Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Kamera Kayu (Part 1)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati Terpendam


Judul: Kamera Kayu (Part 1)


_________________________


Seorang remaja wanita yang cantik, pintar, aktif dan sangat bersahabat, bernama Rynandyne Vartitha. Ryna sangat terkenal di sekolahnya. Bukan karena kecantikkan, melainkan karena kepintarannya dan sifatnya yang 'supel'. Ryna juga salah satu murid yang dikagumi oleh semua guru di sekolahnya. Selain karena kepintarannya, dia juga memiliki sifat ramah dan sopan terhadap semua orang. Dia aktif berorganisasi dan mengikuti perkumpulan-perkumpulan yang positif tentunya.


Kegiatan Ryna tidak hanya dihabiskan untuk belajar dan berorganisasi, dia juga mempunyai hobi yang cukup unik untuk seorang remaja wanita jaman sekarang, yaitu fotografi. Awal dari hobinya itu karena dia sering diajak untuk 'hunting' foto oleh kakak-kakaknya, yaitu Kak Gibran dan Kak Rezky, ke tempat-tempat yang sangat indah. Karena ketakjubannya itu, dia mengikuti jejak kakak-kakaknya yang menggilai fotografi.


Tetapi beberapa bulan ini, Ryna harus memendam hasratnya untuk keliling mencari objek-objek fotonya karena kakak-kakaknya mulai sibuk kuliah kembali di luar kota sehingga orangtuanya sering melarang Ryna untuk bepergian yang jauh dikarenakan Ryna anak perempuan satu-satunya di keluarganya dan tidak ada yang mengawasinya selain kakak-kakaknya. Tapi ya namanya juga remaja. bandel sedikit gak papa lah, dia beberapa kali pernah pergi ke luar rumah tanpa sepengetahuan orangtuanya, untuk mengobati rasa rindunya terhadap hobinya itu.


Selain dia mempunyai hobi yang unik, ternyata dia juga mempunyai barang yang sangat unik dan kramat untuknya. Kalau barang itu hilang, Ryna bisa panas dingin kelimpungan nyariin tuh benda kesayangannya. Dan benda itu adalah kerajinan dari kayu yang berbentuk kamera. Dia mendapatkannya dari orangtuanya sewaktu pergi ke Jepara 10 tahun yang lalu. Kamera kayu itu selalu tergantung di tas kamera yang bermotif 'Minnie Mouse' yang ia bawa kemana dan kapan saja.


Di koridor sekolah, Ryna terlihat terburu-buru. Ternyata dia hampir terlambat hari ini karena kemarin dia mengantarkan Kak Rezky ke kostannya di daerah Depok, sehabis mengisi liburan panjangnya bersama keluarga di Jakarta.


Dari jauh tampak seorang anak laki-laki sedang berdiri di depan pintu kelas bersama dengan teman-temannya. Oh ternyata itu adalah Bian. Bian adalah musuh bebuyutan untuk Ryna. Kalau mereka sudah bertemu, rasanya dunia ini mau perang dunia ketiga, nggak ada akurnya sama sekali, kayak kucing dan anjing yang kerjaannya kejar-kejaran dan berantem terus. Ryna melewati Bian tanpa waspada, Ryna berpikir Bian bakal tobat setelah liburan panjang. Tanpa Ryna sangka, Bian menyelengkat kaki Ryna, sayangnya Ryna punya siasat agar tidak jatuh. Jadi Ryna tidak menjadi bahan lelucon pagi itu. Dengan wajah sinis dan sombong karena tidak termakan jebakan Bian, Ryna menatap Bian sambil berjalan ke kelasnya dan bergumam di dalam hati.


'Liat aja pembalasan gue' Gumam Ryna.


Bel istirahat pun berbunyi. Ryna memantapkan niatnya untuk membalas perbuatan Bian tadi pagi.


Saat di kantin, Ryna memanfaatkan kondisi kantin yang sangat ramai. Tak lama setelah Ryna membeli susu coklat panas, ia melihat Bian memasukki kantin. Ryna langsung beranjak dari tempat duduknya dan berpura-pura membeli makanan di tempat yang sama dengan Bian. Tepat di belakang Bian dan ketika Bian balik badan, Ryna dengan sengaja menabrak dan menumpahkan susu coklat panasnya itu di seragam Bian.


'Eh, maaf maaf. Belakang gue tuh yang dorong-dorong, jadi tumpahkan di baju lo. Panas ya? Sini gue tiupin.' Ledek Ryna.


'Ini susu apa air mendidih sih? Kayaknya lo mau buat kulit gue ngelotok deh. Panas banget!' Kata Bian sambil meringis kepanasan.


'Oh iya gue lupa! Abis istirahat ada ulangan matematika. Bersihin sendiri ya. Dadah.. bye..' Ejek Ryna


'Kurang ajar banget tuh cewek, udah bikin baju gue kotor malah ninggalin lagi. Tapi lama-lama kalau dilihat manis juga ya' Kata Bian dalam hati.


Sepulang sekolah, Ryna sering beraksi dengan kamera kesayangannya itu di lantai 4 sekolah. Menurut Ryna, disana tempat yang paling cocok untuk mengambil objek pemandangan ke langit maupun ke sekitar sekolah. Saat sedang membidik pemandangan langit sore yang kejingga-jinggan, tiba-tiba ada yang menepuk pundak Ryna dari belakang. Seketika Ryna kaget dan hampir melepaskan kameranya dari genggamannya. Ternyata pelakunya adalah Bian. Melihat wajahnya Bian, Ryna langsung memasang wajah perang yang siap tempur.

__ADS_1


'Mau apa lagi sih? Mau minta ganti rugi gara-gara baju lo jadi kotor? Atau kulit lo udah ngelotok?' Sinis Ryna.


'Engga kok. Cuma pengen ingetin kalo pulang jangan sore-sore terus kalo gak ada kegiatan lagi. Jangan lupa makan, oke' Ucap manis Bian.


'Hah? Hahaha' Tawa Ryna.


Melihat perilaku Bian menjadi aneh dan nggak mau kesambet setan yang sama, Ryna langsung pergi dan turun ke lantai 1.


'Kesambet apaan sih tuh orang jadi manis gitu omongannya? Halah, paling cuma bagian dari rencana balas dendamnya. Hahaha gue gak bakal kejebak kali' Pikir Ryna.


Setelah beberapa hari dari kejadian sore itu, tidak ada tanda-tanda peperangan di kubu Bian, yang ada malah omongan Bian yang makin hari makin manis. Bian menjadi sangat perhatian pada Ryna. Awalnya Ryna tidak percaya, tapi lama-kelamaan Ryna mulai terbiasa. Ryna pikir, mungkin memang Bian sudah tobat. Ryna menerima dengan baik dan bersyukur kalau Bian ingin menjadi temannya.


Teman-teman sekolah Ryna dan Bian yang sudah terbiasa melihat ketidakakuran Ryna dan Bian, menjadi heran dan bertanya-tanya sekarang melihat Ryna dan Bian selalu bersama. Serba salah sih jadi mereka, kalau akur dibilang aneh tapi kalau berantem diprotes.


Setelah menghabiskan waktu bersama, Bian merasakan perubahan pada hatinya. Awalnya dia bisa memungkiri semuanya tapi lama-kelamaan rasa itu makin kuat. Bian pun berpikir apakah ia jatuh cinta pada Ryna? Mustahil saja yang bermula dari musuh lalu menjadi sahabat sampai sekarang dan tiba-tiba menjadi cinta. Tapi apa saja bisa terjadi, yang tidak mungkin pun bisa menjadi mungkin. Bian pun memutuskan untuk memendam dan mencoba meyakinkan dirinya kembali.


Keesokkannya seperti biasa Ryna menghabiskan waktu sorenya di lantai 4 sekolahnya dengan memotret pemandangan langit yang indah sore itu, tapi kali ini ditemani mantan musuhnya, Bian. Bian akhir-akhir ini sabar menunggu Ryna hingga sore di sekolah. Ryna menganggap ada yang aneh pada Bian. Tetapi dia tidak mengambil pusing soal hal itu. Mungkin Bian hanya ingin menebus kesalahan-kesalahannya.


Bian hanya termenung melihat Ryna yang sedang asik dengan dunia fotografinya. Bian ingin mengutarakan isi hatinya pada Ryna, tapi dia bingung dengan cara apa dia mengutarakan itu semua pada Ryna. Suasana pada saat itu sangat hening, Ryna mencoba membuka percakapan.


'Oh si Tiar. Kenapa Ryn?' Balas Bian.


'Gak papa sih. Gua pengen cerita tapi lo jangan ketawa ya!' Ujar Ryna.


'Ya udah sih cerita aja. Apa jangan-jangan lo suka lagi sama dia? Hahaha. Iya kok, gak bakal' Jawab Bian.


'Ih, gak gitu ian. Jadi ceritanya gue deket gitu sama dia beberapa hari ini. Pertamanya enak banget ngobrol sama dia. Dia orangnya lucu gitu. Tapi hari ini dia beda banget. Jadi cuek gitu, padahal gue udah nyaman sama dia dan kayaknya gue suka deh sama dia' Kata Ryna sambil tersipu malu.


'Tuh kan bener kata gue. Sikat aja Ryn. Gue dukung kok' Jawab Bian yang menutupi rasa sakit hatinya.


'Hahaha bisa aja lo. Tapi kecewa aja dia jadi cuek gitu sekarang' Balas Ryna.


'Dia belum terbiasa kali karena kebawelan lo, jadi agak kaget gitu. Makanya dia kayak gitu hahaha.' Kata Bian yang mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


'Ih gua nggak bawel kok. Cuma perhatian aja.' Senyum Ryna.


'Iya-iya, lo cewek paling perhatian kok di hati gue hahaha. Ayo kita pulang aja! Bosen di sini. Nyokap masak enak di rumah tuh katanya lo suruh nyobain' Ajak Bian.


'Setuju deh kalo soal makan. Ayo!' Semangat Ryna.


Bian terlihat lesu mengetahui Ryna menyukai orang lain. Tapi dia akan lebih sakit hati lagi apabila orang yang dicintainya itu disia-siakan oleh orang lain dan melihatnya sedih. Seketika rasa pilunya itu hilang melihat Ryna tersenyum dan tertawa kembali. Walaupun senyum itu bukan karenanya.


Pagi harinya, Ryna terbangun dengan kondisi tubuh yang tidak bisa digerakkan sama sekali. Dia merasakan menggigil yang luar biasa tapi keringat yang keluar dari tubuhnya terus mengalir. Beberapa hari ini, bagian-bagian tertentu dari tubuh Ryna menjadi kaku, tetapi dia tidak memberitahukan keluhannya itu pada orangtuanya. Ketika orangtuanya melihat Ryna dalam keadaan tersebut di kamarnya, mereka terlihat sangat panik karena sebelumnya Ryna tidak pernah mengeluh apa-apa tentang kesehatannya kepada orangtuanya. Tanpa berpikir panjang orangtuanya membawa Ryna ke rumah sakit dan menghubungi kakak-kakak Ryna untuk segera ke pulang Jakarta pada saat itu juga.


Setelah sampai di rumah sakit, Ryna langsung ditangani dengan tim medis rumah sakit tersebut. Tahap-tahap yang dilewati Ryna sangat panjang dan lama. Bunda Ryna menangis terisak-isak, karena sebelumnya Ryna tidak pernah sakit sampai seberat ini. Beberapa jam kemudian, Ryna sudah boleh dipindahkan ke ruang perawatan intensif dengan pengawasan perawat dan dokter spesialis yang menangani penyakit Ryna. Ryna juga ditemani kakak-kakaknya yang baru saja tiba di rumah sakit, sedangkan orangtuanya menemui dokter untuk mengetahui apa yang terjadi pada anak perempuannya itu.


Dokter membacakan dan menjelaskan hasil dari proses pemeriksaan Ryna tadi. Dokter mendiagnosa bahwa Ryna mengidap penyakit 'lupus'. Orangtua Ryna sangat terkejut tentunya mendengar diagnosa dokter. Ayah Ryna tak kuasa lagi menahan air mata yang sejak tadi membendung di matanya. Tangisan Bunda Ryna pun makin menjadi-jadi.


Orangtua Ryna mengangis tak henti-henti terutama Bunda Ryna sambil berjalan menuju ruang perawatan di mana Ryna berada. Sesampainya mereka di ruangan itu, kakak-kakak Ryna terlihat khawatir melihat orangtuanya menangis. Kakak-kakak Ryna meminta penjelasan kepada orangtuanya, apa yang sebenarnya terjadi kepada adik kesayangannya itu. Perlahan-lahan Ayah Ryna dengan tenang menjelaskan tentang penyakit yang diderita anggota keluarga kesayangan mereka itu. Mata kakak-kakak Ryna terlihat berkaca-kaca saat menyimak penjelasan Ayah. Setetes air mata jatuh dari mata kak Gibran dan kak Rezky yang diikuti tetesan berikutnya mengalir di wajah mereka.


Tak sengaja Ryna mendengar percakapan antara orangtua dan kakak-kakaknya. Suara tangisan yang begitu keras membangunkan Ryna dari tidurnya. Ryna tak sepenuhnya sadar tetapi ia masih bisa mendengar apa yang diperbincangkan oleh mereka. Ryna tak percaya dengan perkataan orangtuanya bahwa ia mengidap penyakit lupus. Dia merasa sehat dan yang sekarang dirasakan Ryna hanya demam biasa. Beberapa gejala yang dikatakan orangtuanya sama seperti apa yang dirasakan Ryna sebelumnya. Ryna pun tetap menyangkal kalau dokter salah mendiagnosis. Tekanan yang dirasakan Ryna pun bertambah setelah melihat orangtuanya menangis. Ryna paling tidak tega dan sangat sedih melihat orangtuanya menangis apalagi sekarang orangtuanya menangis karenanya. Tak sengaja air mata Ryna jatuh bergiliran. Ryna ingin mengakhiri semua tangisan pada orangtua dan kakak-kakaknya, dan membuktikan bahwa ia tidak kenapa-kenapa, perkataan dokter itu tidak benar, dia salah mendiagnosis, tapi dia tak berdaya karena obat bius yang diberikan dokter belum habis.


Beberapa menit kemudian, Ryna sudah sadar total. Orangtua dan kakak-kakaknya berusaha kuat dan tegar di depan Ryna. Mereka tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ryna. Ryna pun tidak mengungkit-ungkitnya kembali karena memang dia tak percaya dengan itu semua.


Beberapa hari setelah itu, Bian datang menjenguk Ryna. Bian sudah tahu apa yang terjadi pada Ryna dari orangtua Ryna. Bian tak kuasa melihat orang yang dicintainya tak berdaya di tempat tidur. Tapi melihat Ryna tersenyum, Bian percaya bahwa Ryna adalah perempuan yang kuat. Percakapan mereka pun dimulai dari Ryna.


'Ian, kira-kira Tiar tau gak ya gua di rumah sakit sekarang?' Tanya Ryna.


'Yaelah Ryn, lo lagi sakit gini masih mikirin Tiar. Fokus sembuh dulu lah.' Jawab Bian.


'Iyalah gua mau cepet-cepet keluar dari sini. Orang gua gak sakit apa-apaan tapi di rawat berminggu-minggu gini. Tapi serius deh, kok dia cuek banget ya? Gua salah kali ya sama dia?' Pikir Ryna.


'Lo gak salah kok Ryn. Udah mending lo jangan bandel kalau disuruh makan dan minum obat, mau cepet pulang terus ketemu sama Tiar kan? Mungkin Tiar cuek gini karena lagi nyiapin kejutan buat lo. Semangat!' Bujuk Bian.


'Emang deh cuma lo yang bisa bikin gua terbang berkhayal tinggi. Tapi jangan tiba-tiba jatuhin pas gua lagi terbang gini. Hahaha.' Canda Ryna.


Suasana yang semula sedih sekarang menjadi cair dengan candaan Bian dan Ryna.

__ADS_1


Tak terasa waktu kunjungan atau jam besuk pun sudah habis. Sebenarnya Bian tak ingin meninggalkan Ryna tetapi lagi-lagi senyuman Ryna lah yang meyakinan Bian kalau Ryna adalah perempuan yang kuat.


Sepulang dari menjenguk Ryna, dia berpikir, begitu teganya Tiar menyia-nyiakan Ryna. Ryna hanya cewek polos tapi seolah-olah Tiar hanya mempermainkannya. Tiar datang dan pergi sesukanya tanpa memikirkan perasaan Ryna. Dan sekarang ditambah lagi dengan penyakit Ryna yang begitu berat. Ryna menjalani itu dengan santai walaupun Bian tahu ada rasa sakit hati pada Tiar. Tak tega melihat Ryna merasakan itu semua, Bian mengajak Tiar untuk bertemu.


__ADS_2