
Burung gagak mulai melantunkan suara menjengkelkannya di kala senja. Tunggu, kenapa ada suara burung gagak di sini? Perasaanku tidak enak.
Kenapa Ayana, sahabat dekatku meninggal tragis secara tiba-tiba, Aku takut. Ini sangat mengganjal dalam benakku. Sungguh.
“Meitha! Cepet ke bawah!” kata Melin, kakakku.
Aku pun segera turun ke bawah.
“Ada apa, kak?” tanyaku.
“Teman sekelasmu kembali meninggal.” katanya dengan khawatir.
“Apaa? Siapa kak?” Aku kaget setengah mati.
“Icha. Dia ditemukan tak bernyawa di kolam renang sekolah tadi pagi. Sama seperti Ayana, ada bekas darah di kaki yang bertuliskan ‘Hell’ (neraka).” Kakakku menunjukkan situs sekolahku yang memaparkan berita kematian itu.
Aku sulit bernafas. Ada apa dengan sekolahku?
Keesokan harinya di sekolah..
“Icha dan Ayana telah tewas.” sorak anak-anak sekelasku.
“Kematiannya selalu tragis.”
“Mungkin, ini murni pembunuhan.” Berita ini seakan memanas di telingaku.
“Tidak. Ini bukan pembunuhan. “kata Sica, yang bisa merasakan hawa negatif di manapun ia berada.
Kelas pun tersentak kaget.
“Kalian akan tau, saat melihat korban selanjutnya.” jawabnya pelan.
“Apa maksudmu?” tanyaku heran.
“Korbannya akan terus bertambah, Mei. Bukan cuma Ayana ataupun Icha.” sambung Sica.
“Kenapa selalu ada tulisan darah “Hell” (neraka) di tubuh mereka?” tanyaku.
“Dia ingin, mereka yang telah menyakitinya, masuk ke neraka.” jelas Sica.
“Dia? Dia siapa?” tanyaku.
“Ssst! Jangan keras-keras! Dia tau, kalau kita sedang membicarakannya.” jawab Sica. “Dia adalah Emmiline.”
Aku kembali ke rumah dengan takut. Emmiline? Siapa itu?
Aku masuk ke kamar dan membuka laptop kecilku, membuka situs sekolah dan mencari data Emmiline di sana.
Jantungku berhenti berdetak, saat melihat nama Emmiline terdapat di daftar kematian siswa tahun 1999.
“Sebuah kecelakaan menimpa salah satu siswa 8E 1999. Siswa bernama Emmiline ditemukan tak bernyawa dengan tragisnya di dasar jurang. Masih belum diketahui penyebab seseungguhnya. Namun, lima hari kemudian, siswa kelas 8E lainnya tewas dalam kecelakaan bus. Semuanya tewas dengan tragis”
“Emmiline terbunuh? Kelas 8E? Kelasku sekarang? Apakah ini sebabnya, siswa terus terbunuh di kelasku? Ya Tuhan..” Aku duduk terpaku menyembunyikan rasa takutku. Siapa yang akan terbunuh selanjutnya? Ataukah aku? Aku mulai menangis dan tertidur.
Tiba-tiba, datanglah seorang gadis berambut panjang menghampiriku. “Kau akan mati.” Tatapan dinginnya melihatku dengan sedih.
“Si.. siapa kau?” tanyaku.
“Aku tidak suka dibicarakan orang lain seperti yang kau lakukan. Jangan ikut campur urusanku.” Jawabnya.
“Aku hanya ingin membantu.” Kataku ketakutan.
“Tak ada yang bisa membantuku. Aku dibunuh tanpa sebab. Kelasmu akan terus berdarah.” jawabnya dengan wajah pucatnya.
__ADS_1
Aku terbangun. Keringat mengucur deras di dahiku. Apa tadi itu Emmiline?
Aku duduk bersama Sica di kelas. Sekarang, waktunya istirahat. Tapi, Sica melarangku untuk keluar kelas.
“Sepertinya aku akan mati.” Kataku, ke Sica.
“Kematian, hanya Tuhan yang tau. Jangan bilang yang aneh-aneh.” kata Sica.
“Emmiline datang ke mimpiku kemarin malem. Katanya, aku akan mati. Kelas kita akan terus menjadi korban.” kataku.
“Kau tau? Sebenernya, hantu datang ke mimpimu dan bercerita banyak, berarti.. mereka tidak membencimu.” kata Sica.
Tiba-tiba.. terdengar suara keras dari lantai atas. Aku dan Sica kaget.
“Ada yang jatuh dari lantai tiga!!” teriak anak-anak. Aku dan Sica spontan melihat ke bawah.
“Kyaaaaa!! Itu Julie.” Teriakku. Sica hanya terdiam. Lengannya bengkok dengan darah di mana-mana.
“Apa kau sudah tau, siapa saja yang akan dibunuh Emmiline?” Tanya Sica.
Aku hanya menggeleng. “Kau akan tau sendiri nanti. Tenang saja.” Jawab Sica tersenyum.
“Eh, Mei. Aku melihat Emmiline, sedang memandangimu dari bawah sana.” Sambungnya sambil menunjuk ke bawah.
“Apa?” tanyaku sambil menelan ludah. Tapi, tetap saja aku nggak kelihatan, hehe.
“Mereka yang tak kuat hidup akan mati terbunuh oleh Emmiline. Itulah kunci, siapa yang akan dibunuh Emm.” Lanjut Sica.
“Apa maksudnya nggak kuat hidup?” tanyaku.
“Mereka, yang bersikap sombong, kejam dan seenaknya sendiri bisa dikatakan nggak kuat hidup. Itu adalah sasaran Emmiline. Jadi, kau tak perlu takut Mei” Jawab Sica.
“Aku ingin ke perpustakaan lama. Ayo ikut..” Ajaknya.
Di perpustakaan lama..
“Mungkin, kita bisa menemukan petunjuk dari sini.” kata Sica. “Selain tempatnya sudah lama, tempat ini menyimpan berbagai barang yang sudah ada sejak dulu. Barang Emmiline mungkin ada di sini.”
“BUKU TAHUNAN 8E 1999/2000″
“Sica, kenapa.. foto Emmiline dicoret merah?” tanyaku heran sambil menunjuk foto Emmiline, yang terlihat cantik sekali. Sica hanya menggeleng.
“Sepertinya, aku mulai mengerti.. penyebab kematian Emmeline.” Pikirku dalam hati.
“Jam istirahat mau habis, dan kita belum menemukan apapun.” Kata Sica.
“Tunggu sebentar! Buku apa ini?” tanyaku, sambil menunjukkan buku usang bertuliskan “Emm's”, yang kutemukan terjepit di bawah serpihan-serpihan bangunan.
“Ini buku diary Emmiline!” kata Sica girang. “Mei, Emmiline senang kau berhasil menemukannya.” Sambungnya.
“Ayo cepat ke kelas!” kataku, sambil berlari bersama Sica.
Di kelas..
“Dari mana saja kalian?” Tanya Mrs. Vey, yang cukup sabar, namun tegas.
“Emm.. kami dari kamar mandi.” Jawab Sica berbohong.
“Nilai IPA kalian akan ibu kurangi 20!” Jawab Mrs. Vey, wali kelas 8E.
Aku dan Sica hanya dapat tertunduk dan segera duduk di bangku kami. Dengan sembunyi-sembunyi, kami mulai membaca Diary Emmiline.
Hal 1: “Aku dilempari batu hingga berdarah hari ini, oleh anak sekelas. Apa salahku? Tubuhku terluka dan Ibuku kesusahan mengobatiku.”
Hal 2: “Hari ini semakin parah. Aku dikunci di kamar mandi, dan mereka membasahi seragamku. Aku kembali ke kelas, dan Mrs. Vey memarahiku. Dia tak membelaku, yang berada di pihak benar.”
__ADS_1
“Mrs. Vey wali kelas Emmeline?” tanyaku pelan-pelan. Sica mengangguk.
“Aku tau, sekarang, Emmiline sedang memandangi Mrs. Vey dengan penuh kebencian.” Sambungnya.
Aku terus membaca hingga ke hal yang berisi:
“Mrs. Vey datang ke rumahku untuk menagih uang sekolah. Tapi, orang tuaku tak mampu membayarnya. Kejam sekali! Ibuku menangis memohon keringanan, tapi tak dihiraukan.”
Aku kembali membuka halaman terakhir..
“Ibuku bunuh diri karena Mrs. Vey. Kenapa aku harus hidup sendiri setelah kematian Ayah? Ibuu..”
Tiba-tiba..
Mrs. Vey jatuh, dan kepalanya menimpa lantai. Kepalanya mengalami pendarahan. Oh tidak, dia tewas.
“Dia memang pantas mati.” gumam Sica.
Aku shock sekali. Sekolah ini seakan terus berdarah dan memakan korban.
“Emmiline tewas dibunuh satu kelas yang membencinya. Karena pandai, cantik, dan selalu disegani, mereka yang iri kepada Emm berencana untuk membunuhnya. Tapi akhirnya, mereka juga tewas dengan tragis. Itulah kenapa foto Emm dicoret di buku tahunannya. Iya kan, Emm?” gumam Sica sambil memandang ke arah belakang.
Aku pun kembali ke rumah dengan Sica. Kakakku kaget bukan main, karena kematian Mrs. Vey tadi siang.
Aku segera membersihkan buku Diary Emmiline, dan mengembalikannya ke tempat seharusnya, di perpustakaan lama sekolahku.
Entah kenapa, setelah hari itu, tak ada lagi korban tewas karena Emm. Apa Emm sudah kembali ke sisi Tuhan tanpa dendam di jiwanya?
Kuharap iya. Kini, kenangan berdarah di sekolahku, seakan hilang tak berbekas.
– SELESAI –
Thanks for reading^^ :D
Maaf yah kalo autor ngk bisa langsung update semua novel karena butuh proses semua dan tenaga
sekali lagi maaf :(
__ADS_1