
Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi
Judul: Dolls
_________________________
Aku masih berdiri disini. Ya, setiap hari aku memang selalu berdiri disini. Setiap hari aku selalu memasang pose yang sama. Aku terdiam di kotak kaca besar, berdiri mengenakan kimono besar yang mewah, lalu aku tersenyum, senyuman pahit yang menyedihkan. Aku ingin hidup. Setiap hari, aku melihat orang-orang dapat menggerakkan kaki mereka, sementara aku tidak. Aku ingin seperti mereka, tidak seperti sekarang, kesepian dan selalu diam, tak berbicara kepada siapapun juga. Semua kupendam dalam hati, saat para wanita dewasa datang dan mengagumiku, pemilik toko akan mengatakan bahwa kimono ini dipasang permanen pada tubuhku dan aku tidak bisa dibeli. Perempuan itu mengatakan ingin membeliku sekaligus, tetapi, sekali lagi pemilik toko mengatakan bahwa aku adalah sebuah 'keberuntungan'. Aku akan tetap berdiri disini, tak peduli ada yang ingin membeliku, yang penting aku harus tetap menjaga posisiku disini. Aku sendiri selalu menjaga posisiku sendiri, tapi perasaan kekurangan itu selalu datang. Akhirnya, setiap malam, aku menangis, airmataku mengalir, sementara air mataku akan berubah menjadi mutiara jika aku menjatuhkannya. Itulah yang membuat mereka percaya, dan mereka memanfaatkanku tanpa mengetahui bahwa aku masih merasakan sakit karena aku terlahir dalam jiwa boneka, dan aku hanya dapat diam, terkurung di tubuh ini tanpa bisa pergi kemanapun. Yang kulihat di depanku selalu sebuah kebun rindang. Aku mengerti bahasa hewan, tapi aku tak dapat mengajak mereka bicara. Aku bahkan tak bisa menggerakkan bola mataku sendiri. Itu menyedihkan. Bahkan suara indah yang mungkin kumiliki di kehidupan yang sebelumnya, ingatan-ingatan lalu yang terekam sedikit dalam memoriku, sedikit ingatanku di kehidupan sebelumnya, yang begitu menyedihkan; dan aku berakhir menjadi boneka. Setiap malam, aku bertemu yukidama jika sedang musim salju, dia akan menenangkanku. Lalu, aku akan berdoa pada tuhan, bahwa aku dapat menjadi manusia seperti semula. Lalu, aku tak perlu mengeluarkan airmataku lagi, aku akan bertemu cinta sejatiku dan hidup bahagia di atas gunung hingga saatnya aku harus pergi menemui tuhan.
'Apa boneka ini dapat dibeli?' tanya salah seorang pembeli.
'Maaf, tidak bisa.' Dia mengatakannya dengan jelas. 'Boneka ini merupakan peruntungan bagi toko kami. Dia boneka manekin yang berharga.'
Sekali lagi, aku mendengar percakapan yang hampir setiap hari kudengar itu. Semua orang selalu jatuh cinta padaku. Tapi, apa artinya semua itu, kalau aku hanyalah sebuah boneka? Jika aku hanya dapat memandang orang-orang bergerak dan menemukan kebahagiaan mereka di luar kotak kaca sementara aku tak bisa? Semua orang tak akan pernah mengerti perasaanku. Perasaanku yang ingin sekali menjadi manusia seutuhnya…
Ketika semuanya terlelap, ketika lampu toko dimatikan, ketika semua orang pergi sementara aku masih disini, memandangi nasibku sendiri, merenungi penderitaan berkepanjangan ini, aku selalu berdoa dan menangis. Aku ingin kembali pada sosok manusiaku. Ketika aku kehilangan orang yang kucintai, ketika aku sudah menjadi seorang yang bodoh karena percaya pada apapun perkataan yang selalu diucapkannya, ketika aku tersentuh dan memberikan segalanya yang ada untuknya, agar dia tetap berada bersamaku, mengarungi hidup di tengah gunung bersama anak-anakku kelak…
__ADS_1
Aku merasa bahwa diriku ini hina.
Kehidupan itu sulit. Aku menempuhnya dengan kerja keras. Tapi mengapa aku begitu bodoh? Kenapa aku mengakhiri hidupku dan pergi dari kehidupanku, mengapa aku harus membunuh diriku sendiri agar aku tak lagi mengingat hal itu sehingga sosokku berubah seperti ini? Mengapa? Padahal aku masih mempunyai harapan untuk hidup lebih baik lagi. Tapi mengapa mataku tertutup? Lalu aku merasa aku mati, terhanyut dan tak dapat ingat lagi siapa namaku, tapi mengapa kejadian itu malah selalu teringat?
Lalu aku terbangun dan aku mendapati diriku telah berada di kotak kaca; bersama dengan penderitaan masa laluku yang tak pernah mau pergi dari ingatanku. Hidupku semakin menderita ketika aku mencoba menggerakkan bola mataku dan leherku untuk melihat apa yang terjadi, tapi ternyata tak bisa. Aku tak bisa melihat apapun selain apa yang ada di depanku. Aku tetap diperkenankan untuk menangis, tapi aku tak bisa menjerit ataupun melolong untuk meredakan rasa sedihku.
Dahulu, aku adalah seorang gadis manis yang tinggal di atas gunung, bertemankan dengan hewan-hewan dan semuanya sangat baik kepadaku. Aku tinggal disana bersama ayah dan ibuku, sampai mereka tewas di jurang. Mereka terjatuh kesana, dan mereka sudah dipastikan meninggal. Mungkin, ayah dan ibuku masih hidup, tapi mungkin juga tidak. Mungkin mereka sudah damai. Mungkin, dosaku terlalu banyak sehingga dunia belum mau menerima arwahku sebagai bagian dari mereka. Ya, aku menyadari bahwa aku hina, aku nista. Aku bukan perempuan cantik yang masih suci hatinya dan baik akhlaknya seperti dahulu lagi, aku berubah menjadi gadis yang pemurung dan berpikiran negatif, selalu iri dengan kebahagiaan orang lain.
Ah, ternyata ini terjadi karena kesalahanku sendiri. Tak ada gunanya mengeluh. Yang kupikirkan adalah, bagaimana agar aku dapat menjadi diriku kembali.
Aku, mulai hari itu, berusaha untuk tersenyum lebih lebar, menyesali perbuatanku setiap hari, berdoa dengan tulus, dan bersungguh-sungguh.
Pada malam hari berikutnya, hatiku bertanya, 'apakah aku akan menjadi manusia lagi?'
Lalu Yukidama menjawab pertanyaanku. 'Ya, kau akan jadi manusia lagi, menjadi manusia seutuhnya. Kamu akan bahagia.'
__ADS_1
Lalu aku menambah frekuensi pekerjaanku. Akhirnya, Yukidama memberiku kabar gembira di akhir musim dingin, bahwa aku akan menjadi manusia seutuhnya besok malam. Asalkan, hari itu kamu menggenapkan hati dan jiwa agar menghasilkan permata dari airmataku lebih banyak, sehingga pemilik toko yang dermawan dapat membagi-bagikannya kepada rakyat kurang mampu.
Aku melakukannya, dan berhasil. Aku berhasil, aku dapat menggerakkan leher dan bola mataku. Aku juga dapat menghirup udara, jantungku berdetak, bibirku dapat mengeluarkan suara pertama setelah aku mati. Tapi, sisanya belum dapat digerakkan. Aku semakin giat dalam berdoa dan menghasilkan permata. Setiap aku mendoakan orang lain dengan tulus, dan aku terharu atau sedih, aku akan medapatkan permata untuk hasil kerjaku itu. Lalu, aku berhasil menggerakkan tanganku. Aku kelelahan, jadi aku tertidur, aku akan menggerakkan kakiku besok.
Aku kaget dan membuka mata, memasang posisi semula saat pemilik toko membuka pintu. Dia memandangiku sedemikian rupa, melihat permata, mengambilnya, lalu menukarkannya dengan uang, dan membagi sebagiannya di amplop-amplop lalu membagikannya. Dia orang yang sangat baik.
Siangnya, aku melihat seorang pria dan wanita yang sepertinya adalah sepasang kekasih, mereka begitu mesra, melihat-lihat baju. Aku merasa pernah kenal dengan mereka berdua, tapi kapan? Dimana? Rasanya itu sudah lampau sekali.
Ketika wajah pria itu melihatku, dia kaget, refleks menggedor kaca yang menghalangiku. Aku sama-sama terkejut, tapi aku tak bisa menampakkan ekspresiku kecuali pada malam hari. Dia adalah… laki-laki yang mengkhianatiku, pergi meninggalkanku sendirian di gunung, kelaparan, kedinginan, dan dia pergi begitu saja… dan sekarang ia sedang bersama seorang wanita? Kekasihnya?
Tiba-tiba, aku merasakan sakit hati; semua ini sia-sia; dan aku menarik kembali kebaikan yang telah kuperbuat, dan aku menggantinya dengan seribu keburukan untuk laki-laki itu. Permata yang berserakan di bawahku meleleh menjadi darah. Lalu, aku dapat melihat kakiku meretak, pertama-tama kecil, lalu semakin lama semakin besar, menjalar hingga wajahku, kepalaku, lalu aku terjatuh dan mengakibatkan kaca yang mengahalangiku selama bertahun-tahun pecah berantakan. Aku terjatuh, seluruh tubuhku dipenuhi retakan. Ada airmata yang menggenang di sudut mataku. Semua orang lari tunggang langgang melihat kejadian ini, lalu aku melihat pandanganku yang mulai memutih.
Laki-laki itu menggelepar. Ia tak bisa mengatakan apapun, lalu dia melihat tubuhnya yang sudah luka-luka terkena serpihan kaca. Dia kebingungan. Lalu dia ditelan bumi. Dia pergi dan tak akan kembali. Hilang. Begitu juga aku yang benar-benar akan mati.
Ya, aku mati, dan sekarang aku yakin pasti aku menjadi pembicaraan para manusia di media informasi mereka. Aku bersyukur karena aku sudah mati, meskipun aku masih setengah sadar saat para wartawan berebut untuk memotretku. Mungkin, saja. Aku menjadi populer sekarang ini. Mungkin saja aku juga menjadi ide film horror sekarang ini. Entahlah. Satu catatan; AKU SUDAH MATI.
__ADS_1