Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
cinta menghapus kesedihan ku (part 3)


__ADS_3


'Ih.. apaan sih!' Jawabku malu.


'Tuh.. tuh mukamu merah, hahahaha kau tak bisa membohongiku sahabat!' Ucap Lisa sembari tangannya menunjuk mukaku.


'Iya sahabat, aku mengakuinya, puas?' Tanyaku dengan marah yang dibuat-buat.


'Hahaha puas sekali Putri, akhirnya kau tak jadi perawan tua Put.'


'Ihhh sudah ahh. Lisa!!! Baju mana yang cocok untuk ku kenakan saat jalan bersama Andri nanti?'. Pekikku


'Hmmmmm bentar, kayaknya yang ini cocok deh, dress biru dengan pita di pingganya, dan kau gunakan bandana biru ini terlihat manis kau sahabatku.'


'Ahhh, makasih sahabat your the best.' Aku memeluk Lisa.


'Your welcome, sahabat.' Jawabnya seraya membalas pelukanku.



Kami memilih bangku B nomor 13 dan 14. Film nya belum mulai, dan aku pun masih kepikiran saat dia menjeputku ketika hendak pergi tadi. 'Kamu terlihat berbeda Putri, lebih cantik, rapi dari biasanya'. Ohh kalimat itu selalu terngiang di telingaku, walau sedikit mengejekku. ‘Emangnya aku tidak selalu rapi ya?’ Tanyaku menerawang.


Tanpa aku sadari ternyata filmnya sudah mulai, dan ada sentuhan yang menyentuh hangat tangan kananku setelah ku lihat, Andri memegang tanganku, matanya terpejam sambil meletakkan kepalanya di pundakku.


'Ah apa yang ku fikrkan! Andri kan takut hantu wajar saja dia bertingkah seperti itu. Dan sebenarnya dia yang salah kenapa memilih film ini. Bodoh!' Batinku sambil mengubur fikiranku yang berlebihan.



Hari sudah menujukkan pukul 13.00 WIB. Andri mengajakku makan di salah satu kedai ice cream di pusat kota. Disana kita bisa memilih ice cream dengan berbagai varian dan degan toping yang berbeda-beda. Andri mengambil ice cream coklat dengan toping kismis, coklat batang yang dipotong kecil-kecil, dan kacang mede di atasnya. Tentunya dia mengambil 2 untuk aku dan dia sendiri.


'Hmm makan yang dingin-dingin disaat cuaca sedang panas seperti ini memang pilihan yang tepat.' Aku membuka pembicaraan.


'Hahaha iya tentu saja!'


'Hmmmm kamu lihat patung itu…'


Belum selesai aku menyudahi kalimat itu, Andri mencondongkan badannya ke arahku dan tangannya dengan cepat meraih tisu di depan kami, dan mendaratkan tisu itu di bibir atas dan bawahku yang penuh dengan ice cream yang berantakan.


'Uh, maaf aku hanya ingin membersihkan ice cream itu.' Andri menjawabnya dengan gelepan, dan segera mengakhiri yang dia lakukan barusan.


'Hmm iya tidak apa-apa kok, hmm.. uhh.. aku yang seharusnya minta maaf, karena telah merepotkanmu tadi.' Jawabku salah tingkah. Pipiku rasanya memerah, hawa panas yang sebelumnya menghinggapiku itu menyergapku kembali. Aku terdiam menatapnya. Ketika aku menatapnya matanya seolah-olah bicara sesuatu kepadaku.


'Put, Putri..' Panggil andri membuyarkan lamunanku.


'Hmm iya Ndri ada apa.' Jawabku kaget.


'Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.'


'Ke suatu tempat?' Kalimat itu aku ulangi lagi sambil mengeryitkan dahi seperti kebigungan.


'Ayolah ikut saja denganku'. Setelah membayar ice cream, Andri berlari menarik tanganku, sepertinya tempat yang Andri maksudkan itu tidak jauh dari kedai ice cream tadi, kami hanya perlu berlari mencapai tempat itu, dan ternyata tempat itu adalah…


Taman, yang di tengahnya ada kolam yang bentuknya lingkaran lebar, di atasnya ada patung cewek dan cowok sedang bertatapan, dan di sekeliling patung itu ada air mancur. Di samping kolam ada bunga mawar merah hati yang mengelilingi kolam itu. Di dalam kolam ada ikan mas yang berwarna kuning keemasan yang tampaknya bahagia karena memiliki rumah seindah ini. Di sekeliling taman ada pohon yang rimbun meneduhi tempat-tempat duduk di bawahnya. Di setiap jalan menuju tempat duduk itu di kanan dan kirinya terdapat bunga-bungaan yang memegari jalan itu. Di sudut kanan dari tempat kami berdiri ada arena bermain anak-anak yang kini lagi sepi. Tidak bukan arena bermain anak saja yang sepi di sekeliling taman pun demikian. Seperti taman ini sudah di booking untung kami berdua saja.

__ADS_1


Aku masih terkesima melihat indahnya taman ini.



'Ini namanya Taman Florista, taman ini dibuat enam bulan yang lalu, dan baru hari ini taman ini dibuka untuk umum. Untuk itu aku mengajakmu kemari untuk melihat taman ini.'


'Hmmm begitu.' Aku mengangguk tanda mengerti.


'Putri…' Andri menapku lekat-lekat, dia menggenggam kedua tanganku. Dan ini kali ketiga aku merakan perasaan hawa panas kembali menergapku, tapi kini rasa itu semakin kuat. Aku tak kuasa melihat tatapanya kepadaku.


Apakah ini yang namanya cinta? Tatapan itu, apakah tatapan bahwa dia berusaha menyakinkan padaku bahwa dia mencintaiku? Apakah benar begitu? Jawab!!!, Hatiku bertanya bertubi-tubi pada logika yang tidak bisa menjawab.


'Iya Ndri?'


'Aku mencintaimu Putri, aku sayang kamu.'


Kalimat itu seperti membuat semuanya terhenti, membuat mata berhenti berkedip, membuat air mancur tak mampu memancurkan air lagi, membuat ikan berhenti berenang, membuat kupu-kupu berhenti terbang, dan membuat angin tak lagi meniup.


'Kenapa kau mencintaiku dan sayang padaku Ndri?'


'Aku tak tahu, yang ku tahu aku tak ingin kehilangan kamu, dan jujur aku ingin selalu berada di dekatmu Putri.' Ungkap Andri seraya menggenggam tanganku lebih erat untuk meyakinkanku.


Dari matanya, sepertinya kalimat yang barusan keluar itu tulus dari hati. Dan cara dia menggenggam tanganku juga menyatakan dia memang tidak main-main atas perkataannya. Aku yakin yang aku ucapkan ini bukan suatu tindakan yang salah, dan dengan yakin aku mencoba untuk mengungkapkan sesuatu kepada pria di depanku itu.


'Andri, aku juga cinta sama kamu, aku juga sayang sama kamu.' Dengan mata berkaca-kaca aku ungkapkan isi hatiku pada Andri, tanpa ku sadari air mata ini jatuh membasahi pipiku. Bukan, ini bukan tangisan kesedihan tetapi ini tangisan kebahagiaan. Karena akhirnya aku bisa merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya dan menemukan lelaki yang mencintaiku dengan sepenuh hati.


'Kenapa menangis Putri.' Tanya Andri yak kuasa melihat air mataku, ia segera menyeka air mataku yang mebasahi pipiku.


'Well, kau mau jadi pacarku atau mungkin jadi istriku?' Tanya Andri kepadaku.


'Iya Andri.' Jawabku mantap.





Kejadian tadi siang masih terbayang di di fikranku. Aku hempaskan badanku di kasur, sambil menatap langit-langit kamar, aku tersenyum membayangkan wajahnya berada disana. Otakku terhenti, rasanya hati dan perasaan cinta ini telah merajai tubuhku. Aku tak bisa memikirkan yang lain, hanya ada Andri, Andri dan Andri.



Aku segera menelpon Lisa dan memberitahu dia bahwa kami sudah resmi pacaran. Tentu saja di sangat antusias mendengarnya. Dia memang sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka.



Aku segera mencari ayah dan menceritakannya juga kepada ayah, ayah ingin bertemu dengan Andri. Ya, untuk mencoba mengenal lebih jauh dengan Andri.


'Besok, suruh dia main ke rumah ya Put!.' Teriak ayah dari bawah.


'Iya yah, setelah pulang kerja, nanti Putri ajak main ke rumah.' Teriakku sembari menaiki anak tangga menuju kamar.


Kring.. Kring.. ponselku berbunyi. 'Andri memanggil.' Aku baca layar ponselku dalam hati. Dengan sigap langsung aku angkat.

__ADS_1


'Halo.. Bulan hatiku'. Ucap Andri di seberang telpon.


'iya halo, eh apa barusan kamu bilang?' Tanyaku heran.


'Bulan hatiku, kenapa? Kan kita sudah pacaran jadi bebas dong aku mau panggil kamu dengan sebutan apa!' Tukasnya jahil.


'Hahaha iya iya Bintang hatiku.' Ucapku tersenyum. Jujur aku menyukai panggilan itu. Dan aku juga membuat panggilang untuknya 'Bintang.'


Panjang lebar yang kami bicarakan di telpon dan diakhiri..


'Ya udah tidurlah sayang, sudah malam. Good night, I love you.' Ucapnya manis.


'Iya sayang, good night. I love you too.' Ucapku tak kalah manis.


Ini akan jadi menjadi sejarah bagi hidupku. Cinta pertama.





Aku buatkan teh untuk Andri dan ayah yang sedang mengobrol di teras depan rumah.


'Ini tehnya di minum Ndri, spesial aku yang buat lho.' Ucapku seraya tersenyum kepada kekasihku itu.


'Dan ini spesial untuk ayahku tercinta.' Ucapku sembari memeluknya.


'Aku enggak dipeluk juga nih?' Tanya Andri bercanda.


'Hushh!!! Kerja dulu yang bener!!' Ucap ayah mengagetkan Andri.


'Hahahaha dengerin tu Ndri!' Tukasku menyudutkannya.


'Iya om, aku udah kerja yang bener kok.' Jawab Andri mantap.


'Enggak usah panggil om, panggil ayah saja nak andri.'


'Eh iya yah maksud saya gitu.' Ucap Andri masih janggal dengan kata itu, tapi akhirnya nyaman juga








__ADS_1


__ADS_2