Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Sepasang Mata Horus


__ADS_3

Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi


Judul: Sepasang Mata Horus


_________________________


Aku adalah sepasang mata yang membawa kutukan sejak lahir. Dalam pejam maupun memandang yang terlihat hanyalah mimpi buruk. Aku adalah sepasang mata yang tidak bisa melihat sesuatu tentang keindahan. Selama hidupku yang ku saksikan hanyalah sesuatu tentang keburukan. Sampai saat ini aku tidak bisa melihat bagaimana indahnya matahari terbit disertai dengan kemilau cahaya atau eloknya matahari senja dibarengi semburat warna jingganya.


Aku juga tidak bisa menikmati indahnya pasir putih yang halus bertemu dengan birunya air laut dari kejauhan di pantai atau melihat dari dekat bagaimana ikan menari di sela kaki di atas karang-karang yang berwarna hijau dan diselimuti beningnya air. Bahkan, aku tidak pernah tahu bagaimana wajahku yang sebenarnya karena setiap kali bercermin, yang terpampang di hadapanku adalah sosok wajah buruk rupa, penuh goresan dan luka serta mata yang menyala merah. Mungkin juga itulah wajahku yang sebenarnya. Namun apakah mungkin wajah saudaraku, wajah teman-temanku serta semua wajah orang yang pernah aku lihat semuanya juga buruk rupa, penuh goresan juga luka yang hampir sama.


Di usiaku sekarang aku sudah tidak lagi bingung maupun kaget saat melihat wajah-wajah lain yang sangat menyeramkan. Mungkin sudah terbiasa dengan hal ini. Aku tidak pernah menceritakan kelainanku ini kepada siapapun. Aku pertama kali menyadari kelebihanku ini saat Sekolah Menengah Pertama.


“Hei bro, coba itu lihat cewek yang sedang duduk di depan kelas 7F.” kata temanku saat jam istirahat.


“Emang kenapa?”

__ADS_1


“Cantik banget ya. Anak-anak sepakat itu primadona SMP kita loh”


“Ah, masak kayak gitu cantik sih.”


“Gila, udah kulitnya halus, putih, rambutnya hitam lurus. Kelas bilingual pula. Kurang apalagi coba.”


“Putih? Halus? bukannya dia sama saja ya seperti yang lainnya.”


“Kamu sakit mata atau gimana sih. Bukan aku aja kali yang bilang doi cantik. Semua cowok juga bakal setuju sama aku. Atau jangan-jangan kamu gak suka cewek ya.”


Disudutkan dengan pernyataan seperti itu membuatku mencari jawaban yang lebih masuk akal. Tidak mungkin juga buatku untuk menceritakan betapa bodohnya mata ini.


Dan benar saja, kalimat, “kamu sakit mata” atau “kamu gak suka cewek ya?” semakin sering aku dengar sejak hari itu walaupun yang mengucapkan itu orang yang berbeda. Di Sekolah Menengah Atas justru kalimat yang kedua itu yang justru sering dilontarkan kepadaku. Saat itu ada seorang cewek dari kelas lain yang naksir aku. Kata temen-temenku sih dia paling cantik di kelasnya dan gak sedikit juga yang naksir sama dia. Namun saat pertama kali bertemu dengannya wajahnya pun hampir sama seperti teman-temanku yang lain juga bahkan wajahku sendiri yang buruk rupa ini. Dan segera saja kalimat, “kamu gak suka cewek?” semakin berkumandang di bumi Sekolah Menengah Atas ini. Dan seperti biasanya aku selalu bersembunyi dibalik kalimat, “bukan tipeku.” Klasik.


Duduk di bangku kuliah tak juga membawa nasibku yang sudah buruk ini menjadi lebih baik. Semakin sering nongkrong di cafe maupun mall -tempat yang selama ini ku hindari. Semakin banyak cewek yang nongkrong di cafe itu maupun cewek yang sekedar lewat di mall membuatku semakin susah mencari alasan untuk pertanyaan.

__ADS_1


“lihat deh, cewek itu cantik banget.”


“Bro, menurutmu siapa cewek paling cantik di kelas kita?” Tanya salah satu temanku membuka obrolan. Mereka berenam sedang nongkrong di sebuah cafe di daerah Darmo.


“Gak tahulah, semuanya kelihatan mirip di kelas” jawabku sambil menyalakan sebatang rok*k.


“Mirip gimana maksudmu boy?” Tanya yang lain yang mulai tertarik dengan pembicaraan ini.


“ya gimana gak mirip. Ya gitulah”


“Ah, cupu kamu. Ada satu cewek yang cantik banget tahu di kelas. Ini beda dari yang lain.”


“Beda gimana coba, semua cewek atau semua orang yang aku lihat wajahnya penuh goresan dan luka-luka yang menyeramkan ditambah lagi mata yang merah menyala. Termasuk kalian itu.” Batinku dalam hati. Coba saja aku bisa cerita gimana seramnya wajah teman-temanku dilihat dari mata ini. Mungkin bukan ucapan, “kamu gak suka cewek ya?” lagi dan akan berganti, “kamu sakit jiwa.”


Senin hari selesai kuliah, aku dan salah satu temanku ke luar kelas yang terakhir setelah mengumpulkan tugas mata kuliah Pengantar Akuntansi. Aku dan temanku ke luar menyusuri lorong ini menuju tempat parker. Aku sibuk dengan handphone hingga temanku ini menyapa seorang cewek yang sedang duduk di samping lorong ini.

__ADS_1


“Hei Fit.”


Secara refleks aku pun juga melihat ke cewek tersebut. Cewek itu memakai kerudung merah, dipadukan dengan kemeja merah jam dan tas berwarna merah, celana jeans serta sepatu kanvas. Kulitnya putih, matanya bulat dengan pupilnya yang hitam, ramah dibingkai frame kacamata berwarna cokelat. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Inikah hal-hal yang dibicarakan semua orang? inikah satu kata yang mewakili cahaya matahari senja? inikah yang namanya ‘keindahan?’


__ADS_2