
Kategori: Cerpen Horor Hantu
Judul: Tersiksa Dalam Kematian
_________________________
Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi. ku biarkan lagu peterpan mengalun di senjaku. hari ini memang nikmat dengan segelas kopi hangat, di beranda tua ini ku biarkan burung bernyanyi, daun-daun menari, di kejauhan beberapa meter dariku, jelas terlihat mentari yang mulai menapakan indah senyumnya, menerpa kerumunan orang yang menyaksikan pembunuhan sadis yang sekarang menerpa seorang gadis muda, di rumah tua itu, tubuhnya di potong-potong dengan kepala menganga terbelah dua. Total sudah 5 kali sejak aku di sini.
Setahuku rumah itu dulunya sebuah hotel, namun sering dijadikan kumpul kebo pasangan muda, pasangannya pergi tinggal kebonya yang nyengir tanpa bersalah, akhirnya tempat itu di bakar warga, Tak ada yang selamat malam itu, 10 orang meninggal di antaranya 2 orang anak kembar dan Ibunya yang sedang hamil tua. Dan Itulah yang jadi setan yang menurut cerita Ayahku Zahroni, mereka sering di usik, ah. entahlah kalau tidak membutikannya sendiri mana aku tahu kebenarannya. Membayangkannya saja bulu hidungku bergetar berdiri. apa lagi buat Anak coba-coba, ndak lah yao..?
Suatu malam aku pulang dari kantor dan ketika melewati rumah angker itu, aku mendengar wanita menangis minta tolong, suaranya seperti sinden yang meraung-meraung, dan terdengar pula bayi menangis, melolong di ikuti derap kaki yang berlari, entahlah, aku sendiri tak yakin dengan pendengaranku, namun di sana memang sudah sering terjadi pembunuhan, mungkin warga yang tertarik dan penasaran dengan suara di sana, masuk dan akhirnya jiwa mereka tak pernah kembali pulang. “jelas ayahku panjang lebar sambil terus melukis wanita di depannya. setiap hari menatap foto itu dan melukisnya berulang-ulang.
—
Haah… apa kamu tidak salah mengajak ayah kesana?, Ayah tak mau..! Lupakan saja Intan, jangan buat ayah marah dengan tingkahmu ini..!
Zahroni, lelaki paruh baya itu ayahku ini memang pemarah, kumis tipis dengan kumisnya yang seperti akar ketek, gondrong dan panjang, tentu saja demikian, ia memang jarang merawat dirinya, sejak Ibuku… YA. Ibu ku telah tiada
“ayah ku mohon… Yah.. inikan Ulang tahunku..!” aku sedikit memaksa dengan menunjuk kalender, menyertakan ulang tahun sebagai alasan, “kalau Intan mau mati. skak mat.. silahkan… ayah pokoknya tidak mau.. ini ide gileee!” kata ayahku Zahroni sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
“ayah tahu ga.. disana tuh.. katanya ada wanita cantik lo, dan ada juga anak kembarnya kalo dulu mereka matinya masih kecil, pasti sekarang mereka udah…” “udah apa…? Udah nenek-nenek… itukan udah setahun yang lalu.” ayahku memotong pembicaraanku.
Aku penasaran sekali, sangat penasaran, tapi bila ku masuk rumah itu sama saja aku bunuh diri. Kalau dengan Ayahku, berarti aku punya peluang… #peluang apa?… @peluang kabur… :-p.
—
ku lirik lagi rumah tua itu, dari lantai dua ini, terlihat jelas angkernya, tanpa Cahaya, meski beberapa kali aku melihat cahaya lentera, dan seperti bayangan di kaca menatapku, entahlah, sunyi sepi, senyap, senyip senyup. pokoknya menyeramkan. Apalagi bangunannya yang reot bekas di bakar.
Ku tarik gordenku, memandang sebentar di pemandangan rumah itu, “biarkan saja mereka tertawa liar, sudah ku bilang di rumah itu memang angker tak ada yang percaya, sudah 5 orang meninggal total dengan minggu lalu, “Intan masih mau kesana…?” ayahku muncul entah sejak kapan, aku yakin ia juga ingin kesana, mungkin rasa takutnya terlalu besar, membiarkan keberanianya mati terinjak. “ia ayah, ku mohon…!” kataku memelas
“Sudahlah lupakan saja hayalan kosongmu… atau kamu mati..!” ayahku berbalik ke ruang tamu sambil meraih kuas dan melanjutkan hobby menggambarnya. Ayahku memang seorang pelukis, di sudut ruang kamar selalu dihiasi lukisan pemandangan, dan wajah gambar wanita, mungkin ayahku dulunya playboy. entah… aku tak ingin mengusik karyanya
Aku memandang sebuah lukisan wanita berkrudung merah di atas kamarku.
wajahnya tampak menyatu dengan diriku, aku lirik diriku di kaca, ada sedikit kesamaan, hidung mata, mungkin aku terlalu berhayal. dari sini dapat ku lihat ayahku sedang memandang lukisan hasil karyanya. memandang setiap detail
—
Denting jam berdetak seiring nadiku, mata tak bisa terpejam, ada ratusan bahkan ribuan pertanyaan, rasa penasaran akan rumah angker itu. ku tersenyum meraih senter dan memakai jaket dan mengendap pergi, meninggalkan ayahku yang masih sibuk melukis dengan rokok bermain di bibirnya
Ah sial sepertinya mau hujan, kenapa cerita horor selalu ada hujan, ini menyebalkan memang, langit tua tampak hitam pekat, dan petir mulai menampakan kemarahannya, menyambar tumbang sebuah pohon, ku lirik jam di tangan. 22:25 wib. “semakin malam, aku tak punya pilihan ayah..”
Ku berdiri di depan pagar, perasaanku berkecambuk, hati berontak antara yes or not. Ia atau tidak. Pilihan yang sulit apalagi aku termasuk penakut, namun rasa penasaran begitu hebat membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Ku membuka perlahan pintu pagar, melangkah perlahan menahan ribuan gejolak, rumput liar tampak menambah aroma, kuduk buluku mulai berdiri, seperti ada mata yang memandangku, mungkin cuma perasaanku saja, rumput liar tumbuh di mana-mana, bangunan dua lantai, kayunya masih bagus meski ada bekas terbakar, temboknya menghitam, dan gelap gulita, jelas saja, cahaya lampu tak tampak, hanya orang bodoh yang siap mati yang berani mengusik kediaman ini. Gue orangnya, tapi aku sudah di dalam. tinggal membuka pintu dan masuk…
Ku berdiri di depan pintu, perlahan ku buka. Ah.. sial terkunci… terpaksa ku redam rasa ingin tahuku dan berbalik pulang, baru beberapa langkah ku dengar pintu terbuka sendiri, aku menahan jantungku yang kian berontak, ku berbalik dan pintu sudah terbuka, ku melangkah masuk melihat sekelilingku dengan senter tua di tangan. aku kaget, hampir menjatuh senter, ku dengar pintu tertutup sendiri, lebih tepatnya di banting, sekelebat cahaya lewat di belakangku, begitu cepat, di ikuti derap langkah kaki, bunyi suara tikus bergerak berlari. ku terdiam, keberanianku hilang, seorang anak lelaki seumuran 12 tahun berdiri tepat di depanku, kepalanya menunduk. mulutnya keluar darah dan ia mulai bicara sendiri.
Kekosongan adalah kehampaan dan kesunyian terkurung.. terpenjara di kesunyian, di sini dingin sekali.. tolong aku… sebelum kehampaan menusuk…
Tiba_tiba mulutku di tutup oleh sesuatu dari belakang, membuatku berontak sekuat tenaga, aku melihat sosok di depanku hilang, bayangan di belakangku menyeretku. akhirnya ia melepaskan tangannya, “Ayah…!”
“sudah ku katakan di sini tidak aman, pasti ada sesuatu yang kau lihat tadi, sampai kau berdiri tak bergerak, setiap orang yang sudah masuk kesini tak bisa keluar… sekarang kita terjebak..!” ayahku terlihat takut, keringat mulai berjatuhan dari pipinya.
“lalu kenapa ayah kemari?, maafkan aku ayah.. aku cuma penasaran, lalu sekarang bagaimana..?” kataku mulai takut. Suara orang tertawa dari atas plafon, aku meremas tangan ayahku kuat, terasa sangat dingin oleh keringat.
__ADS_1
Pundak ku terasa berat seperti ada sesuatu yang menaikinya, ada sekelebat cahaya berlari-lari menyusuri ruangan,
seperti anak-anak kecil yang berlari dan tertawa, aku dan ayah berjalan pelan memeriksa suara tangis dari balik tembok, “emmmhhh ternyata cuma suara hp..?” kataku sedikit tenang melihat sebuah hp yang menyala di gelap malam.
Tiba-tiba ayahku berhenti dan bernyanyi.
Kekosongan adalah kehampaan dan kesunyian terkurung.. terpenjara di kesunyian, disini dingin sekali.. tolong aku… sebelum kehampaan menusuk…
“ayah kenapa…?” teriak ku lagi, sambil berusaha melepas tanganku, mata ayah terlihat menyala merah, tubuhnya di penuhi cahaya terang, sambil terus berceloteh aneh, dengan kata-kata yang tak ku mengerti. Aku berlari bersembunyi di sebuah ruangan.
suara tikus berlari melewati kaki ku.
aku merasakan sesuatu bergelayut di tubuhku, dapat ku rasakan sentuhannya, rabaan liar di tubuhku, menaiki paha… perut… (di sensor..) dan leherku…
Aku menarik napas panjang, Ayahku berjalan pelan seperti orang kerasukan sambil terus memanggil namaku… dan berkata aneh.. sesuatu yang tak ku pahami.
Kekosongan adalah kehampaan dan kesunyian terkurung.. terpenjara di kesunyian, disini dingin sekali,.. tolong aku… sebelum kehampaan menusuk…
Intan toloooong aku…?
terdengar seperti bunyi pintu kamar tertutup sendiri, aku terkurung di kamar, sebuah tempat tidur lusuh, ada bekas pecahan kaca serta, batu.
“Tuhan tolooong jiwaku…!” kataku menahan napas. Sosok tubuh anak lelaki kecil berdiri tepat di depanku…
masih dengan menunduk, dapat kulihat mukanya yang hancur dan air mata darah merembes melewati pipi kasarnya.. ia mengangkat tangannya perlahan-lahan dan dengan tubuh bergetar ia menunjuk padaku.
Rasanya ada cairan hangat melewati pahaku. Aku kencing di celana.
tubuhku tak bisa di gerakan. mulutku kelu, mataku melotot tak berkedip.
Berjalan pelan, aku ingin berlari, atau lebih baik pingsan, apa dayaku, aku tak punya kekuatan sebesar itu untuk bergerak, perlahan ia mendekat, mencium lembut bibirku, dapat ku rasakan baunya menusuk, menyayat ragaku, kedua tangannya memegang kepalaku, seperti panas yang membakar otak ku, dan cahaya putih menyerang.
Aku terjatuh dan cahaya membawaku pergi.
“sayang gimana fotonya bagus kan?” seorang pria meminta pendapat wanita yang dari tadi memijatnya dari belakang, sementara pria itu terus melukis dan menghisap kuat-kuat rokoknya. Aku pernah melihat lukisan itu, lukisan yang ayahku pandangi dulu,
“sayang tak penting lukisan itu, kabar gembiranya.. aku ha. aa.. miiii.. l…!” bisik wanita itu perlahan di kuping pria, sambil mengelus perut buncitnya.
pria itu tak melanjutkan goresannya, untuk sejenak ia terdiam dan membalik wajahnya. “apa kamu yakin sayang..?” pria itu tersenyum dan mencium lembut bibir sang wanita, sambil membelai perut wanita.
Dengam senyum hangat ia menancapkan pisau yang sedari tadi tersembunyi di tangannya.
“Mati saja kau Iblis… sampah..!.. aku tak ingin punya anak dari mu.! Perempuan jalang…!” pria itu tersenyum dan mulai menangis melihat wanitanya yang kini tak bernyawa. tiba-tiba mata wanita yang telah mati melotot.
—
Aku tersendat kaget dan tersadar, melihat sekeliling yang gelap. hanya lampu senterku yang masih bersinar.
kepalaku terasa pusing. terdengar suara Dj melatunkan musik. aku keluar dengan senter tua, menatap orang-orang yang sedang asik di lantai dansa.
Musik menghipnotis mereka. Dan suara musik tiba-tiba menjadi teriakan, ratapan, bom molotov terdengar, menyemburkan api yang kian memanjang, suara manusia histeris berlari. di luar sana, orang-orang berdiri dengan obor, melempari merasa tak berdosa.
—
Seperti ribuan cahaya berlari dan aku tersadar dengan wajah rusak sedang mencumbu bibirku, Anak lelaki itu melepaskan ciumannya dan tertawa kecil menunjuk sesuatu. Terdengar ayahku, memanggil namaku dari sebuah ruangan, aku meraih tongkat bisbol di sebelahku, perlahan berjalan menuju lantai dua, dimana dari tadi suara orang menyanyi dan melatunkan suara kesunyian, penuh derita, penuh ratapan, bagai lolongan hewan malam menjemput asa. Perlahan ku daki lorong tangga yang semakin meninggi,
__ADS_1
Ayahku sedang berdiri, menatap sesuatu di depannya. “mati saja kau.. bagaimana keadaanmu.. apa kamu kedinginan.. apa kamu puas dengan pelayananku.” Ayahku menangisi sesuatu di tempat tidur, seperti seorang wanita bergaun putih, berdandan rapi.
—
Aku melepaskan Tongkat di tanganku. sayup-sayup aku melihat sesuatu menaiki tubuhku, melilitku bagai gurita, bahuku terasa berat, seperti ribuan ton menghantam. Dan Anak lelaki itu tertawa dan duduk mesra di atas bahuku. ternyata dia penyebab aku merasakan pundak ku akan patah.
Sementara Tubuhku tak bisa bergerak.
anak lelaki tersenyum jahat, memamerkan giginya yang tak rata, wajah rusaknya membuatku mual dan Ingin muntah. “hey.. siapa disana… apakah itu kamu Intan..? Tenang saja ayah tak akan membunuhmu.. kemarilah… kita nikmati malam ini dengan arak putriku… hahahahaha…” Ayahku berjalan pelan menyusuri, beberapa langkah di depanku, entah mengapa ia tak melihatku, putrinya yang kini hampir mati oleh mahkluk halus di pundaknya.
“Intaaaaaan… dimanakah kamu…? Ini ayah nak…?” ayahku kembali memanggilku, dari getar suaranya penuh gelisah, ketakutan.
ia mencariku di sekeliling lorong, aku perlahan berjalan di luar logika dan kemauanku, aku hampir merangkak karna beban di pundak ku, sampai tepian tempat tidur. dapat ku lihat seorang wanita yang tertidur dengan tenang… wajahnya cantik sekali, tampak keriput yang di tutupi bedak halus, namun tak mengusik kecantikannya, terbujur kaku dalam tidur panjang, aku mengenalnya, sangat mengenalnya, foto pada lukisan yang ayahku selalu pandangi, setiap detik, setiap waktu.
—
Aku terperanjat… menatap sosok yang muncul tiba-tiba di depanku, Wanita dengan lentera di tangan, semuanya tampak hitam, pakaiannya hitam, kakinya tak nampak di tanah
Senyumnya memuncah liar dan… dan.. tubuhnya bergetar hebat.. darah menyembur dari perutnya.
Air Matanya berupa darah, ia menunjuk padaku, tepatnya sosok di atas tempat tidur. Matanya menyala. Dan.. sebelum aku tersadar apa yang terjadi…?
sebuah benda menghantam kepalaku.
—
Entah sudah berapa lama aku terlelap. aku terikat dengan rantai pada pinggiran tempat tidur, di atasnya tentu saja wanita yang telah kehilangan kehidupannya, di pinggiran tempat tidur samar-samar anak kecil yang meratapi Ibunya, berkali-kali ia mencoba membelai pipi Ibunya, namun apa daya, tangannya hanya menyentuh kekosongan yang tak berakhir,
Kekosongan adalah kehampaan dan kesunyian terkurung.. terpenjara di kesunyian, disini dingin sekali.. tolong aku… sebelum kehampaan menusuk…
Ternyata suara yang selalu ku dengar sejak tadi adalah ucapan seorang anak yang merindukan tubuh ibunya, belaian lembut kala ia kedinginan, suatu kepastian bahwa ia mencintaiku.
“hahahaha… dasar anak tak tahu di untung… sudah ku katakan, jangan kesini.. tapi kamu tetap memaksa.. kini kamu tahu semuanya… kamu tahu siapa dia…!” terdengar suara ayahku dengan senter di tangan, ia sengaja menyinari wajahku dengan senter.
“itu… itu adalah perempuan jahat, ia memang pantas mati… sebelum peristiwa kebakaran itu… ia memaksanya untuk membunuhnya…? Salah sendiri… siapa suruh memaksa…?” ayahku menatap sambil menjilat pipiku. Samar-samar Aku melihat sesuatu muncul di belakangnya.
dengan dendam membara, sebuah Benda menghantam kepala ayahku. ia terjatuh, rebah di atas wajahku, kepalanya terlepas di atas kasur,
“Zahroni…! Aku merindukannya.. setiap malam.. setiap detik, dimana hanya rasa dingin yang ku kayuh dalam ruang sepi nan bersekat debu… sekarang siapa yang tertawa paling akhir…?” wanita dengan lentera, berjalan berlahan menghilang. Darah mengalir di tubuhku, merembes bercampur dengn keringat, air kencingku, menyatu.
Sebuah ciuman hangat ku rasakan di ikuti bisikan..
Kekosongan adalah kehampaan dan kesunyian terkurung.. terpenjara di kesunyian, disini dingin sekali,.. tolong aku… sebelum kehampaan menusuk.. Toooooolooooong kuburkan jasatku…
Suara itu perlahan melepas ciumannya dan… dan cahaya mataku berat.
Aku pingsan.. terbangun dengan sebuah keramaian sirene polisi dan warga yang berkumpul. Akhirnya misteri yang selamanya terpejam dari dunia luar, perlahan menampakan terang
Rumah angker itu di bongkar untuk selamanya, mayat yang tertidur lama disana di makamkan dengan layak.
Sejak kini berganti malam aku tak tenang, seperti orang yang tak punya pikiran, di sini sepi sekali, kedua tanganku terpasung pada kayu dan hanya sebuah Lubang kecil untuk ku melihat sisa makan kemarin.
“tolllloooooong aku tidak gila… aku tak ingin mati.”
teriak ku berontak mencoba melepas rantai yang memasung tubuhku.
__ADS_1