
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Judul: Sleeping Beauty (Part 4)
_________________________
“Cewek yang paling spesial buat aku itu ya kamu, bukan Chika atau siapapun” Ungkap Alfi sembari perlahan menggenggam erat tanganku, yang tak sanggup berkata apa-apa lagi karena takjub dengan apa yang terjadi hari ini.
“Kamu itu unik, beda sama cewek-cewek yang lain yang pernah aku temuin. Kamu baik, kamu cuek, kamu lucu, apalagi kebiasaan tidurmu yang berlebihan, itu yang paling buat kamu unik” Tuturnya dengan tersenyum.
Aku hanya bisa terdiam 1000 bahasa, tanpa kusadari butiran bening mulai mengalir kembali membasahi pelupuk mataku hingga menetes perlahan membasahi pipiku. Ada rasa haru saat Alfi mengatakan semua hal tentangku barusan, itu artinya aku juga punya tempat di hatinya, seperti ia yang punya tempat paling spesial disini, di hatiku.
“Kamu tahu semua hal tentangku darimana?”
“Setiap harinya kamu itu selalu buat aku penasaran untuk cari tahu semua tentang kamu, jadi apapun akan aku lakuin supaya aku tahu tentang kamu, termasuk selalu berada di dekat kamu saat kamu keluar sama Poppy”
“Jadi kamu buntutin aku?”
“Heheheh iya ”
“Jadi kamu juga pasti tahu kalau aku…”
“Iya aku tahu, tapi kamu kalah cepat. Aku yang lebih dulu sering merhatiin kamu sejak orientasi angkatan kita 3 tahun lalu”
“Al… kamu jangan bercanda terus, kamu ngomong kaya gini cuman biar aku semangat aja kan? Karena kamu udah tahu kalau aku dari dulu sayang sama kamu. Kamu nggak mungkin segitunya merhatiin aku, siapa aku? Aku bukan siapa-siapa Al. Kalau kamu ngomong kaya gini hanya atas dasar rasa kasihan lebih baik kamu pulang.” Ujarku entah darimana aku dapat pemikiran seperti itu, mungkin dari kata-kata Alfi yang seperti tidak masuk di akal menurutku. Air mataku kian deras mengalir.
__ADS_1
“Hei… hei… Demi Tuhan aku nggak bercanda, Ra. Apa yang aku bilang semuanya itu benar. Kamu tanya siapa kamu? Kamu itu Special buat aku, kamu orang yang aku sayang” Jawab Alfi sembari perlahan mengusap air mataku.
“Tapi kenapa kamu harus tunggu waktu selama 3 tahun, buat ngomong yang sebenarnya sama aku? Kamu pasti tahu, kalau aku nggak mungkin ngomong yang sebenarnya sama kamu soal perasaan aku. Karena aku pikir kamu sama sekali nggak kenal sama aku”
“Karena aku terlalu sayang sama kamu, aku mau mengenal kamu secara keseluruhan, makanya selama 3 tahun aku tetap berada pada titik ini. Titik dimana kamu menjadi pusat perhatianku setiap hari”.
“Al … kali ini aku nggak mimpi kan?” Isakku mulai terhenti, aku percaya kali ini ia tidak berbohong.
“Hmmmm mimpi atau bukan ya?” Canda Alfi dengan tersenyum.
“Alfi… jawab” desakku penasaran.
“Ya nggak lah” Jawabnya sembari mencubit kedua pipiku.
“Itu artinya?”
“Aku… benaran nggak mimpi…”
Alfi tersenyum dan mengangguk pelan.
Tanpa sadar aku memeluk Alfi, saking bahagianya. “Aku sayang kamu, Alfi” Tuturku dengan isak tangis, tangis bahagia lebih tepatnya. “Aku masih nggak percaya atas apa yang udah terjadi hari ini, semuanya kaya' mimpi” Isakku dalam pelukannya.
“Ini bukan mimpi, Ra. Aku benaran sayang sama kamu. Insiden kamu pingsan di toko buku kemaren, buat aku sadar kalau aku harus ngomong yang sebenarnya sama kamu”
“Kenapa?” Tanyaku sembari melepas pelukanku.
__ADS_1
“Karena aku mau, kamu tahu kalau aku akan selalu ngejagain kamu.”
“Terima kasih, Al”
“Iya. Udah ya jangan nangis terus, aku nggak suka liat kamu nangis. Kamu itu lebih cantik kalau lagi senyum” Kembali Alfi mengusap air mata yang membasahi pipiku dengan kedua ibu jarinya.
“Aira, Alfi” Poppy dan Bunda datang menghampiri kami dengan wajah heran dan penasaran pastinya melihat kedekatan kami.
“Bunda, Poppy” seruku agak kaget. Alfi pun tak kalah kagetnya.
Poppy tiba-tiba tersenyum melihat kami berdua, “Hmmm… tante kaya'nya bentar lagi ada yang bakal jadian ni” Sindir Poppy yang mengundang senyum bundaku.
Aku dan Alfi hanya bisa tersenyum, dengan wajah yang bersemu merah.
“Tante, liat deh… pipinya pada merah gitu… malu-malu tapi mau tu tante… hahahh” ledek Poppy semaunya.
“Poppy… udah dech” Pintaku sembari mendelik ke arahnya.
“Hahahha… iya iya. Aku senang liat kamu Happy, Ra” Poppy tersenyum sambil merangkul pundakku. “Al… jangan bikin Aira nangis ya. Dia itu jelek kalau lagi nangis” Canda Poppy yang mengundang senyum Alfi bahkan bunda.
Aku mengarahkan pandanganku ke arah jendela kamar rumah sakit. Dari sana aku lihat langit sore kian bersemu jingga… Matahari mulai merangkak kembali ke peraduannya. Langit sore memang selalu indah, tapi hari ini bagiku langit itu terlihat lebih indah, karena aku sudah dapat kan kebahagiaan yang aku nantikan sejak lama. Suatu hal yang aku kira hanya akan jadi sebuah mimpi dan harapan usang yang nggak akan terwujud. Tapi hari ini aku mendapatkan jawaban dari mimpiku yang sebenarnya. Sebuah mimpi yang paling indah bukan berarti tak akan pernah bisa jadi kenyataan. Satu pertanyaanku, apa ini adalah awal dari terwujudnya mimpi indahku tadi? aku harap ya.
Aku sayang kamu Alfi, aku benar-benar tak ingin kehilangan kamu.
The End
__ADS_1