikat itu aku harus pergi langsung ke negara Israel dan tinggal di sana kurang lebih 2 minggu di sana tanpa istirahat yang cukup, aku juga harus bertarung di atas bukit dan dalam ruangan yang sangat bising sampai-sampai kau tak bisa mendengar apa-apa dan kau hanya harus fokus pada lawanmu. Walaupun begitu aku berhasil mendapatkan sertifikat tersebut.
Jakarta, 21 juni 2008 aku kembali ke indonesia setelah mendapatkan sertifikat itu. Sesampainya di rumah, tidak seperti biasanya ku lihat Ayah ada di rumah dan menyambut kepulanganku dengan sangat bahagia. Ternyata ada sesuatu yang ingin dia beritahukan padaku.
“assalamualaikum Ayah” Ucapku.
“waalaikumsalam, cepatlah ke kamarmu dan setelah itu temui Ayah di ruang membaca.” Kata Ayah.
“baik Ayah. (tidak biasanya dia ada di rumah ini kan jam kerja?)” balasku.
Setelah meletakkan tas di kamar dan membersihkan tubuh, aku langsung turun dan menemui Ayahku di ruang baca.
“apa yang ingin Ayah bicarakan?” tanya ku, masuk ke ruang baca.
“duduklah dan baca email ini.” Jawab Ayah.
“email dari siapa yah?” tanyaku heran.
“John.” Jawab Ayah dengan singkat.
“hah.. paman John, tidak biasanya dia mengirim email tidak langsung padaku. CIA? apa maksudnya ini. Siapa yang akan dikirim ke Amerika dan kenapa Ayah beritahu aku tentang email ini?” kataku.
“ya tentu kamu Natleyn, kau yang akan dikirim ke Amerika dan menjadi anggota CIA.” Kata Ayah.
“aku? anggota CIA, omong kosong!! Ayah bercanda kan, email ini pasti salah. Mungkin ini seharusnya untuk Kak whisnu.” Tanyaku, bingung.
“jika tak percaya nanti tanyakan saja langsung pada si pengirim email ini.” Jawab Ayah.
“oke, nanti akan ku tanyakan pada paman John. Maaf Ayah, aku mau kembali ke kamarku.” Kataku.
“dasar anak itu, bukannya militer itu keinginannya dari kecil. Bahkan ini bukan hanya tawaran militer tapi intelligence.” Kata Ayah dalam hati.
Di kamar aku langsung mengambil ponselku dan mencoba menghubungi paman John, karena aku tidak percaya dengan email ini. Setahuku bukankah anggota CIA haruslah seorang Warga Negara Amerika. Setelah berbicara dengan Ayah Karena kelelahan aku pun tertidur.
Truut… trutt.. trutt… ponsel bergetar.
“hallo Natleyn, ada apa?” tanya John.
“hi paman, aku mau tanya soal email yang paman kirim untukku beberapa hari yang lalu itu apa benar aku ditunjuk untuk menjadi anggota CIA? dan besok aku harus ke Amerika?” Kataku.
“itu benar, maaf karena besok kau harus ke Amerika tapi paman akan jemput kamu di bandara.” Jelas John.
“tapi paman ini tidak mungkin!! Bukankah CIA harus warga negara Amerika sedangkan aku ini warga negara Indonesia.” Kataku.
“ini perintah langsung dari Jenderal George (direktur CIA), berangkatlah besok dan sesampainya di sini nanti akan paman jelaskan padamu. Satu lagi, jangan tanyakan masalah pendidikanmu!! semuanya sudah diurus di sini.” Jelas John.
“baiklah, aku ikuti kalian saja. Bye uncle.” Kataku, mengakhiri pembicaraan.
“bye dear.”
Setelah memastikan semua ini aku kembali menemui Ayahku di ruang baca, untuk menanyakan tentang kuliahku di lembaga kemiliteran.
“Ayah?” panggilku.
“ya nak, ada apa?” jawab Ayah.
“paman John telah jelaskan semua ini tapi Ayah bagaimana kuliah kemiliteranku di sini?” tanyaku.
“kamu akan melanjutkannya di Amerika dengan kemiliteran di sana.” Terang Ayah.
“jadi, aku akan jadi orang Amerika dan pindah kewarganegaraan. Aku tidak akan mau berpindah kewarganegaraan!!” kataku dengan nada sedikit keras.
“Ayah tahu itu nak, usiamu 15 tahun dan sudah kuliah militer yang seharusnya mungkin bisa kamu dapatkan saat usiamu 19 tahun. Ayah tahu kamu hebat dan pasti punya cara sendiri untuk tetap menjadi warga negara Indonesia. satu yang Ayah inginkan ‘JANGAN PERNAH KHIANATI NEGARA KITA’ walau kamu sudah menjadi intelegence negara itu.” Kata Ayah padaku.
“aku mengerti Ayah, aku tak akan mengkhianati tanah airku sendiri. Aku berjanji.” Jawa ku singkat.
Pagi hari, pukul 06.00 aku terbangun dan langsung menyiapkan barang yang akan ku bawa. Setelah sarapan pagi, Ibuku memberiku buku tentang panduan pengobatan cara cepat yang sejujurnya sejak kecil aku sudah pernah mempelajarinya sendiri.
“Natleyn, gunakan dan pelajarilah buku ini karena Ibu yakin ilmu di dalam buku ini akan berguna untuk kamu gunakan di sana nanti.” Kata Ibu sambil memberikan buku kepadaku.
“baik bu, aku mengerti dan Natleyn sayang Ibu.” Kataku.
“Ibu juga menyayangimu.” Balas Ibu.
Waktu telah menunjukkan pukul 07.00 pagi, aku harus segera menuju ke bandara karena pukul 08. 00 pesawat akan berangkat dan aku tak mau tertinggal pesawat karena kemungkinan jalan menuju bandara akan sangat macet. Setelah berpamitan dengan kedua orangtuaku, aku langsung berangkat menuju bandara.
“Ayah.. Ibu, aku berangkat sekarang ya. Jaga kesehatan kalian berdua ya, aku pasti akan sangat merindukan Ayah dan Ibu.” kataku.
“kamu juga harus jaga kesehatanmu dan jangan lupa untuk beribadah.” Kata Ibu.
“baik bu.” Jawabku.
“hanya satu pesan dari Ayah jangan pernah gunakan senjatamu untuk membunuh selagi masih bisa menggunakan cara perdamaian.” Pesan Ayah padaku.
“tentu yah, itu akan selalu aku ingat. Itu prinsip perang dalam keluarga kita, aku pergi dulu. Assalamualaikum.” balasku.
__ADS_1
“waalaikum salam.”
Benar perkiraanku pasti jalanan macet sekali. Untunglah aku bisa sampai bandara tepat pada waktunya. Sesampainya di bandara ku dengar pemberitahuan kalau pesawat penerbangan ke virginia (wilAyah di bagian barat washington D.C) akan berangkat 10 menit lagi dan penumpang sudah diharapkan untuk memasuki kabin pesawat. Jujur saja ku masih lelah karena baru semalam aku beristirahat dan sekarang harus ke virginia, perjalanan indo-Virginia kurang lebih 10 jam. Karena memang masih sangat lelah aku pun memilih untuk tidur di pesawat. Tidak terasa 15 menit lagi sudah sampai dan sekarang pesawat sudah mendarat di Reagan national airport. Setelah turun aku langsung menghubungi paman John.
Truut.. truut.. truut.. ponsel bergetar.
“paman, kau sekarang dimana? aku sudah turun dari pesawat.” Kataku.
“ya aku tahu, aku melihatmu” jawab John, sambil melambai-lambaikan tangan.
“aku juga melihatmu paman.” kataku.
Panggilan terputus.
“keponakanku Natleyn, kau sudah terlihat dewasa dan cantik sekali.” Puji John.
“Paman bisakah kita langsung pergi saja?” pintaku.
“oh ya tentu, ayo” balas John.
“kita akan langsung pulang ke rumahmu kan paman?” tanyaku.
“tidak Natleyn.” Jawab John.
“jadi kita akan pergi kemana?” tanyaku.
“Ke kantor pusat Central Intelligence Agency, Jendral George dan yang lainnya telah menunggumu.” Jawab John.
“tapi paman, apa tak bisa besok saja?” keluhku sedikit berteriak.
“tidak bisa, mereka sudah menunggumu dari tadi.” Kata John.
“Paman? tubuhku masih sangat sakit karena pengambilan sertifikat kemarin.” Jelasku.
“memangnya apa yang terjadi saat kau di Israel?” tanya John.
“aku terjatuh dari bukit dan di banting 2 kali oleh orang israel itu dan sekarang aku ingin istirahat.” Jawabku, kesal.
“sudah jangan mengeluh lagi pula kau yang memilih kravmaga kan (tertawa kecil). Ayo turun kita sudah sampai. Tahan saja rasa sakit itu.” Kata John.
“okay, ku ikuti kemauanmu John.” Kataku.
Kantor pusat Central Intelligence Agency.
“sore sersan John.” sapa Mrs. Carol, sekretaris.
“sore Mrs. Carol.” balas John.
“ya. Nice to glad you.. .” jawabku.
“nice to glad you too. ternyata kau masih sangat muda, ku yakin kau orang hebat karena ini perintah langsung dari Direktur. Ku harap kau akan bisa melewati semua test yang sangat berat ini.” Kata Mrs. Carol.
“test seperti apa?” tanyaku.
“nanti kau akan tahu. Direktur mereka telah sampai.” Kata Mrs. Carol.
“biarkan mereka masuk.” Kata Jend. George
“baik direktur. silahkan masuk.” Kata Mrs. Carol.
“Jenderal.” John sambil memberi Hormat.
Jend. George menerima hormat dan menurunkan tangan.
“Jenderal ini dia Natleyn, ayo perkenalkan dirimu.” Kata John.
Memberi hormat, “saya Clara kim Natleyn dan Jenderal bisa memanggil saya Natleyn, senang bertemu dengan anda Jenderal.” Kataku.
“Senang bertemu denganmu juga. Ku dengar kau baru mendapatkan sertifikat instruktur kravmaga, apa itu benar?” tanya Jend. George.
“benar pak, saya baru pulang kemarin.” Jawabku.
“kau gadis yang hebat, kami di sini saja belum terlalu menguasai beladiri itu. Kami telah menyiapkan kamar di camp peristirahatan, sebaiknya kau istirahat karena besok kau akan mulai menjalani test untuk bergabung di sini. Good luck.” Kata Jend. George.
“thank you Jenderal, tapi boleh aku bertanya sesuatu Jenderal?” kataku.
“ya tentu, apa yang ingin kau tanyakan.” Balas Jend. George.
“Apa kalian di sini punya obat penghilang rasa sakit?” tanyaku.
“tentu kami punya doping tapi doping dilarang untuk peserta Test.” Jawab Jend. George.
“selain doping Jenderal, yang efeknya hanya menghilangkan rasa sakit saja. Apa anda punya? karena aku sangat membutuhkannya sekarang.” Tanyaku.
“tentu kami punya penghilang rasa sakit akibat Cidera, apa kau mengalami cidera?” Tanya Jend. George.
“ya, Jenderal.” Jawabku.
“Mrs.Carol?” panggil Jend. George.
“yes, sir.” Balas Mrs. Carol.
“bisa kau ambilkan obat penenang di lab. obat-obatan?” pinta Jend. George.
__ADS_1
“tentu, pak.” Jawab Mrs. Carol.
Tidak beberapa lama, Mrs. Carol kembali keruangan dengan membawa obat.
“ini obatnya, pak.” Kata Mrs. Carol.
“thanks, Mrs. Carol.” balas Jend. George.
“your welcome, sir.” Kata Mrs. Carol.
“Natleyn, ambillah dan istirahat.” Kata Jend. George memberikanya padaku.
“thanks Jenderal.” Balasku.
“sersan John, tolong antarkan keponakanmu ke kamarnya.” Kata Jend. George.
“baik pak. ayo Natleyn ikuti aku.” Kata John.
“ya paman.”
Setelah sampai di kamar yang mereka berikan aku langsung beristirahat dan meminum obat penenang karena aku merasakan sakit di punggungku yang cidera itu. Paman John akan menjemputku besok pagi pukul 07.00 untuk ke tempat test berlangsung.
“ini kamarmu, istirahatlah Natleyn karena besok akan sangat melelahkan.” Jelas John padaku.
“thanks paman, bisakan nanti setelah test besok paman memberiku seorang dokter?” pintaku pada John.
“tentu Natleyn. Besok pakailah pakaian ini untuk test dan sampai jumpa besok pagi.” Jawab John.
Malam berlalu, aku hanya mencoba menghilangkan rasa sakit ini dengan tidur. aku tak memikirkan apa pun tentang test besok.
Pagi pukul 05. 00 aku terbangun dan melakukan rutinitas wajibku yaitu salat. Setelah itu aku langsung mandi dan bersiap-siap sambil menunggu kedatangan paman John, aku menyempatkan waktu untuk olahraga kecil seperti push-up and sit-up. Tak terasa pukul 07.00 paman John datang ke kamarku dan mengantarkan aku ke tempat dimana test akan dimulai.
“kau sudah siap Natleyn?” tanya John.
“ya, paman.” Jawabku.
“ayo ikut denganku.” Ajak John.
“tentu paman.” Kataku.
Aku tiba di sebuah ruangan besar dan ada beberapa staff yang akan menguji kemampuanku. Di sana tak ku lihat Jenderal George dan hanya aku yang akan ditest hari ini.
“Paman, di mana peserta yang lainnya? kenapa hanya aku peserta yang berada di sini.” tanyaku.
“tidak ada peserta lain karena ini test khusus untukmu. jadi lakukan yang terbaik.” Jelas John.
“akan ku usahakan John.” Kataku.
“Perkenalkan saya mayor Flint. Berdirilah di sana, aku akan mengukur tinggi dan berat tubuhmu.” Kata Myr. Flint.
“yes sir.”
“Berapa usiamu?” tanya Myr. Flint.
“15 tahun.” Jawabku.
“1,7 m dan 60 kg. tidak semua gadis berusia 15 tahun memiliki postur tubuh mencapai ketentuan CIA. Kau lulus test awal. Selanjutnya test fisik. Lakukan push-up dan sit-up minimal sebanyak 47 kali dalam waktu 2 menit dan tenang saja ada alat yang akan menghitung dengan tepat berapa kali kau melakukan gerakan. Bersiaplah dan saatku tembakan pistol ini mulailah, apa kau mengerti?” Jelas Myr. Flint.
“yes, sir.” Jawabku.
“go.” Kata Myr. Flint tembakan pistol.
“waktumu tinggal 10 detik lagi. Hitung mudur 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1. STOP. Kembali lah bersiap, go” tembakan pistol. “ya selesai STOP.” Kata Myr. Flint.
“ini minumlah?” kata John memberikan air padaku.
“thanks uncle.” kataku.
“kita lihat hasilnya sekarang, mayor flint apa kita bisa lihat hasilnya sekarang?” tanya John pada Myr. Flint.
“tentu sersan, astaga baru kali ini aku melihat seorang gadis dapat melakukan gerakan Push-up 65 kali dan sit-up 50 kali. Kau lulus Natleyn” Myr. Flint memberiku selamat.
“apa itu benar?” tanyaku tak menyangka.
“ya, selamat bergabung bersama kami.” Balas Myr. Flint.
“thank you, sir”
“welcome to CIA, Natleyn.” kata Jend. Marvin seorang pria yang berjalan ke arahku.
“thanks sir.” Jawabku.
“dia jenderal marvin, putra direktur.” jelas John padaku membisikan di telingaku.
“kau pasti tak mengenalku. Aku Jenderal Marvin Lyson, pimpinan investigation pusat dan aku yang akan jadi partner kerjamu.
“partner, Jenderal?” kataku bingung.
“ya, kapten Natleyn. Kau akan dilantik besok dan akan mulai bertugas, tapi bisakah kau ke ruanganku sebentar ada satu hal yang harus dibicarakan soal pekerjaan ini kapten.” Jelas Jend. Marvin.
“tentu Jenderal. Saya siap bertugas.”
Kenapa rasa sakit ini muncul kembali, aku tak mungkin bisa memulai tugasku jika cidera ini semakin parah. Ku harap paman John telah menyiapkan seorang dokter untukku. Dengan menahan rasa sakit aku menemui Jend. Marvin di ruangannya, jujur saja menurutku dia pribadi yang menyenangkan dan baik. Saat berada di depan pintu ruangannya aku bertanya-tanya apa yang ingin dia bicarakan denganku.
__ADS_1