
Kategori: Cerpen Patah Hati
Judul: Unforgettable Day
_________________________
Ini adalah hari terakhir Masa Orientasi Siswa tahun ajaran 2013-2014, ditutup dan dimeriahkan dengan diadakannya Pentas Seni. Siswa siswi kelas XI dan XII turut berpartisipasi dalam acara ini, tak terkecuali Bram 'sang ketua OSIS-. Dan saat ini adalah gilirannya untuk menampilkan bakatnya di hadapan junior, teman, guru, serta warga sekolah lainnya.
Bram mulai memainkan gitarnya, semua penonton terdiam, angin sejuk berhembus kemana-mana, bulu kuduk mereka merinding mendengar alunan melodi darinya. Ya, alunan itu sungguh menggetarkan jiwa. Nada-nada masterpiece mengalun begitu saja, rileks dan bebas bagai angin.
Lagu itu masih mengalun. Ya, ksatria itu telah berhasil mengoyak kalbu setiap anak adam. Mengantar mereka masuk ke dalam setiap buih simfoni yang dimainkannya. Membuat semua yang mendengarnya terhanyut dalam petikan senar itu. Kini, Bram menggenggam emosi mereka. Ia menghipnotis mereka dengan menebarkan nuansa kedamaian, mengetuk sanubari, dan meluluhlantahkan jiwa saat lagu mencapai klimaks. Semua perhatian tertuju hingga akhir penampilannya, tepuk tangan pun bergemuruh tak terelakan lagi.
Lagu bertema romantis tadi menjadi tanda tanya besar bagi Cares. Apakah itu mewakili perasaan Bram padanya selama ini? Selama Bram bernyanyi tadi, Cares hanya tertunduk meresapi satu per satu lirik yang Bram nyanyikan dan semuanya menyelusup ke dalam relung jiwanya. Benarkah itu yang ia rasakan terhadap Cares? Kalau benar itu ditujukan untuk Cares, berarti ini adalah kejutan kedua dan yang paling indah yang Bram berikan di hari ulang tahun Cares setelah malam tadi.
Bram turun dari panggung seraya menebarkan seulas lengkungan di bibirnya. Cares mengira senyum itu tertuju untuknya, tapi ternyata Bram mempersembahkannya bukan untuk sahabatnya, tetapi untuk seseorang yang tengah menantinya di sana.
Bram melangkah menuju tengah-tengah lapang, menghampiri seorang gadis -berbadan mungil, berkulit hitam manis, berambut lurus, dan memiliki lesung pipi', dan mereka menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di sana saat itu.
Awan gelap yang menggelayut memudarkan pesona cerah. Sepertinya tak lama lagi hujan akan turun atau mungkin seperti kemarin. Hujan menggantungkan dirinya tanpa kepastian, awan gelap sejauh mata memandang tapi rintiknya tak juga jatuh ke bumi ini. Seharusnya langit jingga tampak saat ini, tapi semburat sore itu hilang ditutup langit yang kelam. Angkasa seolah menggelantung pada hati yang tak terdefinisi.
__ADS_1
Raut wajah kesedihan mulai tampak dari paras cantik Caresse Putri, 'Tuhan, apa arti semua ini? Jangan-jangan…' hati kecilnya bergumam tatkala ia menyaksikan sahabatnya tengah berlutut dan memohon pada adik kelasnya di bawah cakrawala yang membentang luas di sore hari ini.
Kini,
Aku tengah di hadapkan pada suatu pernyataan
Pernyataan yang mewakili isi hati
Hati yang telah kau ukir dengan sejuta pesona
Pesona yang membuatku seolah melayang
Kata yang memang sudah sepatutnya ku katakan
Ku katakan pada orang yang tepat
Tepat dalam segala hal
Hal yang telah menjadikanku yakin
__ADS_1
Yakin untuk mengungkapkan ini
Ini, rasa yang bergejolak dalam kalbuku dan berarti bahwa
Bahwa sekarang tapi untuk selamanya,
Aku mencintaimu
Mencintaimu dengan penuh rasa
Rasa untuk mengetahui
Mengetahui sebuah jawaban
Jawaban yang secara tulus terlahir dari suara hatimu
Hatimu dan hatiku semoga bisa berlabuh
Berlabuh menjadi satu hati
__ADS_1
Deg! Cares benar-benar hancur saat mendengar kata yang Bram lontarkan pada adik kelasnya itu. Kata-kata indah itu adalah sederet kata yang Cares temukan saat berkunjung dan membereskan kamar Bram. Awalnya Cares mengira kata itu akan Bram ucapkan padanya, tapi ternyata tidak! Kata indah itu, bukanlah untuk dirinya! Kalimat itu ternyata untuk dia, adik kelasnya!