
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Judul: Pengorbanan Terindah
_________________________
Allahhuakbar allahhuakbar… Suara adzan terdengar jelas dari masjid di sekolahku. Bel istirahat pun berbunyi beriringan dengan suara adzan. Aku bergegas ambil wudhu. Di sana aku harus mengantri, karena banyak yang ambil wudhu. Dari kejauhan, tampak jelas ku lihat wajahnya. Wajahnya yang selalu tampak bersinar di mataku dengan senyum yang selalu menghiasinya hari. Ya, dia memang ramah, dan terbuka dengan siapapun.
'Ayo ambil wudhu, kenapa masih disini.' tanyanya membuyarkan lamunanku.
'Oh ya…' jawabku cuek.
Kita pun naik ke lantai tiga untuk ke mushola. Capek memang, tapi dibanding harus ke masjid utara. Sesampainya di lantai tiga, ternyata musholanya penuh. Aku dan temanku terpaksa harus nunggu dulu deh.
'Gimana nih?' tanyanya pada rombonganku yang baru tiba dengan temannya.
'Apanya?' sahutku cuek.
'Masa kita mesti nunggu disini, mana istirahatnya cuman 20 menit lagi.' jawabnya agak sedikit kesal.
'Ya udahlah tunggu aja, ntar juga kelar.' sahutku.
Grekkk… Akhirnya mereka selesai juga. Kita pun segera masuk untuk sholat berjamaah dia jadi imamnya, karena waktu tinggal 3 menit.
Ketika kita sedang sholat dapat 2 rakaat. Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya disertai angin kencang. Karena kita di lantai tiga, sudah gak kebayang tuh rasanya. Mana aku takut ketinggian lagi. Sepertinya dia tahu kalau aku phobia ketinggian, entah cuma perasaan atau emang dia mempercepat gerakan sholatnya. Akhirnya kita selesai sholat pas bel masuk bunyi. Aku panik mencari sepatu yang nggak ketemu-ketemu, ternyata sepatuku ada di ujung.
'Ih, tungguin dong…' pintaku.
Karena lantainya licin, aku pun terpleset dan terjatuh. Tanpa aku sadari, dari tadi ada yang memperhatikan ku yang sedang panik.
'Ayo bangun, ntar keburu basah seragamnya' serunya sembari mengulurkan tangannya.
'Makasih' ucapku.
Aku pun segera menyusul temanku yang sudah hampir sampai kelas.
'Kalian kok tega sih ninggalin aku.' seruku kesal. 'Liat nich' kutunjukkan seragamku yang basah akibat terjatuh tadi.
'Abis loe kelamaan sich' jawab temanku serentak.
Bel pulang pun berbunyi.. Saatnya pulang ke rumah. Aku pun buru-buru pulang karena sudah nggak nyaman sama seragamku yang basah. Sedang bete-betenya nunggu. Dia muncul di seberang sana, tapi nampaknya dia nggak pulang ke kostan. Dia menyeberang ke arahku. Hatiku serasa di pacuan yang berdetak begitu kencang. Dia, ya memenag dia, Cuma dia yang bisa buat aku begini. Aku nggak tau persis kapan perasaan ini muncul, tapi kayaknya perasaan ini muncul semenjak temanku sering menjodohkan aku dengan dia.
'Ka, mau pulang ya?' ucapku membuka percakapan.
__ADS_1
'Kamu?' tanyanya.
'Ya iyalah' jawabku.
'Berarti kita berada di tujuan yang sama donk' jawabnya dihiasi senyum yang membuat hatiku bergetar.
'Nggak kok aku Cuma mau mastiin kalau kamu baik-baik aja.' serunya sambil tersenyum.
'Kayak anak kecil aja sich. Aku kan biasanya juga pulang sendiri.' jawabku sembari mengernyitkan mata.
'Kan sekarang situasinya beda' jawabnya yang semakin membuatku bingung.
'Beda gimana?' tanyaku.
'Eh ada bus yang sepi tuh, cepetan naik ntar keburu penuh' serunya. 'Padahal pertanyaanku belum dijawab' ucapku kesal dalam hati.
'Eh kamu kenapa ikut naik, ini kan nggak sampai rumah kamu?' tanyaku.
'Siapa yang bilang mau ke rumah, kan gue dah bilang kalau aku mau mastiin keadaan kamu' jawabnya.
'Apa?' tanyaku memastikan.
'Emm, aku mau ke rumah bibiku kok' ucapnya mengelak.
Keesokan harinya….
'Eh Er, udah tau belum.' seru temanku, seperti ada sesuatu gitu.
'Apaan sich pagi-pagi udah nggosip. Emang ada apa sich?' ujarku sedikit kepo.
'Itu si Khenan.'
'Emang kenapa si Khenan.'
'Dia jadian sama Adepa kemarin.'
'Oh Cuma itu, kirain ada apaan.' seruku, karena ingin memperlihatkan kepada temanku bahwa aku itu periang. Namun sebenarnya, sekejap jantungku terasa terbakar habis hingga ke ujung.
Lantas apa artinya kejadian kemarin siang. Apa dia mau menyakiti hatiku, apa dia nggak tau kalau aku suka sama dia, apa dia memang sengaja ngelakuin ini, apa dia memang gitu, terus apa gunanya selama beberapa minggu ini dia baik sama, dia perhatian sama, dia selalu ada saat aku butuh, sebenarnya dia itu maunya apa sih Tuhan? jutaan tanya itu menyelimuti hatiku.
Sejak saat itu aku dan dia nggak pernah bicara sedikitpun, walau kita satu kelas, bahkan dia sering duduk di samping atau d meja depanku. Sampai suatu hari saat pelajaran Bahasa Indonesia, dia duduk di depanku dan kita harus satu kelompok. Sempat tertangkap olehku tatapannya yang sesekali tertuju padaku.
'Er' 'Ka' seru kami berbarengan. Kami pun kembali terdiam dan fokus ke diskusi.
__ADS_1
Bel istirahat pun berbunyi… semua murid berhamburan menuju kantin sekolah. Ketika aku hendak keluar kelas.
'Er, aku mau ngejelasin sesuatu sama kamu.' cegahnya.
'Tapi aku laper.' elakku, sebenarnya aku masih males mau menatap wajahnya.
'Ini lebih penting er.' wajahnya berusaha meyakinkanku.
'Oke, tapi disini nggak aman. Pulang sekolah aja ya.' seruku.
Beberapa pelajaran pun berlalu begitu cepat. Bel pulang sekolah terasa berbunyi begitu keras di telingaku kali ini. Aku pun segera pergi ke taman, tempat kita biasa ketemu.
'Ada apa sich Ka?'
'Aku Cuma mau minta maaf sama kamu'
'Buat?'
'Buat semua yang kamu alami akhir-akhir ini'
'Emangnya kenapa?'
'Sebenarnya aku nggak suka sama Adepa, dia ngancem aku, Er'
'Emangnya ngancem apa?'
'Dia mau ngusir aku dari kostan, kan yang punya kostan itu ortunya dia, apalagi selama ini aku cuma dikasih uang bulanan yang pas-pasan dan cuma disitulah aku dapat diskon harga. Jadi aku nggak bisa nolak. Dan sore itu ketika aku bilang mau ke rumah bibiku, sebenarnya aku tuh ketemuan sama Adepa untuk menyetujui semua permainannya.' ujar Khenan berusaha mengklarifikasi gosip yang beredar.
'Trus kenapa sekarang kamu nggak mau sholat bareng lagi di mushola lantai tiga, jangan-jangan kamu nggak sholat dan cuman ketemuan sama Adepa?'
'Emang bener aku ketemuan sama Adepa, tapi aku tetap sholat kok. Dan kalo aku nggak sholat lagi di mushola, itu karena aku nggak kuat ngeliat kamu sedih saat ngeliat aku. Sebenarnya aku pengen sholat di mushola tapi takut Adepa ngeliat'
'Ow, ya udah kalo kamu lebih mentingin keegoisan kamu daripada aku yang dengan BODOHnya setia nunggu kamu, setia ngedenger curhatan kamu, setia ngedenger apapun dari kamu. dan ini balasan yang kamu berikan sama aku.'
'Dan kamu tau nggak hari ini hari apa?' tanya Khenan seperti mencegahku pulang.
'Apa' aku bingung apa yang diucapkan Khenan.
'Ini buat kamu' sambil berlutut di hadapanku dia memberikan sebuah kotak kecil yang dihias dengan rapi dan lucu.
'Ini. Sebenarnya aku ngerelain diskonan itu buat ngebeliin ini buat kamu, aku nyisihin uang aku buat ngasih kado ini buat kamu. Happy Birthday My Sweety' jelasnya dengan senyum yang lebih cerah dari haru-hari sebelumnya.
Aku menangis sejadi-jadinya, aku nggak nyangka kalau begitu besar pengorbanannya buat ngebahagiain aku. Aku pun memeluknya erat-erat, aku nggak mau dia pergi lagi dariku, aku nggak mau dia berkorban lebih banyak lagi buat aku.
__ADS_1
Dan sejak saat itu, tidak ada lagi Adepa-Adepa lain yang mengganggu hubunganku dengan Khenan. Oh ya, hubungan kita ini itu dibilang pacaran, ya bukan. Karena dalam Islam tidak mengenal pacaran. Tapi kalo dibilang teman, kayaknya lebih deh. Abis perhatian ku ke dia lebih besar daripada perhatianku ke temanku. Dan kita menyebut hubungan ini 'KHEER (Khenan dan Erli)', bisa juga sih diartikan 'cheer (menghibur, bergembira)' karena kita saling menghibur dan bergembira satu sama lain.