Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Five Islands (Part 2)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi


Judul: Five Islands (Part 2)


_________________________


Mata Narada menatap nanar pada Jaka. Ada sesuatu pada diri Jaka yang membuat kakek tua itu gemetaran setengah mati.


Jaka melangkah mendekati pria tua yang kini bersujud padanya itu.


“Am-ampun paduka..


Demi Dewa, saya tak bermaksud menghalang-halangi paduka..” ujar Narada nyaris tanpa suara.


“Jadi..


Dari semua pasukanku, cuma kau yang masih hidup?” ujar sisi lain Jaka itu. Suaranya mengandung kekecewaan.


Narada mengangguk. Ketakutan.


“Berdiri. Antar aku ke Garudayana..” tambah Jaka lagi.


“Sendika dawuh gusti..” jawab Narada sambil menghormat.


Jaka tersenyum puas. Namun segera hilang setelah menyadari di tempat itu bukan hanya ada dia dan Narada.


Artha beringsut mundur menatap wajah kakaknya sendiri. Entahlah. Mendadak dia asing dengan wajah itu. Aura yang gelap dan purba menyelubungi tubuh Jaka hingga pekat walau tak terlihat mata biasa.


“Kak Jaka! Ini aku Artha! Kakak kenapa?” teriak Artha mencoba menyadarkan kakaknya.


“Cucumu, Narada?” tanya Jaka sambil melirik Artha sekilas.


“Bukan, Paduka. Nampaknya dia teman dari anak yang tubuhnya paduka pakai..” jawab Narada.


“Apa perlu saya menghabisinya, Paduka?”


Artha pucat mendengar kata-kata Narada yang terakhir.


Jaka tersenyum.


“Tak perlu. Bawa saja dia bersama tungganganmu..”


Narada mengangguk dan melangkah ke arah Artha. Artha menjerit-jerit histeris. Dia tak punya senjata. Menurunkan kemungkinan melawannya hingga beberapa persen.


Dia tak punya pilihan selain meronta sekuat tenaga dari cengkeraman Narada.


“Tenanglah! Tunggu hingga ia pergi!” bisik kakek tua itu di telinga Artha. Artha berhenti memberontak dan menatap aneh pada Narada.


Cengkeraman Narada mengendur melihat Jaka sudah lenyap.


“Naik!” seru Narada pada Artha.


Sejenak Artha ragu.


“Ayo!!” ulang Narada.


“Ini demi keselamatan kakakmu!!”.



Jaka, atau tepatnya sisi lain Jaka nampak berkomat-kamit di mulut kawah.

__ADS_1


“Kala..


Tibalah saat kematianmu..” seringai Jaka.


Lengannya terulur dalam kawah. Mendadak batuan vulkanis dari tengah kawah menyembul dari dalam lava. Di atas batu yang mirip tugu itu tertancap logam tipis berbentuk petir yang aneh. Dengan sekali jejak, Jaka melompat ke tugu batu berjarak tiga meteran itu.


Tangannya sudah begitu dekat hendak mencabut keris itu, namun tiba-tiba ia berhenti.



Narada berkomat-kamit dengan tangan tertunjuk ke arah Jaka. Ujung jarinya berkilauan dengan ganjil.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Artha cemas.


“Mencoba mengembalikan kepribadian kakakmu yang satunya..”


Narada kembali berkonsentrasi. Dengan dicabutnya Garudayana, para Bathara akan kembali ke medan perang. Termasuk Kala.


Dia tak bisa membiarkan itu. Narada adalah anggota Prajurit Nusa Antara yang mencegah perang Bathara kembali bergolak. Namun ia tak semuda dulu, kekuatan sihirnya menurun drastis karena mantra yang ia pakai saat ini memang memakan tenaga besar.


“Selamatkan kakakku, tuan” bisik Artha pelan.


“Tenanglah..”


Narada kembali berkonsentrasi.



Jaka merasa melayang di dalam ruang hampa serba putih. Dia melihat dirinya sendiri tengah berdiri di tengah kawah. Jaka hendak berteriak tapi tak mampu.


Malahan dia mulai serasa ditarik ke dalam tubuhnya kuat-kuat. Jaka kaget dan memejamkan matanya.


“Buka matamu.”


“Kau tahu siapa aku, anak muda?” tanya kembaran Jaka itu.


Tanpa menunggu jawaban Jaka, dia berkata lagi.


“Aku Satya Gatotkaca, sang Bathara Agni..


Penguasa Java, salah satu Lima Pulau Besar..”


“Lalu apa hubungannya denganku?”


“Kau adalah wadahku..


Reinkarnasiku, aku membutuhkan tubuhmu untuk menuntaskan ekspansiku menguasai seluruh Nusa Antara..” jawab Satya Gatotkaca menyombong.


“Tidak bisa, kau akan menghancurkan keseimbangan lima negara..


Masing-masing pulau adalah eksistensi yang tidak boleh berkurang maupun bertambah..”


“Apa kau bilang?! Aku menyatukan Nusa di bawah Java karena aku ingin melindungi lima pulau dari Kala!!”


“Aku yakin Java, dan empat pulau lain mampu bersatu tanpa satu negara yang mendominasi!!!”


Mereka saling menatap tajam.


“Aku akan buktikan padamu, bahwa ekspansimu tiga ratus tahun lalu adalah hal yang sia-sia!” tambah Jaka.


“Jadi, mungkin aku harus melenyapkanmu..”

__ADS_1


Jaka menatap Satya Gatotkaca tajam. Kakinya mundur beberapa langkah dan memasang kuda-kuda.


Jaka bersiap dari serangan yang akan datang.


Namun, mendadak rantai-rantai api melingkari Satya Gatotkaca.


“Bangsat Narada!! Pengkhianat!” umpat Satya.


Rantai api itu dengan cepat menariknya ke dalam lubang di ruangan itu.


Jaka lantas membuka mata. Pandangannya berkunang-kunang. Namun ia segera sadar ia di tengah kawah yang membara. Di hadapannya tertancap batang logam meliuk-liuk di altar batu.


Aku akan buktikan dengan keris ini, bahwa kelima Bathara dapat bersatu untuk menaklukkan Kala, batin Jaka. Tangannya menggenggam erat keris itu dan seketika kulit tangannya disengat panas keris.


Jaka mengaduh. Namun dia tak mau melepas jemarinya dari senjata itu.


Narada tersentak melihat apa yang akan dilakukan Jaka. Dia segera terbang menghampiri Jaka.


“Hentikaann!!!” teriak Narada.


Namun terlambat. Keris itu telah teracung menunjuk angkasa.


Sebagai reaksi tindakan Jaka, mendadak langit tertutup asap hitam dari kawah. Lava bergolak.


Narada meraih tangan Jaka dan membawanya ke tepi kawah.


Jaka melirik Artha. Belum pernah ia melihat Artha begitu gemetar karena ketakutan.


Jaka menatap kawah. Sosok raksasa menggapai-gapai keluar dari sana. Tubuh makhluk itu sewarna lahar.


“LARI!!” pekik Narada.


Jaka segera menarik Artha menuruni puncak. Namun Artha tak bergerak. Mata Artha menatap Jaka ngeri.


“kamu kenapa? Kita harus menghindar secepatnya!!”


Alih-alih menjawab, Artha hanya menggeleng histeris. Artha mundur dari Jaka perlahan.


Mendadak dari langit sesosok makhluk gelap bersayap menyambar tubuh mungil Artha.


Jaka ternganga. Dia tak sempat berteriak.


“A-artha..”


“ARTHAAA!!!”


Narada yang sibuk menghalau mahluk lahar itu menoleh. Kaget salah satu pasukan kegelapan Bathara Kala bisa membuatnya kecolongan.


Jaka menatap adiknya menghilang dalam langit yang hitam. Mendadak aura itu kembali menyelubunginya. Jaka berbalik. Mata merahnya berkilat-kilat. Keris Garudayana di tangannya juga berkilau merah.


“minggir Narada!!” perintah suara mirip Satya Gatotkaca dalam tubuh Jaka.


Tangan Jaka mengacungkan keris ke kepala makhluk itu. Sesaat itu juga petir merah dari Garudayana menyambar korbannya.


Makhluk lahar itu rontok jadi batu.


Jaka menggeram marah.


“Beraninya..


Dasar ******* Kala..”

__ADS_1


Narada menoleh kaget setelah mendengar suara dari Jaka dengan lebih jelas. Dia baru menyadari, kepribadian yang barusan meledakkan monster lahar itu sama sekali bukan Satya Gatotkaca.


__ADS_2