
Kategori: Cerpen Galau
Judul: Ingatan Dalam Renungan
_________________________
Rintik hujan masih telihat menyelimuti gedung gedung sekolah di salah satu SMA NEGERI di Kabupaten Purworejo. Ku rasakan hawa sejuk, sembari mebolak-balik buku Antropologi di depanku yang sedang duduk di kursi panjang depan kelas XII Bahasa, sebentar lagi usai istirahat pertama ada ulangan Antro. Sebenernya sekarang masih jam pelajaran sastra, tapi dikosongkan dengan alasan sang Guru tak bia masuk karena ada alasan yang mungkin tak bisa ditunda. Dan hanya meninggalkan selembar kertas polio yang isinya tugas menulis untuk mengisi kekosongan. Tapi aku sedang malas mengerjakan.
Aku lebih memilih duduk di depan kelasku, kelas XII Bahasa, untuk sekedar merasakan suasana rintik hujan yang menurutku cocok untuk menikmati renungan dalam kesendirian. Entahlah.. Diam diam, aku memandang dua orang cewek di depan kelasnya, XII IPS 3, di seberang lapangan depan. Ku tahu, mereka adalah Ani dan Mimin. Dengan candaan mereka yang aku tak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Senyum Ani yang khas, masih seperti yang dulu. Saat kita masih duduk di kelas yang sama, kelas X B. Namun, berbeda dengan sekarang, senyuman cewek si manis tomboy lagi jutek itu bukan untukku, tak lagi untukku, mungkin tak kan pernah lagi.
Ku ingat saat awal kita masuk di sekolah ini, aku sedang duduk di tepi lapangan sepak bola dengan buku sejarahku.
“Bas, sendirian aja lo, kayak kayak orang hyilang” Kejut Ani yang kemudian duduk di sampingku. Disusul Mimin yang asyik smsan sama gebetannya, ku tahu dia lagi PDKT sama orang yang aku kenal, biarlah, jangan diganggu.
__ADS_1
“iyalah, abis pada sibuk sendiri, kamu juga. Apa lagi tu anak di samping kamu, orang temennya di sini malah ngobrol sama orang jauh, smsan mulu.” gerutuku.
“Haha, iya nih anak, makan makan dong. Gebetan baru.” canda Ani menyambungku sambil menepuk bahu Mimin.
“Apaan si, ah. Ya ntar makan makan di kantin, gratis bagi kalian, kalau mau nyuciin piring penjaga kantin. Pasti gratis kok, percaya deh” sahut Mimin seenak dengkulnya.
Yah, begitulah. Banyak candaan mewarnai keakraban kita, mereka adalah cewek yang paling akrab denganku di kelasku, kalau cowok mah banyak. Keakraban kami berlanjut, rasa sayangku pada mereka selalu berlanjut. Dan berlanjut, namun kelanjutan ini berbeda dengan perasaanku ke Ani. Seakan akan genderang perang dipukul bertubi-tubi di hatiku sehingga menghasilkan getaran yang dahsyat saat aku di dekatnya. Apalagi saat Ani tersenyum, ah.. Aku lunglai lemas, tak berdaya. Bagai lilin yang dipanaskan, luluh. Apa perasaanku berubah padanya? Apa aku sayang sama dia? Jadi inikah rasanya? Aku jatuh cintakah? Hari-hari ku lewati dengan biasa, berbeda dengan perasaanku yang tak biasa. Aku ingin mengungkapkan rasaku padamu, An. Diam diam, aku lebih sering curi pandang wajahmu. Eh, aku gak ada tampang maling ya.
Namun, kali ini berbeda. Dia terlihat jelas membuang muka dariku. Memang begitu. Bukan hanya negative thinking-ku saja. Aku heran, sangat heran. Tak biasanya seperti ini, malah si Mimin juga, ngikut-ngikut juga. Aku coba introspeksi diri. Aku salah ya? Aku salah apa? Kayaknya sebelum ini kita biasa biasa aja. Kalian marah sama aku? Kenapa? Tanda tanya besar selalu muncul saat aku ingat mereka. Saat raut senyum mereka mulai menyenja, meredup. Tertutup. Mega untuk sekedar sedikit penerang jalan pun tak ada ketika bulan tak muncul. Hujan badai muncul tanpa mendung menandai. Begitu saja ada.
Sms aku pun tak dibalas, aku coba telpon tak dijawab. Duh, perasaanku tak karuan, mungkin genderang perang di hatiku telah berubah menjadi pertempuran antar-suku yang tak lagi mengenal peri perdamaian. Bukannya aku gak mau ngomong langsung, tapi Ani aja yang aneh, gak lagi peduli. Boro-boro ngobrol kayak dulu, ketika jalan ke kelas dan dia lihat ada aku, dia lebih milih berbelok arah dan mencari jalan lain yang menurutku itu jalan yang lucu untuk dilalui, padahal jelas jelas jalan efisien ya ini. Mau maunya dia cape-cape muter, lebih suka cape dianya.
Yang lebih aku gak habis pikir, dia itu kesambet iblis mana, kok muka juteknya bisa tertanam begitu dalam dan berakar saat dia lihat aku sedang memandangnya. Apa wajahku serem yak? Duh, Gusti. Ani, gimana bisa aku tahu salahku dan memperbaiki kesalahanku kalau kamu kayak gini. Ngomong dong An, apa salahku. Mimin juga, padahal aku tahu kalau sebenernya Mimin gak ada rasa benci ke aku, dia cuma ngikut Ani aja, kayak abis dicuci otaknya. Mungkin dia cuma ga enak aja sama Ani. Duh, Ya Allah..
__ADS_1
Tiap malem aku berdoa, biar kalian gak benci sama aku, itu aja. Lebih lebih bisa deket kayak dulu lagi. Lebih lagi Ani bisa jadi kekasih aku . Ah! Entahlah… Mungkin hati sama otak Ani udah membatu. Emang dari dulu aku tahu, dia itu keras kepala, jutek, nyebelin, cuek, ah.. Pokoknya ngeselin. Banget. Tapi dia itu sederhana, gak muluk-muluk, cantiknya natural. Ah.. Tapi kenapa harus sampe kayak gini An? Kini, apapun yang aku lakukan pada mereka, bagaikan mencoba eksperimen menjadikan air laut menjadi tawar, boro-boro manis. Berapa potong tebu yang dibutuhin ya? Ah.. Ngaco lo Bass.
Ani, aku pasrah, aku menyerah, aku mengaku kalah dengan cobaan ini. Aku hanya bisa berdoa, semoga kalian baik baik aja, jalan kalian adalah jalan yang menuju kebahagiaan kalian. Biar pun kalian menganggap Bass udah tiada, tapi kalian masih selalu di hati Bass. Aku sayang kalian. Bass masih berharap, semoga kita bisa seperti angka 9 6 (jangan dibalik), terlihat berbeda tapi sebenernya adalah bentuk yang sama.
Aku bukan sastrawan, bukan pula pujangga. Aku cuma nyari cara biar aku bisa ngluarin uneg-uneg. Biar bisa lebih tenang. Apa lagi udah mau ujian nasional. Biar gak banget-banget kepikiran.
Terima kasih.
Cerpen Karangan: Bass Cote’e
Facebook: Fatkhul Basith
Buat kalian para admin yang berkenan membaca, lebih jika postingan ngawur ini diterbitkan dan dibaca kawan-kawan semua, aku minta doa dan dukungannya dari kalian semua yaa. Semoga masalahku sama sahabatku bisa selesai dengan happy ending. Doa baik kalian akan kembali pada kalian.
__ADS_1