
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Judul: Pacarku Daun Muda (Part 1
_________________________
Memangnya salah ya kalau aku mempunyai pacar yang umurnya lebih muda beberapa tahun dari umurku? Bukankah ada pepatah yang mengatakan cinta itu tidak memandang umur, status, keturunan dan yang lainnya. Lalu mengapa sewaktu aku berpacaran dengan Rico, teman-teman yang berada di dekat ku, seperti kaya orang kebakaran jenggot?. Mereka berkata kalau aku tidak pantas berpacaran dengan Rico, bahkan sahabat dekatku sampai berpikir kalau aku sudah tidak waras lagi, karena telah menerima Rico yang masih ABG itu. Hmmm… kalau begitu, apa gunanya pepatah yang sudah ada dari jaman dahulu kala?
Gosip ini telah menyebar sangat cepat seperti virus yang mematikan, ketika aku memutuskan untuk berpacaran dengan Rico, seorang murid SMU yang umurnya lebih muda tiga tahun dariku. Empat bulan sudah aku berpacaran dengannya. Keluarga dan teman-temanku sangat terkejut ketika mengetahui hal itu. Serentetan pertanyaan mereka berikan secara membabi buta padaku? mereka mau tahu saja, mengapa aku berani mengambil keputusan seperti ini. Yang pasti aku telah mantap untuk berpacaran dengan Rico, walau apapun yang terjadi, aku akan memperjuangkan hubunganku dengannya. Ini bukan karena cinta buta? Tapi ini karena aku merasakan kenyamanan di dekatnya.
Apakah berdosa jika aku dan Rico berpacaran. Aku adalah wanita yang telah jatuh cinta pada seorang pria, dan itu sangatlah wajar. Di sini yang menjadi persoalan hanyalah masalah umur. Tetapi bagi aku dan Rico, perbedaan umur itu tidak menjadi permasalahan yang luar biasa. Bukankah kedewasaan itu tidak berpatokan dengan umur seseorang?. Menurutku selain ganteng, Rico adalah pria yang baik, sopan dan dewasa. Aku sangat nyaman bila berada di dekatnya. Perasaan seseorang itu tidak bisa dibohongi, walaupun tadinya aku berusaha sekuat mungkin untuk lari menghindari perasaanku ini. Tetapi pada akhirnya aku menyerah dan aku akui kalau aku membutuhkannya.
Hubungan aku dan Rico berjalan dengan baik. Kami berdua tidak merasakan adanya perbedaan. Hubungan kami sangat normal seperti layaknya pasangan-pasangan yang lainnya, sampai masalah itu muncul di Siang ini. Aku segera keluar dari kelas setelah selesai mengikuti mata kuliah pemasaran. Aku dan kedua sahabatku, Sarah dan Nina berjalan menuju tempat parkiran mobil yang berada di depan gedung kampus ku.
'Uuustth… Mai… Maike, lihat… daun muda loe sudah nungguin tuh?' bisik Sarah padaku sambil tersenyum.
Aku menatap Rico dari kejauhan. Rico sedang menggungu ku di depan sedan hitam miliknya dengan mengenakan seragam sekolah? Ya Tuhan…, kenapa Rico menjemputku masih mengenakan seragam sekolahnya itu? gerutu ku dalam hati. Rico melambaikan tangannya ke arah ku. Aku melirikan mata ke arah Sarah dan Nina yang sedang asyik berbisik-bisik. Hmm… sudah bisa ditebak, pasti kedua sahabatku itu sedang menggosipkan diriku ini. Aku lalu menarik napas panjang sambil melangkahkan kaki ku menghampiri Rico.
'Hai… Rico!' Sapa Sarah dan Nina sambil tersenyum genit di depan Rico.
'Hai…' jawab Rico sambil tersenyum manis.
'Duh… Yang lagi kasmaran, mesra banget sih? habis pulang dari sekolah langsung jemput pujaan hati?' canda Nina sambil tertawa.
'Hmmmm… Mulai deh ngeledekin cowok gue lagi?' gerutuku kesal sambil memandang Nina yang agak-agak berlebihan itu.
Sambil tersenyum, aku menutupi kejengkelanku terhadap Sarah dan Nina. setelah berbincang-bincang sebentar, akhirnya Sarah dan Nina pergi meninggalkan kami berdua. Rico tersenyum manis memandangku, lalu ia menggandeng tangan ini sambil berjalan ke arah pintu mobil.
'Ayo… kita jalan, takut nanti kesorean?' katanya sambil membukakan aku pintu mobil.
Hatiku masih di liputi rasa kesal, karena Rico menjemput ku masih mengenakan seragam sekolahnya. Tidak lama kemudian Rico mengendarai mobilnya menuju sebuah Mall. Memang di siang itu aku berjanji pada Rico untuk menemaninya membeli sepatu futsal. Aku pun mengizinkan ia untuk menjemputku di kampus, tetapi bukan dengan memakai seragam sekolahnya?. Pasti sebagaian anak-anak yang berada di parkiran tadi memperhatikan aku dan Rico. Dan gossip ini mungkin akan segera menyebar di kampus, bagaikan air bah yang bisa menghanyutkan orang-orang yang berada di sekitarnya? pikiranku pun terbang melayang jauh.
'Kok diam aja Mai, biasanya kamu cerewet? Kamu lapar yaa?' ledek Rico sambil tersenyum dan membuyarkan lamunanku.
'Kamu kok masih pake seragam sih Ric, Kamu nggak bawa baju ganti, apa?' Tanyaku cemberut.
'Maaf yaa, tadi pagi aku terburu-buru pergi ke sekolah. Aku jadi lupa bawa baju salin, hmm… kamu malu yaa jalan sama aku, kalau aku masih memakai seragam sekolah?. Maaf ya sayang, aku lupa banget. Begini aja deh, kalau kamu keberatan jalan sama aku sekarang. Kita batalkan saja ke mall nya? aku enggak apa-apa kok' jelas Rico panjang lebar.
Aku terdiam…, aku tidak sampai hati jika sampai harus membatalkan rencananya di hari ini, Rico sangat sabar menghadapi tingkahku yang agak kekanak-kanakkan saat itu. Aku lalu memandang Rico yang sedang menyetir, wajahnya sama sekali tidak menampakan beban yang berat, ia begitu sangat santai dan tidak sepertiku yang sangat gelisah.
'Hai… Kok kamu jadi bengong sih? Jangan ngeliatin aku terus… ahh, nanti kalo aku ke ge-eran mobil ini bisa terbang lho' canda Rico sambil tertawa.
Aku jadi tertawa terbahak-bahak mendengar gurauannya. Rico lalu menatapku ketika mobilnya berhenti di saat lampu merah menyalah.
'Aku senang kalau melihat kamu bahagia, Mai' kata Rico sambil tersenyum.
'Maaf ya Ric, tadi aku terlalu egois?. Yuk… kita cari sepatu futsal kamu', ajakku.
'Beneran nih, enggak malu jalan sama anak SMU' ledek Rico sambil mengusap-ngusap rambutku.
Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. Aku juga akan berusaha untuk membuat kamu bahagia Ric, kataku dalam hati. Tidak lama kemudian Rico pun mengendarai mobilnya kembali setelah lampu hijau menyalah.
Sesampai di Mall, dengan santai Rico menggandeng tanganku kembali di sepanjang jalan. genggaman tangannya sangat kuat dan hangat. Semula aku sangat senang bergandengan tangan dengannya, tetapi lama kelamaan aku merasa terganggu juga dengan keadaan yang berada di sekelilingku. Sepertinya aku dan Rico tengah menjadi pusat perhatian disana, tidak jarang orang-orang yang berada di mall, ada yang berbisik-bisik atau tersenyum-senyum, bahkan ada yang mencibir melihat Rico dengan mesra menggenggam tanganku. Mungkin mereka merasa aneh melihat seorang cowok ABG, bergandengan tangan dengan cewek yang lebih dewasa darinya.
Dengan reflex aku melepaskan tanganku dari genggaman tangan Rico, ketika seorang pemuda tersenyum melihat kami berdua. Rico lalu menghentikan langkahnya dan memandangku.
'Kenapa Mai…?' Tanyanya.
'Hmmm… enggak apa-apa Ric ehh… toko sepatunya dimana?' tanyaku mengalihkan perhatiaannya.
__ADS_1
'Itu… di lantai atas' jawab Rico sambil tersenyum.
'Ayo… kita kesana' ajakku sambil tersenyum.
Rico memilih-milih sepatu, sedangkan aku duduk sambil memandangi Rico yang tengah sibuk mencoba sepatu futsalnya.
'Sayang… Bagus yang mana nih? yang biru atau yang merah?' tanya Rico sambil menunjukkan dua buah sepatu yang berada di tangannya.
'Hmmm… Biru bagus' jawabku sambil tersenyum.
'Wow… Berarti kita benar-benar sehati ya, pilihanku juga yang biru?' kata Rico tertawa.
Tidak lama kemudian kami berdua berjalan ke arah kasir, tiba-tiba ada segerombolan anak-anak perempuan berseragam sekolah mendekati Rico.
'Rico..?' teriak seorang anak perempuan yang lumayan cantik memanggil Rico.
Rico tersenyum, anak-anak perempuan itu lalu pada mengelilingi Rico sambil tertawa-tawa, aku pun buru-buru memundurkan langkah kakiku ke belakang. Rico melirikan matanya ke arah ku, sepertinya ia sadar jika aku tengah menghindari dirinya.
'Loe kesini sama siapa, Ric?' tanya anak perempuan yang memakai kacamata.
'Sama Cewek aku? Tuh orangnya disana' tunjuk Rico.
Tiba-tiba saja segerombolan anak-anak perempuan itu, dengan kompak semuanya menengok ke arahku. Aku langsung menelan ludah, dan salah tingkah di depan mereka sedang yang memandangiku dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Mereka lalu berbisik-bisik sambil tersenyum-senyum, dan tidak lama kemudian segerombolan anak perempuan itu pergi meninggalkan Rico dan aku.
Aku menatap tajam Rico dengan perasaan kesal. Aku kesal bukan karena cemburu dengan segerombolan anak-anak perempuan yang genit itu, tetapi aku tidak suka melihat tingkah mereka yang sepertinya sangat aneh melihatku, mungkin mereka berpikir aku sudah terlalu tua untuk menjadi pacar Rico. Aku jadi malas berlama-lama berada di mall. Hmm… Apakah ini adalah salah satu resiko berpacaran dengan pria yang lebih muda?
Sewaktu malam minggu tiba, Rico datang ke rumahku. Mama dan Papa tersenyum melihat kedatangannya, lalu mereka berdua mengajak aku dan Rico untuk makan malam bersama. Lagi-lagi Papa berbicara tentang perbedaan usia, Papa tidak keberatan jika aku dan Rico berpacaran, tetapi banyak yang harus dipikirkan lagi, karena pasti akan banyak halangan dan kerikil-kerikil yang bisa membuat hubungan kami berdua berantakan. Rico menanggapi hal yang dibicarakan Papa dengan tenang, ia menjawab semua pertanyaan Papa serta menyakinkan kedua orangtuaku, agar tidak terlalu khawatir dengan hubungan kami berdua. Rico pun berjanji akan selalu menyayangi serta melindungiku. Aku kagum pada Rico, dengan umurnya yang baru genap tujuh belas tahun, tetapi pikiran dan tingkah lakunya sudah sangat dewasa. Itulah salah satu yang membuat aku yakin untuk berpacaran dengannya.
Selain dengan orangtua dan keluargaku, Rico juga pandai menyesuaikan diri dengan teman-temanku. Walaupun terkadang ia menjadi obyek penderita dan bahan celaan oleh teman-temanku. Rico menanggapinya santai, mungkin di sini aku yang lebih emosi, karena aku enggak rela mereka menperolok-olok kekasihku. Kadang aku kasihan padanya, dan aku selalu bertanya-tanya apakah hubungan kami akan kuat berjalan dengan kondisi seperti ini.
Di minggu pagi itu, aku berjanji pada Rico akan menonton pertandingan futsalnya. Grup futsal Rico akan bertanding melawan grup futsal dari sekolah lain. Aku mengajak Sarah dan Nina. Kedua sahabatku itu pun sangat antusias? mereka bergurau, siapa tahu saja mereka berdua juga bisa kecantol dengan teman-temannya Rico yang masih pada imut-imut, dan bisa berpacaran dengan daun muda? sama sepertiku saat ini. Aku tertawa di dalam hati mendengar percakapan Nina dan Sarah, yang selama dalam perjalanan tidak henti-hentinya bersenda gurau.
Sesampai di sana aku, Nina dan Sarah segera masuk dan menempati bangku yang berada di deretan paling depan. Pertandingan baru saja dimulai, Rico berdiri di tengah-tengah lapangan, lalu ia melihatku sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun tersenyum manis padanya.
'Jangan-jangan Rico melambaikan tangannya ke arah kita kali ya? Jawab seorang anak perempuan yang satunya lagi sambil tertawa'.
'Si Rico tambah ganteng ya, pantas saja banyak anak-anak cewek di sekolah kita yang naksir sama dia'.
'Iyah… senyumannya itu lho, enggak nahan deh ngeliatnya?'.
Tiba-tiba Sarah menyikut tangannya ke arah pinggangku, sambil berbisik ia pun berkata.
'Ehh… Mai, loe dengar nggak?, Cowok loe lagi digosipin tuh sama anak cewek yang di belakang kita' kata Sarah.
'Udahlah… Sar, diamin aja? Namanya juga anak ABG' jawabku sambil berbisik.
Aku terdiam, sepertinya aku harus maklumi perkataan anak-anak cewek itu. Hmmm… Aku pun tersenyum sambil memperhatikan Rico yang sedang menggiring bolanya ke gawang lawan.
'Ehh… ehh loe semua sudah pada tau nggak sih, gossip yang sekarang lagi beredar di sekolah tentang Rico?' Tanya salah satu anak perempuan di belakangku lagi.
'Gosip apaan sih? secara lho kita kan kelas sebelas, jadi enggak begitu up date dengan gossip-gossip anak kelas dua belas?' kata anak perempuan yang lainnya.
'Loe tau Fanny dan ganknya kan?'.
'Memangnya si Fanny kenapa…?'.
'Dia dan ganknya beberapa hari yang lalu bertemu dengan Rico di mall, terus gosipnya sih, si Rico lagi jalan sama ceweknya'.
'Wow… ternyata diam-diam Rico sudah punya cewek toh, pantas saja dia dingin sama cewek di sekolah'.
__ADS_1
'Dan loe semua pada tau nggak, kalau ternyata ceweknya Rico itu sudah tua lho'. 'Nah itu hot gossipnya?'.
'Maksud loe, dia pacaran sama tante-tante gitu…?'.
'Mana gue tau…?'.
'Walah… sayang amat yaa muka se cute dia pacaran sama cewek yang lebih tua?'.
'Iyah… Gue jadi penasaran nih mau ngeliat mukanya tuh cewek? secantik apa sih dia, bisa membuat si Rico kepincut, jangan-jangan Rico kena santet lagi?.'
Hahahahahaha… segerombolan cewek-cewek yang berada di belakangku pun pada tertawa terbaha-bahak. Aku menarik napas panjang, ingin rasanya aku mendaprat mereka semua. Yaaa Tuhan mengapa semua ini terjadi padaku. Sarah dan Nina pun melirikan mata mereka ke arahku.
'Jangan didengerin Mai, namanya juga ababil lagi ngegosip?' bisik Nina yang berusaha menghiburku.
Napasku terasa sesak mendengar percakapan mereka, apakah aku harus marah atau apakah aku harus memakluminya. Bahkan mereka sama sekali tidak tahu jika wanita yang mereka gosipkan itu berada tepat di depan mereka. Kepalaku menjadi pusing, pikiran ini berputar-putar, aku ingin pulang… teriakku dalam hati.
Grup futsal Rico akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 5-3, pertandingan pun telah usai. Rico berjalan menghampiriku yang masih duduk di tempat yang sama. Ia tersenyum lalu menggenggam tanganku, serta menyapa Sarah dan Nina.
'Aih… Rico, selamat yaaa… Grup loe akhirnya menang juga' kata Nina.
'Ric, kenalin dong sama temen loe yang imut-imut itu?' bisik Sarah sambil tersenyum ia melirikkan matanya ke arah laki-laki yang sedang berdiri di depan gawang.
'Serius loe, Sar? Loe juga mau pacaran sama daun muda juga' canda Rico sambil tertawa terbahak-bahak.
'Iyah… nih, abis ngedapetin cowok yang tua dan mapan susah banget? siapa tau aja sama yang muda cucok bo…?' jawab Sarah sambil tertawa juga.
'Sayang…, kamu kenapa, kok diam saja?' tanya Rico sambil menatapku.
'Enggak apa-apa Ric' jawabku pelan.
Aku melirikan mata ke arah samping kananku, aku melihat anak-anak perempuan yang berada di pojok sana sedang berbisik-bisik menatapku. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka, yang pasti aku merasa agak terganggu melihat tatapan mata mereka yang seolah-olah sangat menyudutkan keberadaanku di dekat Rico.
'Kita makan di kantin belakang dulu yuk… katanya sih makanan disana enak-enak?' ajak Rico sambil berjalan menggandeng tanganku.
Aku mengikuti langkah Rico, begitu juga dengan kedua sahabatku. Setiba di kantin aku bertemu kembali dengan beberapa anak-anak perempuan yang lainnya. Perasaanku tidak tenang kembali ketika melihat mereka mulai tersenyum-senyum, dan berbisik-bisik melihat keberadaanku di dekat Rico, yang masih saja menggenggam tangan ini. Yaa… Tuhan, aku merasa risih berada di sini? apa yang aku harus lakukan, kataku dalam hati. Tiba-tiba salah satu anak perempuan dari mereka berjalan menghampiri meja ku.
'Rico…' Sapa anak perempuan yang sangat manis itu.
'Hi… Lis jawab Rico sambil tersenyum'.
'Itu pacar baru kamu ya, kok gue enggak dikenalin?' Tanya anak perempuan itu lagi yang bernama Lisa.
'Ohhh… yaaa, kenalin nih cewek gue, namanya Maike?' kata Rico memperkenalkan diriku.
Anak perempuan itu tersenyum menatapku. Lalu ia memberikan sebuah amplop pada Rico.
'Ric… datang ya, ke pesta ulang tahun gue nanti malam, hmmm loe boleh kok bawa cewek loe juga?' katanya lagi sambil tersenyum.
'Okei…, kalau enggak ada halangan, nanti malam gue datang dengan Maike' jawab Rico sambil tersenyum.
Huaaahhhh… aku enggak mau datang? Pokoknya aku enggak mau datang ke pesta ABG itu? Teriakku kencang di dalam hati ini, setelah mendengar perkataan Rico. Aku pun segera mencari alasan-alasan yang masuk akal, agar aku terhindar dari pesta yang aku anggap sebagai bencana yang akan datang nanti malam.
Selama dalam perjalanan pulang, setelah aku mengantarkan Sarah dan Nina hingga samapai rumah mereka. Rico membujukku agar aku mau menemaninya untuk datang ke pesta itu. Segala alasan sudah aku berikan padanya, dari alasan yang masuk akal, sampai alasan yang sama sekali tidak masuk di akal?
'Ayo… Alasan kamu apa lagi sayang?, apakah kamu mau memberi alasan, jika nanti malam kamu juga mau merayakan hari ulang tahun kucing kamu, si Nunuk itu?' Tanya Rico sambil tertawa.
'Aku malu Ric, aku tidak bisa pergi ke pesta itu' jawabku sambil mengendarai mobilku.
'Kan… ada aku Mai' aku janji, pasti aku akan selalu ada di samping kamu dan tidak akan meninggalkan kamu? Rayu Rico.
__ADS_1
Dan akhirnya aku menyerah, ketika Rico meyakinkan aku untuk pergi ke pesta bersamanya nanti malam. Sesampai di rumah aku langsung berlari masuk ke dalam kamar dan membuka lemariku, untuk mencari baju apakah yang pantas akan aku kenakan nanti malam. Isi baju di dalam lemari yang berwarna putih itu, sudah porak poranda susunannya karena ulahku yang seperti orang kesetanan. Aduh baju apa yang akan terlihat aku seperti anak Abg? Apakah aku harus mengikuti gaya mereka? Ataukah aku harus menjadi diriku sendiri yang sudah dewasa ini? Pikirku dalam hati sambil berdiri di depan cermin. Setelah sekian lama memilih-milih, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah dress dengan panjang selutut berwarna hitam.
p