
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Judul: Diantara Dua Cinta (Part 2)
_________________________
Di warung bakso.
“Sebenarnya aku ada rahasia tersembunyi nih,” ujarnya membuatku penasaran saja.
“Apa sih? Udah tekdung loh?” Aku asal ngomong saja.
“Loh kok kamu tahu?”
Aku memang sudah sedikit curiga, karena kalau ke mana-mana ia selalu memakai korset untuk menutupi perutnya yang sudah berisikan janin itu. Ternyata kecurigaanku benar kalau Ani sedang hamil.
“Anak siapa tuh? Tomy apa Heri?” Godaku.
“Yah, Herilah justru aku kenal sama Tomy tuh karena ini,” ujarnya padaku.
“Maksudnya?” Tanyaku lagi.
“iya, Tomy itu orang yang mau membantu menggugurkan kandunganku ini, tapi tidak berhasil.”
“Oh, jadi kamu sudah berniat menggugurkan anakmu ini ya?” seruku sedatar mungkin.
Aku pikir hal itu biasa, aku tidak begitu terkejut karena aku tahu bagaimana Ani. Ia pasti akan mengambil langkah itu. Bukannya aku tidak peduli dengan temanku, aku hanya tidak ingin larut dalam kisahnya yang akan membuatku memaki. Aku tidak mau merusak pikiranku tentang hal ini. Nasihat yang ku berikan standar saja.
“Jangan digugurkan lah, itu anakmu. Jaga baik-baik, jaga kata-kata, ajari hal yang baik karena dari mulai ditiupkan ruh, anak itu sudah mengerti benar apa yang dirasakan Ibunya, apa yang dipikirkan ibunya ia tahu itu.” Jelasku.
“iya, deh. Tapi kok heran ya? Udah pake dokter aborsi, dukun, orang pinter -paranormal- gak berhasil juga digugurin. Bahkan aku sudah habis uang 20 juta lebih demi menggugurkan anak ini. Makan pedas-pedas udah, minum jamu udah, obat ini obat itu udah, aku sengaja pake baju sesempit ini, bahkan aku bela-belain pake korset tapi tetap saja tidak berhasil, tidak mengubah apapun. Bahkan janin ini mau dibuang ke laut selatan oleh Neneknya Tomy, tapi gagal dan esok harinya aku mendengar kabar bahwa neneknya Tomy meninggal setelah kejadian itu.” Jelasnya padaku.
“Berarti anak mu anak yang kuat, ya jagoan tuh hehe.” Jawabku, aku berusaha santai.
“Jagoan apa? Ini anak cewek tahu!” jawab Ani.
“Tahu dari mana kalau tuh anak cewek?” Tanyaku, lagi-lagi aku berusaha menahan diri agar tidak memaki.
“Dari Tomy lah, Tomy kan orang pinter.” jawab Ani.
“oh, iya ya orang rumah udah tahu belum? Tante, nenek sama kakekmu sudah tahu ya?” Tanyaku lagi.
“Sudah, mereka sudah tahu semuanya gini ceritanya, tanteku curiga karena melihat postur tubuhku sudah sangat berbeda. Saat ditanya aku tidak mengaku dan berusaha mengelak. Namun ternyata tanteku mencari tahu dengan cara bertanya pada salah satu orang pinter kepercayaannya, dan akhirnya aku pun ketahuan kalu aku sudah hamil, dan aku tak dapat mengelak lagi. Terus, Heri dipanggil ke rumah, dan akhirnya kami disuruh cepat menikah dan tanggalnya pun sudah dipersiapkan, bahkan kakekku pergi ke kampungnya Heri untuk membicarakan rencana pernikahan kami, karena sudah ketahuan jadi pernikahanku dengan Heri dipercepat”. Jelasnya.
“Iya memang harus seperti itu. Ani mereka marah tidak?” Tanyaku.
__ADS_1
“Nggak kok, Fatin. Mereka gak ada yang marah padaku malah aku yang ngambek” Cetus Ani.
“Loh kenapa?” tanyaku.
“Gak tahu nih, aku lagi mikirin Tomy nih,” keluhnya.
“Kok malah mikirin Tomy sih? Kan mau menikah? Gak seharusnya kamu memikirkan laki-laki lain saat kamu sudah mau menikah Ani kamu gak boleh seperti itu Ani.” Kataku pada Ani. Lagi-lagi aku berusaha sedatar mungkin, tak mau larut dalam kisah Ani ini.
Suasana pun hening untuk waktu yang cukup lama. Hingga pesanan bakso yang kami tunggu tiba. Kami sama-sama menikmati bakso jumbo yang telah dipesan ini.
“Huuuf cabenya kali ini pedes banget lebih pedes dari biasanya nih…” Kataku tiba-tiba memecahkan keheningan ini, walaupun aku tak ingin larut dalam kisah Ani, tapi aku juga tak mau larut dalam suasana keheningan seperti ini yang akan membuat pikiranku larut dalam kisah Ani.
“Iya, ya mana aku gak bisa makan macem-macem lagi nih, gak bisa makan sambel banyak-banyak.” cetus Ani.
“Iyalah, kan kamu lagi hamil. Oh ya, Tomy udah tahu kalau kamu mau menikah?” Tanyaku. Sekedar ingin tahu ceritanya saja.
“Sudah kok, Tomy udah tahu terus terang saja, aku sudah beberapa hari tak menjawab smsnya, juga telponnya, karena aku ingin perlahan-lahan melupakannya tapi rasanya sangat sulit sekali melupakannya akhirnya pun aku membalas sms darinya. Aku minta maaf karena tak membalas smsnya, itu karena aku sibuk fiting baju pernikahan, dan menyiapkan pernikahan kataku padanya. Ia malah mengira bahwa aku sudah lupa padanya, sebenarnya aku sama sekali tidak sibuk, aku sangat merindukannya. Aku sudah berusaha untuk melupakannya tapi aku malah semakin lama aku semakin rindu, semakin sayang dan cinta sama Tomy Lalu bagaimana?” tanyaku bingung harus berkomentar apa? Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik baginya.
From: Tomy
“Mengapa kamu berubah? Apa kamu sudah tak ingat lagi padaku? Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi Ani? Apa kamu sudah benar-benar telah melupakan aku? Kau begitu tega padaku Ani Kamu tahu kalau aku sakit kan? Mana janji mu? kau bilang ingin membantuku? Kau bilang bulan February ini ada dana untukku kau hanya pandai bicara saja! kau tahu kan nyawaku sekarang ada di tanganmu yank”
“Loh? Maksudnya ini apa Ani? Tomy minta dana? Dana buat apa? Terus kenapa dia bilang kalau nyawanya ada di tangan mu?” Ani memperlihatkan sms dari Tomy pada ku.
“iya Fatin, katanya Tomy, ia sedang sakit parah, ada sebuah benjolan di kepalanya. Tomy bilang ia mau dioperasi, dan aku janji untuk membantunya meminjamkan uang untuk biaya operasinya. Aku bilang padanya aku bisa bantu, dan bulan February ini aku janji untuk meminjamkan uang pada Tomy.
Aku telah menjelaskan semuanya pada Tomy, tapi dia tak mau mengerti dan Tomy malah marah-marah padaku. Aku benar-benar bingung tak tahu harus bagaimana, mendengar dia berkata seperti itu aku semakin sedih aku takut terjadi apa-apa pada Tomy, aku takut kalau penyakit yang dideritanya adalah penyakit yang serius yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya.” Jelas Ani.
Matanya yang mulai berkaca-kaca, tapi ia berusaha untuk tidak menangis di depanku tapi aku tahu kalau Ani sangat sedih dan kami berdua terdiam untuk waktu yang sangat lama aku yang sedari tadi mendengar ceritanya. Tak kuasa berkata apa-apa hanya tertegun dan diam dalam hatiku berkata, “kamu itu bodoh ya! Padahal di sampingmu sudah ada laki-laki baik yang mencintai kamu dengan tulus, dan bertanggung jawab ia tak pernah mengeluh selalu bekerja keras demi dirimu seorang tapi kamu malah mengkhianatinya selingkuh dengan laki-laki lain yang baru kamu kenal.”
Memang cinta tak pernah salah karena setiap manusia pasti memiliki rasa cinta. Mungkin ini yang disebut cinta buta -cinta tidak buta tapi melumpuhkan logika, by: MtGw.
Sepertinya aku mulai larut dalam kisahnya, dan mulai memaki tapi aku tetap berusaha menahan diri agar aku tak sembarangan bicara yang akan membuatnya tersinggung aku berusaha untuk tetap tenang dan menaggapinya sedatar mungkin.
“Hmmm, lalu?” tanyaku seraya menyeruput secangkir wedang hangat di meja. Ia hanya diam tak menjawab apa-apa, aku tak betah melihat keadaan yang membisu ini karena itu aku pamit pulang mengingat hari sudah malam.
“Ya sudah, kamu sabar aja ya jangan menangis terus nanti kamu bisa sakit kamu harus memikirkan anakmu juga kasihan dia ini sudah malam, aku pamit pulang dulu ya dan kamu istirahat ya Ani nanti kita lanjutkan lagi”.
Aku langsung mengambil helm dan menghidupkan motorku, di perjalanan aku kembali membayangkan ceritanya tadi sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan pada Ani hanya saja situasi tidak nyaman jadi. Aku memilih menyimpan semua deretan pertanyaanku untuk esok hari jika ada waktu. Belum sempat aku sampai di rumah hp-ku berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk. Aku tahu ini pasti dari Ani. Tapi aku memilih membukanya nanti saja saat sudah sampai di rumah.
From: Ani
“Setiap kali aku ingat dia aku semakin sedih, hatiku sakit sekali rasanya aku tak bersemangat lagi, aku seperti orang linglung sama sekali tidak tahu harus melakukan apa? Aku jadi malas melakukan apa-apa.
To: Ani
__ADS_1
“Memangnya dia itu sakit apa sih? Kok sampe mau dioperasi segala?”
From: Ani
“Aku tidak tahu, Tomy hanya bilang kalau di kepalanya ada benjolan, katanya sakit sekali jika kambuh ia bisa sampe pingsan”
To: Ani
“Kamu sudah coba bertanya pada Tomy tentang penyakitnya itu? Apa keluarganya tidak tahu kalau Tomy sakit?”
From: Ani
“Tentu saja orangtuanya tahu kalau Tomy sedang sakit seperti itu, katanya keluarganya sudah pasrah karena mereka tidak punya uang untuk membiayai operasinya”
To: Ani
“Lalu? Hmmm oh ya, sekarang kandunganmu itu sudah masuk berapa bulan sih?”
From: Ani
“Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin mendengarkan dari mulutnya sendiri apa benar dia sakit? Kandunganku sekarang sudah hampir memasuki 7 bulan Fatin
To: Ani
“Kapan kamu akan menemuinya?”
From: Ani
“Rencananya hari ini aku akan menemuinya. Sekarang aku sedang sms-an sama Tomy. Doakan ya semoga aja hari ini bisa, aku benar-benar harus bertemu dengannya aku sangat merindukannya aku sangat khawatir dengan keadaannya aku harus menemuinya hari ini.”
Mentari hari ini nampaknya masih enggan menampak gelora apinya. Seharian tanah ini terus diguyur hujan. Awan selalu menyisakan tangisan gerimis kecil, angin yang semakin lama semakin deras, langit semakin gelap seakan mewakili perasaan Ani yang pada hari ini ia berencana bertemu dengan Tomy.
Aku beranjak menyusuri jalan raya menuju ke sebuah apotek yang berada di belakang sebuah bangunan mall yang tengah berdiri kokoh. Tak banyak orang lalu lalang di sana, para pedagang kios pun sudah mulai ingin menutup kiosnya, yah mungkin karena cuaca seperti ini yang membuat mereka memilih berdiam diri di rumah atau memang sudah pulang dari bekerja mengingat hari ini sudah pukul 04.00 pm.
Aku mulai memarkirkan motorku, dan di tengah mendung ini aku melihat sesosok yang tersenyum ceria menyambut kedatanganku, raut seceria ini, senyum seceria ini akankan dapat bertahan menghiasi ekspresi wajahnya jika ia tahu bahwa sang kekasih telah mengkhianatinya. Dulu cintanya sudah pernah terbunuh, tapi kini telah bangkit kembali mungkinkah cintanya akan kembali terbunuh seperti dulu? Dan bila itu terjadi apakah ia harus mengemis cinta dari seseorang yang telah menyia-nyiakan cintanya?
Ya, benar sesosok yang memiliki senyum ceria itu adalah Heri tunangan Ani. Ia bekerja di sebuah apotek swasta aku sering ke sana untuk membeli obat dan hari ini kebetulan aku ke sana.
“Eh, Fatin cari apa?” Sapa Heri padaku.
“Ini biasa, captopilnya sama antasida masing-masing 4 keping ya..” jawabku sambil memperlihatkan contoh obat yang aku bawa. Heri langsung mengambilnya dan tak lama kemudian Heri kembali dan memberi obatnya padaku. Tak terjadi percakapan serius dengannya hanya percakapan selayaknya antara penjual dan pembeli biasa setelah itu aku langsung tancap gas lagi menuju istana tempat tinggalku.
Ani menceritakan hasil pertemuannya dengan Tomy hari ini ia mengatakan padaku bahwa Tomy mengidap penyakit yang serius tapi tetap saja Tomy tak mau memberitahukan tentang penyakitnya itu. Lagi-lagi ia hanya berkata kalu di kepalanya terdapat sebuah benjolan kira-kira letak benjolannya di bawah bagian otak kecil tomy mengatakannya sambil menangis begitu juga dengan Ani ia menangis sampai sesegukan.
28 February
__ADS_1
Ya, 28 February, hari itu adalah hari pernikahan Ani dan Heri. Aku datang dan melihat senyum yang terlihat seperti tangisan. Benar meskipun Ani memutuskan untuk tetap menikahi Heri. Ia mengarungi rumah tangga dengan dua cinta. Tanpa tahu cinta yang mana yang lebih kuat.