
Sudah seminggu dari hari aku melamar kerja itu, belum juga ada kabar mengenai diterima atau tidak aku bekerja disana.
Hmmm malam ini aku begitu lelah banyak sekali pelanggan yang datang ke restoran tempatku bekerja menginat malam ini malam minggu, ya tentu saja para muda-mudi yang dominan menjadi pelanggan malam ini, dan pemandangan berdua- duaan itu membikin aku Ilfeel, karena hingga usiaku yang sekarang aku belum pernah merasakan jatuh cinta.
Aku sedang bersantai di kasur tiba-tiba ponselku berbunyi, ada pesan dari nomor tak dikenal. Segera aku baca isi pesan tersebut.
'Yee!! Akhirnya, aku diterima!! Terima kasih tuhan!! Tak sia-sia doaku selama ini. Tapi aku tak mengenali nomor itu, ah bukan urusan yang penting tentang nomor itu mungkin nomor karyawan disana yang mengabarkannya langsung kepadaku lewat nomor hp yang tertera pada surat lamaran kerjaku tempo hari.' Batinku girang.
Tidak berapa lama kemudian, nomor tak dikenal itu menelponku. Tanpa fikir panjang aku segera mengangkatnya.
'Halo, dengan Putri Deswita saya berbicara?.' Tanya seseorang dengan suara laki-laki yang sepertinya familiar di telingaku.
'Iya dengan saya sendiri, maaf dengan siapa saya bicara?'
'Ini aku Andri, selamat ya Put kamu diterima di kantor kami.'
'Iya, makasih. Hmmm makasih juga ya atas bantuanmu kemarin.'
'Tidak, tentu saja itu atas usahamu sendiri yang membuatmu diterima, aku hanya sebagai perantaranya saja kok.'
'Hahaha kamu Ndri, bisa saja.'
'Hahaha, ehh lusa kamu sudah mulai masuk kerja, ku tunggu di kantor ya.'
'Oh, oke baiklah, terima kasih atas informasinya Ndri.'
'Iya sama-sama.'
Tutt.. tutt.. suara telpon terputus.
Aku segera turun ke bawah menghampiri ayah yang sedang menoton televisi, dia sempat kaget melihat keadaan ku yang sedikit tergesa-gesa, tapi dengan raut wajah yang gembira. Aku segera menceritakan tentang diterimanya aku menjadi reporter di sebuah stasiun televisi. Tentu saja aku tak melupakan jasa sahabatku Lisa yang sudah mau memberitahukan lowongan pekerjaan ini kepadaku, dan dia bahagia mendengarnya.
Heuh, aku pun segera berbaring di tempat tidurku yang bersepreikan micky mouse dengan warna hijau dominan itu dan memeluk guling serta Teddy bear coklat kesayanganku. Aku segera memenjamkan mata, tak sabar menunggu lusa, pekerjaan baru, tempat kerja baru dan rekan kerja baru. Senyumku.
—
Meliput berita tentang tawuran anak sekolah, aku langsung berada dalam TKP tersebut untuk melaporkan berita ini, ya menjadi reporter juga banyak sekali resikonya. Kita harus meliput di situasi yang mengerikan semacam ini, mau tidak mau nyawa sebagai taruhannya. Pekerjaan ini cukup memakan energi, tapi setelah beberapa bulan aku mengerjakan pekerjaan ini, aku cukup menikmati pekerjaan ini.
Aku tidak selalu berada di kantor, dan sebaliknya Andri selalu berada di kantor. Dia berperan penting dalam stasiun televisi ini. Jadi wajar jika dia hanya berkutat dengan laptopnya dan duduk rapi di ruagannya yang nyaman.
__ADS_1
Aku memberanikan diri untuk masuk ke ruangannya, hanya untuk mengacaukan konsentrasinya. Karena belakangan ini aku jarang mengobrol lagi dengannya.
'He em, permisi Pak Andri, toilet dimana ya Pak?' Tanyaku tanpa merasa bersalah.
'Eh… siapa yang nyuruh masuk?' Tanya Andri dengan raut muka marah yang dibuat-buat.
'Hmmmm enggak usah serius amat Ndri, tuh tuh liat muka mu udah sama tu sama layar monitor mu, hahahaha.' Tawaku lepas.
'Dasar!! Eh mau enggak nanti sepulang kerja kita makan?'
'Hmmmmm.. It's good idea.'
Restoran Ambarakwa. Aku tersenyum-senyum kecil melihat restoran itu di depanku. Ya tentu saja Andri yang berada di sampingku kebingungan melihat sikap aneh ku itu. Lalu kami memasuki restoran itu yang disambut baik oleh pelayan disana. Andri segera menuju salah satu meja di sudut sebelah kanan. Restoran ini dedesain memang untuk kalangan muda, tidak klasik. Di sudut ruangan pun ada panggung untuk band, khususnya untuk band-band indie yang ingin unjuk gigi.
Andri masih heran kenapa aku sepertinya dekat sekali dengan pelayan-pelayan di restoran ini, dan sekarang aku masih mengobrol dengan mereka. Aku telah menagkap sinyal bosan Andri yang sedari tadi sudah lama menunggu aku. Aku pun mendekatinya.
'Sepertinya kamu dekat sekali dengan para pelayan disini, belakangan ini aku sering ke restoran ini, bisa dikatakan aku sudah jadi langganannya, tapi aku tidak sedekat itu dengan mereka.' Tanya Andri heran.
'Hahahaha.. kamu ini, begini aku dulu sebelum bekerja sebagai reporter di kantor mu itu, aku bekerja disini sama seperti mereka, menjadi pelayan disini.' Jawabku.
'Oh.. begitu.' Ucapnya sambil mengangguk-angguk tanda mengerti.
'Iya Mr. Kepo.' Ucapku sambil memasang raut wajah meledeknya.
'Hahaha, sudah ah aku kesini karena lapar aku ingin pesan ini, ini, dan ini, cepat pelayan!' Bentaknya dengan senyum kemenangan.
—
Aku tidak lagi pergi sendiri ke kantor menggunakan motorku. Karena Andri sekarang yang mengantarku ke kantor dan pulang. Aku semakin dekat dengan Andri. Aku sekarang jauh lebih mengenalnya dari saat dia menabrakku setahun silam. Dengan mengenal Andri membuat aku melupakan kepergian ibuku dan tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan lagi. Setelah mengenalnya aku merasa diriku yang semula redup kini bercahaya kembali. Ayah dan sahabatku Lisa juga merasakan perubahan yang sangat signifikan kepada diriku yang sekarang.
Diriku yang dulu semenjak kepergian ibuku adalah seorang yang pendiam, tak mau pergi kemana-mana kecuali ke restoran tempatku bekerja, dan kuburan ibuku. Lisa lah yang selalu main ke rumahku. Dia mengerti keadaanku dan untuk itu dia tidak menuntut untuk aku main ke rumahnya. Aku hanya mau cerita kepada ayah, dan sahabatku Lisa. Selebihnya aku hanya bicara sekedarnya saja kepada orang lain, seperti teman-temanku di retoran.
Andri mengantarku pulang, tepat ketika ayahku tengah menyiram bunga di teras depan rumah. Aku menyuruh Andri pulang. Karena kalau tidak itu akan menjadi salah paham. Pasti ayah akan mengira hubungan kami lebih dari seorang teman.
Kami tidak memakai pembantu, jadi yang mengurus rumah dari dalam sampai keluar rumah adalah aku dan ayah.
'Aku pulang yah.'
'Iya sayang, hmmmm.. siapa lelaki yang mengantarmu pulang nak? Kenapa tak dikenalkan kepada ayah?' Tanya ayah penasaran. Kerena dari dulu aku tak pernah dekat dengan lelaki.
'Cuma teman ayah, namanya Andri.'
__ADS_1
'Oh.. lelaki itu yang membuatmu tidak menggunakan motormu lagi ke kantor, karena telah diantar jemput oleh dia ya?' Ledek ayah kepadaku.
'Ihh.. ayah apaan sih!!' Jawabku dengan muka memerah.
'Hahahha Putri-Putri, iya ayah ngerti kok. Ayah juga tidak akan mengekangmu untuk bergaul dengan teman-temanmu. Kamu kan sudah dewasa, sudah bisa membedakan baik dan buruk ayah yakin itu.' Sambil tersenyum, lalu melanjutkan menyiram bunga kembali.
'Iya ayah, Putri ke kamar ya yah capek nih.' Tukasku sambil berlali ke atas.
'Iya sayang.'
—
Aku mengacak- ngacak rambutku dengan handuk kering, agar air di rambutku meresap ke handuk.
Kring… kring.. ponselku berbunyi di atas meja, dekat tumpukan-tumpukan berkas-berkas, dan map-map, serta pena, spidol yang berserakan di atas meja. Butuh waktu untuk menemukan keberadaan ponselku. 'Ini dia.' Batinku. Aku lihat di layar ponselku Andri memanggil. Segera ku angkat dengan penuh senyuman.
'Halo.' sapanya.
'Iya halo, ada apa Ndri?' Tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu.
'Besok kan minggu, aku ingin jalan deganmu, bisa?'
‘Ha? Dia mengajakku jalan? Jantungku terasa berdebar cepat, badanku merasakan hawa panas yang mengitari tubuhku. Aku tak percaya ini, aku sungguh bahagia bukan kepalang. Tapi, eits kenapa harus sebahagia ini? Aku tak mengerti ya sesama teman juga bisa jalan, kenapa fikiraku berlebihan begini? Atau jangan-jangan aku sudah menaruh hati padanya? Oh tidak mungkin, yang benar saja. Dia hanya teman Putri, dan dia tak akan mengagapmu lebih. Tapi aku harus mengakuinya, saat bersama dia aku merasa nyaman. Apakah ini namanya jatuh cinta?’ Ucapaku dalam hati.
'Oh iya, bisa kok Ndri. Jam berapa?.' Tanyaku.
'Hmmmm jam 9, besok aku jemput oke?'
'Oke.' Jawabku mantap.
Aku pusing memelih baju mana untuk ku kenakan besok. Tanpa fikir panjang aku segera menelpon Lisa dan meminta bantuannya, Lisa memang handal soal pakaian. Lisa segera ke rumahku.
'Sepertinya ada yang sedang kasmaran nih?' Ledeknya padaku.
__ADS_1