Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
end of love story (part3)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta


Judul: End of Love Story (Part 3)


_________________________


Hampir seminggu berlalu, gak terasa sudah mau 2 minggu aja off-nya dan bentar lagi harus ke lokasi kerja lagi. Waktu itu Deniz bilang kalau dia akan pindah tugas ke lokasi lain dan sudah gak 1 lokasi lagi denganku. Saat mendengarnya 2 hal yang terpikirkan satu sisi aku gak mau dia pindah, dia pun demikian. Pernah kutanyakan secara spontan dan jawabannya sebenarnya gak mau. Tapi ya namanya juga tugas pekerjaan harus dijalani. Sisi lain aku langsung berpikir, ya ini adalah sinyal untuk hubungan kami. Pertanda dengan berjauhan akan lebih mudah untuk berpisah dengan baik-baik.


Aku naik lokasi Rabu pagi, sebelum naik pasti kita janjian ketemuan dulu. Jalan-jalan dan makan-makan bareng. Hampir seminggu setelah pertemuan terakhir di pantai itu. Kami pun janji ketemu di suatu tempat, baru kita jalan sama-sama. Dia request kita Romantis Lunch di Resto puncak, keren banget tempatnya. Jadi ingat waktu pertama kali ku ajak dia ke sana. Dia terkaget-kaget dan terpesona gitu sama tempatnya dan pemandangannya. Ya gimana enggak, lokasinya bener-bener di puncak. Konsepnya Baliness ada kolam di tengahnya dan berlantai-lantai dengan pondokan yang nyaman dan yang bikin berkesan viewnya lautan dan kota kita. Itu kali kedua ke tempat itu dan mungkin juga akan menjadi yang terakhir buat kita berdua.


Mungkin beberapa hari bahkan beberapa minggu menjelang aku sudah merasakan sesuatu, feelingku mengatakan dia akan mengakhiri hubungan ini. Just feeling, we’ll see aku merasa begitu karena terlihat dari gelagatnya tapi yang suka membuatku gak percaya, sikap dan tingkah lakunya masih menunjukkan kalau dia menikmati hubungan ini. Lagi-lagi feelingku bermain.


“Aku pesan Beef Vietnam ya dengan Jus Alpukat plus air mineral” ucapnya pada pelayan resto.


“Loh aku juga mau pesan Beef Vietnam juga loh,” langsung di samber pelayannya.


“Ya udah beef Vietnam aja mbak?”


“Wah gak ah mbak gak seru kalau menunya sama. Aku pesan yang lain aja deh.” Kita sering sekali sangat sering malah punya jawaban atau keinginan dan pikiran yang sama. Seru aja rasanya kalau lagi ngobrol, chating or sms-an sehati dan sepikir.


Tidak terlalu lama pesanan pun datang, look delicious dan exactly rasanya bener-bener nikmat sampai-sampai pujian terlontar terkesan lebay.


“Makan dulu yuk Selamat makan,” tidak perlu berlama-lama menjawabnya.


“Iya udah laper juga. Selamat makan juga.”


Sambil menikmati hidangan diselingi obrolan ringan. Porsinya gede nih, dengan susah payah menghabiskannya. Ya terbiasa menghargai makanan, sayang buang makanan. Apalagi makanannya enak dan mahal pula. Tempatnya sangat nyaman, kami mengatur bantal untuk sandaran sehingga nyaman untuk berpelukan. Hatiku merasakan perbedaan siang ini. Pelukannya berbeda dari pelukan yang biasa kurasakan. Siang ini, dia melayangkan kecupan bibirnya yang biasa dilakukan bila bertemu. Dia hanya mengecup keningku saja dan membelai lembut rambutku, dia menghusap dengan penuh kasih sayang pipiku. Meski aku tahu berbeda aku gak pengen perasaanku benar-benar terjadi.


“Kak, sebenarnya aku ajak kakak ke sini ada yang ingin ku sampaikan ke kakak. Aku sudah memutuskan kalau hubungan kita gak mungkin diteruskan lagi. Aku gak tahan dengan perasaan yang selalu dihantui rasa bersalah dan tidak nyaman. Seperti kakak pernah bilang, aku yang mulai aku juga yang mengakhiri. Dan kurasa inilah waktu yang tepat.”


Rasanya seperti disambar petir siang bolong. Speechless gak tahu mau ngomaung apa, hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Berusaha tegar dan kuat. Banyak yang ingin kuungkap sebagai kemarahanku saat mendengarnya. Tapi kutahan, aku mencoba untuk bersikap dewasa dan menerimanya.


“Gitu ya? Oke kalau memang sudah keputusanmu. Aku terima aja. Aku sudah ngerasa kok beberapa hari bahkan minggu-minggu terakhir ini kamu beda dan aku udah feeling juga cuma gak nyangka aja kamu bilang begitu. Ya seperti yang kamu bilang, cepat atau lambat akan berakhir.”


Setelah mengatakannya diam seribu bahasa kupalingkan wajahku memandangi lautan lepas nan jauh di sana. Pikirku, ingin rasanya ku berlari ke laut itu dan menceburkan diriku ke lautan itu. Benar-benar seperti disambar petir rasanya, hati ini pedih bagai teriris-iris pisau dapur menyayat daging. Itulah perasaanku. Dia tetap memelukku, sambil menungguku menyampaikan sesuatu namun terlalu sulit untukku, bisikannya di telingaku.


“kak, aku menyesal karena sudah jatuh hati ke kakak dan menjalin hubungan yang tidak seharusnya. Aku terlalu mengikuti hati dan perasaanku ke kakak tapi aku gak mau menyakiti kakak dan merusak hubungan kakak dengan seseorang. Aku minta maaf ya ka, maafin aku”


Aku hanya bisa diam seribu bahasa, begitu banyak pertanyaan dalam hatiku tapi 1 yang buat aku gak terima omaungannya, kenapa harus bilang kata menyesal ke aku. Memangnya selama ini kamu menjalani hubungan ini tanpa sadar? Dari awal kamu tahu aku sudah punya pasangan tetapi kenapa kamu terus masuk sampai akhirnya kita sama-sama jatuh hati? Aku tahu kita sama-sama salah tapi toh selama ini kita tetap saling menjaga, kita tidak melakukan hubungan yang tidak seharusnya, kita masih menjaga itu semua. Okelah kita mendua, tapi kenapa harus mengatakan kata-kata menyesal.


Aku tahu semua orang juga tau, penyesalan selalu datang terlambat. Tapi bukan itu pointnya ketika kita melakukan sesuatu dengan sadar akuilah itu dengan jujur kalau kita menikmatinya meskipun salah. Simpanlah penyesalan itu tidak perlu kau ungkapkan pada pasanganmu. Apakah kalau kau mengatakannya semua akan berbalik ke sedia kalanya. Tidak kan? Cukup simpan dalam hati dan kalau memang menyesal ubahlah hubungan ini menjadi lebih baik. Air mataku tak tertahankan lagi tangisku pun terdengar olehnya, dan masih dalam pelukannya, dia pun menangis meski tak dapat ku tatap wajahnya karena ku tak sanggup. Bisikannya ditelinga.


“Kak, kamu yang terbaik kakak sudah menjadi bagian dari hidup aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun dengan caraku sendiri. Ini yang terbaik untuk kita kak, aku gak mau kita terlalu dalam jatuh hati karena akan semakin sakit nantinya kak”


Ku peluk erat tubuhnya, air mata terus mengalir tiada kata terucap dari bibir ini, terbesit tanya dalam hati, seandainya aku memutuskan hubunganku dengan yang lain apakah kita bisa bersatu. Apakah kamu akan memperjuangkan rasa ini? Atau kau pun tak punya keberanian dan kekuatan untuk mempertahankannya? Sekali lagi tanyaku dalam hati kecilku mungkin tak pantas atau justru harusnya ku tanyakan itu padanya. Entahlah.


Suasana berubah dikala ada tamu lain yang pesan tempat di pondokan sebelah kami. Gak lucu ya kita nangis-nangisan dilihat orang lain. Saling menghibur diri. Bagiku pembicaraan ini belum berakhir, kenapa harus terpotong oleh orang lain. Sudahlah mau gimana lagi pikirku. Seakan tak terjadi apa-apa, kami pindah tempat. Di mobil kami kembali ngobrol, aku tahu dia cerita ini itu hanya untuk membuatku tersenyum. Aku mendengar tapi gak konsen dan meski terlihat menyimak tapi terngiang setiap kata yang diucapkan di resto puncak tadi. Aku terus melamun sambil menyetir kendaraan. Sampailah kami di pantai tengah kota. Ini pertama kalinya kita berdua ke sana. Kita foto-foto dulu di pantai itu Aku langsung ke puncak, naik ke atas karang dan memandangi lautan lepas.


Sekali lagi dia merangkulku dan aku membalas merangkulnya dan berpelukan. Meski tidak ada ciuman mesra, hanya kecupan sayang di kening. Ingin rasanya terjun ke laut itu. Seperti ABG yang baru diputus cinta aja. Tawa geli dalam hati dan senyum sendiri, meskipun pedih rasanya. Tapi itulah cinta. Cinta indah kadang menyakitkan.


Rencana hari ini selain romantic lunch, nonton di XXI. Pengen aja dan gak sadar, harusnya emang beneran nonton. Jadi lengkap deh, bermula dari bioskop pertama kali dia menggemgam tanganku dan tahu kalau MH -main hati- harusnya diakhiri di bioskop juga. Tawa kecil menghibur diri. Ku lebih memilih pantai.


“Sudah sore nih, pulang yuk.” Entah aku atau dia yang mengajak pulang.


“Ku antar ke tempat kamu parkir motor ya” sambungku.


Di setiap pemberhentian mobil entah di pantai, tempat makan, atau parkiran pasti kita ngobrol dulu seakan tak ingin beranjak. Atau itu hanya perasaanku saja ya, sedangkan pikirannya tak begitu. Lebih karena mencoba mengerti perasaanku makanya ngikutin mauku. Bodoh ah. Kan setelah ini gak tau apa kita masih bisa jalan bareng atau gak.


Sampai rumah aku langsung mandi dan ganti baju. Langsung berbaring dan lamunanku mengarah pertemuan hari ini. Rasa pedih, sedih, gak terima, kesal semuanya jadi satu memikirkan gimana aku jalani hari-hariku ke depan. Yang terbiasa dengan telponnya, sms, whatsapp, chatingan dan jalan bareng. Biasa di lokasi ada yang menemaniku makan malam, sekedar jalan-jalan sebentar tapi besok dan seterusnya tak kudapatkan lagi. Selain dia telah dipindah tugaskan ke lokasi lain hubungan kami pun akan berubah. Aku merasa masih ada yang mengganjel hatiku entah apa itu. Sebuah pesan ku kirimkan ke hpnya.


Aku menulis. “Aku yang minta maaf aku terlalu terbawa emosi. Ya kamu benar, aku hanya perlu waktu untuk benar-benar bisa menerima ini semua. Memaafkan bukan berarti melupakan. Aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun. Seandainya masih boleh manggil kamu sebutan yang atau sayang Oya, 1 lagi.. Apa masih boleh request jalan sekali lagi? Gak akan lama kok Thanks” jawabnya sangat singkat.


“Sure, when?” ku reply cepat.

__ADS_1


“Besok gimana? Karena kan Rabu aku udah on duty lagi.”


“Oke kak, besok aku mau ke pelabuhan ambil kiriman dari seberang, nanti kita kabari aja ya” sahutnya di sms.


Ya hari ini kami janjian bertemu kembali. Sejujurnya aku ingin memastikan apakah keputusannya sudah bulat, apakah tidak bisa ditawar lagi. Bukan diriku kalau tidak mencoba sesuatu sampai aku mendapatkan kejelasan. Sejujurnya juga aku ingin mendapatkan kecupan dan ciuman mesra darinya untuk terakhir kalinya. Aku tahu pertemuan kami itu bukanlah pertemuan terakhir dalam hidup kami karena hari esok dan seterusnya kami tetap ingin menjadi teman, sahabat adik kakak yang baik.


Pagi ini aku sengaja keluar rumah untuk ke Rumah Sakit terlebih dahulu untuk kontrol karena mumpung masih off dan sebelum on lagi. Ku atur waktuku agar hari itu semua urusanku beres, baik itu urusanku di rumah sakit, di gereja terlebih khusus bertemu dengannya. Ingin rasanya menghabiskan waktu seharian hanya berdua dengannya tapi tidak mungkin karena tumpukan urusan yang harus kuselesaikan manakala esok aku harus berangkat ke lokasi kerja lagi.


Kami pun bertemu di parkiran, dia memarkir motornya dan naik ke mobilku.


“Kita cari makan dulu ya”


Itulah yang dia katakan karena memang awalnya dia ngajak makan di satu Resto yang pernah kita datangi. Hanya saja letaknya jauh dan butuh waktu lagi kalau harus pergi ke sana. Jadi kami putuskan untuk makan yang dekat-dekat situ saja. Kebetulan ada kawasan ruko baru yang sepertinya sih banyak rumah makan. Kami pun hunting, yang mana ya tempatnya. Kalau kata orang sih cari tempat makan baru lihat aja kalau tempatnya banyak orang berarti makanannya enak. Kalau sepi pasti gak laris tuh karena kurang enak. Setelah beberapa kali mencobanya sih terkadang ada benarnya juga. Tapi Deniz adalah tipe cowok yang lebih menyukai tempat yang sunyi dan hening dalam arti tidak dalam keramaian. Ya selain bisa menikmati hidangan bisa menikmati kebersamaan juga dengan tenang.


“Sudah kak? Kita cabut yuk” kalimat setelah makan dan rehat sedikit.


“Oke yuk kita jalan.”


“Mau ke mana kita?” tanyaku padanya.


“Terserah kakak aja mau ke mana. Kan kakak yang ngajak keluar.”


Hemmmm, iya juga sih memang aku yang ngajak tapi ke mana ya sambil mencari tempat yang asyik buat ngobrol. Tanpa kukatakan ke mana kita akan pergi, kami mengobrol saja di mobil dan sampai dia tahu ke mana arah tujuan mobilku meluncur. Ya, ya, ya sekali lagi ke puncak tempat pertama kali kita main hati.


Ku parkirkan mobilku di tempat yang teduh, sambil menatap lautan dan cuaca cerah di luar sana kami pun mengobrol. Dia tanya kenapa ingin bertemu. Aku pun bingung harus jawab apa. Masa aku bilang seperti harapanku itu, kalau aku hanya ingin merasakan ciuman perpisahan dan pelukan mesra darinya. Aku hanya ingin tahu dan memastikan perasaan yang sebenarnya saat ini setelah dia memutuskanku. Tak ku sangka bukan perpisahan yang bahagia yang ku dapat tetapi justru perpisahan yang menyakitkan. Ingin kukatakan padanya.


“kenapa sih jaim banget? Apa sudah benar-benar fix atas keputusanmu itu?” Dengan penuh ketenangan dia pun menjawab “Ya kak, keputusanku sudah jelas. Tidak bisa dirubah dan aku tidak mau kita melakukan kesalahan lagi dengan membiarkan perasaan ini terus.”


Sedih dan kesal rasa hati ini, tangisku tak terhankan lagi Aku hanya bisa menagis dan menangis sampai isakku membuatku sesak untuk bernapas. Ya, memang dia memelukku tapi pelukan yang dingin seakan menandakan bahwa hatinya sudah netral untukku. Tidak ada lagi harapan untuk tetap menikmati cinta ini. Rasa malu yang sangat merasuki, tangis yang tak dapat kuhentikan. Dia mencoba menenangkanku tapi tetap saja he do nothing, tidak seperti yang kuharapkan. Kami hanya banyak berdiam seakan tidak ada lagi kata-kata darinya untukku. Dengan rasa kesal, malu dan sedih kunyalakan mobilku dan meluncur kembali untuk mengantarnya pulang. Sebelum pulang aku ada janjian lagi dengan 1 dokter lainnya. Aku memintanya untuk menemaniku.


“Temani aku ke dokter dulu ya, gak lama kok. kalau kamu gak mau turun ya tunggu di mobil aja. Atau mau parkir di bawah saja tidak usah di area parkiran rumah sakit? Gimana?”


“Gak mau aku kak, antar aku ambil motorku aja terus aku langsung pulang.”


“Jadi kakak mau masuk ke rumah sakit sekarang? Kalau gitu aku turun di sini biar aku naik angkot aja sendiri.”


“ya waktuku mepet, jamnya udah telat nih ntar dokternya keburu pulang kalau ku antar kamu.”


Aku berharap dia mengerti dan tidak memaksakan diri untuk pulang sendiri seakan aku mengabaikannya dan tidak menghargainya. Justru aku berpikir kenapa gak ngerti aku sih, apa salahnya nemenin sebentar.


“ya sudah kalau kakak mau naik sekarang aku pulang sendiri.”


Dengan wajah penuh kesal dia pun turun dari mobilku dan Prak!! Bantingan pintu yang sangat keras yang kudapatkan. Ingin rasanya kubuka pintu dan berteriak, “hey kira-kira dong. jangan main banting pintu gitu!” apa untungnya buatku justru akan memperkeruh suasana apalagi di sekitar situ banyak orang yang sedang nongkrong. Aku juga harus menjaga perasaannya. Bukan begini mauku, aku hanya ingin perpisahan yang berkesan tetapi justru lebih menyakitkan.


Ku kirimkan pesan singkat sambil menyetir.


“Kamu marah? Tapi gak perlu banting pintu untuk ku gitu. Thanks.” Ku tunggu balasanya tak kunjung masuk. Ketika ku sampai di rumah hatiku tak tenang apabila dia belum menjawab smsku, ya paling tidak say something lah untukku. Jangan buatku jadi bersalah padahal aku kan yang kesal dengan sikap dan kata-katanya yang kasar sangat menyinggung perasaan wanita. Tetap saja tak ada respon, ku kirimkan whatsapp pun tak di responnya. Terkulai lemas raga ini dalam pikiranku yang dalam atas kejadian yang baru saja ku alami.


Ya sudahlah kalau memang akhirnya seperti ini, mungkin sengaja supaya aku sakit hati sehingga aku akan lebih mudah melupakan perasaanku padanya. Itu pun kalau dia mengingat kata-kataku dulu ya ketika putusan pertama kali ketika dia mengatakan,


“hapus nomor teleponku, hapus smsku, hapus dari list WA dan Line, hapus dari list chating, hapus aku dari ingatanmu kak.” Kukatakan saat itu.


“nomor hpmu ku hapus darimana juga, aku sudah hafal luar kepala. Okelah kalau tidak lagi online bisa gak chating, tapi kalau lagi online pasti bawaannya pengen say heloo. Mana mungkin bisa lupa, kan kita 1 lokasi dengan jadwal yang sama dan kadang kalau off pun secara tidak sengaja ketemu di jalan. Hanya 1 cara bisa cepat untuk melupakanmu. Buat aku marah semarah-marahnya atau permalukanku supaya aku sakit hati.”


Oke, besok aku harus naik lokasi. Aku akan membiasakan diriku untuk tidak memikirkannya dan mengharapkannya. Ku rasa sudah cukup sampai di sini saja aku harus terima.


Hari ini kujalani dengan tidak bersemangat, wajahku pucat letih dan tak bergairah kerja. Rasa penasaran kenapa dia tidak smsku masih menghantui pikiranku. Apakah begitu cepat dia melupakanku? Aku membiarkan raga dan perasaanku terhanyut meski berharap juga kalau hari esok aku harus semangat. Wah besok dia on duty, apa yang akan terjadi ya? Memang hanya tersisa 4 hari saja dia di lokasi ini sebelum dia meninggalkannya untuk bersiap ke lokasi yang baru. Siang ini aku tidak sibuk bahkan dari kemarin datang juga belum ada pekerjaan yang berarti. Lebih baik ku tuliskan melalui email saja, terserah dia mau merespon apa tentang curhatanku paling tidak aku menyampaikannya. Terima atau tidak terserah saja.


Emailku bertuliskan permohonan maaf dan ucapan terima kasihku untuknya, aku juga menuliskan sedikit history perjalanan cinta kita. Tempat dan tanggal yang akan menjadi memory untuk dikenang. Semoga begitu harapanku. Harap-harap cemas apakah email yang ku kirim nanti akan direspon atau tidak. Yang penting terkirim gitu deh.


Berapa jam berlalu tiba-tiba dia chating dan bilang, “Kak, nanti malam aku call ya.”


Upssss kaget juga bacanya. Hemmm, timbul lagi pertanyaan yang menggetarkan hati dia mau nelpon mau ngomongin apa ya? Kalau membuatku sedih mending gak usah telpon deh, tapi kalau make me happy ya oke. Kutanyakan jam berapa mau telpon, “jam 8 malam” jawabnya. Kok tumben pikirku, biasa dia kalau telpon kan malam-malam. Tapi sudahlah pasti dia punya alasan.

__ADS_1


Jam sudah pukul 19.00 aku sudah selesai mandi dan makan buah karena malam ini habis treadmill dan mencoba untuk mengurangi porsi nasi dengan tidak makan malam. Duh, jadi nelpon gak ya dia? Beneran jam 8 tepat gak ya? Apa yang mau diomongin ya? Deg-deg-deg jantung berdegup kencang. Harap-harap cemas, karena sudah 2 hari tidak mendengar suaranya. Sebelum jam 8 aku menelpon yang lain dulu dan ada telpon masuk tepat sesuai janjinya, segera ku akhiri telpon itu supaya aku dapat menerima telponnya.


“Halo selamat malam kak” terdengar kaku. Ku sahut.


“Halo, malem juga.” Ku mulai pembicaraan dengan bertanya.


“Baru on duty ya hari ini?”


“iya ka baru hari ini. Kakak apa kabar? Gimana kerjaan hari ini?” pertanyaan yang sering ditanyakan mengenai pekerjaan.


“hmm, biasa aja gak terlalu sibuk kok.” Awal yang kaku pembicaraan ditelpon malam ini.


“oya kak, mau bahas masalah kemarin gak?” dengan suara lembutnya membuatku nyess.


“ya terserah aja, kalau mau diomongin ya monggo.”


Dia menjelaskan sikapnya kalau dia sengaja tidak menjawab smsku bukan karena masih marah. Ya marah pastilah tapi sudah memaafkanku, hanya ingin membuatku sadar agar dapat menghargainya saja. Dia pun menjelaskan panjang lebar tentang hubungan kita. Lalu dia bertanya, “kak, ada yang mau diomongin gak?”


Hatiku kembali sedih dan menangis dalam hati akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku kalau aku gak suka seperti ini, aku gak siap kehilangan dia. Aku gak siap setelah dia pindah lokasi pun kita tidak akan atau jarang ketemu. Aku bilang kalau aku belum mau sekarang. Dia menjelaskan apa yang dirasakannya, logika dan hati saling bertentangan dan terjadi perang batin dalam hati dan pikirannya. Ya aku tahu itu wajar karena aku pun mengalaminya. Logika kami tau kalau ini tidak boleh berlanjut terus tapi hati kami sulit untuk menjauh.


“Kak, aku mau menetralkan hati dulu. Aku mau untuk sementara kita tidak komunikasi dulu. No call, no text, no chat dan gak ketemuan dulu. Itu semua kulakukan untuk menetralkan hati saja. Setelah itu kita akan buka lembaran baru sebagai sahabat dan adik-kakak yang pure tulus saling mengasihi. Aku takut kalau kita masih komunikasi terus, aku tidak bisa menetralkan hatiku dan terus jatuh hati dengan kakak. Ku harap kakakk mengerti ya, gimana menurut kakak?”


“Iya aku bisa ngerti alasanmu, tapi kenapa harus sekarang sih? Kenapa gak nanti aja?”


“kakak ingat waktu kita jalan terakhir ke pantai, waktu kakak tanya sampai kapan kita seperti ini ku jawab entahlah dan kakak pun menjawab gak tahu juga sampai kapan” Ia mencoba mengulangnya.


“Ia aku ingat tapi sebenarnya aku punya jawabannya, aku tahu aku mau sampai kapan.” Sambungnya cepat.


“terus kenapa kakak gak bilang, katanya terbuka dan semua di komunikasikan. Kenapa gak bilang?. Tapi semuanya sudah lewat dan keputusanku sudah bulat.” Terdengar tegas tetapi tidak menyakinkan. Aku pun menyesal dan merasa bodoh kenapa saat itu mulutku serasa terkunci dan tak dapat mengungkapkannya.


“ya sudah kalau gitu ya nanti aja, jangan sekarang. Kan kamu sudah tahu waktu yang ku mau kapan?” sekali lagi dia tetap dengan keputusannya.


“Gak bisa ka, aku sudah memutuskan ini waktu yang terbaik buat kita.” Baru kali ini aku tak dapat menggoyahkan yang sudah menjadi keputusannya. Sebelumnya kami pasti baikan dan dekat lagi.


Dia minta aku sepakat untuk tidak komunikasi sementara waktu supaya kembali netral. Kami pun sepakat 10 hari ke depan untuk tidak saling kontak. Hufft.. menghela napas panjang. Aku tak dapat memaksanya dan aku harus menghargai keputusannya juga. Ya sudahlah pikirku, memang sudah berakhir kisah cinta ini.


Deniz, aku tak dapat bohongi perasaanku kalau aku sakit dan sedih harus berakhir seperti ini. Di saat ketika aku merasa nyaman, dirimu yang perhatian dan menyayangiku dengan caramu. Memiliki sahabat sekaligus adik untuk berbagi cerita sedih dan senang. Hanya doa yang kupanjatkan agar dapat ku lalui hari-hariku kedepan dengan senyum, canda dan tawa tanpamu di dekatku lagi. Inginku untuk selalu terlihat ceria meskipun hati terluka.


I will be missing you


Every maument with you


Lunch, dinner and walking around on town


I will be miss you and will not forget every maument we do and share each other


Thank you for loving me, thank you for your attention and carrying me until now.


I really appreciated and impressed of everything about you.


Thanks to make me happy every time we meet


Thanks to make me smile on my sadness


Thanks for everything you've done to me and for my life


Bye my love


I wish you all the best and pray for your success and happiness in your new working place.


Don't forget me, keep in touch and don't leave me alone on my walk in future


End of Love Story

__ADS_1


__ADS_2