Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Still Heaven At War (Part 3)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi


Judul: Still Heaven At War (Part 3)


_________________________


Pelantikkan selesai, sekarang aku sudah resmi menjadi CIA. Aku menerima tugas pertama yaitu misi perdamaian di Kabul, afghanistan bersama dengan Marvin. Sungguh aku sangat bahagia menerima tugas ini karena aku bisa bertemu dengan kak Whisnu di sana. Di dalam ruang rapat, kami menyusun semua rencana yang akan dijalankan untuk misi perdamaian kali ini. Mengingat situasi yang disebabkan oleh perang saudara yang terjadi di sana. Ini misi yang berat.


“kita berkumpul di sini untuk membicarakan strategi yang akan digunakan dalam misi perdamaian kali ini. Menurutmu kapten Natleyn, apa strategi yang telah kau siapkan untuk misi ini?” Jend. Marvin.


“okay Jenderal, menurutku kita bisa gunakan strategi tanpa unsur kekerasan.” kataku.


“apa maksudmu kita tak gunakan senjata dan perlengkapan lainnya?” tanya Jend. Marvin.


“benar sekali Jenderal, kita akan gunakan cara ini untuk meminimalisir terjadinya konflik yang lebih parah kalau kita ikut campur dengan menggunakan strategi perang yang hanya akan menimbulkan lebih banyak korban.” Jawabku.


“berapa persen strategi itu akan berhasil?” kata Sersan Louis.


“95 persen asalkan tak ada yang bertindak di luar rencana.” balasku.


“tapi jika rencana itu dijalankan tidak menutup kemungkinan kita semua bisa terbunuh karena tidak menggunakan senjata sama sekali, ku kira itu ide yang buruk kapten.” Bantah sersan Jason.


“sorry, sersan Jason tapi kita tetap membawa senjata dan perlengkapan lain hanya saja kita tak menggunakannya. Itulah rencananya! karena jika kita melepaskan satu peluru saja maka konflik akan bertambah buruk dan kita semua akan mati sebelum misi perdamaian ini selesai.” jelasku.


“tapi mereka mayoritas muslim dan mereka membenci kita. Mereka juga mungkin tidak akan menerima bantuan dari kita.” Kata sersan David.


“I am muslim, Sersan. Tidak semua muslim itu seperti yang kalian pikirkan, sekarang bukan saat untuk memikirkan perbedaan yang kita perlukan ialah persatuan.” kataku dengan nada suara keras.


“Jenderal, apa yang dikatakan kapten Natleyn itu benar?” tanya sersan David pada Marvin.


“benar, dia muslim. Sebaiknya sekarang kita hilangkan sikap diskriminatif tentang orang muslim karena jika tidak misi perdamaian ini akan gagal. Sekarang apa kalian mengerti?” perintah Jend. Marvin.


“yes, sir.” Jawab semuanya secara serentak.


“jadi sesuai rencana kita akan gunakan strategi tanpa kekerasan. Kita akan turunkan 700 pasukan kesana untuk berjaga-jaga dan kita akan persiapkan senjata XM25 Individual Airburst Weapon System (IAWS), XM2010 Enhanced Sniper Rifle, dan FN-FNP45 sedangkan perlengkapan lainnya sudah tesedia di kantor pusat CIA di sana. Apa ada pertanyaan?” kata Jend. Marvin.


“tidak, jenderal.” Jawab semuanya secara serentak.


“persiapkan semuanya dengan baik karena waktu kita hanya 2 hari lagi sebelum kita mulai misi ini. Kapten Natleyn kau komandan misi ini, laksanakanlah dengan baik!!” kata Jend. Marvin


“tentu jenderal.” kataku.


“rapat selesai dan laksanakan tugas masing-masing.” Perintah jend. Marvin.


Semua anggota memberi hormat, Jend. Marvin menerima hormat.


Setelah rapat selesai, aku kembali ke ruanganku untuk mempelajari kembali strategi kali ini dan situasi di afghanistan sekarang tapi ini akan lebih mudah jika aku mendapatkan informasi langsung dari seseorang yang berada di sana.


“file yang ada hanya laporan situasi 4 hari yang lalu, bagaimana aku bisa tahu situasi di sana sekarang ini pasti ada laporan terbaru dari petugas di sana, aku harus tanyakan ini pada Paman John.” kataku frustasi.


Aku langsung menuju ke ruangan Paman John bertugas.


“sersan John, kau ada di dalam?” kataku.


“ya, masuklah. Duduklah Natleyn, ada apa?” tanya John.


“Paman, apa tidak ada laporan terbaru dari kantor pusat di kabul?” tanyaku.


“tidak, selain laporan 4 hari yang lalu sampai hari ini belum ada laporan baru yang masuk.” jawab John.


“apa Paman bisa menghubungi kak Whisnu?” kataku.


“aku tidak tahu Natleyn, kondisi jaringan komunikasi di sana sebagian telah diputus.” balas John.


“please Paman, kita sangat memerlukan info langsung dari sana dan hanya kak whisnu harapan kita.” kataku.


“baiklah akan Paman coba, nanti jika bisa terhubung akan aku sambungkan langsung kepadamu Natleyn.” balas John.


“okay, thanks uncle” ucapku.


“your welcome, dear” balas John.


Lalu, aku kembali ke ruanganku untuk mempelajari kembali beberapa hal yang mungkin akan berguna dalam misi kali ini, lagi pula aku masih menunggu kabar dari Paman John. Akhirnya Paman John datang menemuiku dan mengajakku untuk pulang karena memang waktu kerja sudah selesai.


“Natleyn, sorry. Aku sudah mencoba menghubungi Whisnu namun sambungan komunikasi di sana selalu terputus” jelas John.


“ya sudah, tidak apa-apa Paman” balasku.


“ya, ayo pulang” ajak John.


“pulang?” tanyaku.


“ya, sekarang kau tidak harus tinggal di Camp tapi tinggal di rumah bersamaku” kata John.


“are you serious?” kataku tak percaya.


Mengangguk-anggukkan kepala.


Kami langsung pulang menuju rumah Paman John. Aku sangat merindukan rumah ini karena dulu aku pernah tinggal bersama keluarga John. Sesampainya di rumah Paman John.


“kita sampai, turunlah Natleyn” ajak John.


“yeah” kataku.


“semua masih terlihat sama seperti dulu kan?” tanya John.


“ya tapi terlihat lebih sepi saja Paman” kataku.


“masuklah, kau masih ingat di mana kamarmu kan?” ucap John dengan tertawa.


“tentu aku masih ingat. Paman di mana Jasper, aku dari tadi tidak melihatnya?” tanyaku.


“dia selalu pergi dan pulang malam, dia masih membenciku Natleyn.”jelas John.


“membenci? bukannya kalian dulu sangat akrab?” tanyaku bingung.


“tidak setelah kejadian itu, kau ingat Natleyn saat Emily tewas tertembak ketika menolong korban konflik afrika dan sejak itu Jasper menganggap aku yang tidak bisa menjaga Ibunya dengan baik.” jelas John dengan sedih.


“maaf Paman, sungguh aku tidak bermaksud membuatmu mengingat semua itu” kataku menyesal.


“it’s okay, this is not a problem” kata John.


“Lebih baik, sekarang kau pergi ke kamarmu Natleyn untuk beristirahat.” kata John.


“okay, John” kataku.

__ADS_1


Aku segera masuk ke kamar, ku lihat tidak ada yang berbeda dari kamar ini. Setelah membersihkan diri aku kembali berkutat dengan file dokumen konflik afghanistan itu, tiba-tiba ponselku berdering.


“Truutt.. truutt.. truut..” ponsel berbunyi


“hallo, maaf dengan siapa aku berbicara?” tanyaku.


“hi Natleyn, ini aku Marvin. Apa kau sedang sibuk?” kata Marvin.


“sebenarnya aku sedang mempelajari beberapa file dokumen yang berhubungan dengan konflik di misi kali ini, bagaimana denganmu marv?” jelasku.


“aku hanya sedang menyiapkan beberapa senjata yang akan kita gunakan sendiri, Natleyn sebaiknya kau istirahat. Kau harus jaga kondisi tubuhmu apalagi kau pernah mengalami cidera!” kata Marvin dengan penuh perhatian.


“kondisiku baik jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan aku.” jawabku, ‘marv, kenapa kau harus ingatkan tentang cidera ini


“Natleyn, apa sersan John ada di rumah?” tanya Marvin.


“ya, dia ada di rumah. why?” kataku.


“ada yang perlu aku bicarakan dengannya, tolong katakan pada sersan John aku akan ke rumah kalian” kata Marvin.


“baiklah, akan ku sampaikan”


“bye Natleyn” kata Marvin.


“yeah, bye marv” jawabku mengakhiri panggilan.


Lalu aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum, ku lihat John sedang bertengkar dengan seseorang di ruang tengah. Aku pun mendekati mereka dan ternyata seseorang itu adalah Jasper.


Membuka lemari es dan mengambil soft drink, “Tunggu dulu, Paman sedang bicara dengan siapa? tidak mungkin Marvin datang secepat ini.” kataku heran.


“Paman! Siapa yang datang?” panggilku.


“ya” balas John.


“kau tidak perlu ikut campur tentang hidupku, kau kan tidak pernah peduli padaku!!” kata-kata yang ke luar dari mulut seseorang yang berbicara dengan Paman.


“Jasper?” kataku kaget.


“ya, aku Jasper tapi aku sedang tidak ingin berbicara dengan kalian” pergi ke kamar dan meninggalkan aku dan Paman di ruang tengah.


“Paman apa anak itu sudah gila? dia berbeda 180 derajat dari jasper yang dulu, yang ku kenal!!” kataku kesal.


“Seperti itulah Jasper yang sekarang, kau belum tidur Natleyn?” jelas John.


“belum.. tadi Marvin menelponku katanya dia akan kemari ada yang perlu dia bicarakan denganmu.” kataku menyampaikan pesan Marvin.


Tidak lama Marvin datang.


Tok.. Tok.. Tok, “permisi”


Membuka pintu, “Marvin masuklah, Paman sudah menunggumu” kataku.


“di mana sersan?” tanya Marvin.


“Paman ada di ruang tengah, itu dia. Aku akan kembali ke kamar jadi silahkan kalian bicara” Balasku.


“malam sersan” sapa Marvin.


“Malam Jenderal, kata Natleyn ada yang ingin kau bicarakan denganku.” kata John.


“tentang apa?” kata John.


“Aku telah memeriksa senjata milik anggota kita dari data penggunaan senjata tetapi ada yang aneh dari data senjata milik sersan David” jelas Marvin.


“Apa yang aneh Jenderal?” tanya John.


“Dari data penggunaan senjata, milik sersan David masih ada di dalam tempat penyimpanan senjata sama seperti anggota lainnya. Tapi saat aku lihat ke tempat penyimpanan senjata, milik sersan David telah ada di tangannya sendiri. Yang aku khawatirkan dia memiliki rencana lain dalam misi Afghanistan kali ini” jelas Marvin.


“Jadi sekarang apa rencanamu Jenderal?” tanya John.


“Aku akan memberikan pistol FN-57 untuk pemimpin masing-masing pasukan untuk pertahanan jika saja yang ku khawatirkan soal sersan David ini benar. Bagaimana menurutmu sersan?” kata Marvin


“itu bisa kita lakukan jenderal lagi pula hal ini tidak melanggar aturan” kata John.


“sersan, bisa tolong kau berikan pistol FN-57 rakitan khusus ini pada Natleyn. Kau tahu kan sersan, bahwa aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya.” Kata Marvin dengan pelan.


“tentu, Jenderal. Tapi apa tidak sebaiknya kau beritahukan semua tentang pertunangan itu ke Natleyn karena ku lihat kalian saling suka” kata John.


“Nanti saja, aku masih ingin mendapatkan hati Natleyn seutuhnya” kata Marvin dengan tersenyum.


“Baiklah, aku mengerti. Apa masih ada yang ingin kau sampaikan dengan Natleyn?” tanya John.


“Itu saja sersan, ku minta kalau bisa pistol FN-57 itu sudah tersedia besok” kata Marvin.


“Akan ku usahakan, Jenderal” balas John.


“sebaiknya aku pulang sekarang sersan karena masih ada yang harus ku persiapkan. Aku permisi pulang, sersan” kata Marvin menuju mobilnya.


“tentu, Jenderal” kata John.


Dari dalam kamar aku mendengar suara mobil Marvin dan sepertinya dia sudah pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 24.00 waktu setempat, mataku mulai lelah melihat semua file dokumen ini dan lebih baik aku istirahat sebentar. Tepat seperti biasa, aku terbangun dan waktu telah menunjukkan pukul 05.00 pagi. melaksanakan salat dan setelah itu bersiap untuk pergi bekerja kembali tapi pukul 06.00 saat aku turun untuk menyiapkan sarapan ku lihat Jasper akan segera pergi, aku pun memanggilnya.


“Jasper, kau mau pergi kemana?” panggilku.


“Bukan urusanmu” jawabnya dengan kasar.


“Jasper, wait!! kenapa kau berubah seperti ini? kau bukan Jasper yang seperti dulu, Jasper yang sudah ku anggap seperti kakakku sendiri!” kataku. dengan sedikit membentak.


“kau tanya kenapa aku berubah!! asal kau tahu Natleyn, kau tidak tahu apa yang aku rasakan setelah Ibuku tewas. Kalau saja orang itu tidak membiarkan Ibuku untuk menjadi relawan di sana pasti aku tidak akan kehilangan dia.” jelas Jasper dengan marah.


“tapi dia itu Ayahmu, Jas. Tidak seharusnya kau kasar dengan Ayahmu sendiri seperti semalam” kataku.


“seolah dia peduli padaku, dia tidak pernah peduli denganku yang dia pedulikan hanyalah pekerjaannya!! sudahlah Natleyn, kau jangan ikut campur soal hidupku” katanya sambil pergi dengan mobilnya.


Tiba-tiba Paman John datang dan berkata padaku.


“sudahlah Natleyn, kau tidak akan bisa mengubahnya menjadi Jasper yang dulu sebelum dia sendiri bisa menghilangkan rasa kebencian itu dari hatinya” kata John.


“tapi Paman” kataku.


“sudahlah, apa kau sudah menyiapkan sarapan?” tanya John.


“tentu Paman, aku sudah siapkan sarapan. Kita sarapan bersama ya Paman?” kataku.


“ya, Natleyn.”

__ADS_1


Setelah sarapan, Paman memberikan aku sebuah pistol.


“Natleyn, ambillah ini.” kata John menyodorkan pistol.


“untuk apa Paman?” tanyaku.


“sudahlah, simpan saja siapa tahu kau akan memerlukannya” jelas John.


“oke, baiklah Paman” kataku.


Setelah itu kami berangkat menuju kantor, ini hari terakhir untuk mempersiapkan semuanya karena besok semua anggota akan bertugas di afghanistan. Sesampainya di Kantor.


“Natleyn, pergilah duluan” kata John.


“Paman tidak bertugas hari ini?” tanyaku.


“I’m work, tapi ada suatu hal yang harus ku urus dulu.” kata John sembari tersenyum.


“Oke uncle, hati-hati” balasku. dan berjalan masuk ke kantor.


Tak lama ponsel bergetar, truut.. trutt.. truut..


“Marvin?” kataku sambil melihat ponsel, lalu menerima panggilan.


“Where are you, now? Aku butuh bantuanmu” kata Marvin.


“Aku baru sampai kantor, kau di mana?” tanyaku.


“Cepatlah ke ruang senjata di East Wing sekarang.. ough..” seru Marvin mengerang kesakitan.


“Okay.. okay.. aku segera ke sana.” kataku, kemudian berlari menuju ruang senjata.


“Morning Kapten, kenapa terburu-buru?” kata kol. James.


“Sorry kolonel, I have to go now” balasku.


Sesampainya di ruang senjata, aku tak melihat Marvin dan aku memanggil namanya. Ternyata Marvin terluka, ku lihat sebuah pisau tergeletak di dekat Marvin dan bagian tubuh kirinya berdarah. Natleyn tak tahu apa yang buat Marvin terluka.


“Marvin? Kau di dalam?” panggilku.


“I’m here” jawab Marvin berteriak.


“Oh my god , are you okay?” tanyaku kaget.


“I'm okay, bisa bantu aku untuk berdiri.” Pinta Marvin.


“Sure” jawabku, lalu membantu Marv berdiri dan membawanya ke ruang kesehatan.


“Marv, ada apa ini?” tanyaku.


“aku tak tahu, tapi benar dugaanku.” Jawabnya.


“Maksudmu, ada yang sengaja melakukan ini.” kataku.


“Tepat sekali. Tetapi aku belum tahu apa yang sebenarnya yang dia inginkan.” Jelas Marvin.


“Ke mana semua orang, termasuk yang bertugas menjaga ruang senjata ini?” tanyaku.


“Semua orang berkumpul di West Wing untuk mengambil perlengkapan yang dibutuhkan besok.” Jawab Marvin.


“Kau yang menarik pisau itu sendiri?” kataku.


“ya” jawabnya.


“akhirnya kita sampai, Dr harry kau di dalam?” kataku.


“Jenderal. Aku akan memeriksanya dahulu, jadi kapten kau tenang saja.” Kata Dr. Harry membantu Marvin berbaring.


“baik, Dr. Harry” balasku.


Lima belas menit berlalu, Dr. Harry ke luar dari ruangan. Aku pun langsung menghampirinya.


“bagaimana kondisi Marvin?” tanyaku cemas.


“Jenderal baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat, sekarang kau bisa menemuinya Kapten.” Jawab Dr. Harry.


“thanks, sir” ucapku.


Aku pun masuk ke ruang lab dan melihat Marvin yang masih berbaring di tempat tidur. Dan untuk pertama kalinya aku melihat bekas luka di lengan dan bagian dada Marvin.


“Marv, are you okay?” tanyaku.


“yeah, I’m okay.” Balasnya singkat saat mencoba berdiri.


“kau mau ke mana? Dr. Harry bilang kau butuh istirahat Marv.” jelasku.


“bisa ambilkan pakaianku , Nat!” pinta Marvin.


“ini” kataku sambil menyerahkannya pada Marvin.


“kita harus ke West Wing sekarang!!” kata Marvin yang sedang mengenakan pakaiannya.


“tapi kondisimu?” kataku.


“kan sudah ku katakan, aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil. Apa kau khawatir padaku?” jelas Marvin dengan tertawa.


“tentu aku khawatir, kau kan partnerku” kataku.


“terima kasih karena kau sudah khawatir padaku.” kata Marvin tersenyum.


“sama-sama, marv. Perlu ku bantu?” kataku.


“thanks, Kapten”


Kami menuju ke West Wing. Aku dan Marvin mengobrol saat menuju ke West Wing. Jujur saja! Saat ini aku bingung kenapa saat Marvin terluka, aku merasa sangat khawatir dan takut kehilangannya. Apalagi saat bicara dengannya, dia seperti bukan hanya partner kerja bagiku tetapi seperti seseorang yang lebih dari sahabat.


Sesampainya di West Wing.


“aku harus segera memberi pengarahan, kita sudah sangat terlambat datang” kata Marvin.


“baik, pak”


“semua prajurit, Jend. Marvin Lyson telah tiba. Silahkan Jenderal!!” kata Sersan Charles.


“thank you, sersan. Sebelumnya saya minta maaf kepada semua prajurit yang ada di sini karena saya terlambat datang dikarenakan terjadi accident kecil pada saya. Di sini saya menggantikan Jend. George yang saat ini masih berada di suriah untuk memimpin pasukan perdamaian di Kabul, Afghanistan. Mungkin kalian semua sudah mendapatkan peralatan yang dibutuhkan untuk misi kali ini. Saya harap kalian semua siap untuk tugas ini, apa kalian dengar! Kalian siap untuk misi kali ini!!” Kata Marvin dengan berteriak.

__ADS_1


tamat


__ADS_2