
Kategori: Cerpen Remaja
Judul: Berawal Dari Study Wisata
_________________________
Pagi yang begitu cerah, embun masih membasahi daun-daun di kebun rumahku dan matahari masih enggan untuk menampakkan wajahnya yang begitu cantik. Pagi itu aku sangat bersemangat untuk berangkat sekolah, entah mengapa aku juga tak tahu. Ku kayuh sepeda kesayanganku menuju ke sekolah. Hmm, aku memang lebih suka naik sepeda daripada diantar ataupun naik kendaraan umum, karena menurutku aku lebih bisa menghirup udara segar dan menikmati pemandangan yang indah seperti itu, lagipula sekalian olahraga biar sehat dan enggak gampang sakit. Dan seperti biasa, di jalan aku sudah melihat hiruk pikuk orang-orang yang akan berangkat ke pasar, ke sekolah sepertiku, bekerja, ke sawah dan masih banyak lagi.
Pagi itu aku juga melewati sebuah pasar yang sudah ramai oleh penjual dan pembeli. Aku beberapa kali menjumpai orang yang sedang serius bertransaksi, penjual makanan, penjual pakaian dan penjual sayuran yang kelarisan dagangannya. Namun ada juga penjual yang sudah lesu karena menunggu pelanggan yang tidak datang-datang juga.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya aku sampai di sekolahku tercinta, SMP N Citra Harapan. Pagi itu kelasku masih kosong, tak seperti biasanya yang sudah ramai seperti pasar pagi. Entah mereka pergi kemana, tapi kemudian ada seorang temanku yang datang dari ruang aula. Saat ku tanya ada apa di aula, ternyata di sana ada pengumuman bahwa sekolah kami khususnya kelas VIII akan mengadakan study wisata ke Jakarta. Dan betapa senangnya hatiku.
Hari yang ku nanti-nanti pun tiba. Aku berangkat diantar oleh orangtuaku dengan tas yang cukup berat. Enggan rasanya membawa tas seberat itu, tapi gimana lagi, di tas itu banyak barang-barang yang sangat ku perlukan.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya kami berkumpul di halaman sekolah, untuk memastikan apakah semua sudah berangkat ataukah belum. Hari itu mereka memakai baju yang berbeda-beda namun kelas kami serempak memakai kaos abu-abu, kaos identitas untuk kelas kami, kelas A.
Setelah berkumpul cukup lama, akhirnya kami keluar untuk memasuki bus masing-masing yang telah ditentukan. Namun ternyata salah satu bus ada yang belum datang dan kami harus menunggunya. Menit-menit pertama waktu menunggu, aku masih bersemangat karena masih mendengar canda tawa teman-temanku yang kocak abis. Tapi kemudian aku menjadi lelah, letih dan tak bersemangat lagi. Begitu juga teman-temanku yang lain, walau ada beberapa yang masih bersemangat pula.
Satu jam kemudian, bus yang dinanti-nanti pun akhirnya datang juga. Rasa letihku tiba-tiba hilang tak tahu kemana dan telah terisi dengan rasa bahagia beserta semangatku yang kembali lagi. Semua sudah berlari menuju bus karena takut tak kebagian tempat duduk. Sementara aku malah hanya berjalan santai bersama sahabatku. Namun betapa malangnya saat aku masuk ke dalam bus, semua tempat duduk sudah terisi dan hanya deretan paling belakang yang diduduki oleh siswa laki-laki saja yang kelihatannya masih kosong. Semangatku lagi-lagi menghilang begitu saja. Terpaksa aku harus menumpang tempat duduk pada temanku. Tapi untunglah ada seorang guru yang baik hati yang mencarikan tempat duduk untukku dan sahabatku. Dia adalah Pak Raka, guru yang paling diidolakan di sekolah kami karena beliau sangat baik hati.
Akhirnya aku duduk di depan teman sekelasku Ricky dan Rama. Aku sudah berpikir bahwa tak lama lagi akan ada keributan yang terjadi. Dan benar saja dugaanku, tiba-tiba Rama menyiram embun AC yang berada di atasnya. Aku dan Sandra sahabatku yang tak terima langsung saja membalasnya, dan perang dingin pun dimulai. Cukup lama kita bersiteru, namun kemudian perang itu berakhir karena Pak Raka mendatangi kami sekedar memastikan keadaan kami saja. Beruntunglah kami, ku kira Pak Raka akan memarahi kami, ternyata tidak.
__ADS_1
Malam pun tiba, sejuknya AC bus itu masih ditambah udara malam itu yang sangat dingin membuatku tak bisa terlelap tidur. Apalagi malam itu hujan juga turun dengan lebatnya. Tiba-tiba aku melamunkan sebuah hal yang aku juga tak tahu maksudnya. Dan seakan-akan aku masuk dalam lamunan sedihku itu. Lamunanku itu seperti kenyataan, namun tetap saja lamunan itu tak membawaku ke alam mimpi, jutru aku malah tersadar dalam lamunan itu karena belakangku masih saja mengoceh seperti burung beo. Walau sempat beberapa kali ditegur oleh salah seorang guru kami, tapi tetap saja mereka bercanda dan kadang bernyanyi pula. Dan semakin membuat diriku tak bisa tidur karena suara mereka yang membuat gendang telingaku risih.
Malam itu pun kami bertukar-tukar makanan dan aku pun juga ikut bercanda bersama mereka. Aku tertawa dengan lepas, walau kadang ada kata-kata mereka yang tak berkenan di hatiku. Suasana kebersamaan sangat bisa ku rasakan dan rasanya tak ingin hari itu cepat berlalu. Tapi kemudian suasana tiba-tiba hening. Mungkin mereka sudah capek bercanda. Ku menoleh ke belakang ternyata Ricky sudah terlelap tidur.
Namun tiba-tiba aku terkejut saat Vero datang menghampiri aku dan Sandra, aku mengira ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikannya. Ternyata dia hanya ingin duduk bersama kami. Kami bertiga akhirnya asyik bercanda sendiri dan lupa akan waktu. Tiba-tiba aku terkejut lagi saat Ricky bangun dan merusak suasana kami dengan menyiram embun AC ke arah kami, padahal malam itu dingin sekali. Dan kami pun memarahi Ricky. Tapi tak lama kemudian saat kami ingin tidur tiba-tiba Ricky berteriak cukup keras 'jiiaahhh, Sany uda ngantuk..!!!'. dan sepertinya banyak yang mendengarnya. Vero yang jail tiba-tiba menyahuti Ricky.
'ciiieee.. ciieee.. Ricky ternyata naksir sama Sany' kata Vero sambil senyum-senyum.
'apa sih kamu itu Ro, jangan kaya' gitu dong. Malu-maluin tau' kataku dengan ekspresi takut dan grogi.
'Iya ya Ro, aku setuju sama kamu. Kayaknya Ricky emang naksir sama Sany deh. Buktinya dari tadi gangguin Sany terus', tambah Sandra yang ikut dalam perbincangan kami dan sepertinya setuju dengan kata-kata Vero.
'Apa sih kalian ini, aku juga cuman iseng-iseng aja tau.' Kata Ricky yang sepertinya juga takut sepertiku.
'Udah.. udah deh. Biasa aja kali. Kan bercanda sama teman sendiri.' Kataku membela diriku dan Ricky.
Akhirnya perdebatan itu pun berakhir. Dan akhirnya kami terlelap tidur karena waktu sudah pukul 01:03.
Pagi hari pukul 05.00 kami mampir ke sebuah tempat untuk beristirahat, mandi dan makan pagi. Pagi itu udara masih dingin sekali di luar, kami menunggu di luar karena kamar-kamar itu masih dihuni oleh siswa dari sekolah lain. Sambil menunggunya, kami bercanda lagi, walau mata pun masih lengket dan enggan untuk berbicara. Tapi tak lama kemudian kami masuk ke kamar sederhana itu. Kamar yang dilengkapi dengan 2 buah tempat tidur bertingkat, 1 kamar mandi, meja, kursi dan almari. Aku yang masih lelah dan sambil menunggu giliran mandi, langsung merebahkan badanku ke tempat tidur itu. Kawan-kawanku pun mengikutiku.
Akhirnya setelah selesai mandi, kami keluar kamar, menghirup udara segar di luar. Tak ku sangka ternyata di luar ada lapangan yang sangat luas dan ditumbuhi rumput yang hijau dan begitu subur. Ku hirup udara pagi itu dan ku lepaskan pelan-pelan, hatiku terasa tenang sekali. Kami pun duduk di tepi lapangan itu, menikmati indahnya pagi di kawasan Bandung itu. Dan tak terasa kami sudah sangat jauh dari rumah. Aku bersama Vero dan Sandra asyik berbincang-bincang tentang kejadian malam tadi, sementara itu Avril temanku yang super narsis itu berfoto-foto ria bersama Cacha yang tak kalah narsisnya. Sementara Echa asyik ber-es-em-es-an ria bersama gebetan barunya. Cukup lama kami di luar dan kemudian ada salah seorang teman kami memanggil kami agar menuju aula gedung itu untuk sarapan pagi.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, kami pun kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke tempat wisata. Aku begitu bersemangat dan begitu juga teman-temanku yang lain. Astaga, aku bertemu lagi dengan Ricky, anak paling jail di kelasku. Tapi tak apalah, di depannya aku merasa cukup nyaman dengan canda tawa yang dibuatnya. Walau kadang aku pengen marah sama dia, tapi susah juga marah sama dia. Ricky anak yang jail dan super kocak itu. Dan lagi-lagi dia membuatku marah karena kejailannya yang kelewat batas.
Cukup lama menempuh perjalanan akhirnya kami sampai ke tempat wisata yang pertama, di TMII. Disana kami hanya masuk ke PP-IPTEK saja, melihat-lihat foto seorang penemu, melihat benda-benda unik serta wahana yang lain lagi. Puas berjalan-jalan disana, kami pun melanjutkan perjalanan ke Monas, salah satu obyek wisata yang terkenal di Jakarta. Rasa-rasanya aku masih tak percaya jika aku sudah berada di Jakarta, aku masih merasa berada di sekitar tempat tinggalku.
Hummm.. tiba disana cuaca panas sekali, gerah rasanya. Malangnya lagi, saat berjalan'jalan naik turun tangga. tiba-tiba aku terjatuh, dan ditertawakan oleh teman-temanku. Sakit yang aku rasakan masih ditambah pula dengan tertawaan itu membuatku malu sekali. Tapi akhirnya sakit itu hilang saat Ricky mengulurkan tangannya dan membantuku untuk bangkit. Aku tak menyangka orang sejail itu mau menolongku. Semuanya pun kembali melihat kami berdua dan menyoraki kami 'ciiieee… ciiieee.. romantis amat sih kalian'. Tapi aku tetap diam saja karena aku seperti sudah terbiasa oleh hal itu, sementara Ricky yang menanggapi perkataan teman-teman kami dengan tenang dan cukup santai.
Setelah puas, akhirnya kami melanjutkan ke Planetarium dan Gelanggang Samudera. Menikmati film 3D, aksi-aksi hewan yang tingkahnya menyerupai manusia, dan lain lain. Heran deh, hewan saja bisa berhitung, masa manusia masih ada yang nggak bisa, malu nggak ya mereka.
Setelah matahari mulai terbenam, suara adzan mulai berkumandang. Aku bersama kawan-kawanku singgah di masjid untuk melaksanakan shalat maghrib. Setelah itu kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Marina untuk makan malam saja dan gagal menikmati Pantai Marina karena waktu sudah malam dan waktu pun memaksa kami agar cepat-cepat pulang. Selesai makan kami diberi kesempatan untuk beristirahat, namun kami menggunakan kesempatan itu untuk jalan-jalan.
Tak lama kemudian kami kembali masuk ke bus. Sepertinya hari-hari itu, bus adalah rumah untuk kami, setiap pergi kemana pastilah kembali ke bus lagi. Di dalam bus semua wajah cukup kusut, semuanya sudah cukup lelah dan semangat mereka juga sudah tak nampak lagi. Malam itu suasana hening, tak ada yang berbicara. Semuanya tidur.
Pagi harinya pukul 03.00 WIB aku terbangun, temanku pun juga ikut terbangun namun kemudian dia tidur lagi. Aku melihat keluar jendela. Ternyata jalan yang dilalui berkelok-kelok dan tikungannya pun tajam. Beberapa kali kami hampir terjatuh, tapi untunglah kami masih berpegangan tangan. Namun kemudian mataku kembali terpejam, tapi tiba-tiba aku terbangun lagi, melihat keluar melalui celah-celah jendela yang sudah tertutup korden dingin itu. Sekilas ku lihat tempat itu seperti daerah dekat tempat tinggalku, beberapa kali ku gosok-gosok mataku, tapi ternyata aku salah lihat. 'Tempat itu masih sangat jauh dari rumahku, yah aku salah lihat gara-gara mataku masih lengket, lagipula busnya berjalan cukup cepat masak juga sudah hampir sampai, kan nggak mungkin pula', batinku dalam hati. Huh, pikiran orang baru tidur memang aneh sekali. Tapi kemudian aku menengok ke belakang lagi, ternyata Ricky juga sudah tidur nyenyak. 'Hmm, kenapa sekarang aku jadi perhatian sama dia sih? padahal dia kan jail banget sama aku. What jangan-jangan aaa..kuuu jatuh cinta sama dia? oh my god' beribu pertanyaan mulai berkecamuk di pikiranku, aku merasa bingung sekali dengan jalan pikiranku itu.
Kemudian pukul 06.00 kami sampai ke tempat untuk istirahat. Pagi itu hujan turun rintik-rintik membuatku enggan untuk turun, walau banyak yang turun untuk istirahat ataupun ke toilet. Tapi aku malah asyik bercanda dengan Ricky dan Rama. Tapi saat bercanda dengan Ricky, aku merasa bahagia sekali dan tak ku sangka hatiku menjadi berdegub kencang tak seperti biasanya. Aku merasakan getaran-getaran yang luar biasa. 'Apa aku jatuh cinta?' tiba-tiba pertanyaan itu muncul di pikiranku.
Pagi menjelang siang itu suasana cukup ramai. Mereka sudah asyik bercanda sendiri-sendiri. Dan diiringi oleh lagu-lagu nostalgia oleh Pak Sopir membuat teman-temanku ikut menirukan lagu itu, walau sebenarnya mereka juga tak mengenal lagu itu, maklum lagu itu tercipta sebelum kami lahir. Tiba-tiba aku kaget karena Ricky meneriakkan nama salah seorang teman kami ke dekat telingaku, dan aku pun merasa risih. Aku menegurnya, namun dia masih saja tak mendengarkannya. Dia malah lebih keras lagi meneriakkannya. Huh, tiba-tiba aku merasakan getaran-getaran itu lagi. Dan sepertinya aku memang telah jatuh cinta dengannya.
Tapi saat aku hampir sampai rumah aku sangat berharap saat masuk besok aku dan dia masih memiliki rasa yang sama. Sangat ingin sekali diriku.
Tapi sepertinya benar, saat masuk sekolah pagi itu Ricky tersenyum padaku, senyum yang special buatku, karena sebelumnya aku tak pernah melihat Ricky tersenyum seperti itu. Dan saat kelas kami mendapat giliran menjadi petugas upacara, kami berlatih di halaman sekolah. Aku diam-diam memperhatikan Ricky dan ternyata aku melihat Ricky juga memperhatikanku. Hatiku berdegub begitu kencang lagi. Tapi aku tak sangka, ada temanku yang melihat kami. Dan mereka pun memojok-mojokkan kami berdua.
__ADS_1
Hmm.. kejadian di bus kemarin ternyata telah membuat kami jatuh cinta. Dan tak pernah ku sangka, Ricky anak paling jail dan paling kocak di kelas kami, juga menyukaiku. Setiap bel istirahat berbunyi pasti dia akan menghampiriku, walaupun dia hanya diam dan tak mengucapkan satu kata pun padaku karena dia adalah orang yang cuek. Tapi terkadang dia juga mengajakku bercanda walau hanya beberapa menit saja. Itu pun sudah membuatku sangat bahagia. Entah kenapa aku selalu nyaman ada di dekatnya.
Tapi lama-kelamaan keakraban kami diketahui oleh teman-teman sekelas kami, dan membuat kami semakin jauh saja. Tegur sapa antara kami kini sangat jarang, bahkan bisa dibilang kami malah tak pernah tegur sapa lagi, kami seperti tak pernah mengenal bahkan seperti orang bermusuhan. Hingga akhirnya Ricky meninggalkanku begitu saja. Hatiku terasa sakit dan hancur beribu-ribu keping. Orang yang aku sayangi pergi begitu saja tanpa aku tahu penyebabnya. Sungguh tak menyangka, dan kini hari-hariku tak seperti dulu lagi. Semangatku yang dulu membara kini tak tersisa sedikitpun, senyumanku yang selalu ku berikan pada semua orang kini juga menghilang. Dan penyesalanpun kini datang padaku, karena aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padanya sebelum ia pergi. Dan sampai saat ini aku masih memendam perasaan padanya, dan aku tak mungkin mengungkapkannya karena kami sudah terlanjur jauh walau ku tahu dia juga belum mempunyai kekasih.