
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati Terpendam
Judul: Kamera Kayu (Part 2)
_________________________
Pada suatu sore di taman kota mereka dipertemukan. Tak tahan melihat orang yang dicintainya itu disakiti, Bian pun melayangkan tangan kanannya ke wajah Tiar. Tiar yang tidak tahu apa apa tentunya ingin melawan tapi dia mencoba untuk sabar dan meminta Bian untuk menjelaskan apa maksud dari ini semua.
'Maksudnya lo apa nih? Main tonjok sembarangan aja' Tanya Tiar.
'Harusnya gua yang nanya sama lo. Maksud lo apaan mainin perasaannya Ryna?' Emosi Bian.
'Mainin? Mainin gimana maksud lo? Gua gak ada niat untuk mainin perasaan perempuan apalagi perempuan selucu Ryna' Jawab Tiar.
'Ryna cerita sama gua, kalau lo cuekin dia. Lo datang dan pergi sesuka hati lo aja kan? Gua gak tega ngelihat Ryna mikirin itu karena gua cinta sama dia' Tegas Bian.
'Lo gak pernah tahu kan alasan gua seperti itu. Gua juga gak akan ngomongin itu karena lo emang gak pernah mau tahu. Lo cinta sama dia kan? Kenapa gak lo jadian sama dia aja. Mungkin lo lebih pantes ngedampingin dia' Jelas Tiar
'Asal lo tahu, dia sekarang lagi di rawat di rumah sakit. Dia lagi melawan penyakit kerasnya. Dia divonis mengidap penyakit lupus. Puas lo bikin dia tambah tertekan? Setiap gua jenguk dia, dia selalu nanyain lo kemana dan kenapa lo nyuekin dia. Dia tuh sukanya sama lo bukan sama gua. Gua selalu bilang ke dia kalau lo lagi nyiapin kejutan buat dia makanya lo diemin dia untuk sementara. Cinta tak harus memiliki. Kalau dia bahagia pasti gua akan bahagia. Gua percayain lo untuk ngejaga Ryna.' Kata Bian.
Bian langsung pergi meniggalkan Tiar. Di tempat yang sama, Tiar memikirkan kembali apa yang dikatakan Bian dan berkata,
'Lo gak tahu ian apa yang gua rasain. Gua sayang banget sama Ryna semenjak gua kenal dia. Gua bakal jadi orang yang paling bodoh di dunia ini kalau nyia-nyiain cewek sesempurna Ryna. Gua gak bermaksud untuk meninggalkan Ryna, tapi ada sesuatu yang gak bisa gua jelasin sama kalian. Gua lebih dulu mengidap penyakit kanker dan kanker yang menggerogoti tubuh gua ini sudah memasuki stadium akhir. Gua harus bolak-balik Jakarta-Singapura untuk 'kemoterapi'. Gua gak pantes ngedampingi Ryna kemana-mana. Gua gak sanggup kalau akhirnya Ryna lebih sakit hati lagi kalau gua meninggalkan dia untuk selamanya di sela-sela kebahagiaan kita. Tapi gua harus mengalah, Ryna butuh gua dan gua pun sangat membutuhkan dia. Gua udah dikasih kepercayaan sama Bian. Mungkin Ryna orang yang tepat untuk mengisi sisa-sisa hari gua di dunia ini.'
Setelah dokter mengizinkan Ryna untuk pulang dan melakukan kegiatan sehari-harinya kembali, Ryna terlihat sangat bahagia. Ryna juga sudah menerima penyakitnya itu dengan ikhlas. Dia sangat rindu dengan sekolah dan teman-temannya, dan tentunya dengan kamera kesayangannya. Selama di rumah sakit Ryna tidak diizinkan ayahnya untuk beraktifitas berlebihan. Semua kembali seperti semula kembali. Kakak-kakak Ryna sudah sibuk kuliah kembali tetapi setiap hari libur mereka akan pulang untuk menemani Ryna jalan-jalan. Orangtua Ryna pun lebih ketat menjaga Ryna sekarang.
Hari pertama Ryna masuk sekolah kembali, dia disambut teman-teman sekelasnya dan Bian dengan meriah. Dia sangat rindu dengan teman-temannya begitu pula dengan teman-temannya sangat merindukan Ryna termasuk Bian.
Pulang sekolah, dia melepas kerinduannya terhadap fotografi di tempat biasa yaitu di lantai 4 sekolah. Bian pun masih setia menemani Ryna. Di sela waktu, Bian bertukar posisi dengan Tiar. Tiar ingin menemani Ryna sore ini, tentunya mereka sudah bekerja sama sebelumnya.
'Ian, Tiar kemana ya kok dari tadi pagi gak keliatan? Dia gak tau ya kalau gua udah masuk sekolah lagi hari ini?' Tanya Ryna
'Tau kok. Tiar ada di sini nemenin Ryna' Jawab Tiar.
'Eh kok Tiar? Biannya kemana?' Panik Ryna.
'Bian disuruh jemput mamanya di bandara' Kata Tiar.
'Kok gak bilang-bilang ya? Maaf ya Tiar, anggap aja Ryna gak pernah ngomong kaya gitu' Bilang Ryna.
__ADS_1
'Tiar kira Ryna udah tahu. Engga apa-apa kok. Ryna kangen ya sama Tiar? Tiar kangen banget loh sama Ryna. Ryna kok gak bilang-bilang kalau kemarin dirawat di rumah sakit?' Tanya Tiar
'Ryna kangen juga kok sama Tiar. Gimana Ryna mau kasih kabar, kalau Tiarnya sendiri gak pernah ngabarin Ryna lagi. Ryna pikir, Tiar udah gak mau deket lagi sama Ryna' Jelas Ryna
'Maafin Tiar ya Ryn. Kemarin handphone Tiar rusak terus Tiar juga lagi diajak papa ke Thailand jadi gak bisa ngabarin Ryna deh' Bohong Tiar.
'Oh iya, Tiar punya sesuatu loh buat Ryna. Tiar suka lihat di tas kamera Ryna itu ada gantungan kunci bentuk kamera. Kemarin waktu di Thailand ada pembuatan kerajinan tangan dari kayu, terus Tiar belajar buat bikin itu. Nih Tiar bikin dua gantungan kunci, di belakangnya ada nama Tiar dan Ryna. Yang ada nama Tiarnya buat Ryna, nah yang ada nama Ryna, Tiar simpan. Maaf ya kalau jelek atau Ryna gak suka' Kata Tiar.
'Ini Tiar yang bikin? Wah! Bagus banget! Ryna suka banget kok. Makasih Tiar' Senyum Ryna.
Percakapan mereka pun terus berlangsung. Mereka terlihat sangat menikmati sore itu.
'Ternyata apa kata Bian itu benar. Ryna adalah cewek yang kuat. Cewek seperti Ryna gak pantas untuk disakiti. Dia begitu perhatian dan peduli' Kata Tiar dalam hati.
'Kali ini Bian gak jatuhin gua saat gua terbang tinggi. Bian benar, Tiar punya kejutan di balik cueknya kemarin' Kata Ryna dalam hati.
Suasana pun menjadi hening kembali setelah mereka tertawa bersama.
'Ryn, Tiar boleh jujur gak? Tiar sayang banget sama Ryna' Kata Tiar.
'Tiar, kayak gini karena cuma kasihan sama Ryna kan? Ryna mau pulang. Ryna pusing' Mata Ryna berkaca-kaca.
'Ryna pusing? Tiar antar pulang ya' Tawar Tiar.
'Ryna! Tiar tulus sayang sama Ryna! Bukan karena kasihan atau apa tapi ini dari hati Tiar!' Teriak Tiar.
'Ryna jauh lebih sayang sama Tiar. Tapi Ryna gak mau Tiar menangisi Ryna nantinya' Kata Ryna dalam hati.
Keesokan harinya, Tiar mengajak Ryna jalan-jalan. Barang yang diberi Tiar kemarin juga sangat berarti bagi Tiar. Ternyata Tiar juga menyukai fotografi walaupun tak seperti Ryna yang hobinya itu sudah mendarah daging. Sekarang Ryna bisa 'hunting' ke luar rumah dengan izin orangtua karena pergi bersama Tiar. Ryna sangat berterimakasih kepada Tiar. Sebelumnya Ryna tidak boleh ke luar rumah untuk 'hunting'. Dan dia sekarang mempunyai teman yang sehati dengannya.
'Ryn, Tiar serius sayang sama Ryna. Gimana?' Tanya Tiar.
'Gimana apanya ar? Kalau dari Ryna, jalanin aja dulu. Masalah cocok tidaknya urusan nanti' Jelas Ryna
Mereka berdua terlihat bahagia. Akhirnya Ryna bisa disayangi orang yang dahulu hanya diangan-angannya saja. Begitu pun dengan Tiar, yang dahulu tidak memikirkan dirinya sendiri sekarang bisa memiliki orang yang dicintainya.
Hari demi hari mereka jalani berdua dengan bahagia. Kadang-kadang Bian suka bergabung dengan mereka, tapi Bian tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka. Perasaan yang dirasakan di antara mereka pun makin kuat. Ryna terlihat seperti remaja perempuan yang sehat dan tidak mengidap penyakit apa pun, begitu pun Tiar. Penyakit mereka seperti sudah sembuh total ketika menjalani hari-hari bersama. Tapi Tiar tetap pada pendiriannya, yaitu dia tidak akan menceritakan apa yang dideritanya kepada orang lain termasuk Ryna.
Suatu hari di mana mereka habiskan bersama, mereka bercanda gurau.
__ADS_1
'Ryn, seandainya Tiar ninggalin Ryna gimana?' Tanya Tiar.
'Ryna gak pernah pikir sejauh itu. Lagi pula Ryna percaya kalau Tiar akan selalu ada di sisi Ryna. Iya kan?' Polos Ryna.
'Tiar akan berusaha semampu Tiar unutuk menjaga Ryna dengan sepenuh hati. Maafin Tiar ya kalau pernah membuat Ryna kecewa ataupun sedih.'
'Tiar ngomong apaan sih kayak pengen pergi jauh aja. Ryna sayang banget sama Tiar. Ryna gak tahu lagi harus bagaimana kalau gak ada Tiar. Tiar sudah menjadi obat paling ampuh yang bisa mengurangi rasa sakit Ryna ini.'
'Satu yang harus Ryna tahu, Tiar sayang sama Ryna lebih dari Tiar menyayangi diri Tiar sendiri. Tiar gak bisa janji apa-apa sama Ryna. Tapi Tiar mau bilang sama Ryna, kalau sesuatu yang sudah pergi akan lebih berarti. Jangan sia-siain rasa sayang Tiar ya.'
'iya Tiar' senyum haru Ryna.
Beberapa hari kemudian mereka tidak bertemu kembali dikarenakan Tiar menemani ayahnya ke Singapura. Sebenarnya Tiar tak hanya menemani Ayahnya tapi Tiar juga akan ditangani penyakitnya secara intensif oleh dokter spesialis yang menangani penyakit Tiar. Ryna percaya karena Tiar dapat meyakinkannya.
Semula mereka dapat berkomunikasi dengan lancar, tapi sudah beberapa hari ini Tiar tidak memberi kabar pada Ryna. Ryna tetap berpikiran positif karena pesan Tiar adalah untuk selalu berpikir positif agar selalu dalam keadaan tenang.
Pagi yang sejuk ditemani suara kicauan burung, Ryna mengalami hal yang sama pada saat ia merasakan sakit itu pertama kali. Tapi sekarang rasa menggigil itu seperti menusuk-nusuk tubuhnya, Ryna tak kuasa menahan sakit pada tubuhnya. Dia pingsan dan langsung ditemui oleh orangtuanya. Karena orangtuanya telah paham penyakit Ryna dan sudah diberi penanganan-penanganan pertama saat mengalami itu kembali. Tapi semuanya terlambat, Ryna tak kuat lagi menahan rasa sakit itu. Setelah sampai di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Ryna dalam kondisi kritis dan koma. Bunda Ryna yang tak kuasa menahan tangisnya langsung pingsan di tempat. Yang bunda Ryna tahu bahwa kondisi kesehatan Ryna mulai membaik, dilihat dari pemeriksaan rutinnya pun menyatakan kesehatan Ryna berangsur-angsur membaik. Memang, semenjak Ryna bersama Tiar, Ryna seperti tidak berpenyakit, rasa sakitnya diobati dengan rasa sayang Tiar untuk Ryna.
Sudah lima hari Ryna dalam kondisi koma. Orangtua dan keluarga Ryna berganti-gantian menjaga Ryna di rumah sakit. Dalam tidur panjangnya Ryna, dia memimpikan Tiar. Rasa rindu Ryna terhadap Tiar begitu dalam. Dalam mimpinya yang begitu indah, mereka melewati setiap waktu dengan canda tawa. Tapi setika Tiar berkata akan pergi meninggalkan Ryna. Ryna langsung memeluk Tiar, agar Tiar tidak pergi jauh dari Ryna dan Tiar akan selalu ada di pelukan Ryna. Karena Ryna tak bisa melepaskan Tiar, Tiar membuat beberapa pernyataan untuk Ryna.
'Tiar akan selalu menjaga Ryna walaupun Tiar gak ada di sisi Ryna. Hanya Ryna yang ada di hati Tiar. Ryna akan selalu simpan rasa sayang Ryna untuk Tiar, rasa sayang Tiar juga gak akan berkurang sedikitpun. Ryna juga janji ya harus jaga rasa sayang Tiar untuk Ryna, jangan pernah lupain Tiar. Tiar akan selalu ada di hati Ryna'
Tidak berselang lama dari berakhirnya mimpi Ryna, Ryna pun sadar dari masa kritisnya. Dia selalu menanyakan tentang Tiar kepada Bian, apakah selama dia mengalami koma ada kabar dari Tiar. Karena tidak tega melihat Ryna sedih, Bian membohonginya. Bian berkata bahwa, Tiar sedang ada di luar jangkauan jadi dia susah menghubungi Ryna maupun Bian. Sebenarnya Bian tahu kalau Tiar sedang dalam kondisi kritis juga. Tiar menitipkan Ryna kepada Bian kalau sepahit-pahitnya hal yang buruk terjadi padanya.
Setelah kondisi Ryna membaik, Ryna pun diperbolehkan pulang ke rumah. Ryna begitu hampa tak ada Tiar di sisisnya.
Beberapa hari kemudian Bian mendapatkan kabar dari Ayah Tiar bahwa Tiar telah meninggal dunia semua karena kanker yang di tubuh Tiar telah menggerogoti habis tubuhnya. Bian berniat untuk tidak memberi tahu Ryna, tapi karena Bian tidak ingin melihat Ryna lebih sedih jika terlambat mengetahui semuanya dan tidak sempat bertemu dengan Tiar untuk terakhir kalinya. Jenazah Tiar akan sampai di rumahnya esok hari.
Bian langsung bergegas pergi ke rumah Ryna untuk memberitahukan itu. Sebenarnya Bian sangat gelisah bercampur sedih karena takut kondisi kesehatan Ryna menurun dan Ryna menjadi murung setiap saat. Hanya Tiar lah yang dapat membuat hari-hari Ryna berwarna dan penuh senyum.
Sesampainya Bian di rumah Ryna, Ryna terlihat memendam sasuatu tapi ia tidak ingin orang lain mengetahuinya. Tanpa berpikir panjang Bian pun menjelaskannya agar Ryna tenang. Bian telah lama mengetahui penyakit Tiar tapi Bian berjanji idak akan memberitahukan kepada Ryna karena ia tak ingin Ryna sedih karenanya. Bian selesai menjelaskannya, Ryna pun seolah-olah tak percaya dan menganggap Bian hanya bercanda. Tapi perlahan-lahan air mata pun jatuh dari dua kelopak matanya tak henti-henti. Ryna terus mendesak ingin bertemu dengan Tiar untuk memastikan kalau Tiar tak akan meninggalkannya, Tiar berjanji untuk selalu ada di sisinya.
Bian mengabulkan permintaan Ryna dan membawanya ke Rumah Tiar pada saat itu juga. Bian telah menjelaskan kalau jenazah Tiar akan sampai besok tapi Ryna tidak mau mendengarkannya.
Sepanjang hari Ryna menangis tak henti-henti. Dia tidak mau makan apapun. Keluarga Ryna pun cemas karena takut kondisi Ryna menurun. Sampai akhirnya jenazah Tiar sampai di rumahnya. Ryna langsung memeluk jenazah Tiar begitu ditempatkan di ruang tamu rumahnya. Seperti tak ingin kehilangan Tiar, Ryna terus memeluk Tiar dan tak ingin melepaskannya. Jenazah akan segera dikubur saat itu juga setelah disholatkan.
Selama proses penguburan jenazah Tiar, Ryna tak kuasa menahan rasa kehilangannya. Ia jatuh pingsan beberapa kali tetapi ia ingin selalu berada di samping jenazah Tiar. Ia mengenang kenangan-kenangan mereka beberapa bulan terakhir ini. Semenjak Tiar masuk ke kehidupannya Ryna, Ryna seperti tak mempunyai beban hidup. Mereka selalu menyelesaikan masalah bersama. Tak ada satu hari pun yang mereka lewati sendirian. Mereka selalu bersama setiap waktu, setiap menit dan detiknya.
Ryna begitu menyesali kepergian Tiar yang sangat mendadak menurutnya. Tapi seiring berjalannya waktu, Ryna mencoba mengikhlaskan Tiar. Karena dia sadar, kalau dia terus menangisi kepergian Tiar, Tiar tidak tenang di alam sana. Dia berjanji tidak akan melupakan Tiar sampai kapanpun. Dia akan rutin mengunjungi kuburan Tiar dan selalu menggantikan bunga-buang yang sudah layu dan mengering di sana. Mungkin memang Tiar sudah pergi di dunia ini, tapi Ryna percaya kalau Tiar akan selalu menjaganya. Dan kamera kayu itu menjadi saksi kisah perjalanan hidup mereka yang sangat manakjubkan.
__ADS_1
Ryna menjalani hidupnya sepertinya sebelumnya. Bian pun senantiasa menemani Ryna walaupun tak bisa memilikinya. Karena dia tahu bahwa cinta tak harus memiliki.
- THE END -