Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
you are my star (part 1)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta


Judul: You Are My Star (Part 1)


_________________________


Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Hujan yang turun sejak siang tadi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dengan ditemani secangkir coklat panas kesukaanku, teropong dan selimut hangat, aku duduk di depan balkon kamarku. Berharap agar hujan segera reda dan langit kembali tanpa awan. Aku menunggu bintang. Benda kecil penghuni langit. Sambil meminum coklat panasku, aku kembali mengingat memori lampau. Melodi elegi yang mengalun lembut seakan kembali menggabungkan potongan-potongan memori yang sudah hilang tersebut menjadi satu memori yang utuh. Memori tentangnya. Tentang kami. Tentang Bintang.


Aku masih mengingat seperti apa dirinya. Walaupun berjuta-juta detik telah berlalu, tapi semuanya seakan baru. Seperti baru terjadi kemarin sore.


'Hai, aku Bintang.' Katanya memperkenalkan diri saat baru pindah ke sekolahku. Aku yang saat itu merupakan orang yang pendiam dan introvert, tidak terlalu memperhatikannya. Tapi semuanya berubah saat ia dengan pelan-pelan masuk ke dalam ke duniaku dan menarikku keluar dari benteng yang sudah aku bangun.


'Untuk apa kamu hidup kalau nggak mau kenal sama orang lain? Kalau kayak gitu, mendingan kamu tinggal di Mars aja, jangan di Bumi!' Itulah kata-kata Bintang yang selalu aku ingat sampai sekarang. Saat ia memarahiku karena aku menolak ajakannya untuk pergi ke ulang tahun Chintya, teman sekelasku. Kata-kata itulah yang membuatku sadar, bahwa hidup tidak akan berarti tanpa seseorang yang dapat kamu panggil teman, sahabat atau keluarga. Kata-kata itu jugalah yang membuatku berani keluar dari duniaku. Dunia yang sempit, kecil, tapi sepi. Tanpa ada seorang pun di sana kecuali aku.


Matahari sudah keluar dari peraduannya sejak tadi. Sejak tadi juga aku duduk di depan cermin. Menatap bayanganku yang dibalut kaos lengan panjang berwarna ungu, celana jins putih dan bando ungu kesayanganku. Semuanya sempurna. Tapi aku masih tetap merasa kosong. Bertambah 1 hari lagi. Hari yang aku lalui tanpa Bintang. Sungguh monoton dan membosankan.


'Shasa, ayo cepetan turun! Kamu nggak sarapan?' Suara mama terdengar memecah kesunyian.


'Iya ma…' Jawabku dan segera turun ke lantai bawah untuk memulai aktivitas rutin di keluarga ini. Sarapan bersama.


Begitu aku sampai di ruang makan, kulihat mama dan papa sudah menungguku. Aku segera duduk dan mengambil sepotong roti lalu mengoleskan selai kacang di atasnya.


'Makan roti aja nih? Nggak mau nasi goreng?' Tanya mama sambil menuangkan susu ke dalam gelasku.


'Nggak ma. Lagi pengen makan roti aja.' Jawabku sambil menyuapkan potongan roti terakhir ke dalam mulut. Setelah itu aku mengambil susuku dan meminumnya sedikit.


'Ma, Pa, aku berangkat dulu ya.' Kataku sambil mencium punggung tangan kedua orangtuaku.


'Iya sayang. Hati-hati ya…'



'Shasa!' Panggil Santy ketika melihatku turun dari taksi. Aku tersenyum dan segera menuju ke arahnya.


'Sha, kamu udah buat wish untuk bulan ini nggak?' Tanya Santy begitu aku sudah sampai ke tempatnya.


'Wish? Emangnya sekarang udah bulan berapa?' Aku balik bertanya. Bingung.


'Ya ampun Shasa… Kamu nggak punya kalender ya di rumah? Ini udah bulan Juli Sha. Masa kamu nggak tau sih?'


'Oh ya? Ya ampun, kok aku sampai nggak tau sih?'


'Bodo! Emang kamu tuh kenapa sih? Kayaknya akhir-akhir ini jadi lebih pikun tau nggak. Kamu nggak lagi kena Alzheimer kan?' Kata Santy nyolot.

__ADS_1


'Hahaha… Nggak lah bego! Gila aja kena Alzheimer. Demi sejuta cowok ganteng, amit-amit tau nggak!'


'Ya udah, kalau gitu sekarang kamu cepetan buat wish.' Kata Santy gregetan.


Aku dan Santy memang punya ritual di setiap awal bulan. Kami akan menulis permohonan, impian atau apapun yang kami inginkan dan rasakan di atas kertas. Setelah itu kami akan melipatnya menjadi pesawat kertas lalu diterbangkan bersama-sama. Kami berharap apa yang kami tulis itu dapat menjadi kenyataan. Aku segera mengambil pulpen dan kertas. Menuliskan apa yang aku inginkan di atas kertas itu dan melipatnya menjadi pesawat kertas.


'Udah selesai.' Kataku memperlihatkan pesawat kertas yang aku buat. Aku dan Shasa lalu bergegas menuju tempat andalan kami untuk menerbangkan pesawat kertas ini. Atap kampus. Tempat tertinggi yang bisa kami temui.


'Sha, siap-siap ya. Dalam hitungan ketiga, ok?' Kata Santy padaku.


'1…'


'2…'


'3…'


Pesawat kertas kami terbang dibawa angin. Menuju ke langit cerah tanpa awan. Membawa semua yang kami inginkan. Semua yang kami rasakan saat ini. Semoga semuanya dapat terkabul. Semoga pesanku dapat sampai kepadanya. Bintang, kamu di mana? Aku rindu kamu…



Mata kuliah hari ini tidak terlalu banyak, jadi aku bisa pulang cepat. Tapi aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku ingin berjalan-jalan dulu, jadi aku memutuskan untuk ke mall. Setelah berkeliling sebentar, aku melihat sesuatu yang menarik. Sedang ada bazaar buku besar-besaran di salah satu toko buku yang ada di mall ini. Kakiku segera menuju ke sana. Melihat-lihat buku yang menarik untuk dibeli. Tanpa sengaja, aku melihat buku kecil yang cover depannya bergambar sebuah bintang. You Are My Star. Itu adalah judul yang tertera di cover depannya. Tanpa aba-aba, tanganku terulur mengambil buku itu. Aku sudah menemukan yang akan aku beli.


Akhirnya sampai juga di rumah. Tempat pertama yang aku kunjungi adalah dapur. Melihat mama yang sedang memasak makan siang dan 'mencuri' sedikit makanan yang ada. Setelah itu aku segera menuju ke balkon kamarku. Aku segera mengambil buku yang aku beli tadi dan membuka lembaran pertama buku tersebut.


Aku segera terhanyut dalam cerita itu. Jalan ceritanya sama persis dengan jalan ceritaku dan Bintang. Hanya saja, aku tidak tahu kapan bisa bertemu kembali dengannya. Apakah ia juga merindukanku? Apakah ia juga sama sepertiku yang selalu melamunkan dirinya? Entahlah. Aku sendiri tidak tahu jawabannya.


Aku terkejut mendengar suara Boy Band kesayanganku, Super junior. Lagu Superman yang sedikit rock sangat kontras dengan lagu Daydream yang slow. Aku yang saat itu sedang mengerjakan PR segera mengambil handphoneku yang kuletakkan begitu saja di atas tempat tidur. Tertera 1 nama di layar. Santy. Untuk apa dia menelpon malam-malam begini? Aku segera mengangkatnya dan menekan tombol loud speaker.


'Hallo San. Kenapa?' Tanyaku.


'Shasa, gimana sama rencana ultah kamu?' Santy balik bertanya.


'Apanya yang gimana?'


'Ya ampun Shasa… Ya acaranya dong. Kamu nih kenapa sih?' Kata Santy dengan nada tinggi yang memekakan telinga.


'Ya gitu deh pokoknya. Emangnya kenapa sih?'


'Gini ya Sha. Ini kan ultah kamu yang ke-17, sweet seventeen gtu lho. Jadi kamu harus ngerencanain dengan sebaik-baiknya. Nah, aku yang notabenenya sebagai sahabat plus EO yang nggak perlu ditanya lagi soal keberhasilannya, bakalan ngebantu kamu buat nyusun acara ultah yang semeriah dan sebagus mungkin. Jadi, kamu harus udah buat daftarnya sekarang, biar bisa disusun.' Kata Santy panjang lebar.


'Daftar apaan sih? Aku nggak ngerti.'


'Ini nih kalau jadi orang hobinya cuman ngayal, ngeliat bintang, nulis puisi sentimentil yang ujung-ujungnya bikin nangis. Kamu tuh lahir di abad apa sih Shaaaaa…??'

__ADS_1


'Tapi aku bener-bener nggak tahu. Daftar apaan sih?'


'Iiiiihhh… kamu tuh percuma jadi juara umum 3 tahun berturut-turut di SMA kalau daftar acara aja nggak tahu. Kamu perhatiin nggak sih dulu waktu pak Udin ngajar bahasa indonesia? Ya daftar acaranya dong Shasa. Mau dekor pesta kamu tuh kayak apa? Berapa orang yang mau diundang? Ada special event nggak untuk orang yang kamu sayang di ultah kamu ini? Pokoknya yang kayak gitu deh…'


'Hmm. Aku nggak tahu daftar acaranya kayak gimana. Kamu nanya sama orangtua aku aja deh.'


'Justru mama sama papa kamu yang nyuruh aku buat nelpon kamu dan nanyain tentang konsep acara yang kamu mau. Soalnya ini kan sweet seventeen kamu, jadi semuanya special buat kamu. Kalau kata Cherrybelle tuh, istimewa. Hahaha…'


'Apaan sih bawa-bawa Cherrybelle segala? Nggak banget deh!'


'Hahaha… Iya deh, nggak. Atau kamu mau dekornya ala-ala Cherrybelle gitu? Hahaha…'


'Santy apaan sih? Nggak lucu tau nggak. Emangnya aku anak Tk labil? Iiiiihhh…' Kataku bergidik ngeri membayangkan seperti apa pestaku nanti jika dekorasinya memuat tema seperti Cherrybelle.


'Ya ampun neng, nggak suka sampai segitunya. Hahaha… Ya udah, sekarang kamu pikirin konsep acaranya mau kayak gimana dan kamu nentuin daftar acaranya. Pokoknya besok aku udah terima ya darling. Bye.' Kata Santy sebelum menutup telponnya. Sialan nih anak. Nutup telpon seenaknya! Batinku dalam hati.


Setelah pembicaraanku dengan Santy tadi, sekarang aku jadi punya tugas tambahan. Yaitu mencari konsep acara ulang tahunku. Aku adalah orang yang tidak terlalu memusingkan hal-hal seperti ini, jadi aku bingung harus mengambil tema dan konsep seperti apa. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar. Membiarkan angin malam masuk dan dengan leluasa mengisi kamarku. Malam ini cerah tanpa awan dan bintang-bintang dapat terlihat dengan jelas. Seketika aku tahu seperti apa konsep untuk ulang tahunku nanti. Bintang.


Aku berjalan anggun dalam balutan dress ungu di atas lutut. Rambut panjangku dibiarkan terurai begitu saja hanya diberi hiasan pita dengan warna senada. Aku menuruni anak tangga satu persatu. Menuju ke ruang tengah, tempat diadakannya ulang tahunku yang sudah didekor dengan berbagai dekorasi bernuansa bintang. Puluhan pasang mata sudah menungguku di bawah sana. Diantaranya ada orangtuaku dan Santy, sahabatku. Orang-orang yang sangat aku sayangi di dunia ini.


'Ok semuanya. Sang Primadona malam ini sudah keluar. Jadi, kita bisa mulai partinya…!!!' Kata Santy yang disambut dengan tepukan tangan dan teriakan riuh para tamu yang hadir yang kebanyakan merupakan teman-temanku. 'Sekarang, kita mulai acara intinya, yaitu pemotongan kue.' Lanjut Santy lagi. Aku segera menuju ke tengah ruangan di mana kue ulang tahunku sudah disiapkan. Semuanya menyanyikan lagu Happy Birthday untukku dan setelah itu aku memotong kue ulang tahunku.


'Potongan pertama buat mama sama papa aku. Tanpa mereka, aku nggak mungkin ada di sini dan acara ini nggak mungkin ada. Ma, Pa, terima kasih ya. Shasa sayang banget sama mama dan papa…' Kataku seraya memberikan potongan kue itu untuk mereka.


'Happy Birthday, honey…' Kata mama sambil mengecup keningku. Papa juga mengecup keningku dan menyuapkan sepotong kue untukku.


'Potongan kedua untuk Santy. Makasih banyak ya udah mau jadi temen, sahabat, keluarga dan tempat curhat yang baik buat aku, walaupun ujung-ujungnya juga kamu yang ngomongnya paling banyak. Makasih juga udah mau bantu aku buat nyelenggarain acara ini. Aku nggak tahu kalau nggak ada kamu aku harus gimana. Sekali lagi, thank you very much.' Kataku dan memberikan potongan kue kedua untuk Santy.


'Sialan! Maskara aku luntur tau!' Maki Santy sambil menyusut ujung matanya. 'Oh darling, you are welcome. Happy birthday, Shasa…' Lanjutnya lagi sambil memelukku.


Setelah acara pemotongan kue selesai, sekarang saatnya acara bebas yang diadakan di taman rumahku. Santy sedang berjoget dengan teman-temanku yang lain. Ada Putry, Rany, Lestari dan masih banyak lagi. Aku yang awalnya sedang mengobrol dengan beberapa temanku, sekarang sedang berdiri di ujung taman. Tempat tergelap dan tempat paling baik untuk dapat melihat bintang dengan jelas.


'Bintang, seandainya kamu ada di sini, mungkin ini akan jadi malam terindah dalam hidup aku. Bintang, I miss u. Miss u so much…'


Ulang tahunku sudah lewat 1 minggu yang lalu. Tapi pagi ini ada kiriman yang ditujukan buatku. Tulisan di kertas pembungkusnya Happy Birthday. Aku bingung, siapa yang mengirimkannya? Apalagi setelah dicek, tidak ada nama dan alamat pengirimnya.


'Ma, ini siapa yang ngirim sih?' Tanyaku pada mama begitu aku turun untuk sarapan.


'Nggak tahu sayang. Tadi pagi waktu mama lagi nyiram halaman ada pak pos yang nganterin itu, tapi waktu ditanya dari siapa, katanya nggak tahu. Waktu mama cek juga nggak ada nama sama alamat pengirimnya.'


'Huuufffttt… Aneh banget sih.' Kataku seraya menaruh kiriman itu di kursi sebelahku dan mengambil sandwich yang dibuat mama.


'Siapa tahu itu dari temen kamu yang nggak bisa datang. Dicek aja…' kata papa sambil memakan sandwichnya.

__ADS_1


'Mungkin juga sih. Bentar aja deh aku liat…'


__ADS_2