Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Day Dreamer (Part 1)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta Segitiga


Judul: Day Dreamer (Part 1)


_________________________


Angin musim semi berhembus menerpa wajah ku sore itu, masih duduk termenung di bangku dekat lapangan basket, aku menikmati lagu yang beralun dari headphone berwarna jingga ini. Datang seorang perempuan yang langsung duduk di sebelah ku “Tiga hari lagi, acara kelulusannya.” katanya. Aku hanya mengangguk pelan. “Apakah kau akan melupakannya?” tanyanya lagi. “Mungkin”, jawabku sekenanya. “Dia bahkan tak menanyakan kabarmu sebulan terakhir ini.” “Entah lah Umemura. Aku tak tau apa yang kurasakan saat ini”. Tatapan ku masih tertuju pada lapangan basket. Di sinilah, dua tahun yang lalu. Untuk pertama kali aku bertemu denganya. Ingatan ku tiba-tiba kembali pada masa itu. Flashback yang terlalu dalam…


Tiga tahun yang lalu

__ADS_1


“Umemura san. Umera San.” aku memanggil namanya sambil setengah berlari, “Hikari san?” “Kenapa kau meninggalkan ku sendiri di Lab? Aku kan belum hafal isi sekolah ini.” “Ehh, gome (1).” “Tidak apa-apa. Ayo segera pulang.” baru saja akan melangkahkan kaki, tiba-tiba sesuatu mengenai kepala dan aku pun terjatuh. Gelap, aku tak dapat melihat apa-apa. “Dia sudah bangun” sayup-sayup ku dengar suara itu, seperti tak asing di telinga. “Ohh, syukurlah.” Sekarang terlihat dua orang berdiri di samping tempat ku berbaring. “Dimana ini? Auw, kepala ku sakit sekali.” “Hikari, kau berada di Ruang Pengobatan Sekolah sekarang, tadi Kak Makkyo tak sengaja melempar bola basket ke arah mu” “Ma-Makkyo?” lalu seseorang yang berdiri di sebelah Umemura berkata “Aku Makkyo. Maaf, aku benar-benar tak sengaja tadi. Masih sakitkah?” aku terpana, untuk beberapa saat aku hanya menatapnya, tatapannya itu.. benar-benar menghangatkan “Ouh, ya emm tidak apa-apa. Ti tidak sakit.” “Okay, aku akan kembali berlatih.” kemudian dia tersenyum padaku, dug dug dug dug. Rasanya jantung ku mau meloncat keluar saat itu juga. Dan… sejak saat itu. Aku menyukainya.


Hari-hari berikutnya, aku ingin tahu apapun tentangnya. Mencari kesempatan untuk lebih lama memandangnya, melihat setiap turnamen basket yang diikutinya. Hingga kesempatan itu datang lagi. Siang itu, hujan turun deras sekali. Sayangnya, aku tak membawa payung ataupun mantel hari itu, dan sialnya lagi, teman teman ku sudah pulang sejak dari tadi. Aku tunggu, lima belas menit – setengah jam – satu jam, “Aargh!!! Bisa kah kau berhenti sekarang? Aku sudah lapar sekali. Kue moci ku akan segera dingin di rumah… aargh!!!” menyebalkan, dan tiba-tiba seseorang menepuk pundak ku, “Hujan tidak akan berhenti hanya karena teriakan mu itu” “Hei!! memangnya kau siapp..” kata-kataku berhenti sampai di situ. Mungkin pipiku semerah tomat sekarang, “Ahaha.. Apa yang akan kau katakan? Kenapa berhenti?” “Emm, Bukan, bukan apa-apa. Sungguh!” apa yang ku katakan barusan benar? “Hahaaha, bahkan mukamu lebih merah sekarang. Aku hanya bercanda” sial! Aku hanya diam, “Maaf, maaf. Sepertinya hujan sudah tidak deras lagi. Cepat sana kau pulang. Ini, aku pinjami jaket, aku tau kau kedinginan. Okay, aku akan kembali dengan teman-teman ku. Daaagh.” belum sempat aku mengucapkan terima kasih, namun punggungnya sudah terlihat semakin menjauh dari ku. Perasaan ini? Belum pernah aku sesenang seperti sekarang. Dengan langkah ringan, aku pulang. Senyum ini bahkan tak hilang hingga aku sampai di rumah.


Esoknya, aku berniat mengembalikan jaket milik Makkyo. Dengan ditemani Umemura, kami mencari kelasnya, “Apa benar ini?” sambil menunjuk ke ruang kelas yang bertuliskan 2-B, “Iya, coba saja kau cari orangnya di dalam.” “Aku? Kau tak lihat? banyak orang disana.” “Tak apa-apa, ayo cepat masuk.” sebelum aku masuk, Makkyo sudah lebih dulu keluar dari kelas, “Hey!” “Ini, jaketnya. Terima kasih.” langsung saja pada intinya, aku mengulurkan tangan ku “Kenapa cepat sekali dikembalikan?” orang ini benar-benar aneh, batin ku. Belum sempat aku menjawab, dia sudah berkata kembali “Oh ya, aku tau. Kau ingin segera bertemu dengan ku lagi kan?.” “Huft, terserah kau saja lah. Aku mau kembali ke kelas.” “Eitss, tunggu.” duar!!! Dia memegang tangan ku. Aku hanya berdiri kaku. “Boleh, minta nomor ponsel mu?” “Bo boleh. 0286-…..” bahkan aku tak lancar membaca nomor ponsel ku sendiri. “Okay! Akan ku telepon kau nanti.” Melihatnya seperti itu, aku hanya tersenyum geli.


Mungkin, semakin hari. Hari-hari ku menjadi lebih indah dari sebelumnya. Aku tak mengira bisa sedekat ini dengannya. Hingga kenaikan kelas pun tiba, hubungan kami tetap seperti ini. Walaupun sudah sering jalan bersama. Tapi, kata-kata itu. Kalimat yang sangat ingin aku dengar darinya. Tak pernah Ia ucapkan, bahkan aku tak tahu apa arti hubungan ini untuknya.


Sampai suatu hari, hampir satu minggu lebih tak ada kabar darinya. Telepon ku tak pernah dijawab, email-email yang ku kirim tak pernah dibalas juga, bahkan di sekolah pun aku jarang melihatnya. Kenapa Ia tiba-tiba menghilang? Apakah ini akhir dari hubungan kami?. Aku mencoba berfikir positif, tapi tak bisa! Yang terbayang dalam benak ku adalah, saat ini dia sudah memiliki seseorang yang spesial. Dan melupakan ku…

__ADS_1


Sudah terlalu banyak email yang ku kirim untuknya, terlalu banyak waktu untuk mencarinya. Mungkin, ini memang hanyalah ilusi sementara. Aku tidak lebih dari sekedar adik bagi dia, dan hubungan ini? Hanya sebuah cerita cinta anak SMA yang cepat berakhir. Malam itu, bulan bersinar terang di langit sana, ditemani angin musim dingin yang terasa sejuk di kulit. Aku merapatkan jaket bergambar Hello Kitty ini. Memandangnya dari jendela kamar yang sedikit terbuka, membuat ku berangan-angan tentang dia, tentang Makkyo. Air mata ini terus membasahi pipi ku tanpa bisa dicegah, “Aku-sangat-merindukanmu Makkyo.” Kalimat ini terus bergumam dari mulutku yang sedikit gemetar akan hawa dingin malam ini.


Tepat pukul 11.11 PM, aku memutuskan untuk terlelap sejenak, membiarkan otak ini beristirahat untuk sementara saja. Tiba-tiba ponsel yang sudah tiga hari ini kubiarkan tergeletak di meja, bergetar. Nama Makkyo langsung muncul di layar ponsel, “Hallo?” suara yang sangat aku rindukan, kini sudah dapat ku dengar, “Halo.” “Maaf, aku baru menghubungi mu sekarang. Lusa besok, akan ada diadakan turnamen basket Nasional. Jadi aku terlalu sibuk berlatih bersama teman-teman ku.” “Tidak apa-apa.” “Kenapa jika aku tak menghubungi mu, kau tak mau menghubungi ku terlebih dahulu. Apakah kau sudah melupakan ku?” Tuhaaan, tidak kah dia melihat? Sudah berpuluh-puluh e-mail ku kirim padanya, dan sekarang dia malah mengatakan hal seperti itu, “Kalau tidak ada kabar, bukan berarti sudah lupa bukan?” “Ya, kau benar. Hikari” “Ya?” “Suaramu terdengar serak. Apakah kau baru saja menangis?” terdengar sejelas itukah suara ku? “Tidak. Aku… Aku sedikit flu.” “Dasar, kau ini. Sekarang kan musim dingin, harusnya kau itu pakai… (bla bla bla)” Malam itu, kami bercanda lewat telepon. Dia menemani ku sampai benar-benar terlelap.



“Makkyoo, ganbatte (2)!!” teriakan ku menggema di ruangan olahraga SMA St. Agnes sore itu. Sesekali Ia menoleh tersenyum menanggapi teriakan ku. Dia terus mengoper bola basket kepada temannya, sudah tiga kali Ia berhasil memasukkan bola ke ring basket. Pertandingan berakhir pukul 06:30 PM. Makkyo dan kawan-kawannya berhasil membawa pulang medali untuk turnamen kali ini.


“Kau tau? Aku suka sekali saat kau mengoper bola ke teman mu tadi dari belakang, kemudian langsung memasukkannya ke ring sambil melompat. Benar-benar hebat!” puji ku kepadanya dengan sedikit menggebu, “Beginikah?” dia langsung mengulang aksinya tadi, “Hahaha, iya!” “Lulus SMA, aku akan pergi ke New York untuk belajar lebih tentang basket. Aku ingin menjadi atlet yang hebat” katanya sambil menerawang ke langit malam itu. “Emm, ya. Semoga impian mu terwujud.” Jawabku tanpa menoleh kepadanya, “Bagaimana dengan mu?” “Aku? Entah lah, belum memiliki rencana. Lagi pula, masih satu tahun lagi kelulusan ku.” “Tapi kan merencanakan dari sekarang juga tidak salah bukan?” “Iya, memang tidak salah.” Suasana hening itu muncul, kami sibuk berkelana dengan pikiran kami sendiri, “Aku sudah menonton dan menyemangati mu sampai kau berhasil mendapat juara.” Kataku padanya, “Lalu?” “Huft, kau tidak tau atau pura-pura tidak tau?!!” “Ingin yang jujur atau bohong?” dia malah mengajakku bermain tebak-tebakan sekarang, “Aah sudahlah.” “Okay, okay. Akan ku traktir kau ice cream besok. Setuju?” “Emm, Baiklah. Janji?” “Iya, aku janji”. Seulas senyum mengembang di wajah ku, seketika tangannya langsung menggandeng tanganku… Aku… merasa, nyaman.

__ADS_1


Sore itu, aku sudah berdiri di teras rumah mengenakan sweater hijau tosca, dipadu dengan rok selutut berwarna hijau lumut, sepatu kets yang berwarna sama dengan baju yang ku kenakan, serta rambut yang ku biarkan terurai begitu saja. Membuat kesan feminim nampak dari diriku. Hari ini Umemura mengajak ku menghabiskan weekend dengan berjalan-jalan di Grand Mall. Ku lirik jam tangan, sudah pukul 3:00 PM, tapi Umemura belum juga datang. Ponsel ku berdering nyaring, tertera namanya di layar ponsel “Halo” “Hikari-san, gome.. Mungkin aku akan sedikit terlambat sampai di rumah mu. Bagaimana kalau kita langsung bertemu saja di Takashi Yoku Grand Mall?” suaranya terdengar terburu-buru, “Baiklah”. Lalu, aku berjalan menuju halte bus, memang tidak terlalu jauh jarak rumah ku dengan Grand Mall yang satu ini. Tapi aku memutuskan untuk naik bus umum saja


Saat memasuki Grand Mall, ternyata Umemura belum juga nampak. Aku memutuskan untuk menunggu di Toko Buku sambil membaca-baca majalah. Saat sedang asyik melihat halaman-halamannya, terdengar suara yang sangat familiar untuk ku. Aku meencari arah datangnya suara. Itu Makkyo… dengan seorang gadis yang ada di sebelahnya. Mereka sedang berjalan menuju Restoran dekat Toko Buku ini. Bahkan aku tak dapat berhenti menatapnya, dan… Ia juga menoleh sekilas ke arah ku. Namun, bukan senyum atau sapaan yang ku dapat. Tapi Ia tetap berjalan bersama gadisnya. Sakit… aku merasakan mataku mulai terasa panas, kaki ku lemas. Aku berjalan terburu-buru keluar dari Toko Buku itu, saat Umemura juga akan masuk ke dalam, “Hikari? Kau. Ada apa dengan mu?” ia menahan langkah ku yang terus memburu, “Tidak apa-apa. Sepertinya aku tidak enak badan hari ini. Maaf, aku tidak bisa menemani mu” “Tidak apa-apa. Ayo, kita pulang saja”. Umemura tidak bertanya lebih lanjut tentang ekspresi ku yang tiba-tiba seperti ini.


__ADS_2