
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Judul: Game of Love (Part 2)
_________________________
29 September 2013
Aku masuk ke sebuah kamar rahasia yang ada di rumahku dimana hanya aku yang tahu apa isinya, aku membuka kamar itu, terlihat seorang gadis sedang tertidur panjang, di tubuhnya terpasang alat-alat medis untuk membuatnya tetap hidup.
Aku berkata padanya “tadi malam kau datang di mimpiku lagi, kau coba menekanku agar aku merasa bersalah padamu?. ha.. ha.. sayangnya tidak berhasil, kau belum mati, dan aku takkan membiarkan kau mati sebelum kau menjawab semua pertanyaanku, terutama kalung berlian milik keluargaku yang kau dan Vasto curi 2 tahun yang lalu, itu semua bukan salahku, kau lah yang memilih, kenapa kau menyelamatkanku setelah kau menyakitiku, aku mencoba untuk lupa tapi tak pernah bisa, sihir apa yang kau pakai, sadarlah Kiran sampai kapan kau akan tertidur seperti ini, kenapa kau tak bangun, apa kau menunggu seseorang?, Vasto kah yang kau tunggu?, aku menahan kesedihanku, aku tak mau menangis di depannya walau aku tahu Kiran sedang tidur panjang tapi aku yakin jiwanya melihat dan mendengarku saat ini.
Dalam tidur pun yang kau lihat hanya dia?, kenapa kau harus menyelamatkanku saat itu, aku tak mengerti, kau benar-benar membuatku benci untuk mencintaimu.. buat aku membencimu lagi, melihatmu tertidur membuatku muak, cepatlah bangun.
Tapi Kiran tetap tertidur, membuatku pergi mengunci kamar.
Kulihat Sunny sudah berdiri di hadapanku.
“hai, sudah lebih baik?”. dia bertanya padaku.
“maksudmu apa?”.
“kenapa kau semakin memperumit masalahmu, biarkan saja Kiran tertidur selamanya, bukankah kau sangat membencinya”.
“aku ingin membuatnya menderita”.
“cih, bukannya kau yang menderita ya, setiap hari terus berharap agar dia bangun, doamu itu takkan terkabulkan”.
Aku tertawa.. “ha.. ha.. ha.. kau takut Kiran akan bangun dan mengambil semua yang kau ambil darinya”.
Dia kaget dengan perkataanku “apa!!!”.
“kita bertunangan hanya untuk mencapai tujuan kita sendiri tanpa ada cinta, tujuanmu adalah mengambil kehidupan Kiran… bahkan setelah Kiran masih tertidur kau masih saja ketakutan”.
“kau mengejekku”.
“tenang saja, sebentar lagi dia akan bangun setelah menjelaskan semuanya padaku, aku akan melepaskannya”.
“akan bangun? kau akan memanggil Vasto?”.
“aku akan menemukannya”.
Sunny lebih takut lagi kalau Robby akan menemukan Vasto, diam-diam dia pergi ke sebuah ruko lama yang sudah tak terpakai, disitu dia menemui Vasto yang wajahnya kelihatan sangat kotor, jenggotan dan kumal.
Dia berbicara dengan Vasto “Robby masih belum menyerah untuk mencarimu Vasto”.
“ini pasti akan terjadi”.
“cepatlah pergi dari sini sebelum Robby menemukanmu”.
“apa Kiran baik-baik saja?”.
Flashback
Kiran sedang bekerja di perpustakaan tak lama Vasto datang. setelah pintu ditutup oleh Vasto, Vasto langsung tiduran di pangkuan Kiran, wajah Kiran sedang murung. Kiran membelai-belai rambut Vasto, Kiran tahu jika Vasto tiduran di pangkuannya tanda dia sedang banyak masalah.
“kau tidak menyambutku dengan senyummu seperti biasa, kau kenapa?”. Vasto mulai bertanya.
“aku melakukan ini demi kita dan kakekku”.
Vasto bangkit, dia memegang wajah Kiran “kau merasa lelah, kita bisa berhenti kalau kau mau, kita bisa mencari jalan lain”.
Kiran menggeleng sambil tersenyum “jalan lain apa, coba jelaskan kau pasti belum menemukannya”.
“aku berpikir terus sejak tadi, aku tak suka kau terus melakukannya, apa perasaanmu baik-baik saja, apa Robby itu memperlakukanmu dengan baik, kita bisa berhenti Kiran, walau aku belum menemukan caranya kita pasti bisa”.
Kiran melepaskan tangan Vasto dari wajahnya lalu dipegangnya erat-erat “jika kita berhenti sekarang mungkin Robby takkan melepaskan kita berdua”.
Sunny menjawab dengan nada pahit “dia baik-baik saja, kau masih khawatir padanya?”.
“aku ingin bertemu Robby, bisakah kau membantuku lagi” Vasto menjawabnya.
“kau gila, aku berusaha mati-matian menyembunyikanmu darinya kenapa kau malah ingin bertemu dengannya”.
“urusan ini harus diselesaikan, aku tak ingin bersembunyi terus seperti orang pengecut, aku minta kau membantuku sekali lagi”.
“kau dan Robby sama-sama suka seenaknya sendiri, apa ini yang kalian lakukan setiap hari pada Kiran, lalu mau melakukannya lagi, aku bukan Kiran yang menerima semua terjadi padanya, kau bisa bersembunyi”.
“aku tak bisa bersembunyi selamanya, Robby mengejarku tanpa alasan yang jelas, kau tak tahu bagaimana rasanya menjadi buronan selama 2 tahun, aku ingin menghadapinya sendiri, aku tahu kau melindungiku demi janjimu kepada Kiran, aku akan mengingat terus kebaikanmu sepanjang hidupku”.
Sunny mengingat ketika dia melihat Kiran bersama Vasto untuk pertama kalinya.
Flashback.
Saat Sunny lewat di depan perpustakaan tempat Kiran bekerja, Sunny melihat Kiran tertawa-tawa bersama seorang anak laki-laki berseragam sma, Sunny mengenalnya anak itu Vasto, bukankah dia anak dari sma hurricane yang terkenal suka tawuran itu, kemarin gengnya dia saja menyerang anak-anak smaku, bahkan aku juga kena, kenapa dia bisa tertawa bersama Kiran, Kiran belum tahu. malamnya aku menginterogasi Kiran mengenai hal ini di kamarnya, aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Kiran sedang belajar mungkin mengerjakan tugas.
__ADS_1
“Kiran ada hal yang ingin kutanyakan padamu”.
“mengenai pelajaran ya Sunn?”.
Ini anak, Sunny melanjutkan “bukan, ini mengenai anak tawuran itu”.
“anak tawuran?, aduh maaf maksudnya apa ya aku nggak ngerti”.
“iih, si Anvasto pemimpin geng tawuran masa kamu nggak tahu sih”.
Dia tampak berpikir lalu kemudian ingat “oh, Vasto dari sma Hurricane, kamu kenal juga ternyata, eh tahu darimana aku kenal dengannya, Vasto memberitahumu?”.
Apa-apaan dia kenapa ekspresinya terlihat senang saat aku membicarakannya “tentu saja aku kenal, dia kan terkenal si pembuat masalah dari sma hurricane, kau pasti tak tahu itu, apa kau ditipu olehnya?”.
Kiran tersenyum “aku tahu itu, dia pemimpin tawuran dari sma Hurricane, suka membuat masalah dimana-mana, berkali-kali akan dikeluarkan tapi tak bisa karena kejeniusannya, Vasto sendiri yang bercerita padaku”.
Aku tersentak “dia sendiri yang bercerita? lalu kenapa kau tak menjauhinya?”.
“aku menduga kau dan orang-orang lain yang mendengar aku dan Vasto berteman pasti terheran-heran mengapa aku mau berteman dengannya, awalnya aku mengira dia berbeda denganku, dia orang yang kasar, suka marah-marah, tapi aku mendengar dan merasakan hatinya, jadi seperti ini dia, dia orang yang naif, aku merasakannya”.
Aku tak pernah percaya kata-kata Kiran mana mungkin orang naif bisa menjadi pemimpin geng tawuran, sampai suatu hari, kakiku keseleo gara-gara kecerobohanku sendiri sms'an di tangga, sampai aku jatuh, aku sengaja tak memberitahu Kiran, aku tak ingin dibantu dia kali ini, jadi aku pulang sendirian jalan menahan sakit, sialnya lagi di perjalanan aku terjebak tawuran, aku melindungi diri dengan menutupi tubuhku dengan seng yang kutemukan di jalan saat sedang berjalan aku ditabrak oleh seseorang, aku terjatuh, lalu aku segera melihat siapa yang menabrakku, ternyata dia Vasto, dia seperti lari dari sesuatu, aku ingin mengejarnya, tapi aw, aku tak bisa bangun”AW”, mungkin karena dia mendengar rintihanku, dia berbalik menanyaiku, lalu memegang kakiku yang keseleo “aw itu sakit tahu!!!”.
Dan tanpa ba.. bi.. bu dia langsung menggendongku di belakang, “hei apa yang kau lakukan”, aku terus berontak meminta dilepaskan, setelah agak jauh dari tempat tadi dia melepaskanku begitu saja hampir aku terjatuh lagi aku berteriak memarahinya “aduh, sakit”.
Dia juga ikut marah “tadi minta dilepaskan sekarang sudah terlepas kan, aku pergi dulu”.
“hei, jangan tinggalkan aku sendirian disini.. kakiku sakit sekali” Sunny benar-benar merasakan sakit di kakinya bertambah parah.
Vasto menghela napas panjang lalu dia tetap mengantarkan Sunny pulang ke rumahnya.
Setelah sampai Sunny langsung masuk ke rumahnya tanpa mengatakan apa-apa, Vasto juga tanpa mengatakan apa-apa langsung pergi tapi tak lama Vasto pergi Sunny kembali hanya melihatnya pergi, “kenapa dia langsung pergi tanpa menungguku dulu”.
Sunny teringat bahwa perkataan Kiran benar, dia lalu berkata pada Vasto “kalau aku membantumu apa yang kau akan lakukan padaku”.
Vasto heran “apa maksudnya”.
“lupakanlah, aku akan membantumu”.
Kantor Robby
Di ruang kerjanya, Robby melamun mengingat masa-masa bersama Kiran.
Flashback
Dia menjawab “iya”.
Kiran selalu begitu, menjawabku dengan datar, dia jarang tersenyum padaku, tak seperti aku tersenyum padanya.
Kiran berkata lagi “cinta bisakah diterima tanpa menyiksa?”.
Aku yang bingung dengan pertanyaan Kiran bertanya “cinta yang menyiksa? apa yang membuatmu berkata seperti itu”.
Dia menjawabnya “Robby jangan mencintaiku terlalu dalam bila kau tak ingin terluka nantinya”.
“maksudmu aku akan terluka jika mencintaimu, mengapa?” aku bukannya tak tahu maksud perkataan Kiran tapi aku tak mau tahu dan tak ingin tahu.
Kiran tersenyum dingin seperti biasanya.
Aku berkata padanya “kau bagai racun yang menyakitiku sampai rasanya mau mati tapi aku memilih terluka daripada meninggalkanmu”.
Kali ini Kiran menatapku setelah aku berkata seperti itu.
Aku menatap foto aku dan Kiran, aku berkata pada Kiran dalam foto itu “lubang di hatiku masih tersisa untukmu”. tepat aku mendapat sms dari nomor yang tak dikenal, aku tak percaya segera aku meninggalkan kantorku, sampai di tempat tujuan yang masih sepi, kemana dia?”.
“aku disini Robbyan Ketsuga”. suara orang itu memanggilku.
Aku tertawa sinis “nyalimu sangat berani memanggilku untuk bertemu langsung denganmu, kau tak takut aku membawa polisi untuk menangkapmu”.
Vasto juga tertawa sinis “kalau kau memanggil polisi kau takkan pernah tahu dimana kalung itu disembunyikan”.
“kau ini hanya seorang anak berandalan, tak berguna, aku ingin mempercepat saja dimana kalungnya”.
“aku tahu aku memang sampah sejak aku dilahirkan, tapi aku takkan pernah mencuri itu takkan pernah ada di hidupku”.
“sampah sepertimu takkan bisa dipercaya, kau dan Kiran sama-sama berencana mencuri kalung ku kan, akui saja”.
“tidak, dari awal kami tak pernah mengincar kalungmu, kami hanya mengincar uangmu, tapi itu sudah berhenti aku yang menyuruhnya berhenti, kalau tak percaya kau boleh memeriksa isi tasku, rumahku geledah semua”.
“lalu kenapa kau bersembunyi tanpa mengatakan hal ini padaku”.
“itu karena Sunny yang menyuruhku diam dan bersembunyi, dia berkata jika kau menemukanku kau akan membunuh aku dan Kiran, sekarang aku berani menemuimu karena aku tak bisa bersembunyi terus darimu, kau boleh lakukan apa saja denganku, tapi tidak dengan Kiran, lepaskan Kiran”.
Aku malah semakin heran “kau bilang Sunny yang memberitahumu”. aku tak merasa aku mengatakan semua itu pada Sunny, jangan-jangan Sunny…
Di rumah Robby Sunny menemukan kunci rahasia kamar Kiran, dia membuka lalu melihat Kiran, dia berbicara pada Kiran “aku sangat kasihan melihatmu seperti ini, kau hidup susah sejak kecil, aku dan kakek menemukanmu di jalanan sedang mencari makanan di tempat sampah, seketika itu juga aku yang sendirian merasa kasihan padamu membujuk kakek untuk menjadi temanku, kakek setuju kakek tak hanya menjadikanmu temanku tapi juga saudara angkatku, dan aku segera menyesalinya, kau mengambil kehidupanku, membuat kakek sangat sayang padamu melebihiku, kau melakukan semua yang kakek mau, menggeser posisiku, kau harusnya tahu aku putri di rumahku sendiri, bukan kau, memang pada awalnya aku sangat senang kau ada tapi itu hanya sebentar setelah kau mengambil semua yang harusnya menjadi milikku, kau setelah kakek lalu Robby setelah itu Vasto, semuanya menyukaimu, aku sangat benci itu, makanya aku merencanakan ini mencuri kalung keluarga Robby, ini bukan salahku tapi kebodohanmu yang menceritakan kalung itu padaku, lihatlah betapa cantiknya kalung ini, kau juga bodoh melindungi Robby yang akan kutabrak, aku benci dia karena menyukaimu padahal kau menipunya, aku mencuri kalung ini agar Robby membuka mata hatinya tapi dia tetap memikirkanmu bahkan membiarkanmu hidup, aku berpikir dia akan berpaling dariku tapi tidak gara-gara kau menyelamatkannya, aku juga tak bisa membunuhmu karena kau banyak berjasa dalam hidupku, jadi membiarkanmu tahu seperti ini membuatku lega, setelah ini aku akan mengubur kalung ini, takkan ada yang tahu bahwa ini permainanku bukan permainanmu, Sunny bersiap pergi saat Kiran membuka matanya, Sunny melihatnya, mata Kiran terus menatap Sunny, mulutnya hendak bicara, Sunny melanjutkan bicaranya “kau ingat kakek selalu memanggilmu Bulan sinar malam bulan menenangkan kakek, sedangkan aku matahari sinar pagi selalu menyemangatinya, tapi yang kulihat kakek hanya membutuhkan bulan di sampingnya, bulan membuatnya tenang, sedang tanpa matahari kakek pun bisa hidup”. Sunny segera pergi, tapi dihadang oleh Robby, Vasto dan anggota kepolisian.
Sunny kaget “sejak kapan kalian tahu”.
Robby menjawabnya “kau harusnya melihat keadaan sekelilingmu, aku memasang cctv di kamar Kiran supaya tahu siapa saja selain aku yang masuk ke kamarnya”.
__ADS_1
Sunny berkata “dalam sunyi ku impikanmu kulukiskan kita bersama namun selalu aku bertanya adakah aku di mimpimu?, aku selalu bernyanyi seperti di depanmu, kau boleh menganggap aku tak ada, tapi adakah kau di hati Kiran, kau sama sepertiku haus akan cinta, cinta yang takkan pernah kau dapatkan.. ha.. ha.. ha”.
Aku geram dengan perkataan Sunny, aku bilang pada polisi “bawa dia pergi, aku akan menyelesaikannya nanti”.
Mereka lalu membawa Sunny pergi.
“Ja…ng..an” aku mendengar suara Kiran, aku langsung melihatnya mencoba berdiri, tapi dia terjatuh, aku langsung memeluknya “kau sudah sadar Kiran”.
Tapi Kiran berkata “Va.. s.. to”.
Aku diam saat dia mengetakan nama Vasto, aku menggendurkan pelukanku, Kubawa dia kembali ke tempat tidur, Vasto bersiap pergi, Kiran membuka matanya dia tahu itu aku dia tersenyum.
Aku berkata padanya “jangan berkata apa-apa, kau baru sadar”. aku melihat Vasto sudah pergi.
Beberapa hari kemudian
Kiran sudah boleh berjalan kembali, kondisi kesehatannya membaik, kami tak banyak bicara, aku menunggu saat ini ada banyak pertanyaan di pikiranku yang ingin kutanyakan padanya, aku mengunjunginya dia sudah ada di rumah lamanya, ada suster yang kusewa untuk merawatnya, orangtua angkatnya sibuk mengurusi Sunny di penjara.
Kiran menulis di bukunya, ketika aku datang.
“apa yang kau tuliskan Vasto, dia tak pernah datang kan, atau kalian mempunyai rencana lagi untuk menipuku?”.
Kiran menghentikan menulisnya lalu bicara padaku “masih belum padamkah dendammu pada kami?, kau sangat membenci kami benarkah begitu, meski bukan kami pelaku sebenarnya?”.
“meski kalian bukan pelaku sebenarnya, kalian tetap penipu, beruntung aku masih berbaik hati tak melaporkan kalian”.
“kau kesini menginginkan imbalan, apa yang kau mau?”.
“kau tentu tahu mauku dari dulu hanya kau, bukan hanya kau tapi hatimu, kau tentu pernah mendengar seorang pria bukan hanya menginginkan wanita yang dicintai ada di sampingnya hatinya juga”.
“aku tak mau melakukan kesalahan yang sama, kau sudah tahu jawabannya, lepaskan aku”.
“mengapa, setelah semua yang kulakukan untukmu, kau membalasku dengan luka dan pengkhianatan yang kau lakukan”.
“sepanjang hidupku aku hanya hidup untuk orang lain, kali ini biarkan aku memilih kehidupanku sendiri, biarkan aku pergi.. luka dalam hatimu juga akan pergi jika aku pergi, kau bilang kau akan lakukan apapun demi aku, kali ini aku minta untuk terakhir kalinya hapus memori tentangku dari dalam ingatan dan hatimu, lupakan aku”.
“bagaimana jika aku tak mau?”.
“aku akan melepaskan diriku darimu, kau tahu aku bisa lakukan hal nekad apapun”.
“termasuk menyelamatkanku waktu itu, kenapa kau menyelamatkanku?”.
“karena aku ingin kau utang budi padaku, aku ingin lepas dari bebanmu, kita sudah impas, aku tak perlu lagi bersamamu”.
Bagai belati yang menusuk tepat di ulu hatiku, sangat sakit mendengar kejujuran darinya.
Aku menjawabnya “baiklah jika itu yang kau minta, aku akan menurutinya, aku mencoba memegang wajahnya tapi dia berpaling, aku berkata lagi “aku akan menghapus semua ingatanku padamu, melupakan bahwa kau pernah mempermainkan hatiku, lupakan semuanya”. aku lalu pergi dengan lemas.
Aku mendengar Kiran berkata “maafkan aku”. membuatku berhenti sebentar lalu berjalan lagi.
8 Oktober 2013
Kiran berjalan menyusuri kenangan masa kecilnya, dia melihat tempat sampah tempatnya dulu mencari makan, dia juga berjalan-jalan mengingat pertemuannya dengan Robby dulu, Kiran menggeleng lalu pergi ke perpustakaan lama tempat dia bekerja dan dia berjalan ke samping perpustakaan itu ada kafe, dia melihat Vasto sedang tertidur disana, seperti dulu, Kiran akan membangunkan sebelum Vasto terbangun lebih dulu, Kiran berkata padanya “aku tahu kau pura-pura tertidur”.
Vasto menjawab “aku juga tahu kau datang, maaf telah membuatmu susah”.
Kiran menggeleng “lupakanlah semuanya, aku mohon lupakanlah”. lalu Kiran memeluk Vasto, Vasto tersenyum balas memeluk Kiran.
Di seberang jalan Robby melihat mereka dia berkata pada dirinya sendiri “di hatiku terukir namamu cinta rindu beradu satu namun selalu aku bertanya adakah aku di hatimu, aku selalu mencari tahu dalam hati dan matamu namun jawabannya selalu sama, haruskah aku berhenti bagaimana jika cinta ini tak mau berhenti, lubang itu masih ada dalam hatiku, akan selalu ada.
Setelah berpelukan, Kiran tersenyum hangat pada Vasto dia berkata padanya “seseorang yang sedang jatuh cinta dapat menghancurkan segalanya”.
Vasto juga tersenyum menatapnya lalu membalas perkataan Kiran “orang lain yang sedang jatuh cinta dapat menghancurkan dirinya sendiri”.
Robby juga melanjutkan perkataan mereka “sejak zaman kuno mencintai hanya akan meninggalkan penyesalan yang menyakitkan, penyesalan ini terus menerus mengalir tanpa akhir yang menentu
~~~~Tamat~~~~~
jangan lupa like yah readers
jangan lupa baca juga novel aku judulnya
sarjana cinta
sekian dari saya
terima kasih
__ADS_1