Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Salah (Part 4)


__ADS_3

*yeeeee akhirnya udah sampai 200 eps makasih yah bagi temen temen yang udah baca CPC ku semoga makin baik kedepannya


dan akhirnya season pertama CPC tamat sekarang saya akan menganti ke season 2


setiap genre saya akan buatkan 5 eps contoh 5 genre untuk fantasi 5 genre untuk cinta pertama dan lain lain,terakhir jangan lupa like dan kritik yah suapaya saya lebih bersemangat dalam membuat novelnya


thank you *


Kategori: Cerpen Cinta Pertama


Judul: Salah (Part 4)


_________________________


Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak tau kenapa aku menangis, aku tidak tau apa masalahku. Sebenarnya aku tidak ingin menangis. Tapi aku bingung, mengapa hatiku sakit sekali. Mengapa aku menganggap dia itu Rio yang dulu meninggalkanku. AAAAHHH!! kenapa aku ini, mengapa jadi begini!! Aku benci kenangan itu. Aku sudah hampir melupakanmu, selangkah lagi! bahkan aku pikir semua akan lebih baik jika aku disini. Ternyata semua lebih buruk dari yang aku bayangkan.


'tok.. tok.. tok..' kalian tau kan itu suara pintu.


'siapa!?'


'ini bibi, ada telfon dari revi katanya '


Hah? Tau dari mana dia nomor telfon rumahku 'iya bi, aku angkat dari sini saja'


'halo'


'indie, aku ganggu gak?'


'gak sih kak, ada apa?'


'nggak, aku cuman mau ngucapin makasih aja'


'buat?'


'kamu udah mau nganterin aku hari ini'


'iya kak sama-sama'


'he he he. Kamu lagi ngapain?'


'baru mau tidur kak.'


'kamu capek ya?'


'iya lumayan kak'


'indie..'


'ya?”


'aku boleh jujur?'


'kenapa kak?'


'aku suka sama kamu'


'hah?'


'iya, aku serius'


'tapi… aku..'


'aku tau kok, kamu gak suka kan sama aku?'


'bukan gitu kak'


'terus?'


'aku tuh nganggep kak revi udah seperti kakak sendiri. Jadi gak mungkin aku dan kakak..'


'iya aku ngerti, aku Cuma ingin jujur aja kok'


'maafin aku ya kak'


'iya gak apa-apa'


'oiya kak, kakak tau nomor telfon ini dari siapa?'


'dari data siswa mos, kan waktu itu disuruh tulis biodata kan?'


'oh iya iya, hahaha kakak niat banget'


'iya, hhehe. Ya sudah kamu tidur ya. Sudah malam. Selamat tidur indie'


'iya kak. Daaah'


'daah'


Telfon pun aku tutup. Aku gak paham kenapa kak revi berkata seperti itu, tapi ya sudahlah lupakan saja. Aku pun mecuci kakiku dan tidur.


Keesokan harinya di sekolah, aku merasa lelah. Mataku sembap, badanku lemas. Semalaman aku menangis di kamarku karena rio.


'kamu kenapa kundi?' tanya dica


'gak apa-apa'


'habis nangis ya?'


'nggak kok'


'jangan bohong, aku tau kok'


'tau apa?'


'kalau ada masalah, ceritakan padaku kundi, jangan dipendam begitu'


Aku melihat wajah dica


'bagaimana bisa aku ceritakan padamu dica, ini soal hati! Tentang aku dan pacarmu. Dan kamu adalah sahabatku. Apa kau sanggup mendengar saat aku ceritakan semuanya? Jika kamu sanggup, kurasa aku yang tidak akan pernah sanggup untuk menceritakan ini semua kepadamu dica. Bagaimana mungkin dengan sekejap aku menusuk hatimu dengan ceritaku ini. Dan apa aku harus jujur padamu tentang bagaimana perasaanku terhadap pacarmu? Aku pikir tidak' bisikku dalam hati


'kamu gak jawab? Belum mau cerita? Ya sudah gak apa-apa kok. Ceritanya lain kali saja ya, aku pasti siap mendengarkan' kata dica sambil mengusap kepalaku.


'iya' aku menjawab sambil meruduk. Karena aku takut dica melihat genangan air mataku


'oiya, hari ini rio mau menjemput. Dia bawa mobil hari ini, karena sebelum dia menjemput dia mau mengantarkan pamannya ke bandara. Apa kamu mau ikut? Dari pada naik angkot kan? pasti capek.'


'sepertinya gak usah, nanti aku merepotkan pacarmu. aku naik angkot saja yah'


'ayolaaah, jangan menolak tawaranku. Dari pada naik angkot? Yayayayayayaya???'


Entah kenapa saat itu aku iyakan tawaran dica. Aku yakin setelah pulang ke rumah nanti aku akan menangis 'lagi'. tapi aku masih penasaran, apakah rio ini rio yang dulu aku kenal?


'eh aku boleh pinjam handphone kamu gak? Aku mau sms rio. Pulsa aku habis'

__ADS_1


'boleh, nih' aku pun menyodorkan handphoneku'


Dica pun mengetik beberapa kata di sana.


'makasih'


'oke'


Dica tidak menghapus kotak terkirimnya, isinya begini


'sayang, hari ini jadi jemput kan? Maaf aku gak ada pulsa buat bales sms kamu. Hari ini aku pulang sekolah jam 12.45, aku ngajak kundi juga buat pulang bareng kita. Abis kasian kalau dia harus pulang naik angkot. Gak apa-apa kan sayang? Balesnya ke nomer aku aja ya soalnya ini nomer hp kundi. Bye. Love you'


Sakit sekali hatiku membaca smsnya.


Sepulang sekolah, aku dan dica menunggu rio di depan gerbang sekolah. Aku agak sedikit gugup menunggu rio. Entah kenapa, yang jelas aku sangat gugup.


'kundi, aku kebelet nih. Aku pipis dulu ya.'


'eh, nanti kalau rio datang bagaimana?'


'kamu naik duluan saja, bilang aku sedang ke toilet, ya?' dica pun pergi


Benar saja, tak lama dica pergi rio pun datang.


'hai, dicanya mana?' tanya rio padaku sambil membuka kaca jendela mobilnya


'la..lagi di toilet'


'oh ya udah, kata dica kamu mau nebeng ya? Langsung masuk aja'


'emm oke'


Aku pun naik ke mobil rio. Berdua dengannya di mobil. Dan kalian tau apa yang dia lakukan? Dia membuka tasnya dan memakan roti keju.


'mau?'


'ngg.. nggak usah, makasih'


'kata dica kamu suka banget roti keju, kita sama ya'


'iya'


'sejak kapan kamu pindah ke jakarta?'


'kok? Kok kamu tau aku baru pindah?”


'dica cerita'


'dica cerita apa aja tentang aku?'


'banyak deh pokonya'


'oh'


'kamu masih suka naik sepeda?'


Sebelum aku menjawab pertanyaan yang itu, dica sudah keburu datang dan masuk ke mobil


'halo yang, maaf ya lama tadi aku kebelet'


'iya gak apa-apa'


'kalian lagi ngomongin aku ya?'


'beneran kundi?'


'emmm i..iya enggak kok'


'kirain heheheh'


'kita mau langsung pulang aja nih?' tanya rio


'mampir dulu deh ke toserba, aku mau beli keperluan cewek, biasa.. heheehe. Gak apa-apa kan kundi? Bentaaaar aja, gak lama kok'


'emmm, iya gak apa-apa kok'


'oke deh makasih hehehe'


Rio pun menyalakan mesin mobilnya dan kamu menuju ke toserba, di mobil dica memang banyak bicara. Dia memang seperti itu, bawel.


Sesampainya di toserba


'aku sendiri saja ya yang turun? Kalian tunggu disini saja. Soalnya yang mau aku beli ini barang-barang pribadi, he he he. Gak apa-apa kan aku tinggal kalian disini? Sebentar kok.'


'ya udah gak apa-apa kok' jawab rio sambil mematikan mesin mobilnya.


'aku ikut sebentar, aku mau ke toilet' jawabku menyeka pembicaraan mereka


'oke deh, abis itu langsung balik lagi ke mobil ya? Jangan ngikutin aku loh, ha ha ha'


'iya, iya, gak bakalan kok'


Aku dan dica pun keluar dari mobil. Dica pun mengantarkanku ke toilet.


'kamu suka cerita tentang aku ya'


'cerita ke siapa?'


'ke rio' jawabku


'enggaklah, ngapain aku ceritain. Nggak kok gak pernah sama sekali'


'tapi kok dia tau ya aku suka makan roti keju?'


'ya mungkin itu dia ngarang kali, dan kebetulan bener, ha ha ha'


'iya mungkin ya'


'ya udah, kamu ke toilet aku ke dalem ya. Kalau aku nungguin kamu takutnya nanti kelamaan'


'oke deh'


'bisa sendiri kan?'


'iya bisa kok dicaa'


'okee daaah, awas nyasar nanti. ha ha ha'


'iya'


Selesai aku dari toilet, aku kembali ke mobil rio. Sebenarnya aku ingin ikut dica, tapi dica sedang tidak mau ditemani. Ya sudah aku kembali saja ke mobil rio.


'udah ke toiletnya?”

__ADS_1


'iya udah'


'eh yang tadi belum dijawab'


'yang mana?'


'kamu masih suka naik sepeda gak?'


'enggak'


'kenapa?'


'malas'


'kok malas sih? Bukannya dulu kamu suka sekali naik sepeda?”


'itu dulu, sebelum kamu pergi'


Rio pun terdiam, wajahnya nampak terlihat bingung. Dia tidak bisa menjawab


'kamu rio kan? rio yang dulu ninggalin aku? Iya kan!?'


'rio mana? Aku gak ngerti'


'jangan bohong! Kamu tau aku suka roti keju, kamu tau aku suka naik sepeda! Kamu tau itu semua dari mana?'


'aku tau dari dica'


'bohong!!! Dica bilang dica gak pernah cerita apapun tenyang aku ke kamu! Kamu rio kaaan?!'


Kami berdua terdiam. Rio tidak bisa menjawab. Tak terasa, air mataku pun jatuh. Aku menangis tanpa bersuara, tanpa mengatakan apapun.


'aku mohon jelasin' pintaku dengan nada pelan


'aku gak bisa kundi'


'kamu rio kan???!'


'iya oke, aku rio. Terus apa?'


'terus apa?? Kamu tanya terus apa??! Kamu gila ya?'


'aku harus apa sekarang, kamu sudah tau semuanya. Aku harus gimana?? Aku bingung'


'kenapa kamu pura-pura gak kenal sama aku waktu itu?'


'aku gak bisa jujur! Aku gak mau kamu nangis kalau kamu tau ini aku kundi! Aku gak bisa!'


'tapi sebelum ini terjadi juga kamu sudah bikin aku nangis! Kenapa kamu dulu pergi ninggalin aku?”


'aku jelasin juga kamu gak bakalan ngerti!'


'jelasin sekarang! Aku gak bisa terus-terusan begini rio, aku gak bisa!'


'oke, kamu itu adik aku!'


'maksud kamu?'


'ayah kamu itu ayahku juga!'


'tapi kamu bilang ayahmu sudah meninggal kan? Dan ayahku masih hidup! Kamu jangan membuat lelucon. Ini tidak lucu!'


'aku bukan pelawak, untuk apa aku berguyon saat seperti ini!'


'aku gak ngerti!'


'baik, maafkan aku dulu sudah meninggalkanmu. Aku tau, kau merasa kehilangan. Aku pun sama. Sangat sakit dan sangat berat untuk meninggalkanmu. Tapi itu harus ku lakukan, karena aku adalah kakakmu, dan kamu adikku. Kamu mungkin bertanya-tanya mengapa aku berkata seperti ini. Ayahmu adalah ayahku juga. Kita satu ayah tapi beda ibu. Ibuku adalah istri pertama ayahmu. Aku tau itu karena saat aku ke rumahmu aku melihat foto keluargamu. Aku melihat foto ayah disana. Saat aku bertanya pada ibu, akhirnya ibu menceritakan semuanya kepadaku. Dulu, saat aku tanya kemana ayah, ibu selalu bilang ayah sedang bekerja. Dan ibu hanya memperlihatkan fotonya kepadaku. Tapi ternyata, itu hanya dongeng agar aku percaya bahwa aku juga memiliki ayah. Tapi sekarang semuanya terungkap. Ayah yang tidak pernah menganggapku ada. Saat ibuku mengandung aku, ayah menceraikan ibuku karena ayah selingkuh dengan ibumu. Kau tau? Aku dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ayah. Itu sebabnya aku selalu mengatakan ayahku sudah meninggal. Saat ditinggal oleh ayah, ibuku seorang diri membesarkanku. Ayah tidak pernah mengirimkan uang sepeser pun kepada kami. Ibu membanting tulang agar kami bisa hidup. Sampai akhirnya aku terlambat masuk sekolah, umurmu dan umurku berbeda 1 tahun. Umurku sekarang 16, dan kamu 15. Karena kurangnya biaya aku harus terlambat masuk sekolah, usaha ibuku mulai maju saat aku berumur 11 tahun. Lukisan ibuku sangat laris di pasaran. Hingga Ibuku bisa membeli rumah di dekat rumahmu itu. Dan saat aku tau kau adalah anak dari istri kedua ayahku, aku ingin membencimu. Tapi aku tidak bisa. Aku menyayangimu kundi, tapi sayang ini hanya bisa sebatas adik dan kakak saja. Tidak lebih. Maafkan aku, aku harap kamu bisa mengerti. Dan aku mohon kepadamu jangan bahas ini kepada ayah atau ibumu. Karena aku tidak mau ada hal-hal buruk yang terjadi nantinya dan membuat aku berpisah denganmu lagi'


Aku terdiam. Aku merasa sangat bersalah. 'Tuhan, rumit sekali persoalanku ini? Apa yang harus aku lakukan?' pikirku dalam hati


'kau mencintai dica?' tanyaku pada rio


'mungkin pertanyaanmu salah'


'kenapa?'


'karena itu pertanyaan bodoh'


'maksudmu?'


'jika aku dapat memilih, aku akan memilih untuk bersamamu selamanya, jadi mungkin pertanyaanmu sudah terjawab kan?'


'aku menyayangimu rio, sangat menyayangimu'


'aku pun, jangan fikirkan kenapa semuanya harus jadi seperti ini. Jangan menyalahkan keadaan'


'mengapa?'


'karena keadaanlah yang membuat kita bertemu lagi, walaupun sekarang kamu pasti terluka karena sudah tau kenyataan pahit yang harus kita jalani. Tapi aku senang bertemu denganmu disini.'


'jaga dica baik-baik ya. Dia temanku. Dia baik, aku rela kalau kau harus berjodoh dengannya nanti'


'aku akan menjaga dica seperti aku menjagamu. Aku akan menyayangi dica sama seperti aku menyayangimu.'


'rio…'


'ya?'


'jangan tinggalkan aku lagi ya.'


'iya, tidak akan pernah'


'maafkan ibuku ya rio'


'bukan salahmu, bukan salah ibumu. Jangan bahas lagi ya'


'baiklah'


'kundi…'


'ya?”


'berikan salam maafku untuk ayah dan ibumu nanti ya. Ucapkan terimakasih juga'


'untuk apa?'


'karena, karena mereka kau ada di dunia ini. Menjadi adikku.'


Aku pun menangis. Tidak ada lagi yang bisa aku salahkan. Jelas sudah semua pertanyaan yang ada di otakku.


Kau tau? Hidup ini sulit. Bahkan terkadang terfikir untuk mengakhiri hidup ini. Tapi apa kau pernah berfikir? Hidup ini sudah dirangkai dengan berbagai macam jalan yang bisa membawamu kepada beribu-ribu perasaan. Manusia memang egois, hanya ingin merasakan senang saja. Merasa paling tersakiti jika dihadapkan dengan berbagai masalah. Aku ini bodoh, memandang sebelah mata tanpa berfikir bagaimana sebenarnya masalah ini bisa terjadi. Sekarang sudah jelas semuanya. Rio adalah kakakku. Aku tau, dia memang bukan kakak kandungku. Bahkan selamanya akan selalu begitu. Keegoisanku membawaku untuk memaksanya lebih dari itu. Tapi itu tidak bisa terjadi, bagaimanapun caranya dia akan tetap menjadi kakakku. Dia sudah mendapatkan kebahagiaannya. Dan dia berjanji akan membahagiakanku sebagai adiknya. Aku pun harus sama sepertinya. Aku harus mencari kebahagiaanku dan aku harus membahagiakan kakakku Tapi aku yakin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bisa lebih dari ini.


Mungkin kalian bertanya, apa aku membenci ayahku? Atau ibuku? Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah bisa membencinya. Mereka adalah jembatan yang membuat aku mengenal rio. Jika tidak terjadi hal ini, aku tidak akan menemukan kakakku. Aku akan menjadi tunggal selamanya. Aku belajar, hidup ini bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Tetapi tentang memaklumi, memaafkan, dan mengikhlaskan. Dengan begitu kita dapat menjalani semuanya dengan tenang. Mencintai adalah sebagian dari rasa sayang. Tapi menyayangi itu artinya lebih besar daripada mencintai. Aku menyayangimu kak, walaupun kita tercipta hanya sebagai kakak dan adik.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2