
Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi
Judul: The Dark Fire 2 (Nightmare Part 1)
_________________________
“Lalu Penguasa Api Hijaupun hilang tak berbekas di sana. Setelah goncangan itu terjadi, semua yang ada di sanapun tak sadarkan diri. Dan setelah Sang Pemata-mata siuman, dia langsung membangunkan Sang Pahlawan Bumi. Pahlawan Bumipun langsung bangun dan mencari-cari Putri Edelweis. Terlihat, Putri Edelweis dalam keadaan sekarat. Melihat itu, Sang Pahlawan Bumi langsung menghampirinya. Diapun menyelipkan sepucuk surat untuk Pahlawan Bumi. Setelah itu, Putri Edelweis pergi untuk selama-lamanya,”
“Tunggu, Ayah. Mengapa Putri Edelweis harus pergi? Bukankah di dongeng-dongeng biasanya mereka akan hidup bahagia untuk selamanya?” Tukasku cepat menghentikan cerita Ayah. Ayahpun tersenyum.
“Ceritanya memang begini, Leyna.”
“Ayah, apakah dunia Vampire itu benar adanya?” Tanyaku dengan pertanyaan yang sama untuk yang kesekian kalinya.
“Leyna, berapa kali Ayah harus bilang padamu. Dunia Vampire itu tak ada. Itu hanya sekedar dongeng saja,” Ucap Ayah. Akupun memanyunkan bibirku.
“Ku rasa itu benar, Ayah. Ayah tak percaya itu?”
“Leyna, seharusnya Ayah tak membacakan dongeng padamu. Kau masih berumur sembilan tahun. Kau belum bisa berfikir rasional,”
“Ayah selalu bilang seperti itu,” Keluhku sambil mencibir.
Ayahpun tertawa pelan.
“Hahah, Leyna. Sudah, jangan pikirkan soal Vampire itu lagi. Sekarang sudah larut. Kamu tidur ya,” Ucap Ayah sambil mengusap rambutku.
“Ayah temani Leyna tidur ya,” Pintaku. Ayahpun menggeleng-geleng pelan.
“Anak Ayah sudah besar. Masa tidur saja harus ditemani,”
“Aku takut Vampire itu akan datang ke sini, Ayah,” Ujarku. Ayahpun tertawa lagi.
“Anak Ayah aneh-aneh saja. Sudahlah, kau tidur ya, Leyna.”
Ayahpun beranjak keluar dari kamarku yang tak luas ini. Sebelum dia keluar, dia mematikan saklar lampu terlebih dahulu.
Setiap malam, Ayah memang selalu membacakan dongeng untukku. Dan entah mengapa, dongeng tentang Api Hitam selalu membuatku merasa aneh. Sudah tiga kali Ayah menceritakan dongeng itu. Tapi, selalu saja aku ingin mendengarkannya lagi. Jika aku mendengarkan cerita itu, rasanya ada sesuatu yang aneh pada diriku. Entah apa yang menarik dari cerita itu? Entah ada hubungan apa aku dan cerita itu? Tapi yang jelas, aku merasa ada keterkaitan antara aku dan cerita tersebut. Seperti ada suatu kesamaan antara aku dan cerita itu. Entahlah?
“Brakk,”
Jendela kamarpun terbuka tiba-tiba. Angin berhembus menyeruak menerbangkan lemah tirai kaca yang tergantung di sana. Sebuah bayangan hitam dengan menggambarkan sosok tinggi bersayap terpantul di tembok kamarku yang berwarna putih. Perlahan, bayangan itu semakin membesar. Membesar yang mengartikan semakin mendekatiku.
Ku tarik selimutku sehingga menutupi sebagian wajahku kecuali mata. Pandanganku liar mencari sosok yang ada pada bayangan tersebut. Tubuhku menggigil ketakutan saat ku rasakan keringat dingin membanjiri mukaku. Gigiku bergetaran melihat sosok menakutkan tengah berdiri di depan jendela kamarku. Dia berseringai padaku.
“Jangan! Itu bukan Vampire!”
Ku tarik lagi selimutku sehingga menutupi seluruh tubuhku. Masih gemetaran mendengar suara hentakan kaki yang semakin keras. Ku pejamkan mataku agar tak bisa melihat sosok menakutkan itu. Ku lancipkan tubuhku menjadi seperti huruf U agar bisa lebih tenang.
Perlahan, sosok itu mulai menyetuh selimutku. Aku tak karuan. Diapun meremas keras ujung selimutku. Aku masih gugup sambil terus gemetaran. Dengan cepat, dia menarik selimutku. Dan seketika,
“Aaaaaa VAMPIRE!”
—
Ku ayunkan tanganku menyambungkan untaian huruf dengan tinta hitam. Aku masih sibuk sendiri berkutat dengan pekerjaanku. Pekerjaan yang hanya membuang-buang waktu.
Sorot mata orang-orang di sekitarku menatapku keji. Ahh sudah biasa. Tak sedikit juga dari mereka yang memperlakukanku lebih dari tatapan keji. Mereka selalu menjauhiku dengan alasan bahwa aku orang aneh. Mereka juga mengira bahwa aku adalah mayat hidup. Dengan keadaan kulitku yang berwarna putih pucat. Dan wajahku yang seperti tanpa ekspresi, mereka mengira aku bukan manusia. Apalagi bibirku yang berwarna merah. Tepatnya merah darah. Mereka jadi sering menyangka bahwa aku penghisap darah.
“Tak bisakah kalian tak berprasangka buruk terhadapku!? Aku bukan MAYAT HIDUP ataupun orang ANEH! Akupun tak ingin diperlakukan seperti ini!” Teriakku sambil menghentakan buku pada meja.
Semua orangpun memalingkan padangannya ke arahku. Mereka semua seolah menganggap aku gila. Apakah aku benar-benar GILA?! Bukan aku! MEREKA!
Dengan sorot tatapan yang sama mereka memandangku. Menatapku ANEH, menatapku KEJI. Tak adakah satu manusia yang bisa mengerti perasaanku sedikit saja selain dari AYAH? Hah?! Adakah?!
Akupun mencibir lalu beranjak keluar dari ruangan terkutuk itu. Kelasku sendiri. Gigiku menggigit bibirku sendiri menahan tangis. AKU BENCI MEREKA!
Langkahku ku lajukan ke taman sekolah. Letaknya memang jauh dari kelasku. Taman yang termasuk pusat sekolah. Namun, keadaannya selalu sepi.
Ku hempaskan tubuhku dan terduduk di ujung taman. Ku sapu seluruh isi taman. Terlihat, semua orang yang ada di taman ini beranjak pergi. Satu per satu dari mereka mulai hilang dari padanganku. Akupun tertawa hambar.
“Hahah, aku tahu! Mereka tak mau menemanimu, Leyna! Kau itu ANEH! Kau itu seperti MAYAT HIDUP! Kau juga bukan MANUSIA! Kau sudah GILA! G-I-L-A! Kau tak NORMAL!” Ucapku sendiri.
Merekapun -orang-orang yang ku benci- menatapku keji lagi. Biarkan saja! Jika itu yang mereka mau, apa hak aku melarang mereka? Menatapku keji, mencemoohku. Itu hak mereka.
“Apakah kau akan tetap seperti itu? Apakah kau akan membiarkannya?”
Sebuah suara tiba-tiba menyeruak masuk ke gendang telingaku.
“Siapa Kau?” Tanyaku. Pemuda itupun hanya tersenyum kecut.
“Tak bisakah Kau membaca name tag yang terpampang di baju seragamku?” Ucapnya.
Akupun mulai mengalihkan pandangan ke arah name tag yang ada di seragamnya. Aland. Ya. Dia bernama Aland. Tapi, rasanya nama itu tak asing bagiku.
“Ada apa? Kau merasa tak asing dengan namaku?”
“Seharusnya aku tak berbicara dengan orang asing sepertimu. Apalagi orang yang suka membaca pikiran orang lain!” Ucapku ketus lalu berdiri dan berniat meninggalkannya.
“Pergi saja! Kau benar-benar aneh!” Ujarnya.
Akupun menghentikan langkahku lalu menghadap ke arahnya.
“Jika Kau bertemu denganku hanya untuk mengucapkan aku ‘ANEH’, jangan datangi aku lagi! Aku tak menyukaimu!” Bentakku lalu pergi dari hadapannya.
__ADS_1
“Mengapa mereka beranggapan aku ANEH, aku GILA? Mengapa?!” Bantinku.
“Tak bisakah kau sedikit beradaptasi dengan orang-orang di sekitarmu, Leyna!” Ucap seseorang.
Ku palingkan tatapanku ke belakang. Terlihat seonggok daging tengah berdiri dan menyunggingkan seulas senyum padaku.
“Beradaptasi? Bagaimana bisa aku beradaptasi dengan mereka semua? Sementara mereka selalu saja merendahkanku! Mencemoohku! Kau bisa berbicara dengan mudah padaku. Sementara aku tak bisa. Jika Kau jadi aku, bagaimana yang akan Kau lakukan?!” Bentakku lagi.
Senyum yang tersungging di bibirnyapun mulai memudar. Aku hanya menatapnya sinis. Diapun mengerti. Aku merasa tak nyaman di dekatnya. Segera dia berlalu dari hadapanku. Akupun melakukan hal yang serupa dengannya. Berlalu dari dia.
—
27 Mei 2007
“Ayah, mengapa aku dinamai Leyna?”
“Karena Kau seperti malaikat kecil bagi Ayah,”
“Apakah aku bisa menjadi malaikat kecil bagi orang lain juga?”
“Tentu saja bisa. Kau adalah malaikat bagi semua orang,”
“Itu benar, Ayah?”
“Tentu saja,”
Percakapan itu masih terngiang di telingaku. Percakapan enam tahun silam bersama Ayahku. Enam tahun silam. Saat itu umurku baru sembilan tahun. Saat aku yang masih lugu. Masih tak mengerti apa yang sebenarnya ada di tubuhku. Sampai sekarangpun, aku belum mengerti.
“Mengapa bayang-bayang Vampire itu selalu datang padaku? Apakah maksudnya? Mengapa aku menjadi seorang panaroid? Mengapa karena hal itu aku dijauhi semua orang? Apakah tampangku seperti orang jahat?
“Leyna,” Panggil Ayah tiba-tiba.
Akupun langsung memenuhi panggilannya. Ku mulai keluar dari kamarku. Ketika aku hendak membuka pintu kamar, aku berhenti sejenak.
Ku tolehkan pandangan ke arah belakang.
“Aku yang memanggilmu, Leyna?”
Seketika, mulutku menganga. Sosok itu tengah menyetuh pundakku. Badanku gemetaran.
“Aku yang memanggilmu. Bukan Ayahmu!” Ucapnya lagi.
Keringatku berlelehan jatuh. Tubuhku kaku. Lidahku kelu. Mataku sayu. Dia menghipnotisku. Dia hampir membuatku tak sadarkan diri.
Perlahan, ku beranikan diriku untuk menanyai makhluk itu.
“Si.. sia.. apa Kau!?” Tanyaku gelagapan. Sosok itupun menyentuh kedua bahuku.
“Katakan! Siapa Kau?”
“Kau tak tahu Aku? Aku adalah teman masa kecilmu. Teman terbaik, teman yang memberika kenangan terindah dalam hidupmu,”
“Apa maksudmu kenangan terindah? Terbaik? Teman masa kecil? Semua itu tak ada padaku! Kenangan-kenanganku itu hanya membuat gemuruh di otakku. Hanya menyisakan pahit di hatiku! Semua itu buruk! Semua itu membuatku terpuruk! Membuat pupus masa depanku!” Bentakku. Sosok itupun tiba-tiba tertawa renyah.
“Hahaha! Kau tak akan punya masa depan! Bagaimana bisa? Kau sudah MATI Leyna! MATI!” Ucapnya. Matakupun melotot kaget. Apa yang diucapkannya?
“Ulangi ucapanmu!”
“Kau sudah MATI! Tak ingatkah enam tahun lalu? Tak ingatkah ketika itu! Ingat? Ingat saja Tuan Putri!” Ucapnya.
Diapun melepaskan sentuhannya. Seketika, tubuhku melemas. Aku terduduk lesu di atas lantai. Ku sapu seluruh pandangan. Di mana-mana hanya ada VAMPIRE.
—
29 Mei 2007
“Ayah, mengapa cerita Api Hitam tak menyebutkan nama-nama mereka? Misalnya, Pemata-mata bernama Gracia,”
“Nama-nama mereka tak boleh disebutkan, Leyna.”
“Tapi itu akan lebih enak dalam pengucapannya. Aku tak suka jika nama mereka tak disebutkan. Oh ya Ayah, di mana tempat tinggal Vampire-Vampire itu?”
“Erif Krad. Di sana mereka tinggal. Tempat yang paling menakutkan,”
“Dari mana Ayah tahu?”
—
“Aku Vampire! Kau Vampire! Dia Vampire! Kita semua Vampire! Hahaha?!”
Sosok itu terus mengejar-ngejarku dalam kegelapan. Entah sekarang ada di mana aku? Tempat ini sangat gelap dan penuh dengan pohon-pohon besar. Aku hanya bisa berlari mencoba menjauhi makhluk Vampire itu. Apakah aku ada di Erif Krad? Yang Ayah bilang tempat paling menyeramkan? Tapi, mengapa aku bisa ada di sini?
“DARK FIRE! DARK FIRE!” Teriaknya.
Mataku berputar-putar mencari sosok yang berseru itu. Penglihatanku sekarang entah ada di mana. Apakah aku sedang bermimpi buruk? Apakah aku sedang dalam perjalanan menuju neraka? Atau aku dalam perjalanan kematian? Entah, Entahlah.
“Srttt,”
“Aaaa!”
Sebuah panah meleset nyaman ke arah kakiku. Yang jadinya, aku hampir terjatuh dari tebing tinggi ini. Untung panah itu hanya meleset. Untung panah itu tak menancap.
Malam ini adalah malam perjuangan yang hebat. Nyatanya, aku harus memanjat tebing ini dengan bekal tangan dan kukuku yang ada di tanganku sendiri. Dan gilanya sekarang hujan!
__ADS_1
“Arrgghhh!!”
Tanganku terus mencengkram batu-batu tebing. Walau rasanya sakit, aku tak boleh mati. Apalagi mati di tempat ini. Ini bukan tempatku. Aku sepertinya telah terjatuh. Ya. Terjatuh ke dalam lubang kematian.
“RASAKAN MIMPI BURUKMU, LEYNA!”
Suaranya menggema ke semua sudut tempat. Suaranya parau dan amat mengerikan. Tentu saja. Seseorang yang mengerikan pantas tinggal di tempat mengerikan seperti ini.
Akhirnya, dengan segala kekuatan yang aku punya, aku bisa lepas dari tebing curam ini. Walau tanganku terasa panas dan perih, itu bukan masalah besar untukku. Yang jadi masalah, Vampire itu melesat ke arahku!
“Aaaaa!”
Teriakku sambil terus berlari menghindari Vampire gila itu. Tunggu, tunggu. Aku terbang. Aku benar-benar terbang. Ini mimpi. Benar-benar mimpi. Tapi, mengapa aku tak bisa terbangun?
—
“A.. yah?” Tanyaku lemas. Seketika, Ayahpun melotot kaget.
“Leyna? Ini benar Kau, Sayang?”
“Ini Leyna, Ayah!” Ucapku.
Ayahpun memelukku erat sambil terisak. Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Perasaan, kemarin tak terjadi apa-apa padaku. Mungkin hanya ejekan dari orang-orang gila itu saja.
“Kamu jangan tinggalin Ayah,”
“Ayah juga jangan tinggalin Leyna. Leyna nggak punya temen selain Ayah,” Ucapku.
Ayapun mengangguk sambil memegang kedua pundakku. Diapun menatap wajahku yang pucat. Dia tersenyum lalu memelukku lagi. Perlahan, tanganku ikut memeluk Ayah.
“Sudah lama aku tak memeluk Ayah. Mungkin terakhir kali enam tahun yang lalu,”
—
Tengah ku pandang langit biru tanpa awan siang ini. Ya, tanpa awan. Langit hari ini begitu berbeda dengan kemarin. Hatiku juga berbeda. Hari ini aku merasa sedikit nyaman.
Ku tatap langit sempurna hari ini. Langit tampak kesepian. Ya. Dia kesepian. Dia sendiri tanpa awan. Seperti aku. Sendiri tanpa kawan.
“Aku masih mau menjadi temanmu, Leyna.” Seru seseorang.
Ku tolehkan pandanganku. Aland tengah terduduk di belakangku. Akupun kembali ke posisi awal.
“Oh ya. Maafkan aku soal kemarin aku menyebutmu aneh,”
“Tak masalah. Lagipula aku sudah terbiasa dengan ejekan itu. Hanya kau satu-satunya orang yang bilang aneh padaku satu kali. Dan mungkin yang tak pernah hanya Ayah,” Ucapku tanpa memandangnya.
Diapun melajukan langkah dan duduk di sampingku.
“Wajahmu tampak pucat. Sakitkah Kau?” Tanya dia. Akupun hanya menggeleng.
“Wajahku memang seperti ini,”
“Aku tahu apa yang Kau pikirkan,” Ucapnya seketika.
Akupun menolehkan pandanganku padanya. Apakah dia seorang Indigo? Atau dia seorang psikolog? Entah.
“Baca saja Tuan pembaca pikiran. Biasanya juga Kau membaca pikiranku tanpa izin,”
“Hahah. Aku tak pandai membaca pikiran orang lain. Oh ya, ini untukmu. Kau bisa menjadikannya sebagai curahan hatimu,” Ujarnya.
Akupun menerima barang yang dia berikan padaku. Itu hanya sebuah buku. Lebih tepatnya diary. Setelah aku mengambil buku itu, Alandpun pergi meninggalkan aku sendiri. Tapi, ada satu pertanyaan di otakku. Mengapa aku bersikap baik terhadap Aland?
—
“Aku adalah misteri. Misteri yang aku sendiri tak tahu. Entah siapa aku? Aku sendiripun tak pernah tahu. Aku memiliki tiga kepribadian. Dan ketiganya aku tak tahu. Aku tak mengerti. Sebenarnya siapakah aku? Apa aku penting lahir dan hidup di bumi? Tapi, aku merasa tak cocok tinggal di bumi. Entah di mana harusnya. Entah, entah, entah dan entah.
Aku memang mirip seorang yang bodoh. Seseorang pasti mengetahui siapa dirinya. Tapi aku? Aku masih misteri. Misteri yang tak pernah selesai.
Jika hidupku adalah khayalan, maka hanya ada satu yang benar. Karena, aku merasa ada tiga kehidupanku itu. Dan satu di antara ketiganya, itu adalah nyata. Yang lain, khayalan.
Aku tak tahu apakah sekarang aku nyata atau tidak? Yang aku tahu, khayalan bisa Kau lihat. Dan satu lagi, khayalan bisa menjelma menjadi kenyataan.”
“Pukk!”
Akupun menyimpan buku itu di kolong meja belajarku. Segera, akupun pergi menghempaskan diri ke kasurku. Tanpa aku sadari, buku harian yang diberikan Aland terbuka tiba-tiba. Dan di buku itu tertulis,
“Khayalanmu adalah nyata. Ini adalah Khayalan,”
—
Ku berjalan perlahan memasuki kawasan yang tak tahu di mana. Ketika aku hanya berjalan mengikuti matahari terbit, aku berada di tempat ini. Tempat ini seperti terpencil. Keadaan tempat ini terkesan angker. Banyak tunggul-tunggul batu di sekitarnya. Tunggu, tunggul batu? Apakah, apakah aku sedang ada di pemakaman? Pemakaman yang sudah runtuh? Dan tunggul batu tersebut adalah nisan?
Ku lajukan arah kakiku menuju ujung tempat ini. Bulu kudukku sedikit merinding ketika lewat ke sekitar. Terlihat, sebuah bangunan berdiri tertutupi tanaman rambat.
Perlahan, aku mulai mencabuti tanaman-tanaman yang menghalangi bangunan itu. Dan ketika ku lihat, itu adalah sebuah peti. Dan ternyata benar, aku sedang berada di pemakaman.
Perlahan, mulai ku tarik pintu itu agar terbuka. Namun, pintu itu tak kunjung terbuka. Terlihat, sebuah bulatan-bulatan di sana. Beberapa di antara bulatan tersebut sudah tak berbentuk bulat lagi. Akupun memasukan ke lima jariku ke dalam lima bulatan yang masih utuh. Karena dua di antaranya sudah seperti rusak.
Setelah ku masukan tanganku, bulatan itu berputar mendekati bulatan terbesar. Segera, ku lepaskan tanganku dari sana. Dan seketika ku lepaskan,
“Kyaaaa!”
bersambung.
__ADS_1