Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Twinsamora (Part 1)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta Sedih


Judul: Twinsamora (Part 1)


_________________________


Diary, November 2009


Hmm, tadi waktu di halte, aku ketemu sama cowok. Dia tu cool banget..! Nggak tau kenapa aku seneng aja merhatiin dia. Tapi, kok aku nggak ada keberanian gitu ya buat sekedar nyamperin? Atau ngasih senyum? ahh.. pokoknya besok aku mau liat dia lagi. Walaupun dia nggak tau aku liatin. Hiihii. Ya udah deh, diary. Do'ain aku ya besok bisa ketemu dia lagi…


Love,


Violet


– Februari 2011


Itu adalah cerita pertama di diary Violet. Sebuah cerita yang siapun bisa menebak, bahwa dia mulai tertarik pada lawan jenisnya. Mengagumi sosok baru yang dilihatnya pagi hari ketika dia akan pergi sekolah.


Jingga menghela napas panjang seraya tersenyum kecil membaca Diary itu. Sebuah Diary yang selalu menjadi rahasia Violet dan tak mau membaginya dengan Jingga.


November 2009


Jingga Mozala


Gadis 16 tahun yang sangat manis dan periang. Cerewet, alias nggak mau diam. Nyolot dan keras kepala. Tapi, dia baik hati. Satu kebiasaan jeleknya adalah suka telat kalau ke sekolah. Dia paling susah kalau disuruh bangun pagi.


Violeta Mozala


Gadis 16 tahun yang sangat manis dan suka mengalah. Dia anggun. Punya sebuah diary tebal yang selalu menemaninya bercerita tentang keluh kesah yang dia rasakan.


Jingga dan Violet


Gadis 16 tahun yang terlahir kembar. Saling menyayangi dan melengkapi, meski karakter yang tercipta di dalam diri mereka masing-masing berbeda jauh. Mereka sekolah di SMA yang berbeda. Karena Jingga Menyukai SMA Persada, sedang Violet menyukai SMA Haluan. Meski tak bersekolah di SMA yang sama, mereka selalu berangkat sekolah bersama. Tapi, dalam situasi khusus, mereka harus berangkat sendiri-sendiri. Seperti. Kalau Jingga telat bangun. Maka, dengan senang hati Violet akan mengalah dan memilih ke sekolah naik bus.


Oh ya, meskipun mereka punya banyak perbedaan, tapi mereka punya satu persamaan. PELANGI. Ya, mereka sama-sama menyukai pelangi. Hujan adalah sesuatu yang selalu mereka tunggu tiap hari, karena hujan adalah sarana penting untuk menghadirkan bianglala yang indah itu.



'Aaaaa…' teriakan panjang itu keluar mendadak dari mulut Jingga yang kaget melihat jam wekernya menunjukkan pukul 06.35. Teriakan itu membuat Violet, mama dan papanya yang sedang sarapan dimeja makan geleng-geleng kepala. Teriakan itu sangat sering mereka dengar. Teriakan Jingga yang histeris dengan keterlambatannya membuka mata setelah tidur lelap di malam hari.


Violet berdiri dari kursi dan masih dengan tawa yang menghias wajahnya berlari ke lantai atas menghampiri Jingga yang sedang panik.


'Kenapa buk? Panik gitu mukanya?' goda Violet.


'Kok lo nggak bangunin gue sih Vi? Te..'


'Telat nih.. lo kan tau di skolah gue masuknya jam berapa? Huh.. Violet gitu deh!' Violet memotong kalimat yang tadi belum selesai dipaparkan Jingga. Sebuah kalimat yang selalu Jingga celotehkan setiap pagi, jika dia terlambat bangun.


Jingga tertawa lepas di sela kepanikannya. Inilah yang disukai Violet, tawa Jingga yang indah dan bisa membuatnya merasa lebih nyaman.


'Ya lo, duluan aja. Bangunin gue dulu kek nyampe ni mata bener-bener melek?' rutuk Jingga manja.


'Jingga sayang.. tanya sama pintu kamar lo itu, udah berapa benjolannya gara-gara gue gedor mulu? Udah lebam-lebam tu pintu' jelas Violet ngawur.


'Nggak denger tuh?' sahut Jingga membela diri.


'Ihh… Nyolot banget sih! Makanya, besok tu pintu ngak usah kunci. Bawel sih! Ya udah.. mandi sana. Jangan lupa gosok gigi. Bau nih.' Violet menutup hidungnya.


'Masa? Hahhh…' Jingga mengarahkan napasnya ke wajah Violet. Violet hanya berteriak teriak sambil tertawa.


'Udahh, mandi aja sana, katanya telat. Sempet-sempet aja ngomong sama gue. Ya udah deh, gue duluan ya ke halte? Lo sama papa aja deh. Kasian gue sama lo. Hehehe.. Bye bauuukk..' Violet berlari keluar kamar Jingga dan menuruni anak tangga.


Violet pamit kepada mama dan papanya kemudian melesat pergi menuju halte. Violet berdiri diam menunggu bus lewat, sesekali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata banyak juga orang-orang yang sedang menantikan kedatangan bus. (laku juga ya si bus)


Tatapan Violet terhenti pada sebuah wajah teduh. Sebuah wajah yang membuatnya ingin menatap terus menerus. Perlahan, getaran terasa di dadanya. Nyanyian romansa cinta mulai terdengar dari sudut hatinya. Petikan dawai harpa yang begitu enak didengar. Dimainkan oleh Cupid cinta yang membawa panah asmara dan menancapkannya di ulu hati para manusia. Cinta? Mungkinkah itu yang dirasakan Violet? Rasa berdebar yang untuk pertama kalinya dia rasakan. Hmm, benar. Ini cinta. Love at first sight. Violet melirik name tag yang melekat di baju cowok itu. William, itu namanya. Cowok bernama William itu sama sekali tak menyadari, bahwa ada orang yang sedang memperhatikannya. Dia hanya berlalu tanpa mau menoleh sedikitpun pada orang yang tadi berdiri di sebelahnya. Padahal hanya berjarak beberapa sentimeter. Violet hanya melengos.


Hanya sekejap. Tak lama sosok itu menjauh dari pandangan Violet. Cowok jangkung yang hening itu sudah berjalan ke arah yang berlawanan dengannya. Ternyata cowok itu tidak sedang menunggu bus. Halte hanya salah satu tempat yang dia lalui ketika akan pergi sekolah.


Violet menaiki bus dengan perasaan riang. Ruang kosong di hatinya sudah mulai diisi oleh kata yang bernama cinta. Menggema, dan perlahan menyesakan dada dengan rasanya.



'Pa, buruan dong pa! Jingga udah telat nih!' desak Jingga pada papanya yang sedang menyetir mobil. Sebenarnya sekolah Jingga dekat dari rumahnya. Kalau berjalan kaki hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit.


'Kebiasaan kalau udah telat. Kamu yang bangunnya kesiangan, semua orang jadi puyeng. Kasian Violet kan, mesti naik bus kalau kamu telat bangun.' ceramah papanya.


'Aduh papa! jangan ceramah dulu dong? Telat nih pa' rengek Jingga.


'Lagian sekolah Jingga sama Violet itu dari ujung ke ujung. Sebenernya kan repot juga kalau mesti barengan. Kesekolah Jingga dulu, trus balik lagi ke sekolah Violet. Baru deh papa ke kantor. Tuh, Repot kan?' tambah Jingga panjang lebar tinggi.

__ADS_1


'Bagus juga ya kesimpulan kamu? Oke, jadi mulai besok biar adil, trus papa nggak telat ngantor, kamu sama Violet naik bus aja. Atau kamu jalan kaki. Sekolah deket ini pake diantar sama mobil juga. Manja sih kamunya' Papa menghentikan ceramahnya karena sudah sampai di depan gerbang SMA Persada.


'Terserah papa aja. Pokokonya Jingga nggak manja. Jingga bisa buktiin kalau Jingga juga bisa kayak Violet. Liat aja besok' balas Jingga percaya diri sebelum turun dari mobil dan berlari memasuki pekarangan sekolahnya.


Sekolah sudah sepi. Bel sudah berbunyi lima menit yang lalu. Mungkin pelajaran pertama sudah dimulai. Jingga mempercepat langkahnya menuju kelas. Sebuah kelas yang terletak paling ujung. Bersebelahan dengan kantin.


'Mmm.. maaf Pak. Saya telat' kata Jingga gugup mengetahui yang sedang berdiri di depan kelas adalah Pak Tijo. Guru yang paling tidak suka dengan murid yang ngaret alias nggak on time.


'Telat lagi Jingga Mozala? sudah kamu hitung berapa kali kamu telat dalam jam pelajaran saya?' sindir pak Tijo sambil menghentikan tangannya yang sedang asyik mencorat-coret papan tulis dengan rumus-rumus Kalor.


'Baru enam kali pak' jawab Jingga santai tanpa dosa. Masih dengan seulas senyum polos di bibirnya.


'Baru enam kali ya?' Pak Tijo mengangguk-anggukan kepala.


'Iya pak..' lagi-lagi Jingga menjawab dengan tampang oon.


'Silahkan kamu balik kanan dan tunggu sampai jam pelajaran saya habis. Baru kamu bisa masuk ke dalam kelas ini' Pak Tijo berkata tegas.


Jingga mengangkat bahu. Dan tanpa rasa bersalah membalikan badannya dan berjalan menjauhi kelas.


Jingga duduk di taman sekolah. Menikmati kesegaran udara pagi sambil menunggu jam pelajaran Fisika di kelasnya usai.


'Kok lo nggak masuk?' sebuah suara menyapa Jingga yang sedang asyik menikmati belaian angin pagi.


'Telat… Lo kok nggak masuk juga?' Jingga membalas pertanyaan cowok yang saat ini berdiri di sebelah tempat duduknya.


'Pelajaran kosong. Gurunya nggak masuk.' jawab cowok itu cuek dan tanpa Jingga sadari, cowok itu sudah duduk di sebelahnya.


'Bara' kata cowok itu lagi. Kali ini diiringi dengan uluran tangannya.


'Jingga' tanpa ragu Jingga membalas uluran tangan itu.


Sebuah perkenalan yang biasa saja. Tapi itu membuat mereka memulai suatu rajutan kisah baru. Mereka saling bertukar cerita. Tertawa lepas disaksikan tumbuhan hijau yang tumbuh di taman ini.


Jingga mendengar hatinya mulai bernyanyi. Bara bagai magnet yang begitu kuat. Mampu menariknya ke dalam medan yang bernama cinta. Untuk yang pertama kalinya. Musim semi di hati Jingga mulai hadir. Bunga-bunga indah mulai bermekaran. Cinta, ahh.. mampu melumpuhkan seluruh waktu yang kita miliki. Jingga mulai menata hatinya. Meski Bara orang baru dalam hidupnya, namun dia tak ingin menghapus rasa yang baru muncul ini sebelum membiarkannya tumbuh menjadi lebih indah. Secepat inikah rasa itu membius hatiku?, kata hati Jingga berulang-ulang.



Hujan deras mengguyur kota Solok. Aroma dingin mulai menyusup masuk dan memenuhi seluruh ruangan di rumah Jingga dan Violet. Mereka sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir coklat panas.


'Kok lo senyum-senyum gitu sih Vi? Kesambet dimana?' tanya Jingga cekikikan.


'Apaan sih Ji, biasa aja kan kalo orang senyum. Ibadah lho' cibir Violet.


'Biarin. Lagian lo juga aneh kok Ji. Aura wajah lo juga nggak kayak biasanya.'


'Gimana Vi? Gue tambah cakep ya?' canda Jingga lagi.


'Ya nggak lah… Pede banget sih lo Ji. Ya beda aja.'


'Ya sama kalo gitu. Lo juga aneh. Dari tadi senyum-senyum mulu'


'Jangan-jangan lo jatuh cinta?' teriak mereka kompakan. Jingga mengarahkan telunjuknya kepada Violet. Sedang Violet mengarahkan telunjuknya kepada Jingga.


Mereka sama-sama hening untuk durasi beberapa detik. Kemudian dengan pipi yang sama-sama bersemu mereka mengangguk.


'Jatuh cinta di hari yang sama. Unik. Hahaha' Jingga ngakak.


'Plagiater sejati. Huh.' Violet menyetel wajah jahil.


'Enak aja.' balas Jingga berkacak pinggang.


Violet kemudian melempar Jingga dengan bantal sof' dan menggodanya habis-habisan. Jingga juga tak mau kalah, dia membalas ajakan perang dari Violet. Mereka kejar-kejaran sambil melempar bantal, tentunya dengan tawa instan dari mulut mereka.


'Violet, Jingga, hujan udah reda tu. Mau liat pelangi nggak?' teriak mama dari dapur. Dari tadi mama hanya bisa geleng-geleng melihat putri kembarnya menjadikan rumah sebagai sarana main kejar-kejaran.


'Pelangi…' jerit mereka histeris


Bantal tak lagi berlompatan di awang-awang, suara tawa mereka reda, bersamaan dengan berhentinya hujan deras yang dari tadi menemani mereka berperang bantal. Dengan cepat, kaki-kaki mungil mereka berlarian ke luar rumah. Tampak dari ekspresi tubuh mereka, bahwa mereka tak ingin melewatkan pertunjukan indah dari langit.


Mereka menikmati tujuh urai warna cantik itu. Tak ada yang bicara. Mereka sama-sama hening dalam kekaguman mereka. Berkhayal dalam benak masing-masing.


Violet sedang menyusun puzzle demi puzzle hatinya yang berisi tentang William. Cowok yang hanya beberapa menit dia lihat. Hanya sebentar. Tapi cowok itu mampu membuatnya merasa menjadi cewek paling beruntung di dunia ini. Dia berharap, agar hari esoknya lebih indah dari hari ini. Agar selalu melihat langkah William, melihat wajah teduhnya, dan melihat tubuh jangkungnya.


Lain lagi dengan Jingga. Dia sedang asyiknya melukis dan membingkai wajah Bara di dalam hatinya. Dia tak ingin Bara pergi begitu saja. Dia ingin, besok bertemu lagi dengan Bara dan mengukir cerita baru. Ingin melihat tawa Bara yang indah dan membuatnya deg-degan. Dia berharap, agar Bara juga merasakan getaran dahsyat yang sedang dirasakannya.



Februari 2011

__ADS_1


'Jingga..' suara lembut mama terdengar dari luar kamar. Reflek membuat Jingga menutup diary Violet yang sedang dibacanya.


'Iya ma…' balas Jingga dari dalam kamar


'Kamu nggak mau liat pelangi sayang?' kata mamanya lagi.


'Pelangi?..' Jingga kemudian menoleh ke arah jendela kamarnya. Pelangi seolah tersenyum ke arahnya. Dia tak menyangka, bahwa lamunannya cukup lama dan mendalam. Sampai-sampai hari hujan pun dia tak menyadarinya.


Jingga menatap pelangi yang menggantung indah di kaki cakrawala Namun, sesuatu yang disukainya itu kini terasa hambar dalam penglihatannya. Bianglala yang terurai bagai benang-benang cerah itu tampak bagai susunan warna hitam putih yang membosankan.


'Violet..' gumamnya pelan. Air mata mulai mengalir membasahi pipi mungilnya.


Jingga kembali membuka diary Violet yang sedari tadi digenggamnya. Dia kembali membaca helai demi helai diary tebal itu, membuatnya kembali berada dalam lingkup waktu setahun lalu. Kembali membolak-balik kenangan yang masih jelas teringat dan melekat permanen dalam benaknya.



November 2009


'Kringg.. kringg..' Jingga dengan cepat mematikan jam wekernya yang berdering nyaring.


'Gue udah bangun dari tadi kali. Telat lo' Jingga berkata ketus kepada jam wekernya.


Tidak seperti bisanya. Hari ini Jingga bangun lebih awal. Dia sudah bertekad untuk bangun pagi, menyiapkan sarapan, lalu berangkat ke sekolah naik bus. Seperti yang selama ini Violet lakukan. Karena Dia tidak ingin dianggap manja oleh orangtuanya. Terutama Papanya. Ini dilakukannya juga karena tidak ingin telat lagi pergi sekolah.


Jam 05.55, Jingga sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya. Sarapan di meja makan juga sudah selesai dia siapkan. Nasi goreng, susu, juga secangkir kopi buat papa. Kemudian Jingga kembali ke kamarnya untuk menghabiskan waktu sebelum berangkat sekolah.


'Jingga..' Violet membuka pintu kamar Jingga dengan pelan. Dia tak ingin mengagetkan saudaranya itu.


'Taraa.. gue udah bangun dari tadi Violet.' promosi Jingga senang.


'Ya ampunn.. Kok bisa? Ini kan baru jam enam' teriak Violet.


'Lebay banget sih lo. Pokonya lo buruan mandi, trus kita sarapan. Gue udah nyiapin sarapan. Ayo.. cepet.' Jingga mendorong Violet yang sedang menganga ria.


'Sarapan? Juga? Kok nggak biasa-biasanya sih? Hmm, gue tau. orang lagi kasmaran kan berubah nggak jelas gitu. Ceile' Violet mencolek lengan Jingga.


'Apaan sih? Yang kasmaran itu kan lo. Sama William. William William' ledek Jingga tak mau kalah.


'Lo baca diary gue ya?' ekspresi wajah Violet sedikit berubah.


'Santai buk.. Ya nggak lah. Kemaren malam gue ke kamar lo, mau cerita-cerita. Tapi lo lagi asyik ngomong sama diary lo. Trus, gue denger lho nyebut-nyebut William gitu. Hiihii.. Suit suit' goda Jingga


'Yahh.. tau deh lo. Kasih tau gue juga dong, cowok yang lo suka itu namanya siapa?.'


'Bara.' kata Jingga mantap.


Dengan senyum mengembang, Violet meninggalkan Jingga di kamarnya. Dia cepat-cepat menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


'Kamu yang nyiapin ini semua Ji?' tanya mamanya heran ketika melihat sarapan sudah siap di meja makan.


Jingga mengangguk mantap.


'Bruuufff… kok kopinya asin Ji?' papa mengerinyitkan dahi.


'Iya nih, nasi gorengnya manis gini.' timpal mama.


'Hehe.. mungkin garam ama gulanya ketuker tu ma, pa' jawab Jingga polos tanpa dosa.


'Maklum ma, orang kasmaran' Violet yang dari tadi sudah menghabiskan nasi goreng manis buatan Jingga juga segelas susu putih melempar ledekannya. Dengan cepat dia berdiri dari kursinya, kemudian meraih tas dan berlari ke arah pintu.


'Violet berangkat ma, pa' teriaknya dengan sisa-sisa tawa


Jingga juga dengan cepat meraih tas sekolahnya, lalu pamit kepada kedua orangtuanya. Kemudian dia berlari menyusul Violet yang sudah lebih dulu menuju halte.


Mama dan papa mereka hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kedua putri cantik itu. Anak kembar yang manis dan selalu kompak.


'Duluan aja, nggak usah tungguin gue.' sindir Jingga ketika dia sudah bisa menyusul Violet


'Sory Ji, gue takut lo jitak' Violet memelas.


'Dasar..' Jingga menjitak jidat Violet


'Tuhh… kan! sakit tau.' rintih Violet manja.


Tak lama tawa mereka pecah. Jalan yang mereka lalui mendada menjadi ramai dan tidak terlihat sepi. Meskipun di jalan itu hanya ada mereka berdua. Pepohonan, rumput, serta burung-burung seolah ikut bergabung dengan mereka, menemani setiap langkah mereka.


'Ji, lo kok belum brangkat juga? ntar telat lho.' Violet mengingatkan sambil melirik arlojinya.


'Busnya belum ada Violet'

__ADS_1


'Ya ampun Jingga. Bus jurusan ke sekolah lo mana ada. Orang sekolahan lo deket sini. Sampai ntar siang lo tungguin juga nggak bakal nongol. Udah.. buruan sana, jalan kaki. Telat lagi tau rasa'


Jingga kemudian berjalan pelan menuju arah yang berlawanan dengan Violet. Kemudian melambaikan tangannya. Violet membalasnya dengan senyum yang sangat manis.


__ADS_2