Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Penyesalan Khansa


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta Segitiga


Judul: Penyesalan Khansa


_________________________


Sebuah jam berbentuk lingkaran yang menempel di dinding menunjukan pukul 07.15, tetapi pelajaran Matematika pagi ini belum dimulai seperti biasanya. Bu Nur Guru Matematika sekaligus wali kelasku belum juga datang, mungkin terlambat karena jalanan yang macet. Ahh… entahlah, aku tidak mau membahas tentang itu.


Untuk mengisi waktu senggang, para siswa melakukan berbagai aktivitas; ada yang mendengarkan musik, membaca buku, mengobrol, serta ada pula yang senyum-senyum sendiri sambil menatap layar handphone-nya. Sepuluh menit kemudian, aktivitas-aktivitas itu terhenti total, karena Bu Nur sudah datang, tetapi ada seorang lelaki tampan menguntitnya dari belakang ketika memasuki kelas.


'Selamat pagi anak-anak!,' sapa Bu Nur.


'Selamat pagi, Bu!,' jawab murid-muridnya serempak dengan nada khas dan ritme yang sama pula.


Suasana menjadi hening, semua pasang mata tertuju pada lelaki jangkung yang berkacamata.


'Adit!!!,' Putri yang duduk di sebelahku berucap keras, sehingga membuat semua orang sontak menatapnya. Pipi Putri pun merah merona tak lebih seperti 'si Cepot', sedangkan lelaki yang ia sebut Adit pun keheranan memandang Putri.


'Hari ini, kita kedatangan murid baru,' Bu Nur memulai kembali pembicaraannya, kemudian teman-temanku pun kembali fokus pada murid baru itu.


'Nah… sekarang perkenalkan diri kamu!,' perintah Bu Nur kepada murid yang berdiri di sebelahnya.


'Perkenalkan, nama saya Adit. Saya pindahan dari Jakarta. Senang bertemu teman-teman semua…' ucapnya yang diakhiri dengan senyuman mempesona.


'Kamu kok bisa tahu namanya Put?,' bisik ku pada Putri.


'Iyalah… dia itu cinta pertama aku pas SMP,' ucap Putri kegirangan dengan pandangan yang masih tertuju pada Adit.


'Silahkan duduk di sebelah Danang.' Bu Nur kembali terdengar gaungnya, kemudian Adit pun berjalan menuju sebuah bangku yang kosong di sebelah kanan Danang, tepatnya dihadapan mejaku dan Putri. Derap langkahnya membuat jantungku berdegup begitu kencang. Adit pun duduk.


'Ssstttt… sssttt' Isyarat Putri pada Adit agar menoleh ke belakang.


'Nih anak, centilnya kumat lagi' gumamku.


Adit pun berbalik, ia menatap Putri. Entah kenapa tatapan itu membuat hatiku menjadi panas.


'Kamu Putri kan?,' tanyanya.


'Iya, Joko… Joko… kamu tambah ganteng aja' kata Putri sambil terkekeh.


'Huhhhh, dasar Ijem!,' ucap lelaki yang Putri sebut Joko.


'Anak-anak, buka buku paket Matematika halaman 50. Kita akan belajar mengenai fungsi limit,' Bu Nur berucap lantang, sehingga berakhirlah percakapan antara si Joko dan si Ijem saat itu.


Detik demi detik berlalu, jam demi jam pun terlewati. Tak terasa bel pertanda istirahat pun berbunyi. Putri mengajak aku dan Adit ke Kantin. Aku juga berkenalan dengannya.


Disela-sela menyantap semangkuk bakso, terdengar Putri dan Adit saling berbincang-bincang.


'Kalian kok bisa kenal?,' tanyaku ikut nimbrung.


'Adit itu sahabat aku pas SMP, tapi waktu kelas IX Adit pindah ke Jakarta dan kita lose contact. Sekarang baru ketemu lagi,' jelas Putri.


'Kenapa pindah Dit?,' tanyaku pada Adit.


'Waktu itu, orang tuaku bercerai. Aku ikut Ayah pindah ke Jakarta dan sekarang aku pindah lagi ke Bandung soalnya aku mau tinggal sama Ibu,' ucap Adit.


'Oh, begitu…' jawabku singkat.


'Iya, sekarang aku nggak nyangka bisa ketemu si Ijem lagi,' tukas Adit.


'Ihhhh…' Putri menimpali sembari cemberut dan bibir tipisnya itu menjadi lebih maju. Aku dan Adit tertawa terbahak-bahak karena tingkah Putri yang terkadang suka bersikap kekanak-kanakan. Sikap yang aku tak suka.


Mentari yang meninggi perlahan mulai turun dan tenggelam. Senja yang menjingga akan segera berubah menjadi malam. Bintang pun saling berkedip dalam mega yang kelabu, bagaikan kunang yang benderang dalam remang.


Pikiranku tak henti digelayuti sosok Adit. Lelaki yang baru saja ku kenal telah menawan hatiku. Jujur, aku mulai menyukainya meski aku tahu Putri juga mencintai Adit bahkan sedari dulu. Aku sudah hapal dengan watak Putri, dia orang yang tak mudah jatuh cinta dan tak mudah melupakan. Aku hanya menerka saja, cinta yang sudah lama terkubur dalam-dalam kini bersemi lagi di benak Putri.

__ADS_1


Hari-hari terus berlalu. Kini aku, Adit, dan Putri menjelma dalam sebuah ikatan 'Persahabatan'. Setiap pagi yang selalu disuguhkan Putri pada Adit ketika bertemu di Sekolah, yang sudah membuatku jemu yaitu 'Sudah makan Dit?, nih aku bawain nasi goreng buatanku loh.. bla… blaaa.. blaaa…'' sambil menyodorkan nasi goreng dalam sekotak tempat makanan yang berbentuk Love.


Walaupun begitu, Putri adalah sahabatku sejak setahun yang lalu. Kami dipertemukan di Sekolah tercinta ini. Sekarang aku duduk di kelas XI IPA, di salah satu SMA yang ada di Kota Kembang.


Ketika Istirahat, Putri mengajakku ke Taman sekolah, tapi tanpa Adit. Hmmm… ada apa ya?, hatiku penasaran.


'Khansa…' ucap Putri dengan menatapku lekat-lekat.


'Iya, ada apa Put? Kenapa kamu ngajak aku ke taman?, biasanya juga ke kantin dan kenapa nggak ngajak Adit juga?,' tanyaku beruntun.


'Ihhh, dengerin dulu donk…' jawab Putri kesal karena aku bertanya terus menerus.


'Iyaa… iya' kata ku.


'Gini Sa, aku itu mau nembak Adit. Menurut kamu gimana?,' tanyanya.


Seketika Aku hanya terdiam, aku tak tahu bagaimana nanti perasaanku jika Putri dan Adit menjadi sepasang kekasih. Apa mungkin aku masih bersahabat dengan mereka? Sementara perasaanku sakit menyaksikan semua itu.


'Khansa!!!,' teriak Putri memekakan telingaku.


'Ehhh.. Iya apa Put?, Maaf… maaf, aku tadi nggak denger, hehehe…' jawabku.


'Ihh, dasar…' ucap Putri sambil cemberut.


'Apa Putri?,' tanyaku pada Putri, pedahal aku sudah tahu perkataannya tadi.


'AKU MAU NEMBAK ADIT, MENURUT KAMU GIMANA KHANSA?,' ucap Putri dengan nada yang berbeda dari perkataannya tadi.


'Hmmmm…' aku berpikir sejenak, mencari jawaban yang tepat.


'Khansa, jawab donk!!!,' pinta Putri.


'Menurut aku sih, nyatain aja perasaan kamu itu.' Jawabku menahan sakit di hati.


'Teruuusss?,' kata Putri.


'Maksud kamu?,' tanya Putri semakin penasaran.


'Kasih tahu nggak yaaa?,'


'Khansa!!!,' teriak Putri. Nampaknya Putri semakin kesal, karena jawabanku tak memuaskannya.


'Kamu harus pertimbangin, kalau kamu nyatain perasaan kamu itu, apa kamu dan Adit masih bersahabat? Apa nanti sikapnya akan berubah? De el el…' jawabku.


'Ahhhhh, aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu Khansa, aku mau nembak Adit. Kali aja dia mau jadi pacarku,' tukas Putri.


JLEB!!!, Perasaanku semakin tak karuan, aku ingin meronta dan menangis sejadi-jadinya. Cinta itu terus membuncah dalam dadaku, seperti rumput liar yang tumbuh dengan cepat memberontak batinku, Aku tak tahu mengapa cinta itu bisa hadir dalam hatiku, perasaan yang selalu mencengkram jiwa kuat-kuat. Aku ingin Adit menjadi milikku untuk selama-lamanya, tak perduli bagaimana pun caranya. Ego ku membumbung tinggi.


Aku juga tak tahu, kenapa kebencian pada Putri bisa bersemayam di hatiku. Aku benci Putri ketika ia dekat dengan Adit, aku benci Putri ketika ia perhatian pada Adit, aku juga benci Putri ketika ia mengatakan tentang rencana PENEMBAKANNYA ' SANGAT BENCI!!!. Perasaan yang terus ku pendam. Entah sampai kapan.


Di tengah perasaanku yang membabi buta, Adit datang menghampiri aku dan Putri yang tengah duduk di sebuah kursi Taman Sekolah.


'Di cariin dari tadi, ehhhh ternyata kalian ada di sini. Ngggak ngajak-ngajak lagi. Huhhh!!!,' gerutunya.


'Hehehe, maaf Joko…' jawab Putri manja.


'Ehh, nanti malem kalian ada acara nggak?, kita ke caf' yuk!,' seru Adit.


'Nggak kok, aku nggak ada acara. Aku pasti dateng,' Jawab Putri yang membuatku semakin jemu padanya ' SANGAT JEMU!!!.


'Aku nggak bisa,' jawabku pada Adit.


'Lohhh, kenapa Sa?,' tanya Adit keheranan.


'Aku gapapa,' jawabku singkat dan segera meninggalkan mereka berdua. Beberapa langkah kemudian, ada yang menarik tanganku.

__ADS_1


'Tunggu Sa!, kamu ikut ya?,' Pinta Adit.


Aku menoleh ke belakang dan hanya menganggukan kepala, ku lihat raut Putri yang cemberut. Mungkin ia cemburu melihat Adit menarik tanganku.


'Hahaha…' aku tertawa puas, walau dalam hati saja.


'Kalau Khansa nggak mau ikut, jangan dipaksa donk!,' ucap Putri pada Adit.


'Loh kenapa?, biasanya kan kita juga selalu bertiga…' jawab Adit membelaku. Aku hanya ingin tertawa sepuasnya melihat wajah Putri yang cemberut disulut api cemburu dalam hatinya. Asal kamu tahu Put, perasaan cemburu itu yang selalu aku rasain kalau kamu deket sama Adit.


'Ihhh, sebel!,' ucap Putri sambil berlalu meninggalkan aku dan Adit.


'Kenapa tuh si Putri?,' tanya Adit keheranan.


'Mungkin dia hanya ingin pergi berdua aja sama kamu, jadi aku nggak akan ikut ah.'


'Yeyyy, kok gitu sih… kamu ikut ya. Pokoknya nanti malem aku tunggu di caf'. Seperti biasa, jam 07.30. Oke?' seru Adit.


'Iya bawel, hehehe.'


Udara malam ini begitu dingin, langit juga kelabu. Jam 19.00, aku berangkat lebih awal meluncur menuju caf' bersama Mio-ku.


Setibanya di caf' aku memesan secangkir moccacino. Beberapa menit kemudian, Adit datang dan menghampiri lalu duduk di depanku.


'Udah lama Sa?,' tanya Adit.


'Nggak kok,' jawabku singkat.


'Oh, yaa, Putri kok belum dateng?,' terdengar Adit bertanya.


'Aku nggak tahu, coba kamu SMS dia.'


Bukannya SMS Putri, Adit malah memesan secangkir teh lemon. Tak perlu menunggu lama, teh pun sudah tersedia dihadapannya, diantarkan oleh seorang pelayan berdasi kupu-kupu.


Setelah meneguk teh kesukaannya, Adit memegang ke dua tanganku. Sorot matanya tak seperti biasa, sangat sendu.


'Aku cinta sama kamu, Khansa…' ucapnya kemudian. Aku terhenyak, ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan.


'Aku juga cinta kamu Dit, tapi Putri juga cinta sama kamu.'


'Tapi aku nggak cinta sama Putri,' jawab Adit tetap memegang jari jemariku. Aku hanya mengangguk, hati ini menjadi penuh bunga. Aku tak memerdulikan perasaan Putri secuil pun. Memang ini yang aku inginkan, ADIT MENJADI MILIKKU!.


Tiba-tiba terdengar suara berucap keras, 'Aku kecewa sama kalian!!!. Terutama sama kamu Khansa!!!.' Aku dan Adit tidak sadar kalau Putri sudah datang, ia berdiri tak jauh dari tempatku dan Adit.


'Put…ri,' ucapku terbata. Putri segera berlari keluar caf' itu.


'Putri tunggu!!!,' teriakku sambil terus mengejarnya. Pedahal aku sangat malas, tak ada gunanya aku mengejar Putri, tapi batinku berkata agar aku mengejarnya, entah kenapa.


Adit pun mengikutiku berlari, mengejar Putri. Mega yang mendung benar-benar mengeluarkan isinya malam ini, hujan turun begitu deras. Putri terus berlari. Tapi, pelarian itu terhenti ketika sebuah kijang menghantamnya. Putri pun terpental cukup jauh. Aku menyaksikan kejadian itu.


'Putri!!!,' aku berlari sekencang-kencangnya, menghampiri tubuh seorang gadis yang tergeletak di jalanan sepi.


'Put… bangun!!!,' teriakku sambil mengguncang-guncang tubuh itu dan kepalanya ku letakan di pangkuanku. Tapi ia tak bergeming. Darah segar terus mengalir dari pelipisnya, goresan luka dimana-mana.


Tangisanku pecah. Kebencianku hilang musnah. Aku sangat merasa bersalah, aku menjadi penyebab kematiannya. Andai aku tak datang ke caf', malam ini. Andai saja aku tak menerima cinta Adit. Andai aku tak mencintai Adit. Andai aku biarkan saja Putri memilikinya. Semuanya tak akan berakhir seperti ini. AKU SANGAT MENYESAL!!!.


Adit memburu gadis yang ada dipangkuanku, di bawanya ke dalam dekapan. Tangisanku dan Adit menyertai hujan yang turun deras. Lalu aku dan Adit membawa Putri ke Rumah sakit yang letaknya cukup jauh dari TKP, menggunakan Taksi yang baru saja lewat, sedangkan mobil yang menabrak Putri entah melarikan kemana.


Setibanya di Rumah Sakit, Putri segera dibawa ke sebuah ruangan. Seorang Dokter dan 2 Suster terlihat memeriksa Putri dan kemudian menutupkan kain putih ke tubuhnya. Hatiku sangat hancur melihatnya. Begitu pun dengan Adit yang begitu terpukul.


Aku tak akan pernah mampu memaafkan diriku sendiri, bagaimana tidak. Aku merebut pujaannya, aku menerima cinta Adit. Pedahal aku juga tahu, bahwa Putri akan menyatakan cintanya pada Adit. Dia sudah mengumumkan rencananya padaku, tadi siang. Tapi kenapa aku tak memperdulikan perasaannya sedikit pun? Kenapa aku sangat egois?, bahkan aku membencinya dan pura-pura baik pada Putri. AKU JAHAT!!!.


Aku menyesal Put, sangat menyesal!!!, aku membuatmu kecewa di kepergianmu. Jika bisa ku putar waktu, aku ingin menjadi sahabat yang terbaik untukmu, aku tidak akan mencintai Adit, aku akan membiarkanmu hidup bahagia bersama cinta pertamamu itu.


'Putri Kamila Adelia' sebuah nama yang tertulis pada sebuah nisan. Gundukan tanah merah bertaburkan bunga menyertainya. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, Maafkan aku, Putri!.

__ADS_1


Sesalku ini tak akan pernah berakhir.


- TAMAT -


__ADS_2